Friday, September 30, 2016

Khotbah Jum'at: PELAJARAN DARI SURAT ATTAKATSUR

Khotbah Jumat, 04 Rajab 1433 H / 25 Mei 2012 M
Khutbah Pertama:
الحمدُ للهِ الأَوَّلِ والآخرِ، والظاهرِ والباطنِ، واهِبِ النِّعَمِ، واسِعِ الكَرَمِ، أحمدُهُ حمْدَ مَنْ يعلَمُ أنَّهُ مُسبِّبُ الأسبابِ، وأشكرُهُ شُكْرَ مَنْ تابَ إليهِ وأنابَ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ، العزيزُ الوهَّابُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنَا محمداً عَبدُ اللهِ ورسُولُهُ النبِيُّ المصطفَى الأوَّابُ، فاللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ مَا طلَعَ نَجْمٌ وغَابَ، وعلَى آلِهِ وأصحابِهِ الأخيارِ الأحبابِ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الحسابِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[([1]).
Kaum mukminin: Di dalam surat At Takatsur banyak terkandung pelajaran, arahan dan peringatan, dimana manusia sangat membutuhkannya baik didalam masalah akidah, ibadah, akhlak dan mua'amalahnya, Allah berfirman:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ* حَتَّى زُرْتُمُ المَقَابِرَ* كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ* ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ*كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ اليَقِينِ* لَتَرَوُنَّ الجَحِيمَ* ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ اليَقِينِ* ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ[
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At Takatsur 1-8).
Dan masalah penting yang terkandung dalam surat ini adalah penjelasan mengenai kondisi sebagian manusia yang berlomba-lomba untuk menggapai keduniawan dan melupakan akhirat, firman-Nya :
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ* حَتَّى زُرْتُمُ المَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” (At Takatsur 1-2). Artinya mereka disibukkan dengan melimpahnya harta dan menjauh dari ketaatan kepada Allah hingga mereka meninggal dan dikuburkan, Al Quran telah mengingatkan dari bahaya cinta harta terhadap hati seseorang, karena ia akan melupakannya dari ketaatan kepada Allah, firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (Al Munafiquun 9)
Rasulullah SAW mengajarkan kita bagaimana mempergunakan harta dan berikut sabdanya sebagai peringatan bagi orang membangga-banggakan hartanya:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي. وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
"Anak Adam berkata: hartaku, hartaku.
Dan bukankah bagianmu dari hartamu itu kecuali apa yang ia telah kamu makan hingga habis, apa yang telah kamu pakai hingga rusak dan apa yang telah kamu berikan kepada orang lain hingga kamu mendapatkan pahalanya” (Muslim 2958). Nabi SAW telah mengingatkan mengenai berlomba-lomba dalam dunia, sabdanya:
وَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا، كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ
"Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan pada kalian, akan tetapi yang aku takutkan pada kalian adalah dipamerkannya dunia pada kalian, sebagaimana dipamerkannya pada orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba dan melalaikan kalian sebagaimana telah melalaikan mereka" (Muttafaq ‘alaih).
Sebagaiman Rasulullah Saw telah menjelaskan bahwa lapangan perlombaan hendaknya dibidang perbuatan baik yang akan menjadi simpanan pahala bagi pelakunya di akhirat, sabdanya:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
"Tiga perkara  yang akan mengikuti mayit, dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh  keluarganya, hartanya dan perbuatannya, maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sedangkan amalannya akan tetap bersamanya"(Muslim 2960).
Bisyr bin Al Harits RA berkata:
لابْنِ آدمَ فِي مَالِهِ ثَلاثُ حَسَرَاتٍ: يجمعُهُ كُلَّهُ، ويتركُهُ كُلَّهُ، وَيُسْأَلُ عَنْهُ كُلِّهِ
Bagi anak adam dalam hartanya terdapat tiga kelelahan ; mengumpulkannya semua, meninggalkannya semua dan ditanya tentangnya semua"
Kaum muslimin ; surat At Takatsur membahas masalah keyakinan pada Allah, firman-Nya:
كلا لو تعلمون علم اليقين* لترون الجحيم
"Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim"(At Takatsur 5-6).
Andaikata kalian tahu mengenai dahsyatnya hari kiamat, seperti kebangkitan, padang mahsyar dan perhitungan maka semua itu akan menyibukkan kalian daripada hanya sekedar berlomba-lomba dalam urusan dunia dan perhiasannya.
Arti keyakinan pada Allah adalah pengakuan yang jujur mengenai nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan pengaturan-Nya yang baik, sehingga dengannya seorang hamba akan rela dengan ketentuan-ketentuan Allah, dan dengannya ia mampu menggapai tingkat keimanan yang tertinggi, Abdullah bin Mas'ud RA berkata:
الصَّبْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالْيَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ
"Kesabaran setengah dari keimanan dan keyakinan adalah keimanan seluruhnya" (Syu'bul Iman karangan Al Baihaqi 1/74)
Bila keyakinan kepada Allah telah merasuk dalam hati maka ia akan dipenuhi oleh cahaya, ketakutan, cinta, kerelaan dan syukur, sehingga ia terbebas dari keraguan, Rasulullah Saw bersabda:
أَفْضَلُ الأَعْمَالِ عِنْدَ اللَّهِ إِيمَانٌ لاَ شَكَّ فِيهِ
"
Sebaik-baiknya pekerjaan dihadapan Allah adalah keimanan yang tidak ada keraguan didalamnya" (An Nasa’i 2526, Ahmad 7722)
Hamba Allah; dan diantara bentuk keyakinan adalah hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya berdasarkan atas keyakinan yang mutlak,
فقَدْ حكَى رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام عَنْ رَجُل مِمَّنْ كانَ قبْلَنَا سَأَلَ رجُلاً أَنْ يُسْلِفَهُ أَلْفَ دِينَارٍ، فَقَالَ: ائْتِنِي بِالشُّهَدَاءِ أُشْهِدُهُمْ. فَقَالَ: كَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً. قَالَ: فَأْتِنِي بِالْكَفِيلِ. قَالَ: كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَلَمَّا حَلَّ أجَلُ السدادِ خَرَجَ إلى الْبَحْرِ يلْتَمسُ مَرْكَباً يَرْكَبُهَا، فَلَمْ يَجِدْ، فَأَخَذَ خَشَبَةً، فَنَقَرَهَا فَأَدْخَلَ فِيهَا أَلْفَ دِينَارٍ، وَصَحِيفَةً مِنْهُ إِلَى صَاحِبِهِ، ثُمَّ دفع بِهَا إِلَى الْبَحْرِ... فَخَرَجَ الدَّائنُ يَنْتظرُهُ فَإِذَا بِالْخَشَبَةِ الَّتِى فِيهَا الْمَالُ، فَأَخَذَهَا لأَهْلِهِ حَطَباً، فَلَمَّا نَشَرَهَا وَجَدَ الْمَالَ وَالصَّحِيفَةَ
Dikisahkan oleh Rasulullah SAW bahwa seseorang sebelum kami meminta seseorang untuk memberinya hutang sebesar seribu dinar, lalu ia berkta : bawalah beberapa saksi agar menyaksikan. Ia berkata; cukuplah Allah sebagai saksi. Ia berkata : bawalah padaku seorang penjamin. Ia berkata : cukuplah Allah sebagai penjamin. Ia berkata : Anda benar. Kemudian ia memberikan kepadanya sampai batas waktu tertentu, maka ketika tiba waktu pelunasannya, ia keluar menuju pesisir pantai mencari perahu yang akan ditumpanginya, tapi ia tidak mendapatkannya, lalu ia mengambil sepotong kayu, dilubangi tengahnya dan memasukkan seribu dinar didalamnya, dan sebuah tulisan darinya untuk temannya, kemudian ia mendorongnya ke laut, pemberi hutang keluar menunggunya, seketika itu ia mendapati kayu yang didalamnya terdapat uang, lalu ia membawanya pulang untuk kayu bakar keluarganya, ketika ia menggergajinya ia mendapati uang dan sebuah surat didalamnya. (Bukhari 2921).
Hamba Allah, perhatikan keyakinan orang tersebut, serta kepercayaannya kepada Allah, sebagaimana Allah telah menundukkan ombak lautan untuk membawa amanahnya sehingga hutang tersebut terbayar.
Ya Allah berikanlah kami keyakinan yang mengikat hati kami dengan cinta-Mu dan tidak melupakan dari dzikir kepada-Mu, ya Allah berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintah untuk ditaatinya sebagai pengamalan atas firman-Mu :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ r أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua:
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ فِي السِّرِّ والعلَنِ.
Kaum mukminin ; surat At Takatsur ditutup dengan ajakan untuk menjaga nikmat-nikmat Allah, menghargai dengan sebaik-baiknya, mengelolanya dengan tepat serta tidak merusak dan berlebih-lebihan dalam penggunaannya, Allah berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
"kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)" (At Takatsur 8).
Manusia bertanggung jawab dihadapan Tuhannya atas nikmat yang telah diberikan kepadanya, disebutkan dalam sebuah hadits:
أنَّ رَسُولَ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام خَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رضي الله عنهما فَقَالَ:« مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ ؟». قَالاَ: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ:« وَأَنَا وَالَّذِي نَفْسِى بِيَدِهِ لأَخْرَجَنِي الَّذِى أَخْرَجَكُمَا قُومُوا». فَقَامُوا مَعَهُ فَأَتَى رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ ... فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ ... وَذَبَحَ لَهُمْ فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ:« وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ»([2]).
Bahwa Rasulullah Saw pernah keluar rumah pada suatu hari atau malam dan seketika itu Beliau berjumpa dengan Abu Bakar dan Umar maka Beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian berdua keluar dari rumah kalian berdua pada waktu seperti ini ? keduanya menjawab : lapar wahai Rasulullah. Beliau berkata : dan aku demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, yang membuatku keluar adalah seperti yang membuat kalian berdua keluar, maka bangkitlah. Kemudian mereka berdiri bersamanya, lalu datanglah seseorang dari kaum Anshar, lalu ia membawakan buat mereka setangkai kurma, lalu ia menyembelihkan kambing untuk mereka sehingga mereka dapat makan dan minum, ketika mereka telah kenyang dan lepas dari dahaga mereka, Rasulullah berkata pada Abu Bakar dan Umar ; dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian akan dipertanyakan mengenai nikmat ini pada hari kiamat, kalian keluar dari rumah kalian dalam keadaan lapar, kemudian kalian belum kembali sehingga kalian mendapatkan nikmat ini” (Muslim 2038)
Setiap kita hendaknya melihat nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita, mulai dari nikmat kesehatan, harta, keturunan, ilmu, ketentraman dan kemakmuran, maka hendaknya kita berterima kasih dan menyebut keutamaan-Nya dan tidak mengingkari-Nya dan hendaknya kita memohon kelanggengan nikmat-nikmat tersebut serta keberkahan didalamnya, karena syukur termasuk pelanggeng dan pelestari nikmat tersebut.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([3])
وقالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([4])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللهُمَّ عَرِّفْنَا نِعَمَكَ بدوامِهَا، وأَلْهِمْنَا شُكرَهَا، ولاَ تُعَرِّفْنَا عليْهَا بزوالِهَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا،ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى،وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِكُلِّ مَنْ وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى عِبَادِكَ، اللَّهُمَّ بارِكْ فِي مَالِ كُلِّ مَنْ زَكَّى وزِدْهُ مِنْ فضلِكَ العظيمِ، اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَاللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).

([1]) الأحزاب: 70 - 71.
([2]) مسلم : 2038 .
([3]) الأحزاب : 56 .
([4]) مسلم : 384.
([5]) العنكبوت :45.

No comments:

Post a Comment