Khotbah Jumat, 11 Rajab 1433 H / 01 Juni 2012 MKhotbah Pertama:الحمدُ للهِ عَلاَّمِ الغيوبِ، كاشِفِ الكروبِ، ساتِرِ العيوبِ، أحمدُهُ تعالَى حمدًا يليقُ بكمالِ وجهِهِ وعظيمِ سلطانِهِ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُ وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ[([1]).Kaum mukminin; Allah telah menciptakan manusia dan memulyakannya, menanggung rezekinya dan mempermudahnya, serta menganjurkannya untuk berusaha diatas permukaan bumi, Allah berfirma:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (Al Mulk 15). Rezeki yang mubah adalah rezeki yang halal dan baik yang tidak ada keraguan, unsur penipuan didalamnya, tidak ada syubhat dan tidak ada pertentangan didalamnya, Allah berfirman:
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالاً طَيِّباً
“ Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu” (An Nahl (16) 114).
Allah telah menjelaskan kepada manusia jalan-jalan pembelanjaan harta, dan yang paling penting adalah keseimbangan dalam pengeluaran, tidak pelit juga tidak pula kikir, tidak berlebihan dan juga tidak pula boros, Allah berfirman:
وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ البَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوماً مَّحْسُوراً
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (Al Isra’ (17) 29).
Yang pelit akan tercela karena kepelitannya, dan pemboros akan menyesal atas penghambur-hamburannya.Agar seorang muslim tidak jatuh pada kerugian, maka Islam menuntutnya untuk membelanjakan hartanya sesuai dengan kebutuhannya yang paling utama, yaitu dengan mengedepankan kebutuhan dan keperluan primer atas kebutuhan sekunder, dan hendaknya jangan membuang-buang hartanya pada kegiatan yang tidak berguna serta gaya hidup yang berlebihan apalagi sampai melalaikan kebutuhan keluarganya, seperti kebutuhan hunian, sandang dan pangan, Rasulullah SAW bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
"Cukuplah seseorang berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang wajib dinafkahinya" (Abu Daud 1692).Seseorang yang berlebihan dalam membelanjakan hartanya untuk kebutuhan aksesoris, dan bila hal itu tidak dimiliki tidak akan mengganggu kehidupannya, maka suatu saat ia akan berhutang pada bank untuk membeli aksesoris tersebut, sehingga beban hutang itu semakin menumpuk, padahal sebelumnya ia tidak membutuhkan itu, akan tetapi sebagian orang yang berhutang, sebenarnya ia tidak mempunyai kemampuan untuk melunasi hutangnya, atau sebagian lainnya tidak sungguh-sungguh untuk melunasinya, dan Nabi Saw telah memperingatkan agar tidak meremehkan dalam pembayaran dan pelunasan hutang, sabdanya:
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
"Barang siapa yang berhutang harta pada seseorang sedangkan ia mau melunasinya maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya, dan barang siapa yang berhutang dan hendak menyelewengkannya maka Allah akan merusaknya" (Bukhari 2387).Dan diantara penyebab seseorang untuk berani berhutang adalah perhatiannya untuk meniru dan bersaing dengan orang lain dan membanggakan diri dengan harta, sebenarnya Nabi Saw telah mengarahkan mereka untuk melihat kondisi orang dibawahnya dan jangan melihat orang yang lebih banyak harta darinya, sehingga mereka lupa nikmat dan patah semangat, Rasulullah SAW bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian”(At Tirmidzi 2513).Hamba Allah ; sesungguhnya menganggap mudah hutang serta berhutang tanpa keperluan penting maka akan membawa seseorang pada permasalahan yang menghinakan, Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ لِغَنِىٍّ، وَلاَ لِذِي مِرَّةٍ سَوِىٍّ
"Sesungguhnya meminta-minta tidak patut bagi orang kaya dan orang kuat yang mampu mencari nafkah” (At Tirmidzi 653).Sebagian orang terbiasa mengemis pada orang lain dengan menggunakan kesempatan kebaikan orang lain, sehingga ia meminta tanpa keperluan, yang pada akhiranya kedudukan terjebak dalam kebiasaan.
لاَ تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
“Tidaklah seseorang terus-menerus meminta-minta kepada orang lain, hingga kelak akan datang pada hari Kiamat, dalam keadaan tidak ada secuil daging pun melekat di wajahnya” (Muslim 1040).Oleh karenanya, Nabi Saw mendidik para sahabatnya untuk mempunyai sifat puas, kesucian, ketinggian jiwa dan menjauh dari meminta-minta tanpa keperluan, karena hal ini bertentangan dengan wibawa dan kemulyaan seorang muslim, Hakim bin Hizam RA berkata : aku meminta pada Rasulullah Saw lalu beliau memberiku, kemudian aku meminta padanya maka beliau memberiku, kemudian aku meminta padanya maka beliau memberiku, kemudian beliau berkata: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” aku berkata : wahai Rasulullah dan demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran sesungguhnya tidak merugi seorangpun setelahmu sedikitpun sehingga aku meninggal dunia.
Abu Bakar RA mengajak Hakim untuk memberi tapi ia menolaknya, kemudian Umar RA memanggilnya untuk memberinya tapi ia menolaknya. Umar berkata; Sesungguhnya aku bersaksi pada kalian wahai kaum muslimin mengenai Hakim, sesungguhnya aku menawarkan haknya dari harta rampasan perang kepadanya tapi ia menolak mengambilnya. Dan Hakim tidak merugikan orang lain setelah Rasulullah Saw sehingga ia meninggal dunia (Bukhari 1472).Begitulah hendaknya seorang muslim menjadi puas dengan pemberian Tuhannya, bersyukur dan rela, karena syukur, rela dan puas merupakan sumber keberuntungan dan kebahagiaan, dan sifat-sifat inilah yang merupakan penyebab utama seseorang terhindar dari hutang dan meminta-minta pada orang lain, Rasulullah Saw bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافاً، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Beruntunglah orang islam yang diberi rezeki yang mencukupinya, dan diberikan kepuasan dengan apa yang diberikan Allah kepadanya” (Muslim 1054).Ya Allah berilah kepuasan kepada kami pada rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ عليه الصلاة والسلام أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.Khutbah Kedua:
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبد ُ هُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.Bertakwalah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa hutang itu membawa gundah dan kehinaan, memperkeruh jiwa dan mencerai beraikan pikiran, karenanya Nabi Saw berlindung kepada Allah darinya, dari Aisyah RA ; bahwa Rasulullah Saw berdoa dalam shalatnya;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ». فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ: مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ ؟ فَقَالَ :« إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ([2]) حَدَّثَ فَكَذَبَ، وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ
"Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan hutang. Seorang bertanya : beberapa banyak permintaan perlindungannya dari hutang ? Beliau menjawab; Sesungguhnya seseorang bila berhutang maka ucapannya dusta dan janjinya diingkari” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadits ini terdapat peringatan mengenai susahnya urusan hutang piutang, karena itu jangan melakukannya kecuali pada kondisi darurat.Bila seseorang terpaksa berhutang karena kebutuhan, maka hendaknya ia memperhatikan etika berhutang, diantaranya yaitu ; hendaknya ia berkemauan keras untuk segera melunasi hutangnya, berniat baik untuk melunasinya, dan bersegera membayar hutang-hutangnya bila sudah tiba waktu pembayarannya, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً
"Sebaik-baiknya manusia adalah yang terbaik dalam pelunasan hutangnya" (Muttafaq 'alaih)Dan hendaknya tidak menunda-nunda pembayaran hutang, atau meremehkan dalam pelunasannya, semua itu dapat menjadi penyebab tertutupnya pintu kebaikan dan terjatuhnya pada perbuatan dhalim, Nabi SAW bersabda:
مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ
“Orang kaya yang menunda-nunda pelunasan hutang termasuk dhalim” (Muttafaq ‘alaih).
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([3]) وقالَ رسولُ اللهِ عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([4])اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ،وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى، وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِكُلِّ مَنْ وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى عِبَادِكَ، اللَّهُمَّ بارِكْ فِي مَالِ كُلِّ مَنْ زَكَّى وزِدْهُ مِنْ فضلِكَ العظيمِ، اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَ.اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).
No comments:
Post a Comment