Khotbah Jumat, 6 Jumadil Akhirah 1433 H / 27 April 2012 M
Khotbah Pertama:
الحمدُ للهِ
الْمُتَفَرِّدِ بالبقاءِ، سبحانَهُ كتبَ علَى خلقِهِ الفناءَ، أحمدُهُ
حمداً كثيراً طيباً مُباركاً فيهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً
عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، إمامُ
الأنبياءِ، وسيدُ الأتقياءِ، فاللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وبَارِكْ عليهِ
وعلَى آلِهِ وصحبِهِ البررةِ النجباءِ، وعلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بإِحسانٍ
إلَى يومِ الدِّينِ.
أَمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ تعالَى، قالَ
اللهُ عزَّ وجلَّ:] يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا
يَوْماً لاَّ يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن
وَالِدِهِ شَيْئاً إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ
الحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الغَرُورُ[([1]).
Kaum
mukminin ; seorang hamba tergadaikan oleh amalannya, bila amalannya
baik maka akan mendapatkan kebaikan dan bila amalannya buruk maka akan
mendapatkan keburukan, dan nilai amalan ada pada penutup perbuatan
baiknya, Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا، كَالْوِعَاءِ إِذَا طَابَ أَعْلاَهُ
طَابَ أَسْفَلُهُ، وَإِذَا خَبُثَ أَعْلاَهُ خَبُثَ أَسْفَلُهُ
"Sesungguhnya perbuatan itu tergantung penutupnya, bagaikan bejana bila
atasnya baik maka bawahnya baik dan bila atasnya buruk maka bawahnya
buruk" (Shahih Ibnu Hibban 2/51).
Dan yang harus menjadi kepedulian
manusia adalah untuk selalu menjaga akhir hayatnya dan saat berjumpa
dengan Tuhannya, karenanya Al Quran menganjurkan untuk menyiapkan diri
kita sebaik-baiknya untuk menjumpai Allah dengan amalan baik, firman
Allah:
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلاَ
يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun
dalam beribadah kepada Tuhannya" (Al Kahf 110).
Dan karena
pentingnya titik pemisah ini dalam kehidupan manusia, maka para Nabi
telah berwasiat kepada para kaumnya untuk berusaha menjaga agar
mendapatkan husnul khatimah, Allah berfirman:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ
اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian
pula Yakub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam
memeluk agama Islam".(Al Baqarah 132).
Kisah nabi Yusuf yang tersebut dalam firman Allah:
تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِين
“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh (Yusuf 101).
Husnul
khatimah adalah cita-cita orang-orang shaleh dan orang-orang pilihan
seperti dikisahkan dalam Al Quran:
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا
وَتَوَفَّنَا مَعَ الأَبْرَارِ
“Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari
kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang
yang berbakti”(Ali Imran 193).
Dan diantara doa Rasulullah SAW
adalah:
« يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دَينِكَ وَطَاعَتِكَ »
"Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, teguhkan hatiku pada agama-Mu
dan ketaatan kepada-Mu" (Musnad Ahmad 26887).
Sebagaimana beliau
berlindung kepada Allah dari keburukan fitnah kehidupan dan kematian dan
fitnah kematian itu adalah hari kiamat dimana seorang hamba
meninggalkan dunia dan menghadap pada akhirat, dan syetan berusaha untuk
menfitnah dalam agamanya dan menghalanginya dari keimanan kepada Allah,
saat itu Allah meneguhkan seorang mukmin dengan ucapan yang teguh yaitu:
لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ محمدٌ رسولُ اللهِ,
Rasulullah bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ) maka ia akan masuk surga” (Abu Daud 3116).
Hamba
Allah ; husnul khatimah mempunyai beberapa sebab, diantaranya adalah
bertakwa kepada Allah, jujur dengan-Nya dalam segala hal, sehingga
rahasia manusia sama dengan keterbukaannya, amalannya dihadapan manusia
tidak berbeda dengan amalannya saat menyendiri, dan barang siapa
rahasianya berbeda dengan keterbukannya, dalamnya berbeda dengan
luarannya maka itu termasuk buruk penutupnya (su’ul khatimah), seperti
orang yang menjaga ketaatannya dihadapan manusia, tapi bila ia
menyendiri ia berani melanggar perintah Allah, sedangkan ia lupa bahwa
Allah mengawasinya, dari Tsauban dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda:
« لأَعْلَمَنَّ أَقْوَاماً مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضاً فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُوراً». قَالَ ثَوْبَانُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ
صِفْهُمْ لَنَا، جَلِّهِمْ لَنَا، أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ
نَعْلَمُ. قَالَ:« أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ،
وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ
إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا»
"Sungguh aku mengetahui kaum dari umatku yang datang membawa kebaikan
seperti gunung Tuhâmah, namun Allah menjadikannya debu yang
beterbangan."
Tsauban RA bertanya :Wahai Rasulullah, deskripsikan mereka kepada kami
agar kami tidak seperti mereka tanpa menyadarinya?"
Nabi menjawab: mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari bangsa
kalian. Malam mereka sama seperti malam kalian, akan tetapi jika tengah
bersendirian dengan perkara haram mereka melanggarnya” (Ibnu Majah 4245)
Istiqamah
dalam melakukan perbuatan baik merupakan salah satu sebab husnul
khatimah, yaitu seseorang selalu melakukan ketaatan kepada Allah dalam
setiap kondisinya, karena barang siapa terbiasa hidup dengan satu
perbuatan maka ia akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaannya, Allah
berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh itu dalam kehidupan dunia dan di akhirat " (Ibrahim 27)
Allah
memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beristiqamah bahwa
mereka mendapatkan dukungan dan keteguhan dari malaikat saat mereka
meninggal, Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ
عَلَيْهِمُ المَلائِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا
بِالْجَنَّةِ الَتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ* نَحْنُ أَوْلَيَاؤُكُمْ فِي
الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي
أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah"
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan
janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh)
surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".Kami lah
Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya
kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya
apa yang kamu minta” (Fusshilat 30-31).
Kaum mukminin ;
sebagaimana berprasangka baik juga salah satu dari penyebab terpenting
yang mengantarkan seorang hamba mendapatkan husnul khatimah, yaitu
manusia mengharap keluasan Rahmat Allah dan kemudahan dalam pengampunan
dosa-dosanya, Rasulullah Saw bersabda:
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ
“Janganlah salah satu dari kalian meninggal kecuali ia berprasangka baik
kepada Allah”(Muslim 2877).
Rasulullah Saw mengunjungi seorang
pemuda saat ia menjelang kematian, beliau bertanya:
ودَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِى
الْمَوْتِ فَقَالَ:« كَيْفَ تَجِدُكَ؟». قَالَ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ
اللَّهِ إِنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي. فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام:« لاَ يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ
عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو
وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ»
"Apa yang kamu rasakan (dalam hatimu) saat ini?”. Dia menjawab: “Demi
Allah, wahai Rasulullah, sungguh (saat ini) aku (benar-benar)
mengharapkan (rahmat) Allah dan aku (benar-benar) takut akan
(siksaan-Nya akibat dari) dosa-dosaku”. Kemudian Rasulullah Saw
bersabda: “Tidaklah terkumpul dua sifat ini (berharap dan takut) dalam
hati seorang hamba dalam kondisi seperti ini kecuali Allah akan
memberikan apa yang diharapkannya dan menyelamatkannya dari apa yang
ditakutkannya” (At Tirmidzi 983).
Bersegera bertaubat dan jujur
didalamnya termasuk penyebab utama yang dapat membuahkan husnul khatimah
bagi pelakunya, sebagaimana ia menjadi penyebab selamatnya seseorang
yang telah membunuh seratus jiwa, akan tetapi ia jujur dalam taubatnya
kepada Allah, sehingga mendapatkan kemudahan husnul khatimah dari Allah,
karenanya janganlah lupa wahai hamba Allah untuk selalu memperbaharui
taubat kepada Allah sebagaimana Rasulullah melakukannya setiap hari,
Rasulullah Saw bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي
الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
"Wahai manusia bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat
kepada-Nya dalam satu hari seratus kali"(Muslim 2702).
Hamba Allah
bersungguh-sungguhlah dalam beramal shaleh, karena keberuntungan hanya
bagi orang yang mempersiapkan dan memperbanyak bekalnya sebelum hari
pembalasan.
Ya Allah, terimalah taubat kami, ampunilah kami,
jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin kami, jadikan esok
lebih baik dari hari ini bagi kami, jadikan penutup amalan kami adalah
kebaikan, jadikan sebaik-baiknya hari kami saat berjumpa dengan-Mu dan
berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau
perintahkan untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
بارَكَ اللهُ لِي ولكُمْ فِي القرآنِ العظيمِ ونفعَنِي وإياكُمْ بِمَا فيهِ
مِنَ الآياتِ والذكْرِ الحكيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ عليه الصلاة والسلام
أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ
هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khotbah Kedua:
الحَمْدُ للهِ
ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنَا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ
صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ
وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ.
Kaum muslimin ; husnul khatimah mempunyai beberapa
tanda, diantaranya yang terpenting adalah : Allah memberikan taufiq
kepada seorang hamba untuk melakukan ketaatan, menekuni kebajikan,
sehingga kebaikannya bertambah, dihilangkan darinya kesalahan dan
diangkat derajatnya, Rasulullah Saw bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ.
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ :
يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ
"Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah
memanfaatkannya”. Para sahabat bertanya,”Bagaimana Allah akan
memanfaatkannya?” Rasulullah menjawab,”Allah akan memberinya taufiq
untuk beramal shalih sebelum dia meninggal”(Tirmidzi 2142 Ahmad 12543).
Dan diantara taufiq Allah kepada hamba-Nya adalah dengan memberikannya
ilham untuk berbuat ketaatan setelah menyelesaikan ketaatan, beribadah
setelah melakukan ibadah sehingga ketaatan menjadi tabiatnya hingga ia
menjumpai Tuhannya dengan kondisinya, maka beruntunglah orang yang
panjang umurnya dalam ketaatan kepada Tuhannya, menjalankan shalat,
puasa, mengeluarkan zakat, haji, berbakti kepada kedua orang tua,
menyambung silaturrahim, berlaku baik pada tetangganya, berperangai baik
kepada manusia, berusaha berbakti kepada negara, masyarakat dan
menyebarkan kebaikan dan terus berbuat kebaikan sehingga ia menemui
ajalnya dalam keadaan husnul khatimah.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ
أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ
تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2])
وقالَ رسولُ اللهِ عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى
آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ
الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ
الدينِ.
اللَّهُمَّ وفِّقْنَا للعملِ الصالِحِ وثبِّتْنَا عليهِ، اللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا،
وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافية في البدن، وبركة في
العمر والذرية، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ
تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ
عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا
التَّقْوَى، وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ،
وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ
النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ
هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا
إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ
العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة بن
زايد وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ
حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ،
اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا
شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ
وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ
فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِكُلِّ مَنْ وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ
عَلَى عِبَادِكَ، اللَّهُمَّ بارِكْ فِي مَالِ كُلِّ مَنْ زَكَّى وزِدْهُ
مِنْ فضلِكَ العظيمِ، اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ
والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ
مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لِكُلِّ
مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَ.
اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ ولاَ تجعَلْنَا مِنَ القانطينَ، اللَّهُمَّ
أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ
اسْقِنَا منْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَنْبِتْ لنَا منْ بَرَكَاتِ
الأَرْضِ.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى
سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ[([4]).
http://awqaf.ae/Jumaa.aspx?SectionID=5&RefID=1533
([1]) لقمان :33.
([2]) الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) العنكبوت :45.
No comments:
Post a Comment