Friday, September 16, 2016

KHOTBAH JUM'AT: HUSNUL KHATIMAH

Khotbah Jumat, 6 Jumadil Akhirah 1433 H / 27 April 2012 M

Khotbah Pertama:

الحمدُ للهِ الْمُتَفَرِّدِ بالبقاءِ، سبحانَهُ كتبَ علَى خلقِهِ الفناءَ، أحمدُهُ حمداً كثيراً طيباً مُباركاً فيهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، إمامُ الأنبياءِ، وسيدُ الأتقياءِ، فاللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وبَارِكْ عليهِ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ البررةِ النجباءِ، وعلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بإِحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ. أَمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ تعالَى، قالَ اللهُ عزَّ وجلَّ:] يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْماً لاَّ يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئاً إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الغَرُورُ[([1]).

Kaum mukminin ; seorang hamba tergadaikan oleh amalannya, bila amalannya baik maka akan mendapatkan kebaikan dan bila amalannya buruk maka akan mendapatkan keburukan, dan nilai amalan ada pada penutup perbuatan baiknya, Rasulullah Saw bersabda:

 إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا، كَالْوِعَاءِ إِذَا طَابَ أَعْلاَهُ طَابَ أَسْفَلُهُ، وَإِذَا خَبُثَ أَعْلاَهُ خَبُثَ أَسْفَلُهُ

"Sesungguhnya perbuatan itu tergantung penutupnya, bagaikan bejana bila atasnya baik maka bawahnya baik dan bila atasnya buruk maka bawahnya buruk" (Shahih Ibnu Hibban 2/51).

Dan yang harus menjadi kepedulian manusia adalah untuk selalu menjaga akhir hayatnya dan saat berjumpa dengan Tuhannya, karenanya Al Quran menganjurkan untuk menyiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk menjumpai Allah dengan amalan baik, firman Allah:

 فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya" (Al Kahf 110).

Dan karena pentingnya titik pemisah ini dalam kehidupan manusia, maka para Nabi telah berwasiat kepada para kaumnya untuk berusaha menjaga agar mendapatkan husnul khatimah, Allah berfirman:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

 "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".(Al Baqarah 132).

Kisah nabi Yusuf yang tersebut dalam firman Allah:

 تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِين

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh (Yusuf 101).

Husnul khatimah adalah cita-cita orang-orang shaleh dan orang-orang pilihan seperti dikisahkan dalam Al Quran:

 رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأَبْرَارِ

“Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti”(Ali Imran 193).

Dan diantara doa Rasulullah SAW adalah:

 « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دَينِكَ وَطَاعَتِكَ »

"Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, teguhkan hatiku pada agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu" (Musnad Ahmad 26887).

Sebagaimana beliau berlindung kepada Allah dari keburukan fitnah kehidupan dan kematian dan fitnah kematian itu adalah hari kiamat dimana seorang hamba meninggalkan dunia dan menghadap pada akhirat, dan syetan berusaha untuk menfitnah dalam agamanya dan menghalanginya dari keimanan kepada Allah, saat itu Allah meneguhkan seorang mukmin dengan ucapan yang teguh yaitu:

 لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ محمدٌ رسولُ اللهِ,

Rasulullah bersabda:

 مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) maka ia akan masuk surga” (Abu Daud 3116).

Hamba Allah ; husnul khatimah mempunyai beberapa sebab, diantaranya adalah bertakwa kepada Allah, jujur dengan-Nya dalam segala hal, sehingga rahasia manusia sama dengan keterbukaannya, amalannya dihadapan manusia tidak berbeda dengan amalannya saat menyendiri, dan barang siapa rahasianya berbeda dengan keterbukannya, dalamnya berbeda dengan luarannya maka itu termasuk buruk penutupnya (su’ul khatimah), seperti orang yang menjaga ketaatannya dihadapan manusia, tapi bila ia menyendiri ia berani melanggar perintah Allah, sedangkan ia lupa bahwa Allah mengawasinya, dari Tsauban dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda:

 « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَاماً مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضاً فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُوراً». قَالَ ثَوْبَانُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا، جَلِّهِمْ لَنَا، أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ:« أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ، وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا»

"Sungguh aku mengetahui kaum dari umatku yang datang membawa kebaikan seperti gunung Tuhâmah, namun Allah menjadikannya debu yang beterbangan." Tsauban RA bertanya :Wahai Rasulullah, deskripsikan mereka kepada kami agar kami tidak seperti mereka tanpa menyadarinya?" Nabi menjawab: mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari bangsa kalian. Malam mereka sama seperti malam kalian, akan tetapi jika tengah bersendirian dengan perkara haram mereka melanggarnya” (Ibnu Majah 4245)

Istiqamah dalam melakukan perbuatan baik merupakan salah satu sebab husnul khatimah, yaitu seseorang selalu melakukan ketaatan kepada Allah dalam setiap kondisinya, karena barang siapa terbiasa hidup dengan satu perbuatan maka ia akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaannya, Allah berfirman:

 يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan di akhirat " (Ibrahim 27)

Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beristiqamah bahwa mereka mendapatkan dukungan dan keteguhan dari malaikat saat mereka meninggal, Allah berfirman:

 إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ المَلائِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ* نَحْنُ أَوْلَيَاؤُكُمْ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta” (Fusshilat 30-31).

Kaum mukminin ; sebagaimana berprasangka baik juga salah satu dari penyebab terpenting yang mengantarkan seorang hamba mendapatkan husnul khatimah, yaitu manusia mengharap keluasan Rahmat Allah dan kemudahan dalam pengampunan dosa-dosanya, Rasulullah Saw bersabda:

 لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah salah satu dari kalian meninggal kecuali ia berprasangka baik kepada Allah”(Muslim 2877).

Rasulullah Saw mengunjungi seorang pemuda saat ia menjelang kematian, beliau bertanya:

 ودَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِى الْمَوْتِ فَقَالَ:« كَيْفَ تَجِدُكَ؟». قَالَ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام:« لاَ يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ»

"Apa yang kamu rasakan (dalam hatimu) saat ini?”. Dia menjawab: “Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh (saat ini) aku (benar-benar) mengharapkan (rahmat) Allah dan aku (benar-benar) takut akan (siksaan-Nya akibat dari) dosa-dosaku”. Kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah terkumpul dua sifat ini (berharap dan takut) dalam hati seorang hamba dalam kondisi seperti ini kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkannya” (At Tirmidzi 983).

Bersegera bertaubat dan jujur didalamnya termasuk penyebab utama yang dapat membuahkan husnul khatimah bagi pelakunya, sebagaimana ia menjadi penyebab selamatnya seseorang yang telah membunuh seratus jiwa, akan tetapi ia jujur dalam taubatnya kepada Allah, sehingga mendapatkan kemudahan husnul khatimah dari Allah, karenanya janganlah lupa wahai hamba Allah untuk selalu memperbaharui taubat kepada Allah sebagaimana Rasulullah melakukannya setiap hari, Rasulullah Saw bersabda:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

"Wahai manusia bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam satu hari seratus kali"(Muslim 2702).

Hamba Allah bersungguh-sungguhlah dalam beramal shaleh, karena keberuntungan hanya bagi orang yang mempersiapkan dan memperbanyak bekalnya sebelum hari pembalasan.

Ya Allah, terimalah taubat kami, ampunilah kami, jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin kami, jadikan esok lebih baik dari hari ini bagi kami, jadikan penutup amalan kami adalah kebaikan, jadikan sebaik-baiknya hari kami saat berjumpa dengan-Mu dan berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).

 بارَكَ اللهُ لِي ولكُمْ فِي القرآنِ العظيمِ ونفعَنِي وإياكُمْ بِمَا فيهِ مِنَ الآياتِ والذكْرِ الحكيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ عليه الصلاة والسلام أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.

Khotbah Kedua:

 الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنَا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Kaum muslimin ; husnul khatimah mempunyai beberapa tanda, diantaranya yang terpenting adalah : Allah memberikan taufiq kepada seorang hamba untuk melakukan ketaatan, menekuni kebajikan, sehingga kebaikannya bertambah, dihilangkan darinya kesalahan dan diangkat derajatnya, Rasulullah Saw bersabda:

 إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ : يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

"Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah memanfaatkannya”. Para sahabat bertanya,”Bagaimana Allah akan memanfaatkannya?” Rasulullah menjawab,”Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal”(Tirmidzi 2142 Ahmad 12543).

Dan diantara taufiq Allah kepada hamba-Nya adalah dengan memberikannya ilham untuk berbuat ketaatan setelah menyelesaikan ketaatan, beribadah setelah melakukan ibadah sehingga ketaatan menjadi tabiatnya hingga ia menjumpai Tuhannya dengan kondisinya, maka beruntunglah orang yang panjang umurnya dalam ketaatan kepada Tuhannya, menjalankan shalat, puasa, mengeluarkan zakat, haji, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturrahim, berlaku baik pada tetangganya, berperangai baik kepada manusia, berusaha berbakti kepada negara, masyarakat dan menyebarkan kebaikan dan terus berbuat kebaikan sehingga ia menemui ajalnya dalam keadaan husnul khatimah.

 عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رسولُ اللهِ عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3]) اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ. اللَّهُمَّ وفِّقْنَا للعملِ الصالِحِ وثبِّتْنَا عليهِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافية في البدن، وبركة في العمر والذرية، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى، وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة بن زايد وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ. اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِكُلِّ مَنْ وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى عِبَادِكَ، اللَّهُمَّ بارِكْ فِي مَالِ كُلِّ مَنْ زَكَّى وزِدْهُ مِنْ فضلِكَ العظيمِ، اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَ. اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ ولاَ تجعَلْنَا مِنَ القانطينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا منْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَنْبِتْ لنَا منْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ. اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ. اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).

http://awqaf.ae/Jumaa.aspx?SectionID=5&RefID=1533

([1]) لقمان :33.
([2]) الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) العنكبوت :45.

No comments:

Post a Comment