Khotbah Jumat, 27 Jumadil Akhirah 1433 H / 18 Mei 2012 M
Khutbah Pertama:
الحمدُ للهِ الحليمِ الْمنَّانِ، ذِي الفضلِ والإحسانِ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُوصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ صلاةً تَمنحُنَا بِهَا الشفاعةَ وتُؤَمِّنُنَا بِهَا عندَ قيامِ الساعةِ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ[([1]).
Kaum muslimin ; kesabaran merupakan salah satu cabang keimanan, dan ia merupakan akhlak islam yang agung dan sifat keimanan yang mulya, kesabaran adalah menguasai diri saat marah, mengontrolnya sehingga tidak keluar dari keindahan etika, kesabaran termasuk sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, Beliau bersabda kepada Asyajj Abdul Qais:
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ
"Sesungguhnya padamu terdapat dua sifat yang dicintai Allah : kesabaran dan toleran" (Muslim 25). Ia termasuk salah satu sifat diantara sifat-sifat Allah, firman-Nya:
وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (Al Baqarah 225) dan firman-Nya:
وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun” (At Taghabun 17). Dan diantara bentuk kesabaran Allah kepada hamba-Nya bahwa Dia tidak mengazab hamba-hamba-Nya disebabkan keteledoran mereka, akan tetapi Dia sabar dan menangguhkan mereka sehingga mereka bertaubat, Allah berfirman:
وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ
“Dan Tuhanmulah Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka” (Al Kahf 58).
Allah telah memuji nabi-Nya Ibrahim karena beliau menjiwai sifat sabar dan mengamalkannya terhadap kaumnya, walaupun ia mendapatkan siksaan dan cacian dari mereka, Allah berfirman:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيبٌ
“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah” (Hud 75) dan sifat sabar ini juga diwariskan kepada anaknya Ismail AS, dimana beliau sabar dalam menerima perintah Allah, tidak menolak akan tetapi memulainya dengan keridhaan dan penyerahan diri, Allah berfirman:
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”(As Shaffat 101).
Hamba Allah ; kesabaran merupakan karakter kehidupan Nabi Saw yang terungkap dalam ucapan, tindakan dan perbuatannya, Zaid Bin Su'nah dalam kisah keislamannya : sesungguhnya tidak tersisa dari alamat kenabian sedikitpun kecuali aku telah mengetahuinya pada wajah Muhammad Saw ketika aku melihatnya, kecuali dua hal yang belum aku khabarkan : kesabarannya mendahului kebodohannya, dan semakin bertambah kebodohannya terhadapnya maka ia bertambah sabar, maka aku berusaha selalu berbaur dengannya, sehingga aku mengetahui kesabaran dan kebodohannya. Kemudian Zaid bin Sa’nah memberikan hutang pada Rasulullah Saw yang dibagikan oleh Rasulullah Saw kepada sebagian fakir miskin kaum muslimin sebagai bantuan, ketika dua hari atau tiga hari sebelum jatuh tempo, Zaid bin Sa’nah datang kepada Rasulullah SAW lalu ia menarik leher pakaiannya dan berkata dengan kasar: tidakkah engkau akan membayar hutangmu padaku wahai Muhammad, maka demi Allah telah aku ketahui bahwa Bani Abdul Mutthalib menunda-nunda pembayaran hutang dan seperti aku ketahui dari pergaulanku dengan kalian. Maka Umar bin Khattab RA marah dan hendak memukulnya, dan Rasulullah SAW memandang Umar dengan penuh kelembutan dan ketenangan Rasulullah bersabda : wahai Umar, sesungguhnya yang kami lebih butuhkan darimu bukan ini, memerintahkanku untuk membayar dengan baik dan memerintahkannya untuk menagih dengan baik, pergilah dengannya wahai Umar dan lunasilah haknya dan tambahkan dua puluh sha’ sebagai pengganti hardikan yang kamu lakukan padanya” (Shahih Ibnu Hibban 1/523, Al Baihaqi 6/52) Seketika itu Zaid bin Sa’nah masuk Islam disebabkan kesabaran dan akhlak baik yang disaksikannya.
Kaum mukminin; seseorang dimungkinkan mendapatkan sifat sabar dengan latihan, seperti melatih diri menerapkan kesabaran dalam kehidupan keseharian, yaitu dengan mengajarkan diri untuk bersabar terhadap kesalahan orang lain dalam berinteraksi dengan mereka, baik didalam keluarga dan selain keluarganya, sabar terhadap isteri dan anak-anaknya, sabar terhadap saudara, tetangga dan teman-temannya, sabar saat dalam tugasnya dan sabar saat mengendarai kendaraan, Rasulullah Saw bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
"Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah" (Muttafaq 'alaih)
Oleh karena itu meninggalkan amarah termasuk perkara yang dapat mengundang kesabaran, karena amarah adalah teman sejatinya keburukan, mendatangkan permusuhan, merusak kasih saying, menghancurkan rumah tangga dan merusak kemaslahatan, sementara kesabaran merupakan ketentraman bagi hati dan kebahagiaan bagi masyarakat,
فقَدْ قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي. قَالَ:« لاَ تَغْضَبْ» قَالَ الرَّجُلُ: فَفَكَّرْتُ حِينَ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم مَا قَالَ فَإِذَا الْغَضَبُ يَجْمَعُ الشَّرَّ كُلَّهُ
seseorang berkata : wahai Rasulullah berwasiatlah kepadaku. Beliau menjawab :"Jangan marah", seseorang itu berkata ; kemudian aku berfikir mengenai sabda Nabi Saw, karena amarah dapat mengumpulkan semua keburukan" (Ahmad 23871)
Bahkan meninggalkan amarah dan bersegera menerapkan kesabaran terhadap orang lain merupakan salah satu jalan menuju surga,
فعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ. قَالَ:« لا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ
dari Abu Darda' RA berkata : wahai Rasulullah Saw tunjukkan kepadaku perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam surga. Beliau bersabda : "Jangan marah dan bagimu surga" (At Thabrani dalam kitab Al Awsath 3/25)
Hal yang dapat membantu terwujudnya kesabaran adalah pengetahuan mengenai perkara akhirat, Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ
"Barang siapa menguasai amarah sedangkan ia mampu melaksanakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat diatas kepala para makhluk, sehingga ia diberikan pilihan oleh Allah permaisuri yang ia suka " (Abu Daud 4777)
Pengetahuan yang lengkap tentang kesabaran, ucapan yang lembut adalah kunci hati, dan dari hal tersebut seorang muslim mampu mengobati penyakit jiwanya sehingga mampu memiliki jiwa dan hati yang tenang yang tidak mudah diprovokasi oleh amarah, karenanya seorang yang sabar yang hakiki adalah orang yang memiliki keluasan dada, memaafkan orang lain, mengampuni kesalahan dan kebodohan mereka, atau membalas kesalahan dengan semisalnya sehingga ia menjadi orang yang mampu mengukur dirinya, dan keimanannya memerintahkannya pada pemaafan terhadap orang-orang yang bodoh, dan orang seperti inilah yang akan mendapatkan balasan di dunia dan akhirat, dan yang akan mendapatkan pujian disisi Allah dan makhluk-Nya dan ialah yang pantai menyandai predikat orang yang kuat, Al Ahnaf bin Qais RA termasuk orang yang terkenal dengan kesabarannya, sehingga ia menjadi pemimpin kabilahnya, ia berkata:
مَا آذانِي أحدٌ إلاَّ أخَذْتُ فِي أمرِهِ بإحدَى ثلاثٍ: إِنْ كانَ فوقِي عَرَفْتُ لَهُ فضلَهُ، وإِنْ كانَ مثلِي تفضَّلْتُ عليهِ، وإِنْ كانَ دونِي أكرَمْتُ نفْسِي عنْهُ
Tidak seorangpun yang menyakitiku kecuali aku mengambil salah satu dari tiga perkara dalam masalah ini : bila ia diatasku maka aku mengetahui keutamaannya, bila ia sepadan denganku maka aku berlaku baik padanya dan bila ia dibawah kedudukanku maka aku menghargai diriku darinya” (At Tadzkirah Al Hamduniyah 1/172).
Ya Allah berilah kesabaran kepada kami dan berilah taufiq kepada kami untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua:
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبد
ُ
هُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Kaum mukminin; dan karena pentingnya kesabaran dan bahayanya amarah maka Nabi SAW berwasiat kepada kita dengan beberapa etika yang dapat memperkuat kesabaran dan meredam amarah, dan diantaranya adalah dengan : berdzikir kepada Allah, melindungi diri dan meminta pertolongan kepada-Nya dari godaan syetan yang terkutuk, disebutkan ada dua orang yang saling menghina dihadapan Nabi Saw, salah satu dari keduanya marah sehingga mukanya memerah dan urat nadinya keluar, maka Nabi SAW bersabda:
إِنِّى لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat bila itu diucapkan maka akan pergi darinya apa yang ia dapati, bila ia membaca : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (Bukhari 6115).
Dan hal lain yang dapat menghilangkan amarah adalah wudlu, sebagaimana Nabi SAW memerintahkan orang yang sedang marah untuk berwudlu, karena ia dapat memadamkan amarah sebagaimana air dapat memadamkan api, dan orang yang sedang marah hendaknya merubah posisinya, ketika ia sedang duduk maka hendaknya ia berdiri, semua itu dapat menekan jiwa dan mengendurkan otot-ototnya.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى،وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة بن زايد وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِكُلِّ مَنْ وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى عِبَادِكَ، اللَّهُمَّ بارِكْ فِي مَالِ كُلِّ مَنْ زَكَّى وزِدْهُ مِنْ فضلِكَ العظيمِ، اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَ.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).
No comments:
Post a Comment