Friday, March 2, 2018

Khotbah Jum'at: SHOLAT NAWAFIL

Khotbah Jumat, 14 Jumadil Akhirah 1439 H/02 Maret 2018 M

Shalat Nawafil

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا خَلَقَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَرَضَ الصَّلَاةَ عِمَادَ الطَّاعَاتِ، وَشَرَعَ النَّوَافِلَ زِيَادَةً للْحَسَنَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ تَقَرَّبَ إِلَى رَبِّهِ وَعَبَدَ، وَرَكَعَ لِلَّهِ وَسَجَدَ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ تَعَالَى😦 إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ* آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ)([1]).

Kaum muslimin : sesungguhnya Allah mewajibkan shalat lima waktu pada kita sehari semalam, dan kita diperintahkan untuk memeliharanya, Allah berfirman :

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusu’” (Al Baqarah 2 : 238). Barang siapa memelihara shalat tepat waktunya, menyempurnakan rukun dan khusu’nya, maka Allah akan mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga, Rasulullah Saw bersabda :

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى، مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ وَصَلَّاهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ، وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ

“Shalat lima waktu yang telah diwajibkan oleh Allah, barang siapa memperbagus wudhunya dan mengerjakan tepat waktunya, menyempurnakan ruku’nya dan khusu’nya, maka Allah bernjanji untuk mengampuninya” (Abu Daud 425)

Dan sesungguhnya diantara pemberian Allah pada kita, bahwa Dia mensunnahkan shalat nawafil sebagai penyempurna shalat fardhu, Rasulullah Saw bersabda :

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ كَانَ أَتَمَّهَا كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ أَتَمَّهَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَتُكْمِلُونَ بِهَا فَرِيضَتَهُ؟

“Perkara pertama yang akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, jika ia menyempurnakannya, maka dicatat sempurna, dan bila tidak, maka Allah berfirman pada malaikat-Nya : perhatikan, apakah kalian mendapatkan pada hamba-Ku shalat sunnah yang dapat dijadikan penyempurna shalat fardhunya?” (Abu Daud 864, An Nasa’i 465, At Tirmidzi 413, Ibnu Majah 1426 dan Ahmad 16949). Ini merupakan anjuran untuk memperbanyak shalat nawafil, Rasulullah Saw berkata pada Tsauban RA :

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ، فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud, karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu” (Muslim 488). Yang dimaksud dengan sujud adalah shalat (Syarah An Nawawi atas hadits Muslim 2/238)

Para jamaah shalat : lalu apa saja shalat nawafil yang disunnahkan oleh Nabi Saw ?

Yang pertama sunnah rawathib, yaitu shalat-shalat sunnah yang dilakukan setelah atau sebelum shalat fardhu, Rasulullah Saw menganjurkan kita agar menjaganya, disebutkan dalam sabdanya :

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidak satupun hamba muslim yang menunaikan shalat karena Allah setiap hari sebanyak dua belas rakaat sunnah selain shalat wajib, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga” (Muslim 728).

Rasulullah Saw menjelaskan bilangan shalat sunnah rawatib, yaitu :

أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Empat rakaat sebelum shalat Dhuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah shalat Maghrib, dua rakaat setelah shalat Isya’ dan dua rakaat sebelum shalat Fajr” (At Tirmidzi 414, An Nasa’i 1794 dan Ibnu Majah 1140)

Seorang muslim memulai harinya dengan melakukan shalat nafilah, seperti shalat dua raka’at sebelum shalaf fajr, karena keutamaannya sangat besar dan tidak baik untuk ditinggalkan, dan karena pahalanya sangat agung dan tidak boleh dilupakan, Nabi Saw menjelaskan dalam sabdanya :

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajr lebih baik dari dunia dan isinya” (Muslim 725). Dalam riwayat lain :

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

“Sungguh kedua rakaat tersebut lebih aku cintai daripada dunia semuanya” (Muslim 725). Oleh karenanya Rasulullah Saw bersegera menunaikannya, Aisyah RA berkata :

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ r فِي شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Aku belum pernah melihat Rasulullah Saw mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding shalat sunnah dua rakaat sebelum fajr” (Muslim 724).

Sebagaimana Nabi Saw selalu menunaikan shalat empat rakaat sebelum shalat Dhuhur, dari Aisyah RA :

أَنَّ النَّبِيَّ r كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ

“Sesungguhnya Nabi Saw tidak meninggalkan empat rakaat sebelum shalat Dhuhur” (Bukhari 1182).Beliau tidak pernah meninggalkan untuk menunaikan dua rakaat setelah shalat Dhuhur, dari Ali RA berkata :

كَانَ النَّبِيُّ r يُصَلِّي قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ

“Nabi Saw shalat sebelum shalat Dhuhur empat rakaat dan setelahnya dua rakaat” (At Tirmidzi 424).

Dan barang siapa yang menginginkan pahala dan keutamaan yang lebih banyak serta mendapatkan surga sebagai balasannya, maka hendaklah ia menunaikan shalat sunnah empat rakaat setelah shalat Dhuhur, Nabi Saw bersabda :

مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Barang siapa shalat sebelum Dhuhur empat rakaat dan setelahnya empat rakaat, maka Allah mengharamkan dari neraka” (Abu Daud 1269, At Tirmidzi 427, An Nasa’i 1814 dan Ibnu Majah 1160)

Saudaraku yang rajin menunaikan shalat nafilah : diantara nawafil yang selalu dilakukan oleh Nabi Saw adalah dua rakaat setelah Maghrib, dari Ibnu Umar RA bahwa :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r كَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ

“Sesungguhnya Rasulullah Saw menunaikan shalat dua rakaat setelah shalat Maghrib di rumahnya” (Bukhari 1180). Hendaknya seorang muslim menunaikan keduanya di masjid, di rumahnya, atau dimana saja ia menunaikan shalat Maghrib.

Dan Umar RA selalu berusaha untuk belajar shalat nawafil dan mengikutinya, disebutkan bahwa ia RA shalat bersama Nabi beberapa shalat nawafil, diantaranya :

سَجْدَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ

“Dua sujud setelah shalat Isya’” (Muttafaq ‘Alaih).Maksudnya dua rakaat setelah shalat Isya’ (Umdatul Qori 7/234)

Itulah sebagian sunnah-sunnah rawatib, peliharalah, karena sesungguhnya shalat-shalat nawafil mendatangkan manfaat dan faedah yang sangat besar, maka barang siapa mengajaganya maka Allah akan mencintai, memberinya taufiq dan Allah akan menjaga dan memudahkan urusannya, Allah berfirman dalam hadits Qudsy :

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan sesuatu yang Aku cintai melebihi daripada ibadah yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan nawafil sehingga Aku mencintainya, jika Aku mencintaninya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya, dan bila ia memohon perlindungan kepada-Ku, maka Aku akan melindunginya” (Bukhari 6502).Dan dengan memperbanyak melakukan shalat nawafil, maka jiwa, hati dan ruh menjadi bersih, dan dengannya seorang mukmin akan menikmati kehidupan yang tenang dan tenteram, dan ia akan menjumpai Tuhannya dengan membawa shalat wajib yang dilakukan dengan sempurna dan shalat nawafil yang melimpah, sehingga Allah akan memasukkannya ke dalam rahmat-Nya dan membukakan baginya pintu-pintu surga-Nya.

Ya Allah, berilah kami pertolongan untuk berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu danberilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Para jamaah shalat : sesungguhnya shalat nawafil termasuk kebaikan yang dapat dijadikan simpanan amalan seseorang, ia dapat menunaikannya di masjid atau di rumah sebagai bentuk pengamalan sabda Rasulullah Saw :

إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا

“Jika seseorang selesai menunaikan shalat di masjid, maka jadikan sebagiannya (shalat sunnah) di rumahnya, karena sesungguhnya Allah menjadikan dari shalat di rumahnya kebaikan”(Muslim 778). Maksudnya ketika kalian shalat fardhu di masjid, maka tunaikan sebagian shalat nawafil di rumah kalian, agar anak-anak dan isteri kalian mencontoh, yang kecil belajar dan yang besar teringatkan, serta rahmat dan malaikat diturunkan di rumah tersebut (Syarah An Nawawi atas hadits Muslim 6/68).

Mari bersama menunaikan shalat nawafil, agar pahala besar digapai !

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى مَنْ أُمِرْتُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ، قَالَ تَعَالَى:( إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)([2]). وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا»([3]).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ الأَوْفِيَاءَ،وَارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ فِي عِلِّيِّينَ مَعَ الأَنْبِيَاءِ،وَاجْزِ أُمَّهَاتِهِمْ وَآبَاءَهُمْ وَزَوْجَاتِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ جَمِيعًا جَزَاءَ الصَّابِرِينَ يَا سَمِيعَ الدُّعَاءِ.

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، الَّذِينَ تَحَالَفُوا عَلَى رَدِّ الْحَقِّ إِلَى أَصْحَابِهِ، اللَّهُمَّ كُنْ مَعَهُمْ وَأَيِّدْهُمْ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ أَهْلَ الْيَمَنِ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْمَعْهُمْ عَلَى كَلِمَةِ الْحَقِّ وَالشَّرْعِيَّةِ، وَارْزُقْهُمُ الرَّخَاءَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِينَ. اللَّهُمَّ انْشُرِ الاِسْتِقْرَارَ وَالسَّلاَمَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ زِدِ الإِمَارَاتِ بَهْجَةً وَجَمَالاً، وَاكْتُبْ لِمَنْ غَرَسَ فِيهَا هَذِهِ الْخَيْرَاتِ الأَجْرَ وَالْحَسَنَاتِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ، الشَّيْخ خليفة بن زايد لِكُلِّ خَيْرٍ، وَاحْفَظْهُ بِحِفْظِكَ وَعِنَايَتِكَ، وَوَفِّقِ اللَّهُمَّ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، وَالشَّيْخ مَكْتُوم، وَشُيُوخَ الإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رَحْمَتِكَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ رَحْمَةً وَاسِعَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَأَفِضْ عَلَيْهِمْ مِنْ خَيْرِكَ وَرِضْوَانِكَ. وَأَدْخِلِ اللَّهُمَّ فِي عَفْوِكَ وَغُفْرَانِكَ وَرَحْمَتِكَ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجَمِيعَ أَرْحَامِنَا وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا.

اللَّهُمَّ احْفَظْ لِدَوْلَةِ الإِمَارَاتِ اسْتِقْرَارَهَا وَرَخَاءَهَا، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا الأَمْنَ وَالأَمَانَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ. اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.



No comments:

Post a Comment