Khutbah Jumat, 17 Dzul Hijjah 1433 H / 02 November 2012 M
Kesucian Dan Kemurnian
Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ جلَّ وعلاَ، قَالَ سبحانَهُ وتعالَى :] وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً [([1]).
Kaum muslimin ; sesungguhnya kesucian merupakan akhlak mulya yang sesuai dengan fitrah penciptaan, ia adalah menjaga syahwat jiwa, mencegahnya dari semua keharaman dan meminta-minta pada manusia, ia adalah kesempurnaan tindakan, kebaikan sifat dan Rasulullah Saw menjadikan penyebab masuk surga, Rasulullah Saw bersabda : "Diajukan padaku tiga orang pertama yang masuk surga, disebutkan diantaranya orang yang selalu menjaga kesucian dirinya” (At Tirmidzi 1642). Ia merupakan bukti kesempurnaan jiwa dan keluasan akal, seorang ulama berkata : kesempurnaan itu ada pada tiga hal : kesucian dalam agama, kesabaran saat tertimpa musibah dan manajemen yang bagus dalam kehidupan
Kemurnian adalah sifat para nabi dan utusan, kisah Nabi Saw saat Abu Sofyan ditanya oleh Heraclius tentang Rasulullah Saw ;
بِمَاذَا يَأْمُرُكُمْ؟ فقالَ: يَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ
perintah yang dibebankan pada kalian ? ia menjawab : Beliau memerintahkan kami shalat, jujur, kemurnian dan bersilaturrahim" (Muttafaq 'alaih)
Keutamaan kemurnian (iffah) dan kepentingannya, bahwa Rasulullah Saw selalu memohon kepada Allah dalam doanya :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
Ya Allah sesungguhnya aku memohon hidayah, ketakwaan, kemurniaan dan kekayaan pada-Mu" (Muslim 2721)
Hamba allah ; kemurnian yang paling agung ada pada anggota badan, karena ia merupakan alat untuk melakukan perbuatan, bila anggota badan terselamatkan dari semua bencana, dan murni serta bersih dari semua tindakan kemungkaran, maka Allah akan memberi balasan kebaikan padanya, dan akan memulyakannya dengan memasuki surga-Nya, Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
"Barang siapa yang mampu menjamin aku antara dua jenggotnya dan antara dua kakinya maka aku menjamin surga baginya" (Bukhari 6474)
Dasar kemurnian anggota badan yaitu dengan tidak berbuat kecuali yang sesuai dengan syariat dan dihalalkan oleh agama, bila jiwa mengajak atau saat keimanan melemah, maka ingatlah akan manisnya keimanan tetap ada diantara kenikmatan syahwat yang cepat sirna, dan sesungguhnya Allah bersama hamba-Nya yang mau menjaga diri dan sabar, seorang muslim yang menjaga dirinya dari keharaman maka ia tidak akan terpedaya oleh syahwatnya, sehingga Allah memudahkan pernikahan baginya, Allah berfirman :
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”(An Nur 24 : 33)
Kaum muslimin ; hendaknya seseorang menjaga kemurnian hartanya, dengan tidak mengambil selain haknya, dan Allah telah memerintahkan orang kaya yang mengurus harta anak yatim untuk berhati-hati, dan orang fakir yang mengurusnya diperbolehkan untuk mengambilnya secukupnya, Allah berfirman :
وَمَن كَانَ غَنِياًّ فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ
“Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut”(An Nisa' 4 : 6)
Diantara bentuk kemurnian lainnya adalah menjauh dari harta milik public atau milik negara, maka jangan menggunakannya di luar peruntukannya, atau menggunakannya untuk kepentingan pribadi, tapi hendaknya menjaganya karena itu merupakan harta milik masyarakat dan menjaganya merupakan tanggung jawab setiap individu.
Seorang muslim hendaknya menjaga kemurnian dirinya dengan tidak meminta-minta atau mengemis, jangan pernah menuntut harta tanpa bekerja, Allah bangga dan memuji hamba-Nya yang menjauh dari meminta-minta, Allah berfirman :
يَحْسَبُهُمُ الجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً
“orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak” (Al Baqarah 2 : 273), Nabi Saw bersabda :
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ
“Barang siapa menjaga kesucian dirinya dengan tidak meminta-minta maka Allah akan menjaganya dan barang siapa merasa cukup maka Allah akan mencukupinya” (Bukhari 1427)
Seorang muslim harus memeriksa makanannya agar tidak memakan sesuappun dari barang haram, kemurnian adalah jalan menuju surga, Rasulullah Saw bersabda :
أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا: حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيثٍ، وَحُسْنُ خَلِيقَةٍ، وَعِفَّةٌ فِي طُعْمَةٍ
"Empat perkara bila ada pada dirimu maka kamu tidak akan sedih dengan kehilangan dunia ; menjaga amanah, jujur dalam berkata, baik budi pekerti dan makanan yang terjaga (kehalalannya)” (Musnad Ahmad 6812)
Kaum mukminin ; sesungguhnya kemurnia dapat melindungi seorang muslim dari setiap etika buruk, dan mendorongnya menuju kemulyaan dan keanggunan, sehingga ia tidak berujar kecuali ucapan yang baik, dan Rasulullah Saw melarang dusta karena ia bertentangan dengan wibawa dan kemurnian ucapan, Rasulullah Saw bersabda :
كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيثاً هُوَ لَكَ بِهِ مُصَدِّقٌ، وَأَنْتَ لَهُ بِهِ كَاذِبٌ
"Khianat besar bila Anda berdialog dengan saudaramu, ia jujur padamu sementara kamu berdusta padanya" (Abu Daud 4971)
Ya Allah kami mohon kesucian dan kemurnian pada-Mu dalam ucapan dan tindakan, dan berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa kemurnian bisa didapat dengan penguatan keimanan, karena hati yang merasakan manisnya keimanan dan selalu merasa terawasi oleh Allah, maka dengan sendirnya akan malu untuk melakukan pelanggaran perintah Allah dan melakukan kemungkaran, sebagaimana ia bisa didapat dengan menjauh dari semua tempat kesyubhatan, karena syetan memperdaya dan berhias untuk seorang hamba sehingga ia terjebak dalam kelalaian dan kemaksiatan, Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar”(An Nur 24 : 21).
Beberapa buah kemurnian diantaranya ; bahwa Allah menjadikannya sebab pertolongan-Nya pada seorang hamba, Rasulullah Saw bersabda :
ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ... وذكَرَ منهُمْ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ
"Tiga golongan berhak mendapatkan pertolongan Allah, disebutkan diantaranya ;orang yang menikah dan menginginkan kemurnian" (At Tirmidzi 1655)
Sebagaimana ia dapat menjaga pemiliknya dari kehancuran, dalam kisah penghuni goa yang terselamatkan disebutkan dalam doa seorang dari mereka :Ya Allah sesungguhnya aku mempunyai anak perempaun pamanku, aku sangat mencintainya melebihi cinta seorang laki-laki pada seorang wanita, aku pernah meminta memuaskan nafsu, tapi ia menolaknya hingga aku memberinya seratus Dinar, aku berusaha mengumpulkan seratus Dinar dan aku menumpainya membawa seratus dinar, ketika aku diantara dua pahanya, ia berkata ; wahai hamba Allah bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kau nodai kecuali dengan mahar. Lalu aku berdiri menjauh darinya, maka Ya Alah bila Engkau mengetahui bahwa aku telah melakukan itu karena mengharap ridha-Mu, maka bukakanlah pada kami jalan keluar, lalu terbukalah jalan keluar bagi mereka” (Muttafaq ‘alaih)
Hendaknya kita semua wahai hamba Allah untuk selalu merasa diawasi oleh Allah dan jagalah selalu kesucian kita, dan tanamkanlah sifat tersebut pada jiwa anak-anak kita agar kelak kita mendapatkan keberuntungan dunia akhirat.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا استعَاذَ منهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لنا خَيْرًا، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([4]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).
No comments:
Post a Comment