Friday, March 2, 2018

Khotbah Jum'at: MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN

Khotbah Jumat, 13 Syawwal 1433 H / 31 Agustus 2012 M

Mendahulukan kepentingan Orang Lain

Khutbah Pertama
الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، أحمدُهُ سبحانَهُ حمدًا يليقُ بجلالِ وجهِهِ وعظيمِ سلطانِهِ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُ وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَاتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ[([1]).
Mendahulukan kepentingan  orang lain merupakan salah satu akhlak agung Islam, etika yang membedakan seorang muslim dari lainnya, ia adalah salah satu gambaran ketinggian dan kesempurnaan akhlak dan kemanusiaan, dengannya seorang mukmin dapat menundukkan diri dan hawa nafsunya sebagai pertanda ketaatan kepada Allah, dan makna utama mendahulukan kepentingan orang lain adalah mendahulukan cinta dan ridha Allah terhadap kesenangan jiwa dan nafsunya, mendahulukan kepentingan orang lain termasuk salah satu akhlak Rasulullah Saw, Aisyah RA berkata : kita mampu untuk mengenyangkan lapar kita, akan tetapi Muhammad Saw lebih mendahulukan kepentingan orang lain terhadap dirinya.
Rasulullah Saw mengajarkan kita agar menggunakan akhlak mendahulukan kepentingan orang lain ini, Beliau lebih mendahulukan kaum faqir muslimin atas dirinya dan keluarganya walaupun mereka sangat membutuhkannya, Beliau berkata pada keluarganya :
لاَ أُعْطِيكُمْ وَأَدَعُ أَهْلَ الصُّفَّةِ تَلَوَّى بُطُونُهُمْ مِنَ الْجُوعِ
 "Aku tidak akan memberikan kalian dan meninggalkan perut ahlus suffah melilit kelaparan" (Ahmad 606)
Hamba Allah ; Rasulullah Saw menganjurkan para sahabatnya untuk berprilaku mementingkan orang lain dalam segala kondisi, yaitu dengan melawan rasa apriori dalam dirinya, dan bersegera membantu orang lain, Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لاَ ظَهْرَ لَهُ، وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ مِنْ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لاَ زَادَ لَهُ
“Barangsiapa yang padanya ada kelebihan tempat pada kendaraannya, hendaklah ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyai kendaraan. Dan barangsiapa yang mempunyai kelebihan bekal, hendaklah iamemberikannya kepada orang yang tidak mempunyai bekal" (Muslim 1728)
Akhlak mulya ini telah diterapkan oleh para sahabat Nabi Saw, ketika kaum Anshar mendahulukan saudara-saudaranya dari kaum Muhajirin atas harta, tanah dan rumah mereka, Allah memuji tindakan mereka serta perbuatan bijak mereka, hal ini tertulis dalam Al Quran :
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al Hasyr (59) : 9)
Sehingga akhlak mendahulukan kepentingan orang lain menjadi tabiat para sahabat Nabi Saw,
فقد جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام فَقَالَ إِنِّي مَجْهُودٌ. فَأَرْسَلَ إِلَى بَعْضِ نِسَائِهِ فَقَالَتْ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا عِنْدِي إِلاَّ مَاءٌ. ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَى أُخْرَى فَقَالَتْ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى قُلْنَ كُلُّهُنَّ مِثْلَ ذَلِكَ لاَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا عِنْدِي إِلاَّ مَاءٌ. فَقَالَ :« مَنْ يُضِيفُ هَذَا اللَّيْلَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ». فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى رَحْلِهِ فَقَالَ لاِمْرَأَتِهِ: هَلْ عِنْدَكِ شَىْءٌ؟ قَالَتْ: لاَ، إِلاَّ قُوتُ صِبْيَانِي. قَالَ: فَعَلِّلِيهِمْ بِشَىْءٍ، فَإِذَا دَخَلَ ضَيْفُنَا فَأَطْفِئِي السِّرَاجَ وَأَرِيهِ أَنَّا نَأْكُلُ فَإِذَا أَهْوَى لِيَأْكُلَ فَقُومِي إِلَى السِّرَاجِ حَتَّى تُطْفِئِيهِ. فَقَعَدُوا وَأَكَلَ الضَّيْفُ. فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا عَلَى النَّبِىِّ عليه الصلاة والسلام فَقَالَ:« قَدْ عَجِبَ اللَّهُ مِنْ صَنِيعِكُمَا بِضَيْفِكُمَا اللَّيْلَةَ
suatu hari seseorang mendatangi Rasulullah Saw dan berkata ; bahwa saya lelah kelaparan, kemudian ia mengutus pada sebagian isterinya lalu isterinya berkata : Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sesungguhnya saya tidak mempunyai sesuatu selain air. Kemudian beliau mengutus pada isteri lainnya dan jawabannya sama dengan isteri-isteri lainnya ; tidak demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran saya tidak mempunyai sesuatu selain air. Kemudian beliau bertanya :  "Siapa yang mau menjamu tamuku ini malam ini, niscaya Allah akan merahmatinya."
Maka berdirilah salah seorang dari Anshar dan berkata: Saya, wahai Rasulullah. Maka pergilah dia dan tamu tersebut ke rumahnya. Dia bertanya kepada istrinya: "Apakah kamu mempunyai sesuatu?" Istrinya menjawab: "Tidak ada padaku kecuali makanan untuk anak-anakku." (Katanya): "Alihkanlah perhatian mereka dari makanan dengan sesuatu. Apabila tamu kita telah masuk, matikanlah lampu dan perlihatkan kepadanya bahwa kita sedang makan. Maka apabila dia menjulurkan tangannya untuk makan, bangkitlah ke arah lampu dan matikanlah." Maka mereka duduk dan makanlah tamu tersebut. Keesokan harinya dia datang kepada Rasulullah maka beliau berkata:
"Sungguh Allah kagum atas perlakuan kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam” (Muslim 2054)
Keluarga ini telah mementingkan tamu Rasulullah Saw dan mengutamakan makanan orang lain terhadap makanan keluarganya, sungguh akhlak yang mulya dan keagungan yang mengantarkannya ke surga, sebagian orang shaleh berkata : mahar surga adalah melepas jiwa dari cinta syahwatnya, dan mementingkan cinta Allah terhadap cintanya terhadap dirinya sendiri
Kaum muslimin ; hal yang dapat membantu untuk mendapatkan etika mendahulukan kepentingan orang lain adalah keyakinan seorang muslim bahwa yang ada disisi Allah lebih baik dibandingkan dengan yang ada disisinya, dan bahwa seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya, dan bahwasanya Allah tidak akan menyia-nyiakan yang telah dikeluarkan oleh seseorang bahkan akan menggantinya dengan yang lebih baik karena ia telah mementingkan orang lain daripada dirinya, firman Allah :
وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba' (34) : 39)
Al Quran mengecam seseorang yang mementingkan  dirinya dan nafsunya atas cintanya kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, firman Allah :
فَأَمَّا مَنْ طَغَى* وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا* فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى* وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى* فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (An Nazi'at (79) : 37-41)
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا* وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Dan firman-Na : “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalahlebih baik dan lebih kekal. (Al A'la (87) : 16-17)
Ya Allah berilah kami taufiq untuk mementingkan orang lain , ya Allah berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
بارَكَ اللهُ لِي ولكُمْ فِي القرآنِ العظيمِ، ونفعَنِي وإياكُمْ بِمَا فيهِ مِنَ الآياتِ والذكْرِ الحكيمِ، أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa pendahuluan dapat memurnikan jiwa dan membersihkan hawa nafsu, berbeda dengan sifat apriori, mendahulukan kepentingan orang lain merupakan salah satu bentuk kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan seperti yang diperintahkan Allah kepada kita, firman-Nya :
وَتَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa (Al Maidah (5) : 2), sebagaimana ia menjadi penyebab tergapainya cinta Allah dan ridha-Nya, ia merupakan bukti kejujuran cinta hamba terhadap Tuhannya, agar pohon cinta tersebut dapat tumbuh subur maka harus disirami dengan air infak, mementingkan orang lain dan etika baik, Rasulullah Saw memuji sebagian sahabatnya karena mereka bertabiat dan mempraktekkan sifat mendahulukan kepentingan orang lain terutama pada saat-saat susah, Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّ الأَشْعَرِيِّينَ إِذَا أَرْمَلُوا أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ، فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ
“Orang-orang Asy'ari ini bila mereka ditimpa paceklik atau kekurangan makanan dalam peperangan, maka mereka kumpulkan semua makanan yang mereka miliki pada selembar kain, lalu mereka bagi rata. Mereka termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka” (Muttafaq ‘alaih)
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رسولُ اللهِ عليه الصلاة والسلام:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى، وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ. اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا. اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ. اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).



([1]البقرة :281.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]العنكبوت :45.

Khutbah Jumat, 20 Syawwal 1433 H / 07 September 2012 M

Tahun ajaran baru

Khutbah Pertama
         
الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، أحمدُهُ سبحانَهُ حمدًا طيبًا مباركًا فيهِ كمَا يُحبُّ ويرضَى، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنَا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُ وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ[([1]).
Kaum mukminin ; ilmu merupakan dasar kebangkitan dan kemajuan satu bangsa, dan tidak satu bangsapun mendapatkan kemajuan dan kebangkitan kecuali berpondasi dasar pada ilmu dan mengikuti pengetahuan yang ada pada mereka, Allah berfirman :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Az Zumar (39) :  9) dan karenanya Islam sangat memperhatikan ilmu, dan menganjurkan manusia agar terus membaca, karena ia jalan satu-satunya menuju ilmu, Allah berfirman :
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ* خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ* اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ* الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ* عَلَّمَ الإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al 'Alaq (96) : 1-5)
Allah bersumpah dengan media pengetahuan dan cara mendapatkannya, hal ini sebagai isyarat akan pentingnya mencatat ilmu pengetahuan, Allah berfirman ;
ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
 Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, (Al Qalam (68) : 1-2), sebagaimana Islam meninggikan kedudukan orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu, Allah berfirman :
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Al Mujadilah (58) : 11)
Ilmu yang dianjurkan dituntut oleh agama Islam adalah mencakup semua ilmu yang bermanfaat yang dapat mewujudkan kemajuan dan pembangunan, dan mendatangkan kebaikan, pertumbuhan dan kebahagiaan bagi kemanusiaan, perhatikan sabda Nabi Saw :
مَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْماً سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقاً إِلَى الْجَنَّةِ
"Barang siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga" (Bukhari kitabul ilmu bab 10, Muslim 2699)
Setiap cabang ilmu dan pengetahuan yang dituntut oleh seorang muslim dengan tujuan karena Allah semata maka ia akan mendapatkan pahala.
Kaum muslimin ; sekarang kita berada diambang tahun ajaran baru, hal ini menuntut semua untuk bekerja dan bersungguh-sungguh, karena metode pengajaran tidak akan tumbuh berkembang kecuali dengan usaha yang sungguh-sungguh dari semua lapisan masyarakat, ilmu adalah risalah agung kemanusiaan, maka kita wajib berkontribusi dalam mewujudkan tujuannya yang mulya, sehingga lahir generasi yang bersenjatakan ilmu dan pengetahuan, yang mampu beranjak maju dengan keteguahan, dan terus berkelanjutan dalam proses kemajuan dan kemakmuran dengan semangat yang tinggi, hal ini mewajibkan anak-anak kita agar mampu mengemban amanah ini, dan bertanggung jawab penuh dengan penuh kemulyaan.
Seorang pelajar harus mempunyai niat yang tulus bahwa ia belajar agar dapat bermanfaat bagi dirinya dan negaranya, dan harus diketahui bahwa kuantitas pahala yang didapat tergantung kuantitas niatnya, Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya" (Muttafaq 'alaih)
Kesabaran dan beretika dalam mendapatkan ilmu tidak mungkin dilepaskan dari seorang pelajar, tidak akan memetik buahnya kecuali orang yang berhiasan kesabaran, Allah mengisahkan Nabi Musa saat bersama seorang hamba-Nya yang shaleh :
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا* قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا* وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا* قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun". (Al Kahf (18) : 66-69)
Para pendahulu menjadi tauladan baik bagi kita, mereka menginvestasikan waktu mereka dalam menuntut ilmu, dan menghabiskan umur mereka dalam mendapatkan ilmu.
Sebagaimana tawadhu' dan keluasan hati menjadi tanda seorang pelajar, seorang ulama berkata : seorang pemalu dan sombong tidak akan mendapatkan ilmu.
Para pelajar hendaknya berperangai baik, dan hendaknya mereka menghargai dan menghormati para guru mereka.
Hamba Allah, para guru mempunyai tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi, membangun akal, memperbagus akhlak, menumbuhkan kemampuan, mengetahui kemampuan pelajar, mengungkap bakat yang terpendam pada mereka, agar mampu mengembangkannya, ini merupakan tugas penting yang akan berakibat baik bagi masyarakat, Rasulullah Saw bersabda :
سَيَأْتِيكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَقُولُوا لَهُمْ: مَرْحَباً مَرْحَباً بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَاقْنُوهُمْ». أَيْ: عَلِّمُوهُمْ
“Akan datang kepada kalian beberapa kaum yang menuntut ilmu, jika kalian melihat mereka, maka katakanlah kepada mereka: marhaban, selamat datang wasiat rasulullah saw, dan ajarilah mereka” (Ibnu Majah 247)
Ya Allah berilah kami taufiq untuk mendahulukan , ya Allah berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
بارَكَ اللهُ لِي ولكُمْ فِي القرآنِ العظيمِ، ونفعَنِي وإياكُمْ بِمَا فيهِ مِنَ الآياتِ والذكْرِ الحكيمِ، أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.

Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya tanggung jawab wali murid merupakan tanggung jawab yang besar, tidak terbatas pada membelikan perlengkapan sekolah untuk anak-anaknya semata, akan tetapi perlu mengarahkan mereka, mengawasi etika dan sahabat-sahabat mereka, serta menyediakan suasana yang tepat agar mereka mampu belajar dengan baik, karena memperhatikan urusan anak, mendidik mereka dengan baik dan membangun pemikiran mereka merupakan amanah bagi kedua orang tua, dan tidak ada pemberian orang tua yang lebih baik melebih etika dan akhlak yang mulya, sebagaimana ia merupakan tanggung jawab para guru juga, Nabi Saw bersabda :
إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ، حَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
"Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap pemimpin atas apa yang dipimpimpinnya, menjaganya atau menyia-nyiakannya, sebagaimana Dia akan meminta pertanggung jawaban seorang ayah atas keluarganya" (Shahih Ibnu Hibban 10/344)
Kami mengingatkan semua dan terutama para para supir agar terus mematuhi aturan lalu lintas dan etika di jalanan, selalu berdisiplin saat menaikkan dan menurunkan pelajar agar nyawa mereka terlindungi, karena anak merupakan perhiasan kehidupan dunia dan mereka juga sebagai penentram pandangan.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، وأَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، اللَّهُمَّ أصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، واجعَلِ التوفيقَ حليفَنَا، وارفَعْ لنَا درجاتِنَا، وزِدْ فِي حسناتِنَا، وكَفِّرْ عنَّا سيئاتِنَا، وتوَفَّنَا معَ الأبرارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).

([1]البقرة : 282.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]العنكبوت :45.

No comments:

Post a Comment