Friday, March 2, 2018

Khotbah Jum'at: EMIRATES DAN NILAI-NILAINYA

Khutbah Jumat, 24 Dzul Hijjah 1433 H / 11 November 2012 M

Emirates Dan Nilai-nilainya


Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْبَشِيرُ النَّذِيرُ، وَالسِّرَاجُ الْمُنِيرُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ حَيْثُ قَالَ تَعَالَى:] وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ[([1]).

Hamba Allah, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah" (Al Baqarah 2 : 172). Allah berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ

" Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah”(Luqman 31: 12). Nabi Saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

"Barang siapa yang tidak bersyukur atas rezeki yang sedikit maka ia tidak akan bersyukur atas rezeki yang banyak, dan barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia maka ia tidak berterima kasih kepada Allah, dan menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bentuk syukur, dan meninggalkannya adalah pengingkaran nikmat, jamaah merupakan rahmat dan percerai beraian merupakan adzab" (Ahmad 18946). Allah berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

"Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" (Ad Dhuha 93 : 11).

Allah telah menganugerahkan negara Emirates nikmat yang tak berhingga, dan diantara bentuk syukur nikmat tersebut adalah dengan memuji Allah dengan pujian yang sesuai, dengan mengakui keutamaan dan nikmat-Nya, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, berpegang teguh pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena dengan bersyukur kepada Allah nikmat ini akan langgeng, dan Allah akan menambah nikmat tersebut sesuai dengan kehendak-Nya, Allah berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu" (Ibrahim 14 : 7).

Termasuk bentuk mensyukuri nikmat adalah dengan menjauh dari semua penyebab perselisihan dan perbedaan, dan dengan setia mendukung para pemimpin kita, mencintai mereka, mendoakan mereka, mentaati mereka, bekerja sama dengan mereka dalam setiap kebaikan dan menyebut kebaikan mereka, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفاً فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

"Barang siapa berbuat kebaikan pada kalian maka balaslah, bila kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya maka doakan mereka sehingga mereka mengetahui bahwa kalian telah membalasnya" (Abu Daud 1672).

Orang yang membandingkan kondisi kita antara kemarin dan sekarang pasti melihat tanda-tanda nikmat-nikmat Allah dalam bentuk kenyataan yang dapat dirasa dan disaksikan, setelah sebelumnya pada kondisi kehidupan yang sangat sulit, pahit dan susah, perpecahan dan lemah, sekarang negara Emirates telah menjadi landmark kebudayaan dan pantas menjadi contoh dalam kesatuan barisan, kepaduan kata, kemakmuran hidup, ketentraman dan kemajuan, pencapaian yang dahsyat, dan hal itu tidak mungkin terwujud bila tidak karena keutamaan Allah serta usaha keras dan jujur dari para pendiri negara ini, serta kerja nyata dalam meningkatkan negara ini dan orang-orang yang hidup didalamnya.

Kaum muslimin ; negara ini telah bangkit memimpin dan membangun sebuah kebudayaan yang unik dalam nilai-nilai kemanusiaan yang berlandaskan ajaran agama Islam, keadilan dan perlindungan hak-hak menjadi dasar, toleransi dan hidup berdampingan dengan damai menjadi obor penerang, kerja sama serta membangun komunikasi menjadi alamat nyata, dengan bermetode pada pengkhidmatan pada kemanusiaan, semangat memberi dan membantu orang lain saat tertimpa bencana merupakan bukti nyata, etika baik terhadap kerabat dan orang lain adalah budaya asli yang berkesinambungan, hal itu semua bertauladan pada Rasulullah Saw yang disifati oleh Tuhannya sebagai:

خُلُقٍ وَإِنَّكَ لَعَلَى عَظِيم

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al Qalam 68:4).

Nilai-nilai baik yang diterapkan oleh negara Emirates telah membuahkan sebuah gambaran indah di luar dan di dalam, sehingga menjadi negara yang dihargai bagi orang-orang yang bijak, karena sunnatullah itu terus berlangsung, maka tidak mungkin lepas dari orang-orang yang dengki, sehingga sebagian mereka dengan agenda khusus yang ingin digapai, mereka berusaha menyebarkan hal-hal yang bertentangan dengan negara kita tercinta walaupun hal itu sangat berbeda dengan kenyataan dan dasar-dasar utama dalam penilaian yang jujur, karena sesungguhnya pada kenyataannya hal itu sangat bertentangan dengan kenyataan yang ada, disebutkan dalam sebuah syair:
Prasangka itu tidak terwujud kebenaran sedikitpun dialamnya
Sebagaimana siang hari tidaklah membutuhkan sebuah bukti.

Tidak ada bukti yang lebih mencengangkan kecuali yang dirasakan oleh semua orang yang berada di Emirates, dimana mereka hidup dengan kehidupan yang layak dan mulya, negara ini menaruh perhatian penuh pada manusia dan kehormatannya, sebagai penerapan firman Allah:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” ( Al Isra’ 17 : 70).

Negara menyediakan semua jalan hidup mulya, kepemimpin yang bijak memberikan semua kemampuannya untuk membangun manusia dengan menyediakan pendidikan untuk pengembangan akalnya, melindungi kesehatan dan keselamatannya, maka dibangunlah sekolah-sekolah, universitas dan rumah sakit, agar terwujud kebangkitan yang merata diseluruh penjuru negeri, yang pada akhirnya manusia Emirates mampu mendapatkan gelar keilmuan, memiliki pengalaman dan banyak sekali pencapaian yang telah diraihnya.

Tidak ketinggalan kaum wanita mendapatkan porsi perhatian yang sama, sehingga mereka mampu menyelesaikan semua jenjang pendidikan mereka, mereka dapat menikmati semua hak-haknya di semua bidang, lapangan kerja disediakan buat mereka, sehingga mereka dapat bekerja dan andil dalam kebangkitan negara dan kemajuannya, bahkan banyak diantara mereka yang menduduki jabatan-jabatan penting dan tinggi.

Sekarang negara Emirates menjadi negara yang dikagumi negara-negara lain, menjadi tempat untuk mencari rezeki bagi semua penduduk yang datang dari berbagai etnis, negara dan jenis kelamin, mereka masuk ke UAE untuk bekerja mencari penghidupan, karena mereka tahu bahwa penduduknya terkenal dengan toleransi, interaksi baik, melindungi hak-hak dan menghargai kehormatan mereka.

Ya Allah langgengkan nikmat-Mu pada kami, ajarilah kami cara mensyukuri dan menjaganya, dan berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).

نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.


Khutbah Kedua:

الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan selalu merasa diawasi dalam kesendirian dan kebersamaan, dan ketahuilah bahwa menjaga nikmat merupakan tanggung jawab bersama dan amanah, yang mewajibkan kita untuk selalu berpegang teguh dengan ajaran agama kita, nilai-nilai kita yang mulya, akhlak kita yang tinggi serta kebiasan dan adat yang asli, dan hendaknya kita menanamkan dalam diri kita dan jiwa anak kita kesetiaan terhadap negara dan pemimpin kita, dan hendaknya kita selalu menjaga bendera negara kita, dimana kita hidup diatas tanahnya, makan dari kebaikannya, dan hendaknya kita melindungi dari setiap makar, dan selalu menampakkan gambaran baik bagi semua, semua itu dilakukan dengan harapan mendapatkan pahala dan balasan dari Allah Swt dan ridha-Nya, dan hendaknya kita menggunakan media modern untuk kepentingan negara, masyarakat kita dan memperkuat kesatuan dan kepaduan kita, Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara"(Ali Imran 3:103)

Sebagaimana hendaknya kita selalu berhati-hati terhadap segala pemikiran yang dapat meracuni kita, aliran yang menyusup dan setiap yang bertentangan dengan agama kita dan mengancam negara kita, hendaknya kita memikirkan kondisi masyarakat yang dipenuhi rasa ketakutan dan kelaparan baik dulu dan sekarang dan perbandingkan dengan kondisi kita sekarang dimana kita dalam kenikmatan dan kemakmuran, dan hendaknya kita pandai mensyukuri nikmat Allah ini.

عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([4]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).



([1]) النساء: 131.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([5]العنكبوت :45.

Khotbah Jum'at: KESUCIAN DAN KEMURNIAN

Khutbah Jumat, 17 Dzul Hijjah 1433 H / 02 November 2012 M

Kesucian Dan Kemurnian

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ جلَّ وعلاَ، قَالَ سبحانَهُ وتعالَى :] وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً [([1]).
Kaum muslimin ; sesungguhnya kesucian merupakan akhlak mulya yang sesuai dengan fitrah penciptaan, ia adalah menjaga syahwat jiwa, mencegahnya dari semua keharaman dan meminta-minta pada manusia, ia adalah kesempurnaan tindakan, kebaikan sifat dan Rasulullah Saw menjadikan penyebab masuk surga, Rasulullah Saw bersabda : "Diajukan padaku tiga orang pertama yang masuk surga, disebutkan diantaranya orang yang selalu menjaga kesucian dirinya” (At Tirmidzi 1642). Ia merupakan bukti kesempurnaan jiwa dan keluasan akal, seorang ulama berkata : kesempurnaan itu ada pada tiga hal : kesucian dalam agama, kesabaran saat tertimpa musibah dan manajemen yang bagus dalam kehidupan
Kemurnian adalah sifat para nabi dan utusan, kisah Nabi Saw saat Abu Sofyan ditanya oleh Heraclius tentang Rasulullah Saw ;
بِمَاذَا يَأْمُرُكُمْ؟ فقالَ: يَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ
perintah yang dibebankan pada kalian ? ia menjawab : Beliau memerintahkan kami shalat, jujur, kemurnian dan bersilaturrahim" (Muttafaq 'alaih)
Keutamaan kemurnian (iffah) dan kepentingannya, bahwa Rasulullah Saw selalu memohon kepada Allah dalam doanya :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
Ya Allah sesungguhnya aku memohon hidayah, ketakwaan, kemurniaan dan kekayaan pada-Mu" (Muslim 2721)
Hamba allah ; kemurnian yang paling agung ada pada anggota badan, karena ia merupakan alat untuk melakukan perbuatan, bila anggota badan terselamatkan dari semua bencana, dan murni serta bersih dari semua tindakan kemungkaran, maka Allah akan memberi balasan kebaikan padanya, dan akan memulyakannya dengan memasuki surga-Nya, Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
 "Barang siapa yang mampu menjamin aku antara dua jenggotnya dan antara dua kakinya maka aku menjamin surga baginya" (Bukhari 6474)
Dasar kemurnian anggota badan yaitu dengan tidak berbuat kecuali yang sesuai dengan syariat dan dihalalkan oleh agama, bila jiwa mengajak atau saat keimanan melemah, maka ingatlah akan manisnya keimanan tetap ada diantara kenikmatan syahwat yang cepat sirna, dan sesungguhnya Allah bersama hamba-Nya yang mau menjaga diri dan sabar, seorang muslim yang menjaga dirinya dari keharaman maka ia tidak akan terpedaya oleh syahwatnya, sehingga Allah memudahkan pernikahan baginya, Allah berfirman :
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”(An Nur 24 : 33)
Kaum muslimin ; hendaknya seseorang menjaga kemurnian hartanya, dengan tidak mengambil selain haknya, dan Allah telah memerintahkan orang kaya yang mengurus harta anak yatim untuk berhati-hati, dan orang fakir yang mengurusnya diperbolehkan untuk mengambilnya secukupnya, Allah berfirman :
وَمَن كَانَ غَنِياًّ فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ
“Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut”(An Nisa' 4 : 6)
Diantara bentuk kemurnian lainnya adalah menjauh dari harta milik public atau milik negara, maka jangan menggunakannya di luar peruntukannya, atau menggunakannya untuk kepentingan pribadi, tapi hendaknya menjaganya karena itu merupakan harta milik masyarakat dan menjaganya merupakan tanggung jawab setiap individu.
Seorang muslim hendaknya menjaga kemurnian dirinya dengan tidak meminta-minta atau mengemis, jangan pernah menuntut harta tanpa bekerja, Allah bangga dan memuji hamba-Nya yang menjauh dari meminta-minta, Allah berfirman :
يَحْسَبُهُمُ الجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً
“orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak” (Al Baqarah 2 : 273), Nabi Saw bersabda :
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ
Barang siapa menjaga kesucian dirinya dengan tidak meminta-minta maka Allah akan menjaganya dan barang siapa merasa cukup maka Allah akan mencukupinya” (Bukhari 1427)
Seorang muslim harus memeriksa makanannya agar tidak memakan sesuappun dari barang haram, kemurnian adalah jalan menuju surga, Rasulullah Saw bersabda :
أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا: حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيثٍ، وَحُسْنُ خَلِيقَةٍ، وَعِفَّةٌ فِي طُعْمَةٍ
"Empat perkara bila ada pada dirimu maka kamu tidak akan sedih dengan kehilangan dunia ; menjaga amanah, jujur dalam berkata, baik budi pekerti dan makanan yang terjaga (kehalalannya)” (Musnad Ahmad 6812)
Kaum mukminin ; sesungguhnya kemurnia dapat melindungi seorang muslim dari setiap etika buruk, dan mendorongnya menuju kemulyaan dan keanggunan, sehingga ia tidak berujar kecuali ucapan yang baik, dan Rasulullah Saw melarang dusta karena ia bertentangan dengan wibawa dan kemurnian ucapan, Rasulullah Saw bersabda :
كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيثاً هُوَ لَكَ بِهِ مُصَدِّقٌ، وَأَنْتَ لَهُ بِهِ كَاذِبٌ
 "Khianat besar bila Anda berdialog dengan saudaramu, ia jujur padamu sementara kamu berdusta padanya" (Abu Daud 4971)
Ya Allah kami mohon kesucian dan kemurnian pada-Mu dalam ucapan dan tindakan, dan berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa kemurnian bisa didapat dengan penguatan keimanan, karena hati yang merasakan manisnya keimanan dan selalu merasa terawasi oleh Allah, maka dengan sendirnya akan malu untuk melakukan pelanggaran perintah Allah dan melakukan kemungkaran, sebagaimana ia bisa didapat dengan menjauh dari semua tempat kesyubhatan, karena syetan memperdaya dan berhias untuk seorang hamba sehingga ia terjebak dalam kelalaian dan kemaksiatan, Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar”(An Nur 24 : 21).
Beberapa buah kemurnian diantaranya ; bahwa Allah menjadikannya sebab pertolongan-Nya pada seorang hamba, Rasulullah Saw bersabda :
ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ... وذكَرَ منهُمْ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ
"Tiga golongan berhak mendapatkan pertolongan Allah, disebutkan diantaranya ;orang yang menikah dan menginginkan kemurnian" (At Tirmidzi 1655)
Sebagaimana ia dapat menjaga pemiliknya dari kehancuran, dalam kisah penghuni goa yang terselamatkan disebutkan dalam doa seorang dari mereka :Ya Allah sesungguhnya aku mempunyai anak perempaun pamanku, aku sangat mencintainya melebihi cinta seorang laki-laki pada seorang wanita, aku pernah meminta memuaskan nafsu, tapi ia menolaknya hingga aku memberinya seratus Dinar, aku berusaha mengumpulkan seratus Dinar dan aku menumpainya membawa seratus dinar, ketika aku diantara dua pahanya, ia berkata ; wahai hamba Allah bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kau nodai kecuali dengan mahar. Lalu aku berdiri menjauh darinya, maka Ya Alah bila Engkau mengetahui bahwa aku telah melakukan itu karena mengharap ridha-Mu, maka bukakanlah pada kami jalan keluar, lalu terbukalah jalan keluar bagi mereka” (Muttafaq ‘alaih)
Hendaknya kita semua wahai hamba Allah untuk selalu merasa diawasi oleh Allah dan jagalah selalu kesucian kita, dan tanamkanlah sifat tersebut pada jiwa anak-anak kita agar kelak kita mendapatkan keberuntungan dunia akhirat.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا استعَاذَ منهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لنا خَيْرًا، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ([4]) ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).


([1]) الطلاق : 4.  
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]) من السنة رفع اليدين في الدعاء لطلب الغيث.
([5]العنكبوت :45.

Khotbah Jum'at: KEUTAMAAN 10 DZUL HIJJAH DAN HAJI

Khotbah Jumat, 26 Dzul Qaedah 1433 H / 12 Oktober 2012 M

Keutamaan Sepuluh Dzul Hijjah dan Haji

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي فَرَضَ عَلَى عِبَادِهِ حَجَّ بَيْتِهِ الْحَرَامِ؛ ليَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ؛ وَيَذْكُرُوا اسْمَ الملكِ العَلاَّمِ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنَا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُ وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ[([1]).
Kaum mukminin ; sesungguhnya diantara keutamaan Allah atas hamba-Nya dengan menjadikannya beberapa medan tempat melakukan kebaikan di dunia untuk bekal di akhirat mereka, diantaranya adalah bulan Dzul Hijjah, Allah mengumpulkan segala jenis kebaikan didalamnya, didalamnya terdapat hari-hari yang penuh berkah, yang diutamakan oleh Allah atas hari-hari lainnya, yaitu sepuluh Dzul Hijjah, diistimewkan oleh Allah dengan kebaikan yang agung, Rasulullah Saw bersabda :
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللهِ مِنْ أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ
"Tidak satu hari-haripun yang lebih utama disisi Allah melebihi hari sepuluh Dzul Hijjah" (Ibnu Hibban 9/164), dan sabdanya :
مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلاَ أَعْظَمَ أَجْراً مِنْ خَيْرٍ تَعْمَلُهُ فِى عَشْرِ الأَضْحَى
 "Tidak ada satu amalan yang lebih baik disisi Allah dan tidak ada yang lebih agung pahalanya disisi Allah dibandingkan dengan kebaikan yang Anda lakukan pada sepuluh Idul Adha" (Ad Darimi 1828)
Said bin Jubair bila memasuki hari-hari sepuluh Dzul Hijjah, ia bersungguh-sungguh sehingga ia seakan tidak mampu melakukannya.
Karenanya dianjurkan kepada setiap muslim pada hari-hari tersebut untuk menggunakan waktunya dalam memperbanyak dzikir, ketaatan, berpuasa dan bersedekah.
Dzul Hijjah adalah bulan yang dipilih oleh Allah untuk dilakukan manasik haji, Allah berfirman :
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الحَجِّ
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” (Al Baqarah 2 : 197)
Haji adalah rukun iman kelima, ia adalah media untuk mendekatkan diri seorang muslim kepada Tuhannya, ia adalah ibadah badaniyah, sebuah gerakan dan aktifitas badan seorang pelaku ibadah haji untuk melakukan ketaatan kepada Allah, serta semangat untuk selalu berdzikir kepada-Nya, haji adalah etika dan akhlak untuk membersihkan jiwa serta mendidiknya agar selalu berbuat keutamaan, berinteraksi baik serta tolong menolong dengan orang lain, dan sabar dalam menghadapi kesalahan dari mereka.
Seorang mukmin akan merasa sangat rindu terutama pada hari-hari seperti ini, kerinduan ini semakin bertambah pada baitullah bagi orang-orang yang bertakwa, hal ini tentu sebagai jawaban atas doa nabi Ibrahim AS, dimana beliau berdoa kepada Tuhannya :
فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ
“Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka” (Ibrahim 14 : 37) dan sebagai jawaban atas panggilan Allah, firman-Nya :
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ* لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan”(Al Hajj 22 : 27-28). Ibnu Abbas RA berkata ; ketika Ibrahim AS selesai membangun Ka’bah dikatakan kepadanya ; “Dan berserulah kepada manusia” Ia berkata ; bagaimana suaraku dapat sampai ? Dia berkata ; berserulah dan Aku yang akan menyampaikan. Maka Ibrahim AS berseru ; wahai manusia telah diwajibkan haji atas kalian menuju Rumah Allah. Kemudian terdengar antara langit dan bumi, tidakkah kau melihat bahwa manusia datang dari penjuru dunia menjawab panggilan tersebut” (Tafsir At Thabari 18/605)
Hamba Allah ; haji adalah penghapus dosa dan pengusir kefakiran, dan karenanya Nabi Saw mengajak dan menganjurkan agar menunaikannya, sabdanya :
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
"Ikutkanlah antara haji dan umroh, karena keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pandai besi dapat menghilangkan kekaratan pada besi, emas dan perang dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga" (At Tirmidzi 810)
Sejak orang yang hendak haji memulai perjalanannya maka dimulailah pemberian dan penghargaan ilahi untuknya, yaitu dengan dituliskan kebaikan untuknya, dihapuskan keburukan darinya dan diangkat derajat baginya, Rasulullah Saw bersabda :
مَا تَرْفَعُ إِبِلُ الْحَاجِّ رِجْلاً وَلاَ تَضَعُ يَدًا إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، أَوْ مَحَا عَنْهُ سَيِّئَةً، أَوْ رَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً
"Tidaklah unta kendaraan orang yang berhaji mengangkat kakinya dan menurunkannya kecuali Allah menuliskan untuknya satu kebaikan atau menghapus darinya satu keburukan atau mengangkat satu derajat untuknya" (Syu'bul Iman karangan Al Baihaqi 3/479)
Saat seseorang mencium hajar aswat maka semua kesalahannya berguguran darinya, Rasulullah Saw bersabda :
الرُّكْنُ وَالْمَقَامُ يَاقُوتَتَانِ مِنْ يَوَاقِيتِ الْجَنَّةِ، وَلَوْلاَ أَنَّ اللَّهَ طَمَسَ عَلَى نُورِهِمَا لأَضَاءَتَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
"Rukun (yamani) dan maqam (Ibrahim) adalah dua batu permata dari surga, andaikata Allah tidak menghilangkan cahaya keduanya maka keduanya akan menyinari antara timur dan barat" (Shahih Ibnu Hibban 9/24)
Beruntunglah dan selamat bagi orang yang menuju ke baitullah dan hatinya selalu tergantung kepada Allah, dan sungguh indah bila ia tergolong kedalam orang-orang yang baik, sehingga derajatnya meningkat sepadan dengan orang-orang pilihan, setelah ia melepaskan semua dosa, Rasulullah Saw bersabda pada Amr bin Al Ash :
أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ ... الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ
"Tidakkah kau tahu, bahwa haji dapat menghancurkan tindakan sebelumnya" (Muslim 192).
Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
"Barang siapa berhaji karena Allah, lalu tidak melakukan tindakan keji dan fasik maka ia kembali seperti terlahir dari rahim ibunya" (Bukhari 1521). Barang siapa menunaikan haji ke baitullah, maka ia mendapatkan penghargaan dari Allah dan akan mengembalikan sepulang dari hajinya dengan hati yang bersih, jiwa yang murni, semangat yang tinggi, ruh yang bersinar serta kembali dengan lembaran baru yang akan diisi dalam umurnya yang tersisa.
Bersungguh-sungguhlah wahai orang yang menunaikan ibadah haji agar hajimu menjadi haji mabrur, usahamu tersyukuri yaitu dengan memenuhi waktumu dengan dzikir dan ketaatan, bergantung pada-Nya, mengharap apa yang ada disisi-Nya, sabar terhadap tabiat dan emosi manusia lainnya, membantu orang yang lemah, serta menolong semua orang, dari Jabir bin Abdullah RA dari Nabi Saw bersabda :
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ» قَالَ: وَمَا بِرُّهُ ؟ قَالَ :« إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَطِيبُ الْكَلاَمِ
"Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga" ia bertanya ; apa baktinya ? Beliau menjawab ; memberikan makan dan ucapan baik" (At Thabrany dalam kitab Al Awsath 8/203)
Haji adalah ibadah yang mampu mendidik seorang muslim agar berperangai mulya, sehingga ucapan dan tindakannya selalu dihiasi oleh kebaikan dan kebajikan.
Ya Allah berilah taufiq kepada setiap orang yang berniat menunaikan ibadah haji dan mudahkanlah semua urusan hajinya, dan berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنَا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan selalu merasa diawasi dalam kesendirian dan kebersamaan, dan ketahuilah bahwa tujuan utama haji adalah untuk mewujudkan maqam ubudiyah kepada Allah, dan orang yang berhaji hendaknya menghayati kisah Ibrahim AS yang menggambarkan penyerahan diri kepada Allah Swt, Allah berfirman :
وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ* إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". (Al Baqarah 2 : 130-131)
Dan hendaknya ia mengingat kisah Ibrahim AS dalam pertikaiannya dengan syetan, saat ia menghancurkan keraguan syetan yang menyerang dirinya, dengan meninggalkan semua kemaksiatan dan dosa, sehingga ia kembali dari hajinya dengan bekal penambahan kekuatan untuk selalu tetap dalam hidayah dan keistiqamahan.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وقَلْبًا خاشعاً، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا واسعاً، وَعَمَلاً صالحاً مُتَقَبَّلاً، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ علِّمْنَا مَا ينفَعُنَا، وانفَعْنَا بِمَا علَّمْتَنَا، وزِدْنَا علماً، اللَّهُمَّ آتِ نفوسَنَا تقوَاهَا، وزَكِّهَا أَنْتَ خيرُ مَنْ زكَّاهَا، أنتَ وَلِيُّهَا ومولاَهَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عاقبتَنَا فِي الأُمورِ كُلِّهَا، وأصْلِحْ لَنِا نياتِنَا، وبارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْهم قُرَّةَ أَعْيُنٍ لنَا، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ ولاَ تجعلْنَا مِنَ القانطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا. اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).


([1]البقرة :197.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]العنكبوت :45.