Ahad 1 Syawwal 1433 / 19 Agustus 2012
Khotbah Pertama
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ
الحمدُ للهِ الكريمِ الغفورِ، بلَّغَنَا خيرَ الشهورِ، ووعَدَ مَنْ صامَهُ وقامَهُ بذنبٍ مغفورٍ، وأتَمَّ علينَا النعمةَ بعيدِ الفرحِ والسرورِ، ونَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ, الملكُ الحقُّالشكورُ، ونَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا ونبيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ دعانَا إلَى تجارةٍ لَنْ تبورَ، صَلَّى اللهُ وسلَّمَ وبارَكَ عليهِ وعلَى آلِهِ وأصحابِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ البعثِ والنشورِ.
اللَّهُ أَكْبَرُ مَا صامَ الصائمونَ، اللَّهُ أَكْبَرُ مَا قامَ للصلاةِ القائمونَ، اللَّهُ أَكْبَرُ مَا رتَّلَ القرآنَ الكريمَ المرتلونَ، اللَّهُ أَكْبَرُ مَا ذَكَرَ اللهَ تعالَى الذاكرونَ، اللَّهُ أَكْبَرُ ما أنفَقَ المنفقونَ، وتصدَّقَ المتصدقُونَ.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ.
Kaum muslimin, hari-hari dan malam-malam Ramadhan telah berlalu, nikmat dan taufiq Allah telah sempurna diberikan pada kita, segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan pada kita untuk menunaikan puasa di siang hari dan shalat pada malam harinya, juga kesibukan untuk membaca Al Quran didalamnya, menghidupkan semua waktunya untuk berdzikir kepada Allah, bersedekah wajib sebagai pensuci orang yang berpuasa dan sebagai bahan makan bagi orang-orang miskin, sebagai pendekatan diri kepada Allah Tuhan semesta alam, maka bersyukurlah kepada Allah atas taufiq-Nya sehingga kita mampu memenuhi kebutuhan orang-orang yang butuh, sekarang sudah waktunya bagi orang yang berpuasa untuk memetik hasil kemenangannya pada hari yang berbahagia ini, Rasulullah Saw bersabda:
فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ
“Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan ; kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat menjumpai Tuhannya” (Muttafaq ‘alaih).
Pada hari raya ini para malaikat berdiri di jalan-jalan, menyambut hamba-hamba Allah, saat mereka berangkat ke masjid, saat mereka bertakbir dan bertahlil, mereka diberikan kegembiraan dg rahmat Allah, dan pada saat itu kaum mukminin berbangga karena mendapatkan keutamaan ini, Allah berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
"Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”(Yunus (10) : 58).
Kebahagiaan terbesar adalah saat memasuki surga dari pintu Rayyan, Allah telah memulyakan mereka dg mengistimewakan mereka dg satu pintu, yg tidak dapat dimasuki oleh orang selain mereka, sebagai penghargaan dan karena ketinggian derajat mereka, Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُون، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’. Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya” (Muttafaq ‘alaih).
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ
Hamba Allah; salah satu bentuk kegembiraan pada hari raya adalah pertemuan yang mengumpulkan kita dalam ketaatan, mempersatukan kita dalam ridha-Nya, kita datang ketempat ini untuk sama-sama berdzikir, bertakbir, bertahmid dan bersyukur atas hidayah ketaatan yang diberikan pada kita, dan kesempatan yg diberikan kepada kita untuk beribadah, Allah berfirman:
وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah (2) : 185).
Kegembiraan itu terus berlanjut pada hari raya sehingga meliputi semua keluarga dan kerabat, sahabat dan tetangga, seorang muslim setelah menunaikan shalat keluar menyebarkan kegembiraan tersebut seperti yang terdapat pada tuntunan Nabi Saw, mereka ikut andil dalam kegembiraan hari raya bersama keluarga dan handai taulannya, biasanya Rasulullah Saw berangkat ke masjid menempuh satu jalan dan pulang menempuh jalan yang lain agar dapat bertemu dg para sahabatnya yang tidak dijumpai saat berangkat melalui satu jalan, dari Abu Hurairah RA berkata:
كَانَ النَّبِيُّ عليه الصلاة والسلام إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيدِ فِي طَرِيقٍ رَجَعَ فِي غَيْرِهِ
Nabi Saw bila keluar menunaikan shalat id menempuh satu jalan dan kembali dari jalan lainnya” (At Tirmidzi 541).
Sehingga beliau dapat bersalaman dg lebih banyak sahabat, mengucapkan selamat pada mereka, ikut andil dalam kebahagiaan dan kegembiraan mereka, serta menjaga kondisi mereka saat mengungkapkan kegembiraan mereka, maka selamat datang hari raya, Rasulullah Saw:
يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيداً، وَهَذَا عِيدُنَا
“Wahai Abu Bakar sesungguhnya setiap bangsa mempunyai hari raya, dan ini hari raya kita” (Muttafaq ‘alaih)
Para sahabat Nabi Saw saat saling bertemu pada hari raya biasanya mengungkapkan:
تقبَّلَ اللهُ منَّا ومنْكَ
"semoga Allah menerima amalan kita dan amalan Anda".
Selayaknya seorang muslim pada hari ini berusaha untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, bersilaturrahim dan berkunjung pada tetangganya, berkomunikasi dg para sahabatnya, memberikan keluasan pada keluarga dan anak-anak sesuai dengan kemampuan agar hati-hati mereka dapat menikmati kegembiraan ini, dan hendaknya ia melupakan perselisihannya dg orang lain, Rasulullah Saw bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ
“Tidak dihalalkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam, kedua bertemu, yang satu berpaling ke kiri dan yang lainnya berpaling ke kanan. Yang terbaik di antara mereka berdua adalah yang mengawali memberi salam” (Abu Daud 4912).
Dan termasuk amalan yang dianjurkan adalah melerai perselisihan, Allah berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu” (Al Anfal (8) : 1), sehingga kasih sayang menjadi langgeng antar sesama masyarakat.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ
Kaum muslimin; pada hari raya ikatan-ikatan silaturrahim semakin kuat dan cinta kasih antara anggota masyarakat semakin mengakar, sehingga seorang muslim pada hari raya ini menjadi lemah lembut terhadap para fakir miskin, membantu orang-orang yang membutuhkan, hal ini merupakan pelajaran terpenting yang didapati dari puasa bulan Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak mendzaliminya dan tidak menipunya, barang siapa membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya, barang siapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat”(Muttafaq ‘alaih).
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ
Semoga Allah menyebarkan kebahagiaan ke seluruh relung hati, melanggengkan kasih sayang dan interaksi antar sesama, dan semoga Allah memberikan kami taufiq untuk mentaati-Nya dan mentaati orang yang diperintahkan kepada kami untuk ditaatinya sebagai pengamalan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، إنهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللهُ أكبرُ وللهِ الحَمْدُ
الحمدُ للهِ كمَا ينبغِي لجلالِ وجهِهِ وعظيمِ سلطانِهِ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنَا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطَّيبينَ الطَّاهرِينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعِينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa pelajaran dan nasehat Ramadhan masih terus berlaku bagi kita, yaitu melalu pelaksanaan puasa setelah Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 ( enam) hari bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa satu tahun penuh”(Muslim 1164). Disunnahkan pula puasa Senin Kamis, Rasulullah Saw bersabda:
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالخَمِيسِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Diangkat amalan-amalan (seminggu) pada hari Senin dan Kamis dan Aku suka ketika amalanku diangkat dan aku dalam keadaan berpuasa”(At Tirmidzi 747).
Sebagaimana disunnahkah puasa tiga hari setiap bulan, dari Abu Hurairah RA berkata:
أَوْصَانِى خَلِيلِي عليه الصلاة والسلام بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
“Sahabatku Saw berwasiat tiga perkara padaku : berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan dua rakaat shalat dhuha dan menunaikan shalat witir sebelum aku tidur”(Muttafaq ‘alaih).
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ
تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([1]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([2])
تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([1]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([2])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى، وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وَتَسْلِيمًا وفقهًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ. اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ،اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ. قومُوا مغفورًا لكُمْ إنْ شاءَ اللهُ تعالَى([3]).
http://awqaf.ae/Jumaa.aspx?SectionID=5&RefID=1681