Friday, March 24, 2017

KHUTBAH IDUL FITRI 2012

Ahad 1 Syawwal 1433 / 19 Agustus 2012

Khotbah Pertama

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ           اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ
الحمدُ للهِ الكريمِ الغفورِ، بلَّغَنَا خيرَ الشهورِ، ووعَدَ مَنْ صامَهُ وقامَهُ بذنبٍ مغفورٍ، وأتَمَّ علينَا النعمةَ بعيدِ الفرحِ والسرورِ، ونَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ, الملكُ الحقُّالشكورُ، ونَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا ونبيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ دعانَا إلَى تجارةٍ لَنْ تبورَ، صَلَّى اللهُ وسلَّمَ وبارَكَ عليهِ وعلَى آلِهِ وأصحابِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ البعثِ والنشورِ.
اللَّهُ أَكْبَرُ مَا صامَ الصائمونَ، اللَّهُ أَكْبَرُ مَا قامَ للصلاةِ القائمونَ، اللَّهُ أَكْبَرُ مَا رتَّلَ القرآنَ الكريمَ المرتلونَ، اللَّهُ أَكْبَرُ مَا ذَكَرَ اللهَ تعالَى الذاكرونَ، اللَّهُ أَكْبَرُ ما أنفَقَ المنفقونَ، وتصدَّقَ المتصدقُونَ.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ.

Kaum muslimin, hari-hari dan malam-malam Ramadhan telah berlalu, nikmat dan taufiq Allah telah sempurna diberikan pada kita, segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan pada kita untuk menunaikan puasa di siang hari dan shalat pada malam harinya, juga kesibukan untuk membaca Al Quran didalamnya, menghidupkan semua waktunya untuk berdzikir kepada Allah, bersedekah wajib sebagai pensuci orang yang berpuasa dan sebagai bahan makan bagi orang-orang miskin, sebagai pendekatan diri kepada Allah Tuhan semesta alam, maka bersyukurlah kepada Allah atas taufiq-Nya sehingga kita mampu memenuhi kebutuhan orang-orang yang butuh, sekarang sudah waktunya bagi orang yang berpuasa untuk memetik hasil kemenangannya pada hari yang berbahagia ini, Rasulullah Saw bersabda:

فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ

“Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan ; kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat menjumpai Tuhannya” (Muttafaq ‘alaih).

Pada hari raya ini para malaikat berdiri di jalan-jalan, menyambut hamba-hamba Allah, saat mereka berangkat ke masjid, saat mereka bertakbir dan bertahlil, mereka diberikan kegembiraan dg rahmat Allah, dan pada saat itu kaum mukminin berbangga karena mendapatkan keutamaan ini, Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

"Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”(Yunus (10) : 58).

Kebahagiaan terbesar adalah saat memasuki surga dari pintu Rayyan, Allah telah memulyakan mereka dg mengistimewakan mereka dg satu pintu, yg tidak dapat dimasuki oleh orang selain mereka, sebagai penghargaan dan karena ketinggian derajat mereka, Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُون، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’. Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya” (Muttafaq ‘alaih).

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ

Hamba Allah; salah satu bentuk kegembiraan pada hari raya adalah pertemuan yang mengumpulkan kita dalam ketaatan, mempersatukan kita dalam ridha-Nya, kita datang ketempat ini untuk sama-sama berdzikir, bertakbir, bertahmid dan bersyukur atas hidayah ketaatan yang diberikan pada kita, dan kesempatan yg diberikan kepada kita untuk beribadah, Allah berfirman:

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah (2) : 185).

Kegembiraan itu terus berlanjut pada hari raya sehingga meliputi semua keluarga dan kerabat, sahabat dan tetangga, seorang muslim setelah menunaikan shalat keluar menyebarkan kegembiraan tersebut seperti yang terdapat pada tuntunan Nabi Saw, mereka ikut andil dalam kegembiraan hari raya bersama keluarga dan handai taulannya, biasanya Rasulullah Saw berangkat ke masjid menempuh satu jalan dan pulang menempuh jalan yang lain agar dapat bertemu dg para sahabatnya yang tidak dijumpai saat berangkat melalui satu jalan, dari Abu Hurairah RA berkata:

كَانَ النَّبِيُّ عليه الصلاة والسلام إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيدِ فِي طَرِيقٍ رَجَعَ فِي غَيْرِهِ

Nabi Saw bila keluar menunaikan shalat id menempuh satu jalan dan kembali dari jalan lainnya” (At Tirmidzi 541).

Sehingga beliau dapat bersalaman dg lebih banyak sahabat, mengucapkan selamat pada mereka, ikut andil dalam kebahagiaan dan kegembiraan mereka, serta menjaga kondisi mereka saat mengungkapkan kegembiraan mereka, maka selamat datang hari raya, Rasulullah Saw:

يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيداً، وَهَذَا عِيدُنَا

“Wahai Abu Bakar sesungguhnya setiap bangsa mempunyai hari raya, dan ini hari raya kita” (Muttafaq ‘alaih)
Para sahabat Nabi Saw saat saling bertemu pada hari raya biasanya mengungkapkan:

تقبَّلَ اللهُ منَّا ومنْكَ

"semoga Allah menerima amalan kita dan amalan Anda".

Selayaknya seorang muslim pada hari ini berusaha untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, bersilaturrahim dan berkunjung pada tetangganya, berkomunikasi dg para sahabatnya, memberikan keluasan pada keluarga dan anak-anak sesuai dengan kemampuan agar hati-hati mereka dapat menikmati kegembiraan ini, dan hendaknya ia melupakan perselisihannya dg orang lain, Rasulullah Saw bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

“Tidak dihalalkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam, kedua bertemu, yang satu berpaling ke kiri dan yang lainnya berpaling ke kanan. Yang terbaik di antara mereka berdua adalah yang mengawali memberi salam” (Abu Daud 4912).

Dan termasuk amalan yang dianjurkan adalah melerai perselisihan, Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu” (Al Anfal (8) : 1), sehingga kasih sayang menjadi langgeng antar sesama masyarakat.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ

Kaum muslimin; pada hari raya ikatan-ikatan silaturrahim semakin kuat dan cinta kasih antara anggota masyarakat semakin mengakar, sehingga seorang muslim pada hari raya ini menjadi lemah lembut terhadap para fakir miskin, membantu orang-orang yang membutuhkan, hal ini merupakan pelajaran terpenting yang didapati dari puasa bulan Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak mendzaliminya dan tidak menipunya, barang siapa membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya, barang siapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat”(Muttafaq ‘alaih).

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الحمدُ

Semoga Allah menyebarkan kebahagiaan ke seluruh relung hati, melanggengkan kasih sayang dan interaksi antar sesama, dan semoga Allah memberikan kami taufiq untuk mentaati-Nya dan mentaati orang yang diperintahkan kepada kami untuk ditaatinya sebagai pengamalan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).

أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، إنهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.


Khutbah Kedua

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ           اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللهُ أكبرُ وللهِ الحَمْدُ
الحمدُ للهِ كمَا ينبغِي لجلالِ وجهِهِ وعظيمِ سلطانِهِ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنَا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطَّيبينَ الطَّاهرِينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعِينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa pelajaran dan nasehat Ramadhan masih terus berlaku bagi kita, yaitu melalu pelaksanaan puasa setelah Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 ( enam) hari bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa satu tahun penuh”(Muslim 1164). Disunnahkan pula puasa Senin Kamis, Rasulullah Saw bersabda
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالخَمِيسِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Diangkat amalan-amalan (seminggu) pada hari Senin dan Kamis dan Aku suka ketika amalanku diangkat dan aku dalam keadaan berpuasa”(At Tirmidzi 747).

Sebagaimana disunnahkah puasa tiga hari setiap bulan, dari Abu Hurairah RA berkata:

أَوْصَانِى خَلِيلِي عليه الصلاة والسلام بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Sahabatku Saw berwasiat tiga perkara padaku : berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan dua rakaat shalat dhuha dan menunaikan shalat witir sebelum aku tidur”(Muttafaq ‘alaih).

عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ
تَعَالَى:
]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([1]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([2])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى، وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وَتَسْلِيمًا وفقهًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ. اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ،اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ. قومُوا مغفورًا لكُمْ إنْ شاءَ اللهُ تعالَى([3]).
http://awqaf.ae/Jumaa.aspx?SectionID=5&RefID=1681


([1]الأحزاب : 56 .
([2]) مسلم : 384.

Khotbah Jum'at: DENGKI ITU TERCELA

Khotbah Jumat, 06 Syawwal 1433 H / 24 Agustus 2012 M

Khotbah Pertama

الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، أحمدُهُ تعالَى حمدًا طيبًا مُباركًا فيهِ كمَا يُحبُّ ويرضَى، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُ وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً[([1]).

Kaum mukminin; Allah berfirman:

يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ* إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (As Syu’ara’ (26) :  88-89).

Hati yang bersih yaitu yang tidak menyimpan penyakit jiwa, dan penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengancam keselamatan hati adalah dengki, yang berbentuk pengharapan manusia akan hilangnya nikmat dari sesamanya, dan ini merupakan dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah, dimana Iblis merasa dengki terhadap Adam AS karena kedudukannya disisi Allah, sehingga ia tidak mau bersujud kepada Adam ketika Allah memerintahkannya, sebagaimana dengki Qabil terhadap Habil, ketika Allah menerima amalan saudaranya dan tidak menerima amalan darinya, sehingga  kedengkiannya tersebut membuatnya melakukan tindakan dosa besar yaitu dengan membunuh saudaranya sendiri, yang pada akhirnya berakibat kerugian besar.

Dan karena begitu bahayanya kedengkian maka Allah memerintahkan kita untuk berlindung diri kepada-Nya dari keburukan orang pendengki, Allah berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ* مِن شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ * وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي العُقَدِ* وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Penguasa) waktu Subuh. Dari kejahatan apa-apa yang telah Dia ciptakan. Dan dari kejahatan malam apabila telah masuk dalam kegelapan. Dan dari kejahatan malam apabila telah masuk dalam kegelapan. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada tali-tali ikatan. Dan dari kejahatan orang dengki apabila ia dengki” (Al Falaq (113) : 1-5).

Dengki merupakan penyakit yang bila menimpa satu ummat maka ia akan membawa kehancuran, disamping ia juga bertentangan dengan keimanan, Rasulullah Saw bersabda:

لاَ يَجْتَمِعُ فِي جَوْفِ عَبْدٍ الإِيمَانُ وَالْحَسَدُ

"Tidak akan terkumpul pada rongga seorang hamba keimanan dan kedengkian" (Shahih Ibnu Hibban 10/466), masyarakat yang terselamatkan dari kedengkian merupakan salah satu pertanda kebaikan dan merupakan bukti bahwa kemurnian keimanan seorang muslim, Rasulullah Saw bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

"Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya”(Muttafaq 'alaih).

Hamba Allah; semua bentuk kedengkian itu tercela kecuali pada kebaikan, yaitu seperti harapan seseorang untuk mendapatkan nikmat bagi dirinya dan tidak mengharapkan nikmat tersebut dicabut dari orang-orang lain, bahkan ia mendoakan mereka agar nikmat tersebut kekal pada mereka, hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

"Tidak ada rasa dengki yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang: yaitu terhadap orang yang diberikan harta oleh Allah kemudian ia habiskan dalam kebenaran, dan terhadap orang yang diberikan hikmah oleh Allah kemudian ia terapkan dan ia mengajarkannya" (Muttafaq 'alaih).

Beberapa penyebab timbulnya rasa dengki ; yang terpenting adalah perlombaan tercela di dunia, seperti seseorang yang berusaha mewujudkan kepentingannya dengan cara yang illegal, karena merasa iri dan dengki terhadap orang yang berlomba dengannya, sehingga ia terjatuh dalam permusuhan, Rasulullah Saw bersabda:

وَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

"Demi Allah bukanlah kefakiran yang aku takutkan pada kalian, akan tetapi aku takut pada kalian diluaskan dunia pada kalian sebagaimana diluaskan pada orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga kalian dibinasakan sebagaimana mereka dibinasakan" (Muslim 2961).

Sebagaimana perlombaan dalam mewujudkan kemaslahatan melalui jalur yang legal maka ini merupakan perlombaan yang diperbolehkan, Allah berfirman:

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ المُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (Al Muthaffifin (83) : 26).

Dan kesombongan dan ujub merupakan salah satu sebab yang menyebabkan kedengkian, yaitu seperti seseorang yang memandang dirinya lebih utama dari orang lain, ia mengharapkan nikmat itu berada pada dirinya semata dan tidak dimiliki oleh lainnya, bahkan ia mengharapkan sirna dari tangan orang lain, perhatikan ungkapan iblis:

أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (Al A'raf (7) : 12).

Kaum muslimin ; sesungguhnya muslim sejati adalah orang membersihkan hatinya dari semua penyakit tersebut dan berusaha mengobati dirinya bila tertimpa rasa dengki, dan seseorang dapat terbebas dari rasa dengki dengan beberapa cara, diantaranya adalah dengan mencintai sesama dan bersahabat dengan sesama dengan baik, Rasulullah Saw bersabda:

لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَاناً

"Janganlah kalian saling dengki, saling marah, saling berpaling dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara"(Muttafaq 'alaih).

Cara lain adalah rasa puas dan ridha dengan pembagian Allah, maka bila jiwa merasa puas dan ridha dengan ketentuan Allah, maka ia akan menjauh dari apa yang ada ditangan orang lain, Rasulullah Saw bersabda:

ارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

“Ridhalah dengan pembagian Allah kepadamu, maka kamu akan jadi manusia terkaya” (At Tirmidzi 2305).

Sifat ridha akan membangkitkan ketenangan dan ketentraman dalam jiwa, dan ini merupakan salah satu penyebab keberuntungan, Rasulullah Saw bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافاً وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup dan Allah memberikannya kepuasan dengan apa yang diberikan kepadanya” (Muslim 1054).

Ya Allah berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).

بارَكَ اللهُ لِي ولكُمْ فِي القرآنِ العظيمِ، ونفعَنِي وإياكُمْ بِمَا فيهِ مِنَ الآياتِ والذكْرِ الحكيمِ، أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.


Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Bertakwalah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa keselamatan hati merupakan salah satu penyebab terpenting yang harus diperhatikan oleh seorang muslim, Rasulullah Saw bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ. أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ketahuilah,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati” (Muttafaq ‘alaih). 

Seorang muslim hendaknya yang menjaga hatinya dari segala penyakit termasuk dengki, marah dan dendam,

فعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنه قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام أَىُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ :« كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ ». قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ :« هُوَ التَّقِىُّ النَّقِىُّ لاَ إِثْمَ فِيهِ وَلاَ بَغْىَ وَلاَ غِلَّ وَلاَ حَسَدَ

Dari Abdullah bin Amr RA berkata ; ditanyakan pada Rasulullah Saw, siapakah sebaik-baiknya manusia ? beliau menjawab : adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu jujur lisannya, mereka bertanya ; kami telah mengetahui yang selalu jujur ucapannya, lalu apa yang dimaksud hati yang bersih ? Beliau menjawab : yaitu hati yang bertakwa, yang murni, tidak ada dosa didalamnya, tidak ada kedzaliman, tidak ada dendam dan tidak ada dengki” (Ibnu Majah 4216).

Semoga Allah menganugerahkan kami hati yang bersih dari segala penyakit dan hati yang dipenuhi oleh rasa cinta dan kerelaan.

عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رسولُ اللهِعليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى، وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ. اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا. اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ. اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).


([1]) النساء : 1.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]العنكبوت :45.

Khotbah Jum'at: BERKESINAMBUNGAN DALAM KETAATAN

Khotbah Jumat, 29 Ramadhan 1433 H / 17 Agustus 2012 M

Khotbah Pertama

الْحَمْدُ للهِ مُجيبِ الدعواتِ، مُنَزِّلِ الرحماتِ، أحمدُهُ حمداً كثيراً طيباً عَلَى نِعَمِهِ وأَفضالِهِ، وأَشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، هدانَا لفعلِ الخيراتِ، وعملِ الطاعاتِ، وأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ ورسولُهُ ، وصَفِيُّهُ مِنْ خَلْقِهِ وخَلِيلُهُ ، أرشدَنَا إلَى أبوابِ الحسناتِ، وحثَّنَا علَى التنافُسِ فِي الدرجاتِ، اللهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِهِ وأصحابِهِ والتَّابِعِينَ ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ تعالَى، قالَ اللهُ عزَّ وجلَّ:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ[([1]).

Kaum mukminin; sekarang posisi kita sedang berada pada jumat terakhir bulan Ramadhan, bulan ini dgn segala kebaikannya telah berlalu, beruntunglah orang yang telah mendapatkan taufiq dari Allah untuk menjalankan ketaatan didalamnya, siang harinya dilakukan dg berpuasa, malam harinya dg shalat malam, menyibukkan waktunya dg membaca Quran, beribadah kepada Tuhannya dan berinteraksi baik dg sesamanya, sehingga ia mendapatkan ampunan, ketakwaan dan keimanan yang terbarukan, dan sesungguhnya diantara keberkahan bulan ini adalah taufiq dalam berbuat baik yang berkesinambungan dalam beribadah setelah Ramadhan, Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (Fusshilat (41) : 30). 

Berkesinambungan dalam kebajikan merupakan kebiasaan orang-orang shaleh, kepribadian orang-orang yang bertakwa dan cirri orang-orang dekat dg Tuhan mereka, ia menjadi benteng seorang muslim dari kesalahan dan kekurangan,

عَنْ سُفْيَانَ ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِىِّ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ. قَالَ :« قُلْ رَبِّىَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ »

Dari Sofyan ibnu Abdullah As Tsaqofi berkata : aku bertanya : wahai Rasulullah, ceritakan padaku perkara yang dapat menjadi peganganku. Beliau menjawab : katakan ; Tuhanku adalah Allah kemudian beristiqomahlah" (Muslim 62, At Tirmidzi 2410).

Salah satu petunjuk Rasulullah Saw adalah berkesinambungan dalam melakukan perbuatan shaleh, dari Aisyah RA berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ

Rasulullah Saw bila melakukan amalan maka ia melakukannya dg ketetapan hati" (Muslim 746). Sabda Rasulullah Saw:

أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling disukai oleh Allah adalah yang dilakukan secara berkesinambungan oleh pelakunya walaupun sedikit" (Muslim 782)
Berkesinambungan dalam ketaatan merupakan unsur penting syukur kepada Allah dan pengakuan dengan keutamaan-Nya, karenanya Rasulullah bangun malam,

فتقولُ لهُ السيدةُ عَائِشَةُ رضي الله عنها: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ فَقَالَ عليه الصلاة والسلام :« يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْداً شَكُوراً»

dan Aisyah bertanya pada Rasulullah Saw; wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini sedangkan dosamu yg berlalu dan yang akan datang telah diampuni ?  Beliau menjawab : wahai Aisyah tidakkah Aku suka menjadi seorang hamba yang bersyukur ! (Muslim 2820)
Kaum muslimin ; sesungguhnya amalan shaleh merupakan wasiat Allah kepada para Rasul-Nya, Allah firman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Al Mu'minun (23) : 51). 

Amalan shaleh merupakan wasiat Allah kepada hamba-hamba-Nya mukminin, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan". (Al Hajj (22) : 77).

Dan barang siapa melakukan perbuatan baik dengan berkesinambungan maka ia telah selamat, diberikan rezeki kebahagiaan di dunia dan mendapatkan surga di akhirat, Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(An Nahl (16) : 97).

Disebutkan dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِي بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ

“Dan tiada mendekat kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku sukai daripada menjalankan kewajibannya, dan selalu hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan melakukan sunnat-sunnat, sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya dan penglihatannya, dan sebagai tangan yang digunakannya dan kaki yang dijalankannya, dan apabila ia memohon kepada-Ku pasti Ku-kabulkan, dan jika berlindung kepada-Ku pasti kulindungi” (Bukhari 6502).

Hendaknya seseorang mempunyai cara agar menjumpai Allah dalam keadaan ridha, yaitu dengan memperbanyak perbuatan sunnah sesuai kemampuan, dari Umm Hubaibah isteri Nabi Saw berkata : aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعاً غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتاً فِى الْجَنَّةِ

"Tidak seorang hamba muslim yang shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sunnah selain shalat fardhu kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga" (Muslim 728).

Hamba Allah; sunnah yang paling utama adalah shalat malam, walaupun hanya dua rakaat pada setiap malamnya, dan hendaknya berpuasa pada bulan Ramadhan menjadi acuan dalam ibadahmu, seperti berpuasa tiga hari dalam sebulan atau sesuai dengan kemampuanmu, dan Rasulullah Saw telah menganjurkan untuk berpuasa enam hari syawwal setelah Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawwal, maka seakan-akan ia telah berpuasa satu tahun penuh" (Muslim 1164).

Hendaknya Anda selalu berdzikir kepada Allah, orang yang mengingat (berdzikir) Allah maka Allah akan mengingatnya pada kelompok yang lebih tinggi, Allah berfirman:
:] فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (Al Baqarah (2) : 152).

Firman Allah dalam hadits Qudsi:

فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي

"Barangsiapa yang mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingat-Nya dalam diri-Ku” (Muttafaq ‘alaih).

Tasbih dan istighfar dalam segala kondisi siang dan malam, membaca Quran merupakan cahaya penerang seorang muslim di dunia, simpanan baginya di akhirat, berusaha untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, berinteraksi baik dengan rekan-rekan, berbuat kebajikan, membantu orang yang membutuhkan, menunaikan kebutuhan orang lain dan membahagian sesama, semua itu merupakan kebaikan yang dipersembahkan kepada dirimu sendiri, dan barang siapa berbuat kebaikan maka ia mendapatkannya pada hari kiamat.

Semoga kami semua diberikan taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).

بارَكَ اللهُ لِي ولكُمْ فِي القرآنِ العظيمِ، ونفعَنِي وإياكُمْ بِمَا فيهِ مِنَ الآياتِ والذكْرِ الحكيمِ، أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنَا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa Rasulullah Saw telah mewajibkan zakat fitri sebagai pembersih orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan ucapan kotor, sebagai bahan makan bagi orang miskin, dijelaskan takarannya seperti diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadan satu sha' dari kurma, atau satu sha' dari gandum, atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin, dan diperintahkan untuk ditunaikannya sebelum manusia berangkat shalat id” (Bukhari).

Zakat dikeluarkan dari makanan pokok mayoritas penduduk suatu negara, sebagian ulama memperbolehkan mengeluarkan uang seharga makanan tersebut, tahun ini ditentukan sebesar DH.20, juga boleh disalurkan melalui institusi amal resmi di negara ini dan dikeluarkan sebelum shalat Id.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ
تَعَالَى:
]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رَسُولُ اللَّهِ  عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى، وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وَتَسْلِيمًا وفقهًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ. اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ،اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).


([1]) الحشر : 18.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]العنكبوت :45.