Friday, September 30, 2016

Khotbah Jum'at: HUTANG

Khotbah Jumat, 11 Rajab 1433 H / 01 Juni 2012 M
Khotbah Pertama:
الحمدُ للهِ عَلاَّمِ الغيوبِ، كاشِفِ الكروبِ، ساتِرِ العيوبِ، أحمدُهُ تعالَى حمدًا يليقُ بكمالِ وجهِهِ وعظيمِ سلطانِهِ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُ وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ[([1]).
Kaum mukminin; Allah telah menciptakan manusia dan memulyakannya, menanggung rezekinya dan mempermudahnya, serta menganjurkannya untuk berusaha diatas permukaan bumi, Allah berfirma: 
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (Al Mulk 15). Rezeki yang mubah adalah rezeki yang halal dan baik yang tidak ada keraguan, unsur penipuan didalamnya, tidak ada syubhat dan tidak ada pertentangan didalamnya, Allah berfirman: 
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالاً طَيِّباً 
 Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu” (An Nahl (16) 114).
Allah telah menjelaskan kepada manusia jalan-jalan pembelanjaan harta, dan yang paling penting adalah keseimbangan dalam pengeluaran, tidak pelit juga tidak pula kikir, tidak berlebihan dan juga tidak pula boros, Allah berfirman: 
وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ البَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوماً مَّحْسُوراً 
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (Al Isra’ (17) 29). 
Yang pelit akan tercela karena kepelitannya, dan pemboros akan menyesal atas penghambur-hamburannya.
Agar seorang muslim tidak jatuh pada kerugian, maka Islam menuntutnya untuk membelanjakan hartanya sesuai dengan kebutuhannya yang paling utama, yaitu dengan mengedepankan kebutuhan dan keperluan primer atas kebutuhan sekunder, dan hendaknya jangan membuang-buang hartanya pada kegiatan yang tidak berguna serta gaya hidup yang berlebihan apalagi sampai melalaikan kebutuhan keluarganya, seperti kebutuhan hunian, sandang dan pangan, Rasulullah SAW bersabda: 
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ 
"Cukuplah seseorang berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang wajib dinafkahinya" (Abu Daud 1692).
Seseorang yang berlebihan dalam membelanjakan hartanya untuk kebutuhan aksesoris, dan bila hal itu tidak dimiliki tidak akan mengganggu kehidupannya, maka suatu saat ia akan berhutang pada bank untuk membeli aksesoris tersebut, sehingga beban hutang itu semakin menumpuk, padahal sebelumnya ia tidak membutuhkan itu, akan tetapi sebagian orang yang berhutang, sebenarnya ia tidak mempunyai kemampuan untuk melunasi hutangnya, atau sebagian lainnya tidak sungguh-sungguh untuk melunasinya, dan Nabi Saw telah memperingatkan agar tidak meremehkan dalam pembayaran dan pelunasan hutang, sabdanya: 
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ 
"Barang siapa yang berhutang harta pada seseorang sedangkan ia mau melunasinya maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya, dan barang siapa yang berhutang dan hendak menyelewengkannya maka Allah akan merusaknya" (Bukhari 2387).
Dan diantara penyebab seseorang untuk berani berhutang adalah perhatiannya untuk meniru dan bersaing dengan orang lain dan membanggakan diri dengan harta, sebenarnya Nabi Saw telah mengarahkan mereka untuk melihat kondisi orang dibawahnya dan jangan melihat orang yang lebih banyak harta darinya, sehingga mereka lupa nikmat dan patah semangat, Rasulullah SAW bersabda: 
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ 
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian”(At Tirmidzi 2513).
Hamba Allah ; sesungguhnya menganggap mudah hutang serta berhutang tanpa keperluan penting maka akan membawa seseorang pada permasalahan yang menghinakan, Rasulullah Saw bersabda: 
إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ لِغَنِىٍّ، وَلاَ لِذِي مِرَّةٍ سَوِىٍّ 
"Sesungguhnya meminta-minta tidak patut bagi orang kaya dan orang kuat yang mampu mencari nafkah” (At Tirmidzi 653).
Sebagian orang terbiasa mengemis pada orang lain dengan menggunakan kesempatan kebaikan orang lain, sehingga ia meminta tanpa keperluan, yang pada akhiranya kedudukan terjebak dalam kebiasaan. 
لاَ تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ 
“Tidaklah seseorang terus-menerus meminta-minta kepada orang lain, hingga kelak akan datang pada hari Kiamat, dalam keadaan tidak ada secuil daging pun melekat di wajahnya”   (Muslim 1040).
Oleh karenanya, Nabi Saw mendidik para sahabatnya untuk mempunyai sifat puas, kesucian, ketinggian jiwa dan menjauh dari meminta-minta tanpa keperluan, karena hal ini bertentangan dengan wibawa dan kemulyaan seorang muslim, Hakim bin Hizam RA berkata : aku meminta pada Rasulullah Saw lalu beliau memberiku, kemudian aku meminta padanya maka beliau memberiku, kemudian aku meminta padanya maka beliau memberiku, kemudian beliau berkata:  “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” aku berkata : wahai Rasulullah dan demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran sesungguhnya tidak merugi seorangpun setelahmu sedikitpun sehingga aku meninggal dunia.
Abu Bakar RA mengajak Hakim untuk memberi tapi ia menolaknya, kemudian Umar RA memanggilnya untuk memberinya tapi ia menolaknya. Umar berkata; Sesungguhnya aku bersaksi pada kalian wahai kaum muslimin mengenai Hakim, sesungguhnya aku menawarkan haknya dari harta rampasan perang kepadanya tapi ia menolak mengambilnya. Dan Hakim tidak merugikan orang lain setelah Rasulullah Saw sehingga ia meninggal dunia (Bukhari 1472).
Begitulah hendaknya seorang muslim menjadi puas dengan pemberian Tuhannya, bersyukur dan rela, karena syukur, rela dan puas merupakan sumber keberuntungan dan kebahagiaan, dan sifat-sifat inilah yang merupakan penyebab utama seseorang terhindar dari hutang dan meminta-minta pada orang lain, Rasulullah Saw bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافاً، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ 
“Beruntunglah orang islam yang diberi rezeki yang mencukupinya, dan diberikan kepuasan dengan apa yang diberikan Allah kepadanya” (Muslim 1054).
Ya Allah berilah kepuasan kepada kami pada rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu: 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
 Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ عليه الصلاة والسلام أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua: 

الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبد ُ هُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Bertakwalah wahai hamba Allah dan ketahuilah bahwa hutang itu membawa gundah dan kehinaan, memperkeruh jiwa dan mencerai beraikan pikiran, karenanya Nabi Saw berlindung kepada Allah darinya, dari Aisyah RA ; bahwa Rasulullah Saw berdoa dalam shalatnya; 
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ». فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ: مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ ؟ فَقَالَ :« إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ([2]) حَدَّثَ فَكَذَبَ، وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ 
"Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan hutang. Seorang bertanya : beberapa banyak permintaan perlindungannya dari hutang ? Beliau menjawab; Sesungguhnya seseorang bila berhutang maka ucapannya dusta dan janjinya diingkari” (Muttafaq ‘alaih) 
Dalam hadits ini terdapat peringatan mengenai susahnya urusan hutang piutang, karena itu jangan melakukannya kecuali pada kondisi darurat.
Bila seseorang terpaksa berhutang karena kebutuhan, maka hendaknya ia memperhatikan etika berhutang, diantaranya yaitu ; hendaknya ia berkemauan keras untuk segera melunasi hutangnya, berniat baik untuk melunasinya, dan bersegera membayar hutang-hutangnya bila sudah tiba waktu pembayarannya, Rasulullah SAW bersabda: 
إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً 
"Sebaik-baiknya manusia adalah yang terbaik dalam pelunasan hutangnya" (Muttafaq 'alaih)
Dan hendaknya tidak menunda-nunda pembayaran hutang, atau meremehkan dalam pelunasannya, semua itu dapat menjadi penyebab tertutupnya pintu kebaikan dan terjatuhnya pada perbuatan dhalim, Nabi SAW bersabda: 
مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ 
“Orang kaya yang menunda-nunda pelunasan hutang termasuk dhalim” (Muttafaq ‘alaih). 

عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([3]) وقالَ رسولُ اللهِ عليه الصلاة والسلام :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([4])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ،وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى، وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِكُلِّ مَنْ وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى عِبَادِكَ، اللَّهُمَّ بارِكْ فِي مَالِ كُلِّ مَنْ زَكَّى وزِدْهُ مِنْ فضلِكَ العظيمِ، اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَ.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).


([1]) النساء :131.
([2])ومعنى غَرِمَ أي لزمتْهُ الديونُ.
([3]الأحزاب : 56 .
([4]) مسلم : 384.
([5]العنكبوت :45.

Khotbah Jum'at: PELAJARAN DARI SURAT ATTAKATSUR

Khotbah Jumat, 04 Rajab 1433 H / 25 Mei 2012 M
Khutbah Pertama:
الحمدُ للهِ الأَوَّلِ والآخرِ، والظاهرِ والباطنِ، واهِبِ النِّعَمِ، واسِعِ الكَرَمِ، أحمدُهُ حمْدَ مَنْ يعلَمُ أنَّهُ مُسبِّبُ الأسبابِ، وأشكرُهُ شُكْرَ مَنْ تابَ إليهِ وأنابَ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ، العزيزُ الوهَّابُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنَا محمداً عَبدُ اللهِ ورسُولُهُ النبِيُّ المصطفَى الأوَّابُ، فاللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ مَا طلَعَ نَجْمٌ وغَابَ، وعلَى آلِهِ وأصحابِهِ الأخيارِ الأحبابِ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الحسابِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[([1]).
Kaum mukminin: Di dalam surat At Takatsur banyak terkandung pelajaran, arahan dan peringatan, dimana manusia sangat membutuhkannya baik didalam masalah akidah, ibadah, akhlak dan mua'amalahnya, Allah berfirman:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ* حَتَّى زُرْتُمُ المَقَابِرَ* كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ* ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ*كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ اليَقِينِ* لَتَرَوُنَّ الجَحِيمَ* ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ اليَقِينِ* ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ[
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At Takatsur 1-8).
Dan masalah penting yang terkandung dalam surat ini adalah penjelasan mengenai kondisi sebagian manusia yang berlomba-lomba untuk menggapai keduniawan dan melupakan akhirat, firman-Nya :
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ* حَتَّى زُرْتُمُ المَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” (At Takatsur 1-2). Artinya mereka disibukkan dengan melimpahnya harta dan menjauh dari ketaatan kepada Allah hingga mereka meninggal dan dikuburkan, Al Quran telah mengingatkan dari bahaya cinta harta terhadap hati seseorang, karena ia akan melupakannya dari ketaatan kepada Allah, firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (Al Munafiquun 9)
Rasulullah SAW mengajarkan kita bagaimana mempergunakan harta dan berikut sabdanya sebagai peringatan bagi orang membangga-banggakan hartanya:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي. وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
"Anak Adam berkata: hartaku, hartaku.
Dan bukankah bagianmu dari hartamu itu kecuali apa yang ia telah kamu makan hingga habis, apa yang telah kamu pakai hingga rusak dan apa yang telah kamu berikan kepada orang lain hingga kamu mendapatkan pahalanya” (Muslim 2958). Nabi SAW telah mengingatkan mengenai berlomba-lomba dalam dunia, sabdanya:
وَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا، كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ
"Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan pada kalian, akan tetapi yang aku takutkan pada kalian adalah dipamerkannya dunia pada kalian, sebagaimana dipamerkannya pada orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba dan melalaikan kalian sebagaimana telah melalaikan mereka" (Muttafaq ‘alaih).
Sebagaiman Rasulullah Saw telah menjelaskan bahwa lapangan perlombaan hendaknya dibidang perbuatan baik yang akan menjadi simpanan pahala bagi pelakunya di akhirat, sabdanya:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
"Tiga perkara  yang akan mengikuti mayit, dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh  keluarganya, hartanya dan perbuatannya, maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sedangkan amalannya akan tetap bersamanya"(Muslim 2960).
Bisyr bin Al Harits RA berkata:
لابْنِ آدمَ فِي مَالِهِ ثَلاثُ حَسَرَاتٍ: يجمعُهُ كُلَّهُ، ويتركُهُ كُلَّهُ، وَيُسْأَلُ عَنْهُ كُلِّهِ
Bagi anak adam dalam hartanya terdapat tiga kelelahan ; mengumpulkannya semua, meninggalkannya semua dan ditanya tentangnya semua"
Kaum muslimin ; surat At Takatsur membahas masalah keyakinan pada Allah, firman-Nya:
كلا لو تعلمون علم اليقين* لترون الجحيم
"Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim"(At Takatsur 5-6).
Andaikata kalian tahu mengenai dahsyatnya hari kiamat, seperti kebangkitan, padang mahsyar dan perhitungan maka semua itu akan menyibukkan kalian daripada hanya sekedar berlomba-lomba dalam urusan dunia dan perhiasannya.
Arti keyakinan pada Allah adalah pengakuan yang jujur mengenai nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan pengaturan-Nya yang baik, sehingga dengannya seorang hamba akan rela dengan ketentuan-ketentuan Allah, dan dengannya ia mampu menggapai tingkat keimanan yang tertinggi, Abdullah bin Mas'ud RA berkata:
الصَّبْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالْيَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ
"Kesabaran setengah dari keimanan dan keyakinan adalah keimanan seluruhnya" (Syu'bul Iman karangan Al Baihaqi 1/74)
Bila keyakinan kepada Allah telah merasuk dalam hati maka ia akan dipenuhi oleh cahaya, ketakutan, cinta, kerelaan dan syukur, sehingga ia terbebas dari keraguan, Rasulullah Saw bersabda:
أَفْضَلُ الأَعْمَالِ عِنْدَ اللَّهِ إِيمَانٌ لاَ شَكَّ فِيهِ
"
Sebaik-baiknya pekerjaan dihadapan Allah adalah keimanan yang tidak ada keraguan didalamnya" (An Nasa’i 2526, Ahmad 7722)
Hamba Allah; dan diantara bentuk keyakinan adalah hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya berdasarkan atas keyakinan yang mutlak,
فقَدْ حكَى رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام عَنْ رَجُل مِمَّنْ كانَ قبْلَنَا سَأَلَ رجُلاً أَنْ يُسْلِفَهُ أَلْفَ دِينَارٍ، فَقَالَ: ائْتِنِي بِالشُّهَدَاءِ أُشْهِدُهُمْ. فَقَالَ: كَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً. قَالَ: فَأْتِنِي بِالْكَفِيلِ. قَالَ: كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَلَمَّا حَلَّ أجَلُ السدادِ خَرَجَ إلى الْبَحْرِ يلْتَمسُ مَرْكَباً يَرْكَبُهَا، فَلَمْ يَجِدْ، فَأَخَذَ خَشَبَةً، فَنَقَرَهَا فَأَدْخَلَ فِيهَا أَلْفَ دِينَارٍ، وَصَحِيفَةً مِنْهُ إِلَى صَاحِبِهِ، ثُمَّ دفع بِهَا إِلَى الْبَحْرِ... فَخَرَجَ الدَّائنُ يَنْتظرُهُ فَإِذَا بِالْخَشَبَةِ الَّتِى فِيهَا الْمَالُ، فَأَخَذَهَا لأَهْلِهِ حَطَباً، فَلَمَّا نَشَرَهَا وَجَدَ الْمَالَ وَالصَّحِيفَةَ
Dikisahkan oleh Rasulullah SAW bahwa seseorang sebelum kami meminta seseorang untuk memberinya hutang sebesar seribu dinar, lalu ia berkta : bawalah beberapa saksi agar menyaksikan. Ia berkata; cukuplah Allah sebagai saksi. Ia berkata : bawalah padaku seorang penjamin. Ia berkata : cukuplah Allah sebagai penjamin. Ia berkata : Anda benar. Kemudian ia memberikan kepadanya sampai batas waktu tertentu, maka ketika tiba waktu pelunasannya, ia keluar menuju pesisir pantai mencari perahu yang akan ditumpanginya, tapi ia tidak mendapatkannya, lalu ia mengambil sepotong kayu, dilubangi tengahnya dan memasukkan seribu dinar didalamnya, dan sebuah tulisan darinya untuk temannya, kemudian ia mendorongnya ke laut, pemberi hutang keluar menunggunya, seketika itu ia mendapati kayu yang didalamnya terdapat uang, lalu ia membawanya pulang untuk kayu bakar keluarganya, ketika ia menggergajinya ia mendapati uang dan sebuah surat didalamnya. (Bukhari 2921).
Hamba Allah, perhatikan keyakinan orang tersebut, serta kepercayaannya kepada Allah, sebagaimana Allah telah menundukkan ombak lautan untuk membawa amanahnya sehingga hutang tersebut terbayar.
Ya Allah berikanlah kami keyakinan yang mengikat hati kami dengan cinta-Mu dan tidak melupakan dari dzikir kepada-Mu, ya Allah berilah kami taufiq untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintah untuk ditaatinya sebagai pengamalan atas firman-Mu :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ r أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua:
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزَّ وجلَّ فِي السِّرِّ والعلَنِ.
Kaum mukminin ; surat At Takatsur ditutup dengan ajakan untuk menjaga nikmat-nikmat Allah, menghargai dengan sebaik-baiknya, mengelolanya dengan tepat serta tidak merusak dan berlebih-lebihan dalam penggunaannya, Allah berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
"kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)" (At Takatsur 8).
Manusia bertanggung jawab dihadapan Tuhannya atas nikmat yang telah diberikan kepadanya, disebutkan dalam sebuah hadits:
أنَّ رَسُولَ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام خَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رضي الله عنهما فَقَالَ:« مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ ؟». قَالاَ: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ:« وَأَنَا وَالَّذِي نَفْسِى بِيَدِهِ لأَخْرَجَنِي الَّذِى أَخْرَجَكُمَا قُومُوا». فَقَامُوا مَعَهُ فَأَتَى رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ ... فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ ... وَذَبَحَ لَهُمْ فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ:« وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ»([2]).
Bahwa Rasulullah Saw pernah keluar rumah pada suatu hari atau malam dan seketika itu Beliau berjumpa dengan Abu Bakar dan Umar maka Beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian berdua keluar dari rumah kalian berdua pada waktu seperti ini ? keduanya menjawab : lapar wahai Rasulullah. Beliau berkata : dan aku demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, yang membuatku keluar adalah seperti yang membuat kalian berdua keluar, maka bangkitlah. Kemudian mereka berdiri bersamanya, lalu datanglah seseorang dari kaum Anshar, lalu ia membawakan buat mereka setangkai kurma, lalu ia menyembelihkan kambing untuk mereka sehingga mereka dapat makan dan minum, ketika mereka telah kenyang dan lepas dari dahaga mereka, Rasulullah berkata pada Abu Bakar dan Umar ; dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian akan dipertanyakan mengenai nikmat ini pada hari kiamat, kalian keluar dari rumah kalian dalam keadaan lapar, kemudian kalian belum kembali sehingga kalian mendapatkan nikmat ini” (Muslim 2038)
Setiap kita hendaknya melihat nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita, mulai dari nikmat kesehatan, harta, keturunan, ilmu, ketentraman dan kemakmuran, maka hendaknya kita berterima kasih dan menyebut keutamaan-Nya dan tidak mengingkari-Nya dan hendaknya kita memohon kelanggengan nikmat-nikmat tersebut serta keberkahan didalamnya, karena syukur termasuk pelanggeng dan pelestari nikmat tersebut.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([3])
وقالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([4])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللهُمَّ عَرِّفْنَا نِعَمَكَ بدوامِهَا، وأَلْهِمْنَا شُكرَهَا، ولاَ تُعَرِّفْنَا عليْهَا بزوالِهَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا،ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى،وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِكُلِّ مَنْ وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى عِبَادِكَ، اللَّهُمَّ بارِكْ فِي مَالِ كُلِّ مَنْ زَكَّى وزِدْهُ مِنْ فضلِكَ العظيمِ، اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَاللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([5]).

([1]) الأحزاب: 70 - 71.
([2]) مسلم : 2038 .
([3]) الأحزاب : 56 .
([4]) مسلم : 384.
([5]) العنكبوت :45.

Khotbah Jum'at: KESABARAN

Khotbah Jumat, 27 Jumadil Akhirah 1433 H / 18 Mei 2012 M
Khutbah Pertama:
الحمدُ للهِ الحليمِ الْمنَّانِ، ذِي الفضلِ والإحسانِ، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُوصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ صلاةً تَمنحُنَا بِهَا الشفاعةَ وتُؤَمِّنُنَا بِهَا عندَ قيامِ الساعةِ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ عزّ وجلَّ، قالَ تعالَى:] وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ[([1]).
Kaum muslimin ; kesabaran merupakan salah satu cabang keimanan, dan ia merupakan akhlak islam yang agung dan sifat keimanan yang mulya, kesabaran adalah menguasai diri saat marah, mengontrolnya sehingga tidak keluar dari keindahan etika, kesabaran termasuk sifat  yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, Beliau bersabda kepada Asyajj Abdul Qais:
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ
"Sesungguhnya padamu terdapat dua sifat yang dicintai Allah : kesabaran dan toleran" (Muslim 25). Ia termasuk salah satu sifat diantara sifat-sifat Allah, firman-Nya:
وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (Al Baqarah 225) dan firman-Nya:
وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun” (At Taghabun 17). Dan diantara bentuk kesabaran Allah kepada hamba-Nya bahwa Dia tidak mengazab hamba-hamba-Nya disebabkan keteledoran mereka, akan tetapi Dia sabar dan menangguhkan mereka sehingga mereka bertaubat, Allah berfirman:
وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ
“Dan Tuhanmulah Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka” (Al Kahf 58).
Allah telah memuji nabi-Nya Ibrahim karena beliau menjiwai sifat sabar dan mengamalkannya terhadap kaumnya, walaupun ia mendapatkan siksaan dan cacian dari mereka, Allah berfirman:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيبٌ
“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah” (Hud 75) dan sifat sabar ini juga diwariskan kepada anaknya Ismail AS, dimana beliau sabar dalam menerima perintah Allah, tidak menolak akan tetapi memulainya dengan keridhaan dan penyerahan diri, Allah berfirman:
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”(As Shaffat 101).
Hamba Allah ; kesabaran merupakan karakter kehidupan Nabi Saw yang terungkap dalam ucapan, tindakan dan perbuatannya, Zaid Bin Su'nah dalam kisah keislamannya : sesungguhnya tidak tersisa dari alamat kenabian sedikitpun kecuali aku telah mengetahuinya pada wajah Muhammad Saw ketika aku melihatnya, kecuali dua hal yang belum aku khabarkan : kesabarannya mendahului kebodohannya, dan semakin bertambah kebodohannya terhadapnya maka ia bertambah sabar, maka aku berusaha selalu berbaur dengannya, sehingga aku mengetahui kesabaran dan kebodohannya. Kemudian Zaid bin Sa’nah memberikan hutang pada Rasulullah Saw yang dibagikan oleh Rasulullah Saw kepada sebagian fakir miskin kaum muslimin sebagai bantuan, ketika dua hari atau tiga hari sebelum jatuh tempo, Zaid bin Sa’nah datang kepada Rasulullah SAW lalu ia menarik leher pakaiannya dan berkata dengan kasar: tidakkah engkau akan membayar hutangmu padaku wahai Muhammad, maka demi Allah telah aku ketahui bahwa Bani Abdul Mutthalib menunda-nunda pembayaran hutang dan seperti aku ketahui dari pergaulanku dengan kalian. Maka Umar bin Khattab RA marah dan hendak memukulnya, dan Rasulullah SAW memandang Umar dengan penuh kelembutan dan ketenangan Rasulullah bersabda : wahai Umar, sesungguhnya yang kami lebih butuhkan darimu bukan ini, memerintahkanku untuk membayar dengan baik dan memerintahkannya untuk menagih dengan baik, pergilah dengannya wahai Umar dan lunasilah haknya dan tambahkan dua puluh sha’ sebagai pengganti hardikan yang kamu lakukan padanya” (Shahih Ibnu Hibban 1/523, Al Baihaqi 6/52) Seketika itu Zaid bin Sa’nah masuk Islam disebabkan kesabaran dan akhlak baik yang disaksikannya.
Kaum mukminin; seseorang dimungkinkan mendapatkan sifat sabar dengan latihan, seperti melatih diri menerapkan kesabaran dalam kehidupan keseharian, yaitu dengan mengajarkan diri untuk bersabar terhadap kesalahan orang lain dalam berinteraksi dengan mereka, baik didalam keluarga dan selain keluarganya, sabar terhadap isteri dan anak-anaknya, sabar terhadap saudara, tetangga dan teman-temannya, sabar saat dalam tugasnya dan sabar saat mengendarai kendaraan, Rasulullah Saw bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
"Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah" (Muttafaq 'alaih)
Oleh karena itu meninggalkan amarah termasuk perkara yang dapat mengundang kesabaran, karena amarah adalah teman sejatinya keburukan, mendatangkan permusuhan, merusak kasih saying, menghancurkan rumah tangga dan merusak kemaslahatan, sementara kesabaran merupakan ketentraman bagi hati dan kebahagiaan bagi masyarakat,
فقَدْ قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي. قَالَ:« لاَ تَغْضَبْ» قَالَ الرَّجُلُ: فَفَكَّرْتُ حِينَ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم مَا قَالَ فَإِذَا الْغَضَبُ يَجْمَعُ الشَّرَّ كُلَّهُ
seseorang berkata : wahai Rasulullah berwasiatlah kepadaku. Beliau menjawab :"Jangan marah", seseorang itu berkata ; kemudian aku berfikir mengenai sabda Nabi Saw, karena amarah dapat mengumpulkan semua keburukan" (Ahmad 23871)
Bahkan meninggalkan amarah dan bersegera menerapkan kesabaran terhadap orang lain merupakan salah satu jalan menuju surga,
فعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ. قَالَ لا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ
dari Abu Darda' RA berkata : wahai Rasulullah Saw tunjukkan kepadaku perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam surga. Beliau bersabda : "Jangan marah dan bagimu surga" (At Thabrani dalam kitab Al Awsath 3/25)
Hal yang dapat membantu terwujudnya kesabaran adalah pengetahuan mengenai perkara akhirat, Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ
"Barang siapa menguasai amarah sedangkan ia mampu melaksanakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat diatas kepala para makhluk, sehingga ia diberikan pilihan oleh Allah permaisuri yang ia suka " (Abu Daud 4777)
Pengetahuan yang lengkap tentang kesabaran, ucapan yang lembut adalah kunci hati, dan dari hal tersebut seorang muslim mampu mengobati penyakit jiwanya sehingga mampu memiliki jiwa dan hati yang tenang yang tidak mudah diprovokasi oleh amarah, karenanya seorang yang sabar yang hakiki adalah orang yang memiliki keluasan dada, memaafkan orang lain, mengampuni kesalahan dan kebodohan mereka, atau membalas kesalahan dengan semisalnya sehingga ia menjadi orang yang mampu mengukur dirinya, dan keimanannya memerintahkannya pada pemaafan terhadap orang-orang yang bodoh, dan orang seperti inilah yang akan mendapatkan balasan di dunia dan akhirat, dan yang akan mendapatkan pujian disisi Allah dan makhluk-Nya dan ialah yang pantai menyandai predikat orang yang kuat, Al Ahnaf bin Qais RA termasuk orang yang terkenal dengan kesabarannya, sehingga ia menjadi pemimpin kabilahnya, ia berkata:
مَا آذانِي أحدٌ إلاَّ أخَذْتُ فِي أمرِهِ بإحدَى ثلاثٍ: إِنْ كانَ فوقِي عَرَفْتُ لَهُ فضلَهُ، وإِنْ كانَ مثلِي تفضَّلْتُ عليهِ، وإِنْ كانَ دونِي أكرَمْتُ نفْسِي عنْهُ
Tidak seorangpun yang menyakitiku kecuali aku mengambil salah satu dari tiga perkara dalam masalah ini : bila ia diatasku maka aku mengetahui keutamaannya, bila ia sepadan denganku maka aku berlaku baik padanya dan bila ia dibawah kedudukanku maka aku menghargai diriku darinya”  (At Tadzkirah Al Hamduniyah 1/172).
Ya Allah berilah kesabaran kepada kami dan berilah taufiq kepada kami untuk mentaati-Mu dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami untuk ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).
نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ، فاستغفِرُوهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua:
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبد
ُ
هُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Kaum mukminin; dan karena pentingnya kesabaran dan bahayanya amarah maka Nabi SAW berwasiat kepada kita dengan beberapa etika yang dapat memperkuat kesabaran dan meredam amarah, dan diantaranya adalah dengan : berdzikir kepada Allah, melindungi diri dan meminta pertolongan kepada-Nya dari godaan syetan yang terkutuk, disebutkan ada dua orang yang saling menghina dihadapan Nabi Saw, salah satu dari keduanya marah sehingga mukanya memerah dan urat nadinya keluar, maka Nabi SAW bersabda:
إِنِّى لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat bila itu diucapkan maka akan pergi darinya apa yang ia dapati, bila ia membaca : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ  (Bukhari 6115).
Dan hal lain yang dapat menghilangkan amarah adalah wudlu, sebagaimana Nabi SAW memerintahkan orang yang sedang marah untuk berwudlu, karena ia dapat memadamkan amarah sebagaimana air dapat memadamkan api, dan orang yang sedang marah hendaknya merubah posisinya, ketika ia sedang duduk maka hendaknya ia berdiri, semua itu dapat menekan jiwa dan mengendurkan otot-ototnya.
عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ  تَعَالَى:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([2]) وقالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([3])
اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا ونبيِّنَا مُحَمَّدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، ورِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَعِلْمًا نَافِعًا، وعافيةً فِي البدنِ، وبركةً فِي العمرِ والذريةِ، اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا وأَرْضِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ زَادَنا التَّقْوَى،وزِدْنَا إِيمَانًا ويقينًا وفقهًا وَتَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنجاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، ولاَ دَيْنًا إلاَّ قضيْتَهُ، وَلاَ مريضًا إلاَّ شفيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا ويسَّرْتَهَا يَا ربَّ العالمينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة بن زايد وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغفِرْ للمسلمينَ والمسلماتِ الأحياءِ منهُمْ والأمواتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِكُلِّ مَنْ وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى عِبَادِكَ، اللَّهُمَّ بارِكْ فِي مَالِ كُلِّ مَنْ زَكَّى وزِدْهُ مِنْ فضلِكَ العظيمِ، اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَ.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([4]).

([1]) النساء :131.
([2]الأحزاب : 56 .
([3]) مسلم : 384.
([4]العنكبوت :45.