Friday, December 13, 2019

Khotbah Jum'at:: MAKNA KATA TANYA "BAGAIMANA" DALAM ALQUR'AN

Khotbah Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 H/ 13 Desember 2019 M

Makna Kata tanya “Bagaimana” (Kaifa) dalam Al Quran

Khotbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَنْزَلَ إِلَيْنَا الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ، فِيهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ، وَاسْتِفْهَامَاتٌ تُنَبِّهُ الْمُتَدَبِّرِينَ، 

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ:

 (أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا أَفَلَا تَعْقِلُونَ)( ).

Kaum Muslimin yg Berbahagia...

Allah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran?” (An Nisa’ 4 : 82).

 Ini merupakan ajakan dari Allah agar kita memperhatikan Al Quran, karena di dalamnya terdapat mukjizat pada kefasihannya yang sempurna dan di dalamnya terdapat beragam metode penyampaian yang indah, diantaranya banyak sekali menggunakan kata tanya (Istifhâm)  yang menanyakan tentang kondisi sesuatu yang ada (Tafsir Al Qurthubi 3/299). 

Itu semua sebagai peringatan bagi orang yang mau menghayati, sebagai penggerak akal mereka agar pandangan mereka lebih fokus. Di antara pertanyaan yang terdapat di dalam Alquran ialah kata "bagaimana" (kaifa).

 Allah Swt menyebutkan kata tanya “Bagaimana” (Kaifa) sebanyak 83 kali di dalam kitab-Nya, di berbagai bidang dan beragam tujuan, agar kita mau merenungkan bukti kekuatan-Nya, keindahan peciptaan-Nya dan agar kita mengambil pelajaran dari kondisi orang-orang yang terdahulu. Juga bagaimana Allah menggambarkan kepada kita tentang keadaan manusia pada hari kiamat, semua itu agar kita mencari dan meneliti makna Alquran yang sangat dalam serta tujuannya yang mulia.

Lalu pada bidang apa saja penggunaan pertanyan “Bagaimana” (Kaifa) terdapat di dalam Al Quran ?

Hamba Allah yang Budiman...

Pertanyaan dengan menggunakan kata tanya “Bagaimana” (Kaifa) digunakan sebagai penguat keimanan yang agung, seperti pertanyaan tentang realitas alam semesta ini, rahasia keberadaan semua makhluk, bagaimana permulaan penciptaan dan keberlanjutannya, bagaimana ia dihidupkan kembali setelah kematiannya, seperti yang termaktub dalam firman Allah :

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah : Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al Ankabut 29 : 20).

Nabi Ibrahim AS pernah bertanya kepada Tuhannya :

رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى

“Ya Tuhanku, perlihatkan padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati," agar keimanan, keyakinan dan ketentramannya semakin kuat. Dan ketika Tuhannya bertanya kepadanya :

أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Belum yakinkah kamu?. Ibrahim menjawab : Aku telah yekin, akan tetapi agar hatiku lebih mantap (dengan imanku). Lalu Allah mendekatkan kepadanya gambaran bagaimana cara menghidupkan dari kematian, disebutkan dalam firman-Nya :

وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi maha Bijaksana” (Al Baqarah 2 : 260).

 Maksudnya bahwa Allah Maha perkasa yang tidak dapat dikalahkan oleh sesuatu apapun dan tidak dapat dicegah oleh sesuatu apapun (Tafsir Ibnu Katsir 1/690), 

Dialah (Allah) yang menghidupkan bumi setelah kematiannya dan mengembalikan kesuburannya setelah kekeringan, Allah Swt berfirman :

فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Ar Rum 30 : 50). 

Maksudnya lihatlah dengan pandangan penalaran dan penuh penghayatan, terhadap proses bagaimana Allah menyuburkan bumi setelah kekeringan, semua itu merupakan bekas dari bekas-bekas (bukti) rahmat-Nya (At Tahrir wat Tanwir 21/123)

Wahai orang-orang yang Mau Berfikir....

 Sesungguhnya pertanyaan dengan penggunaan kata "kaifa" atau “bagaimana” di dalam Al Quran, membuka pintu penelitian bagi kita serta cakrawala keilmuan, menambah keimanan dan pengagungan kita terhadap Tuhan kita, didalamnya juga terdapat ketaatan pada perintah Pencipta kita, karena Allah telah mengajak kita untuk bertanya pada diri kita tentang kebesaran makhluk-Nya yang mengelilingi kita yang menunjukkan atas kemampuan dan keesaan-Nya (At Tahrir wat Tanwir 30/303) dan sebagai bukti atas keluasan ilmu dan keindahan penciptaan-Nya (Tafsir Ar Razi 32/289), 

Allah berfirman :

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan” (Al Ghasyiah 88 : 17). 

Allah telah menciptakan unta dengan penciptaan yang unik dan menakjubkan, dengan kekuatan bangunan tubuhnya, yang mampu membawa dan mampu berdiri bangkit dengan bawaan dan beban yang berat, ia mampu menyimpan makanan dan air, ia mampu bersabar dalam dahaga dalam waktu yang panjang. Kemudian Allah memerintahkan kita agar menghayati keagungan penciptaan langit, yang kita lihat siang malam dan dalam perjalanan kita dan dalam hadir kita, Allah berfirman :

وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ

“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan ?” (Al Ghasyiah 88 : 18). Maka apakah kita pernah bertanya pada diri kita : bagaimana Allah meninggikan langit tanpa tiang ? Menghiasinya dengan bintang gemintang, dan apakah ia tidak memiliki keretakan dan pecahan ? (Tafsir Al Baghawi 7/357). 

Kemudian disebutkan dalam firman-Nya :

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan ?” (Al Ghasyiah 88 : 19).

 Agar perhatian kita tertuju pada ketangguhan gunung, dalam ketinggiannya yang terlihat kuat dan tidak goyah. Kemudian Allah menganjurkan kita agar memperhatikan bumi tempat kita berpijak, Allah berfirman :

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan ?” (Al Ghasyiah 88 : 20). 

Bumi adalah tempat kita berpijak dan tempat kita tinggal, Allah menciptakannya layak untuk berjalan, untuk duduk dan untuk beristirahat (At Tahrir wat Tanwir 30/304-306), sebagai rahmat dan agar kita mudah menjalani kehidupan ini.

Hamba Allah yang Mulia...

 Sesungguhnya diantara pertanyaan menggunakan kata tanya “Bagaimana” di dalam Al Quran terdapat hikmah bagi orang yang mau menghayatinya, seperti dalam pembagian rezeki diantara kita, agar jiwa kita menjadi tenang dan hati kita menjadi tenteram, Allah berfirman :

انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain)” (Al Isra’ 17 : 21). 

Maksudnya perhatikanlah bagaimana Allah melebihkan pemberian akal dan pemahaman kepada sebagian mereka (Tafsir Ibnu Katsir 7/226).

 Sebagaimana Kami melebihkan tugas dan pemberian atas mereka, Kami jadikan sebagian mereka kaya, sebagian lainnya miskin dan ada pula yang hidup antara kaya dan miskin (Tafsir Ibnu Katsir 5/63). 

Allah telah menjelaskan hikmah perbedaan tersebut dalam firman-Nya :

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain” (Az Zukhruf 43 : 32).

 Maksudnya agar mereka saling tolong menolong antara mereka, sehingga sebagian menjadi penyebab bagi kehidupan lainnya dalam kehidupan dunia (Tafsir At Thabari 20/585) yang satu menolong dengan hartanya, yang lainnya dengan pekerjaannya, sehingga urusan dunia menjadi lancar (Tafsir Al Baghawi 7/212).

 Kemudian Allah berfirman :

وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا

“Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya” (Al Isra’ 17 : 21). 

Maksudnya bahwa keutamaan diantara mereka dalam urusan akhirat, lebih besar dan lebih utama daripada urusan dunia, maka jika keinginan manusia lebih mengedepankan urusan dunia, perlu diketahui bahwa mencari keutamaan akhirat lebih utama (Tafsir Al Baghawi 5/85, Tafsir Ar Razi 20/319 dan Tafsir Ibnu Katsir 5/63). 

Oleh karena itu, hendaknya kita memperhatikan semua hal diatas dan mengamalkan kandungannya, karena dengan berpikir akan melahirkan hikmah, mewariskan ketakutan (khasyah) kepada Allah serta dapat membuahkan kesungguhan beramal.

🤲Ya Allah, anugerahilah kami pemahaman tentang kitab-Mu, penghayatan tentang ayat-ayat-Mu dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagaimana termaktub dalam firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَهُ الْحَمْدُ الْحَسَنُ وَالثَّنَاءُ الْجَمِيلُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

 أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Kaum Muslimin yg Berbahagia...

Sesungguhnya Allah menciptakan kita dalam kehidupan ini dan memudahkan untuk kita semua makhluk yang ada di sekitar kita (Tafsir Al Qurthubi 8/318), agar Dia (Allah) melihat amalan apa yang kita perbuat ? Bagaimana ketaatan kita kepada Tuhan kita dan pengikutan kita pada Rasulullah Saw, Allah Swt berfirman :

ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لَنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat” (Yunus 10 : 14).

 Maksudnya bahwa sesungguhnya Allah menciptakan manusia, memberikan kepercayaan untuk menunaikan kebaikan, memperbanyak ketaatan dan memperlakukan manusia dengan baik (At Tahrir wat Tanwir 8/201-211) dan (9/62).

 Umar bin Khattab RA berkata : "Maha Benar Tuhan kami, yang tidak menciptakan kami di muka bumi melainkan untuk melihat bagaimana perbuatan kami, maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan amalan kalian, malam dan siang, rahasia dan terang-terangan (Tafsir Ibnu Katsir 4/252). 

Allah Swt melihat perbuatan kalian dan manusia pun menyaksikan ucapan, perbuatan dan karya kalian, Allah berfirman :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah : Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat” (At Taubah 9 : 105).

 Kemudian Allah akan membalas atas kebaikan, kebajikan dan semua tindakan baik yang kita lakukan :

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ* وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (Az Zalzalah 99 : 7-8). 

Mari kita hayati Kitabullah dan ayat-ayatnya, perhatikan dan renungkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalamnya, serta marilah kita ajarkan itu semua pada putra-putri kita, agar mereka juga mengambil pelajaran dari kitabullah yang agung itu.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ يَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا أَجْوَدَ مَنْ أَعْطَى، وَيَا أَكْرَمَ مَنْ عَفَا، وَأَعْظَمَ مَنْ غَفَرَ؛ نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ

اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.

 اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ

Sunday, December 1, 2019

Khotbah Jum'at: KEAJAIBAN SEORANG MUKMIN

Khotbah Jumat, 26 Shafar 1441 H/ 25 Oktober 2019 M

🌹🗒 Keajaiban Seorang Mukmin

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، جَعَلَنَا بِفَضْلِهِ مُؤْمِنِينَ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَكُونَ لِنِعَمِهِ شَاكِرِينَ، وَعَلَى الضَّرَّاءِ صَابِرِينَ،

 وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ:
 فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ، قَالَ سُبْحَانَهُ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)( ).

Kaum Muslimin yg Berbahagia...

Rasulullah Saw bersabda :
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Perkara orang mukmin itu mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan itu baik baginya” (Muslim 5318). 

Nabi Saw menjelaskan dalam hadits ini tentang keadaan seorang mukmin, serta kedudukan mereka di sisi Tuhan semesta alam, dan balasan besar yang akan diberikan pada mereka ketika mereka bersyukur kepada-Nya dalam kesenangan dan bersabar saat ditimpa musibah, hal itu hanya diperuntukkan bagi seorang mukmin, yang hatinya dipenuhi keyakinan akan wujud, qudrah serta hikmah Allah, lalu ia tahu bahwa kebaikan yang ia terima adalah dari Allah, Dia berfirman :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (An Nahl 16 : 53). 

Dan dia juga meyakini bahwa :
مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ
“Apa yang (ditakdirkan) menimpanya, pasti menimpanya dan apa yang tidak (ditakdirkan) menimpanya, maka tidak akan menimpanya” (At Tirmidzi 2070). 

Sehingga ia menikmati hidup dengan perasaan yang baik, jiwa yang tenang, ia merasa tenang dibawah perlindungan dan perhatian Allah, Allah berfirman :

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya” (At Taghabun 64 : 11). 

Ia hidup bahagia di dunia, dan masuk surga dalam keadaan penuh syukur.

 Allah berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalshaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di abwah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan” (Yunus 10 : 9). 

Ia mendapati pahala yang mulia dan balasan yang besar, Allah berfirman :

وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
“Dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar” (An Nisa’ 4 : 146).

 Semua itu buah dari keimanan, oleh karena Rasulullah Saw berdoa kepada Tuhannya :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا
“Ya Allah, berilah kami rasa cinta pada keimanan, dan jadikanlah ia hiasan hati kami” (Al Adab Al Mufrad, karangan Al Bukhari 699 dan Ahmad 15891).

 Maksudnya ialah berilah kami kemuliaan dengan ketetapan iman dan buahnya yang melimpah.

Wahai orang yang diberikan kecintaan oleh Allah pada keimanan dan dijadikannya sebagai hiasan dalam hati mereka, sesungguhnya seroang mukmin :

إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Bila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur”. 

Bersyukur dalam kemakmuran atas segala nikmat yang dilimpahkan, itu semua merupakan ajaran para Nabi, perhatikan firman Allah tentang Nuh AS :
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur” (Al Isra’ 17 : 3). 

Nabi Ibrahim AS dicirikan sebagai hamba :
شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ
“(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah” ( An Nahl 16 : 121). 

Nabi Sulaiman AS berdoa :
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau angerahkan keapdaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk menerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai” (An Naml 27 : 19). 

Begitu pun Nabi Muhammad Saw bersabda :

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah sudah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur” (Muttafaq ‘Alaih). 

Beliau pun rajin berdoa kepada Penciptanya :
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, berilah kepada kami pertolongan untuk bersyukur, berdziki dan beribadah dengan baik kepada-Mu” (Ahmad 8202). 

Lalu kita wahai hamba Allah, yang selalu berada dalam kenikmatan, setiap kali kita memandang, maka disana terdapat anugerah Allah yang sangat agung diberikan kepada kita, maka tidakkah sudah sepatutnya kita menjadi mukmin yang bersyukur ? Tentu hal ini sebagai jawaban atas panggilan Tuhan semesta alam dalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (Al Baqarah 2 : 172). 

Barang siapa yang bersyukur kepada Tuhannya, niscaya Dia akan menambahkan kebaikan, keutamaan dan nikmat berturut-turut akan dilimpahkan kepadanya :

نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا كَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ
“Sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Al Qamar 54 : 35). 

Syukur itu penambah nikmat, melanggengkan keberkahan, penolak keburukan dan tidak akan terputus tambahan nikmat dari Allah, hingga seseorang memutus syukurnya kepada Allah, dijelaskan dalam Al Quran :
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (Ibrahim 14 : 7). 

Ini merupakan balasan bagi mukmin yang bersyukur di dunia, sedangkan di akhirat, ia akan menerima kedudukan yang mulia, Allah berfirman :

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
“Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Ali Imran 3 : 145)

Saudaraku yang pandai bersyukur,  Rasulullah Saw bersabda :
وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan itu baik baginya” . terkadang seorang mukmin ditimpa cobaan dalam harta, jiwa, anak dan keluarganya (Tafsir Ibnu Katsir 2/179), Allah Swt berfirman :

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan dirimu” (Ali Imran 3 : 186). 

Diantara hikmah ketika seorang muslim menghadapi musibah dengan kesabaran adalah ia akan mendapatkan pertolongan Allah dalam menghadapi musibah tersebut serta mendapatkan jalan keluar, Allah berfirman :

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al Anfal 8 : 46). 

Hal yang dapat meneguhkan kesabaran seorang mukmin adalah keyakinannya bahwa Allah mencintainya, dijelaskan dalam firman-Nya :
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Allah menyukai orang-orang yang sabar” (Ali Imran 3 : 146). 

Dan Allah Azza wa Jalla memberikan musibah pada seseorang, untuk mengujinya dan mencoba kesabarannya, serta ingin mengangkat kedudukan dan menambah pahala baginya, Allah berfirman :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az Zumar 39 : 10)

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan mukmin yang bersyukur dan bersabar dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

 أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ



Khutbah Kedua


الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Kaum Muslimin yg Berbahagia...

Sesungguhnya seorang mukmin bila mendapatkan keluasan rezeki dan kelapangan di dunia, serta mendapatkan anugerah dari Tuhan pemilik langit dan bumi, dan ia mendapatkan taufiq untuk bersyukur kepada-Nya, maka ia akan mendapatkan kelebihan, keutamaan, kebaikan, dan meraih pahala yang agung : “Maka itu baik baginya”. 

Dan bila ia ditimpa marabahaya, lalu ia bersabar atas cobaan itu, maka ia telah mendapatkan kemuliaan balasan dan ia akan dicintai oleh penghuni langit : “Maka itu baik baginya”. Sehingga ia menyadari bahwa kesulitan dapat membawa anugerah dan cobaan pada hakikatnya merupakan pemberiaan, itulah salah satu dari pondasi keimanan yang dapat mendatangkan ketentraman jiwa pada diri manusia dan keseimbangan antara syukur terhadap nikmat dan sabar terhadap cobaan.

هَذَا وصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؛ فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ يَا حَلِيمُ يَا كَرِيمُ، يَا رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

 اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ. وَارْحَمِ اللَّهُمَّ جَمِيعَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ: الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ الْأَمَانَ وَالِاسْتِقْرَارَ، وَالرَّخَاءَ وَالِازْدِهَارَ، وَزِدْهَا تَقَدُّمًا وَرِفْعَةً، وَتَسَامُحًا وَمَحَبَّةً، وَأَدِمْ عَلَى أَهْلِهَا السَّعَادَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ؛ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ؛ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ .

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ. اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Khotbah Jum'at: PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Khotbah Jum’at, 11 Rabiul Awwal 1441 H/ 08 September 2019 M

🌺Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW🌸

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَالْحَقِّ الْمُبِينِ.

 وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، رَحْمَةُ اللَّهِ وَنِعْمَتُهُ، وَعَطِيَّتُهُ وَمِنَّتُهُ،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:

 (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)( ).

Kaum Muslimin yg Berbahagia...

Kini kita akan menyambut sebuah peringatan besar, peringatan yang dipenuhi keberkahan dan kemuliaan, yaitu peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, manusia yang paling baik, paling suci, yang dipenuhi kasih sayang dan paling bertakwa, tentu hal ini merupakan pengabulan atas doa nabi Ibrahim AS seperti termaktub dalam Al Quran :

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kelangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Baqarah 2 : 129). Serta sebagai kabar gembira bagi dari Nabi Isa AS, ketika ia berkata :

وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
“Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seroang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” (A Shaf 61 : 6). 

Maka Allah mengabulkan doa kekasihnya Ibrahim, dan mewujudkan kabar gembira nabi Isa AS dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw yang dilahirkan pada tahun Gajah (Al Ahadits Al Mukhtarah 394), dari Qais bin Makhramah RA berkata :

وُلِدْتُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلَّم عَامَ الْفِيلِ
“Aku dan Rasulullah Saw dilahirkan pada tahun Gajah” (Ahmad 17891) . Tahun dimana terdapat kisah kejadian para pemilik gajah. Kelahiran Nabi Mulia ini disertai oleh beberapa kabar gembira dan tanda-tanda, yang menjelaskan kepada kita tentang tingginya kedudukan beliau, Rasulullah Saw bersabda :

رَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ مِنْهَا قُصُورُ الشَّامِ
“Ibuku melihat cahaya keluar dari tubuhnya, cahaya yang menerangi istana-istana Syam” (Ahmad 22921)

Hamba Allah yg Budiman...

Rasulullah Saw selalu dalam lindungan Allah sejak masa kecilnya, dan di masa mudanya beliau berkontribusi aktif dalam pembangunan negerinya serta ketentramannya, beliau menegakkan keadilan, suatu hari beliau mendapatkan kehormatan untuk menghadiri sebuah pertemuan yang sangat berharga yang dikenal dengan Hilf Al Fudhul, yang mengumpulkan semua kabilah Quraisy, mereka sepakat untuk mengembalikan hak pada pemiliknya, dan tidak ada lagi kedzaliman di Makkah dan juga bagi orang yang mengunjunginya, mereka sepakat untuk mengembalikan hak-hak orang yang terdzalimi, Rasulullah Saw bersabda :

لَقَدْ شَهِدْتُ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ، وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الْإِسْلَامِ لَأَجَبْتُ
“Aku menghadiri sebuah perjanjian, tidaklah ada yang melebihi kecintaanku pada unta merah kecuali perjanjian ini. Andai aku diajak untuk menyepakati perjanjian ini di masa Islam, pasti aku akan mendatanginya” (Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra 6/36).

 Perjanjian ini memberikan kontribusi besar demi terwujudnya perdamaian, toleransi, kerukunan , perlindungan dari tindakan ketidakadilan dan permusuhan, serta dapat menanamkan nilai-nilai kebersamaan antara keluarga kemanusiaan. Seperti ditegaskan oleh agama kita yang mulia ini, tentang pentingnya penepatan janji dan kesepakatan, Allah berfirman :

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji” (An Nahl 16 : 91). 

Para ulama berpendapat bahwa : ayat ini diturunkan sebagai komitmen penepatan perjanjian yang ditandangani sebelum Islam dan Islam datang untuk menegaskan itu, selanjutanya dijelaskan oleh Nabi Saw bahwa selayaknya setiap perjanjian mengajak pada kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan dan penegakan kebenaran dan keadilan :

لَمْ يَزِدْهُ الْإِسْلَامُ إِلَّا شِدَّةً
“Tidaklah datang Islam melainkan untuk mengukuhkannya” (Muslim 2530). Maksudnya menguatkan dan melindunginya

Para pecinta Nabi Saw yg Berbahagia...

Setelah umur beliau mencapai empat puluh tahun, Allah megutusnya sebagai rahmat bagi semesta alam, Rasulullah Saw bersabda :

إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ
“Sesungguhnya aku rahmat yang dihadiahkan” (Ad Darimi 15). 

Dan diantara bentuk rahmat itu di dunia, adalah beliau membawa syariat yang moderat yang berdiri atas dasar keringanan dan kemudahan, beliau mempermudah manusia dalam urusan ibadah dan urusan muamalah mereka, Rasulullah Saw bersabda :

إِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
“Sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan mudah” (Ahmad 22951). 

Beliau juga sebagai rahmat bagi kita di hari kiamat, yang memenuhi kita dengan cinta, doa dan syafaatnya, Rasulullah Saw bersabda :

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan, dan setiap nabi disegerakan pengabulan doanya, sedangkan aku memyimpan doaku sebagai syafaat bagi ummatku pada hari kiamat” (Muttafaq ‘Alaih). Dan ketika manusia berangkat menemui para nabi, mereka memohon syafaat pada mereka, setiap mereka berkata : diriku, diriku, pergilah pada selainku. Kemudian mereka mendatangi Rasulullah dan berkata : wahai Muhammad, engkau utusan Allah, penutup para nabi, dan Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, berilah kami syafaat kepada Tuhanmu (Muttafaq ‘Alaih).

 Rasulullah Saw bersabda : lalu aku berangkat hingga dibawah Arsy, aku tersungkur bersujud pada Tuhanku, kemudian Allah memulai dengan pujian dan sanjungan untukku yang belum pernah disampaikan pada seorang pun sebelumku, kemudian dikatakan : wahai Muhammad, angkatlah kepadamu, mintalah pasti kau diberi, berilah syafaat pasti kau diizinkan memberi syafaat, lalu aku mengangkat kepalaku dan berkata : ummatku ya Tuhan, ummatku ya Tuhan, ummatku ya Tuhan. Lalu dikatakan : wahai Muhammad masukkan orang yang tidak dihisab dari ummatmu melalui pintu-pintu surga sebelah kanan, mereka adalah sekutu semua manusia selain pintu-pintu itu” (Muttafaq ‘Alaih). 

Lalu mereka masuk surga, kemudian Rasulullah Saw memberikan syafaat kepada setiap orang yang mengucapkan “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah” dengan ikhlas dari hatinya, Rasulullah Saw bersabda :

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؛ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
“Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengatakan Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dengan ikhlas dari hatinya” (Bukhari 99 dan 6570). 

Sungguh agung kemuliaan itu dan sungguh luas kasih sayang itu

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang mencintai nabi kami, yang belajar dari sirahnya, yang mengikuti petunjuk dan akhlaknya dan kelak mendapatkan syafaatnya, dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, seperti termaktub dalam firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا



Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَعَثَ إِلَيْنَا رَسُولًا، يَتْلُو عَلَيْنا آيَاتِ رَبِّنَا، وَيُعَلِّمُنا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّينَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Para Jamaah Shalat yg Berbahagia...

Allah menjelaskan dalam kitab-Nya tentang kedudukan hamba, nabi dan kekasih-Nya, dan Allah memujinya dihadapan para malaikat, dan para malaikat pun ikut bershalawat kapadanya, kemudian Allah memerintahkan kita agar bershalawat dan bersalam kepadanya, sebagai bentuk cinta dan pengagungan, penghormatan dan penghargaan, Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Al Ahzab 33 : 56). 

Barang siapa yang bershalawat kepada Rasulullah Saw akan diangkat derajatnya, diperbanyak kebaikannya dan dihapus keburukannya dan dia akan mendapatkan rahmat dari Allah dan doa dari malaikat-Nya.

 Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، وَحَطَّ عَنْهُ عَشْرَ خَطِيئَاتٍ
“Barang siapa bershalawat satu shalawat kepadaku, niscaya Allah memlimpahkan sepuluh rahmat dan menghapuskan sepuluh kesalahan darinya” (Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad 643).

وَرَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ
“dan mengangkat sepuluh darajatnya” (Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad 642).

 Rasulullah Saw bersabda :
مَا صَلَّى عَلَيَّ أَحَدٌ صَلَاةً إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ

“Tidaklah seseorang bershalawat kepadaku, melainkan malaikat akan bershalawat untuknya selama ia bershalawat kepadaku” (Ahmad 15689 dan Ibnu Majah 907). 

Dengan bershalawat pada Rasulullah, kegundahan akan sirna dan jalan keluar akan terbuka, dari Ubai bin Ka’ab RA berkata :

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَعَلْتُ صَلَاتِي كُلَّهَا عَلَيْكَ؟ قَالَ صلى الله عليه وسلَّم: «إِذَنْ يَكْفِيَكَ اللَّهُ مَا أَهَمَّكَ مِنْ دُنْيَاكَ وَآخِرَتِكَ
Seseorang berkata : wahai Rasulullah : apa pendapatmu jika seluruh shalawatku untukmu ? Beliau menjawab : jika begitu, Allah akan mencukupi apa yang menjadi keresahanmu dari urusan dunia dan akhirat” (Ahmad 21242).

 Dan sekarang merupakan hari yang paling utama untuk bershalawat kepada sebaik-baiknya manusia, yaitu pada hari Jum’at yang penuh berkah, Nabi Saw bersabda :

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ… فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ
“Sesunguhnya hari yang paling baik bagi kalian adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan padaku” (Abu Daud 1047, An Nasa’i 1374 dan Ibnu Majah 1085). 

Karena itu, marilah kita memperbanyak shalawat dan salam kepada orang yang telah diberikan kedudukan yang tinggi oleh Allah dan dijadikan oleh-Nya sebagai pemberi syafaat pada kita di hari kiamat, Rasulullah Saw bersabda :

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً
“Sesungguhnya manusia yang paling utama bersamaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku” (At Tirmidzi 484)

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ يَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا أَجْوَدَ مَنْ أَعْطَى، وَيَا أَكْرَمَ مَنْ عَفَا، وَأَعْظَمَ مَنْ غَفَرَ؛ نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.

 اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُم وَالأمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.

 اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ. اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Khotbah Jum'at: IMAN HARUS DISERTAI AMALAN

Khotbah Jumat, 02 Rabiul Akhir 1441 H/ 29 November 2019 M

🌸Iman Harus Disertai Amalan🌸

📜Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يَسَّرَ لِعِبَادِهِ سُبُلَ الْخَيْرَاتِ، وَسَهَّلَ لَهُمْ طَرِيقَ الْجَنَّاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ: (وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ)( ).

Para Jamaah Shalat yg Berbahagia...

قَالَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ  عَنْ عَمَلٍ يُدْخِلُ الْمَرْءَ الْجَنَّةَ، وَيُنَجِّيهِ مِنَ النَّارِ، فَقَالَ : «يُؤْمِنُ بِاللَّهِ». فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ مَعَ الْإِيمَانِ عَمَلًا؟ قَالَ: «يَرْضَخُ -أَيْ: يُعْطِي- مِمَّا رَزَقَهُ اللَّهُ». قُلْتُ: وَإِنْ كَانَ مُعْدَمًا لَا شَيْءَ لَهُ؟ قَالَ: «يَقُولُ مَعْرُوفًا بِلِسَانِهِ». قُلْتُ: وَإِنْ كَانَ عَيِيًّا لَا يُبْلِغُ عَنْهُ لِسَانُهُ؟ أَيْ: لَا يُحْسِنُ التَّعْبِيرَ. قَالَ: «فَيُعِينُ مَغْلُوبًا». أَيْ: يُسَاعِدُ ضَعِيفًا. قُلْتُ: فَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا لَا قُدْرَةَ لَهُ؟ قَالَ: «فَلْيَصْنَعْ لِأَخْرَقَ». أَيْ: يُقَدِّمِ الْمُسَاعَدَةَ لِمَنْ لَا مِهْنَةَ لَهُ وَلَا حِرْفَةَ، أَوْ عَاجِزٍ عَنِ الْعَمَلِ. قُلْتُ: وَإِنْ كَانَ أَخْرَقَ؟ فَالْتَفَتَ إِلَيَّ وَقَالَ: «مَا تُرِيدُ أَنْ تَدَعَ فِي صَاحِبِكَ شَيْئًا مِنَ الْخَيْرِ، فَلْيَدَعِ النَّاسَ مِنْ أَذَاهُ». فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذَا كُلَّهُ لَيَسِيرٌ. فَقَالَ : «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَعْمَلُ بِخَصْلَةٍ مِنْهَا، يُرِيدُ بِهَا مَا عِنْدَ اللَّهِ، إِلَّا أَخَذَتْ بِيَدِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، حَتَّى تُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

Abu Dzar Al Ghiffari RA berkata : aku bertanya pada Rasulullah Saw tentang amalan yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga dan menyelamatkannya dari api neraka, Rasulullah Saw menjawab: beriman kepada Allah. Aku bertanya : wahai Rasulullah, sesungguhnya iman disertai amalan ? Beliau menjawab : memberikan sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Aku bertanya : bila ia tidak memiliki apa-apa ? Beliau menjawab : berkata baik. Aku bertanya : bila ia tidak pandai mengungkapkan dengan ucapannya ? Beliau menjawab : menolong orang yang lemah. Aku bertanya : bila ia lemah tidak memiliki kemampuan ? Beliau menjawab: berilah bantuan pada orang yang tidak memiliki pekerjaan. Aku bertanya : bila ia tidak memiliki pekerjaan ? Beliau menoleh kepadaku dan bersabda : jika kau ingin temanmu berbuat baik, maka hindarilah menyakiti orang lain. Aku berkata : Wahai Rasulullah, sungguh semua ini sangatlah mudah. Rasulullah Saw bersabda : Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba melakukan satu perbuatan itu, dengan mengharap apa yang ada di sisi Allah, melainkan ia akan dijemput pada hari kiamat, hingga dimasukkan ke dalam surga” (Shahih Ibnu Hibban 373, Syu’bul Iman 3057)

Hamba Allah yg Berbahagia...

Pada hadits diatas, Abu Dzar RA bertanya pada Nabi Saw tentang amalan-amalan yang dapat memasukkannya ke surga, agar ia bersungguh-sungguh dan memperbanyak amalan tersebut, itulah tujuan utama dari pertanyaan sebenarnya, sehingga banyak didapati hadits dengan pertanyaan tentang amalan yang dapat menyampaikan mereka pada surga, dan ternyata iman kepada Allah merupakan hal pertama yang diarahkan oleh Nabi Saw pada Abu Dzar RA. Keimanan yang dimaksud adalah keyakinan yang teguh kepada Allah dan dengan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya Saw, karena keimanan merupakan penyebab utama bagi semua kebaikan dan kunci setiap keberuntungan, Allah Swt berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (Al Mukminun 23 : 1). 

Dan diantara keyakinan Abu Dzar RA ialah ia meyakini bahwa keimanan harus disertai oleh amalan, karenanya ia bertanya : wahai Rasulullah, sesungguhnya iman disertai amalan ?. Karenanya seseorang harus bersungguh-sungguh berbuat kebaikan di dunia, agar mendapatkan surga sebagai balasan kemenagannya di akhirat, dan Allah telah menggandengkan antara keimanan dan amalan dalam beberapa ayat Al Quran, Dia menjanjikan kaum mukminin yang berbuat kebajikan, bahwa Dia akan mengampuni keburukan mereka, ditegaskan dalam firman-Nya :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Al Maidah 5 : 9). 

Pahala yang besar dimaksud adalah dimasukkan ke dalam surga, Allah Pemilik langit dan bumi berfirman :

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang beriman serta beramal shaleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal didalamnya” (Al Baqarah 2 : 82)

Kaum Mukminin yg Berbahagia...

Nabi Saw telah menjelaskan pada Abu Dzar RA tentang amalan yang akan membuahkan keimanan, yang akan mendatangkan ridha Yang Maha Pengasih dan yang akan menjadikan surga sebagai balasan kemenangannya, yaitu seperti dijelaskan oleh hadits Nabi Saw : “memberikan sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya”. Maksudnya memberikan sebagian apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, sehingga terjadi penggabungan antara keimanan dan sedekah, yang dapat memudahkan orang yang kesusahan, atau memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan, memberikan bantuan kepada para janda dan orang-orang miskin, Allah akan membalas perbuatan baiknya, mengampuni dosanya dan melipatgandakan pahalanya, seperti dijanjikan di dalam Al Quran :

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar” (Al Hadid 57 : 7).

 Seorang shaleh berkata : sesungguhnya harta ini merupakan titipan bagi orang-orang mulia, sedangkan kami hanyalah perantara, bila datang kepada kami seorang fakir, maka kami memberinya hingga berkecukupan, bila datang orang miskin, maka kami memberinya hingga ia senang, semua itu demi menunaikan amanah Allah (Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijal 8/114). 

Apapun yang kau nafkahkan wahai Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha mensyukuri, yang membalas yang sedikit dengan yang banyak (Tafsir ibnu Katsir 8/141), 

Allah berfirman :
إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun” (At Taghabun 64 : 17). 

Bila seseroang tidak memiliki sesuatu untuk diinfakkan, maka gantilah dengan ucapan baik, yang dapat mendatangkan kasih sayang, menanamkan cinta dan menambah keeratan, Abu Dzar RA berkata : bila ia tidak memiliki apa-apa ? Beliau menjawab : berkata baik”. Dia akan mendapatkan pahala sedekah, Rasulullah Saw menjelaskan dalam sabdanya :

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Perkataan baik berpahala sedekah” (Muttafaq ‘Alaih). 

Karena berapa banyak perkataan baik yang diungkapkan oleh seseorang, justeru dapat menghibur orang miskin atau mengembalikan hak pada pemiliknya, kemudian Allah mengangkat derajatnya dihadapan para malaikat dan mencatat keridhaan-Nya bagi orang tersebut hingga hari kiamat, Rasulullah Saw bersabda :

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ، فَيَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ

“Sungguh seorang diantara kalian mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, ia tidak mengira kalimat itu sampai seperti itu, lalu karenanya Allah mencatat keridhaan baginya hingga hari ia menjumpai-Nya” (Bukhari 6478 dan At Tirmidzi 2319)

Hamba Allah yg Berbahagia...

 Abu Dzar Ra bertanya : wahai Rasulullah : bila ia tidak pandai mengungkapkan dengan ucapannya ?. Artinya ia tidak mampu mengungkapkan kata yang baik. Rasulullah Saw bersabda : dengan menolong orang yang tertindas. Jadi, barang siapa yang diberikan kekuatan dan kemampuan oleh Allah, atau kedudukan, maka bantulah orang-orang yang lemah lagi gundah agar mereka mendapatkan hak-hak mereka dan agar hilang gundah mereka serta hiburlah hati mereka dan berilah kententraman pada jiwa mereka, itulah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Dikatakan :

يَا رَسُولَ اللَّهِ؛ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَقَالَ : «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً

Wahai Rasulullah : amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah ? Beliau menjawab : amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang kau masukkan pada diri seorang muslim, atau kau menghilangkan kesulitan darinya” (Al Mu’jam Al Awsath 6026).

 Orang yang berusaha menyelesaikan satu masalah, lalu ada dampak baik darinya, maka baginya bagian dari balasan dan pahalanya (Tafsir Ibnu Katsir 2/368). Allah berfirman :

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا

“Dan barang yang siapa memberikan syafaat yang baik, niscaya akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya” (An Nisa’ 4 : 85). 

Tapi bila seseorang tidak mampu melakukan salah satu dari perbuatan baik diatas, maka : “hindarilah menyakiti orang lain”.

 Abu Dzar RA melanjutkan : Wahai Rasulullah, sungguh semua ini sangatlah mudah. Rasulullah Saw bersabda : Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba melakukan satu perbuatan itu, dengan mengharap apa yang ada di sisi Allah, melainkan ia akan dijemput pada hari kiamat, hingga dimasukkan ke dalam surga”.

 Amalan-amalan tersebut dilakukan oleh manusia di dunia, dan hasilnya akan di tuai di dunia dan akhirat, Allah berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun pertempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An Nahl 16 : 97)


Ya Allah, berilah kami petunjuk untuk berkata yang terbaik, untuk beramal yang paling utama dan masukkanlah kami ke dalam surga wahai Dzat Yang Maha Pemberi dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ



Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

 أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Para jamaah shalat sekalian...

Sesungguhnya berinfak kepada orang-orang yang membutuhkan, menolong orang lemah lagi tidak mampu, merupakan bentuk tenggang rasa, yang dapat memperkuat kasih sayang, persaudaran, solidaritas dan persatuan antara sesama manusia. 

Dan pada hari-hari yang penuh kebahagiaan ini, dimana kita berada pada hari peringatan Persatuan Negara Uni Emirates, yang tercatat sebagai era dan sejarah baru yang membanggakan dalam proses pembangunan, kemakmuran dan perkembangan, maka marilah kita berdoa kepada Allah : Semoga persatuan Negara Emirates ini langgeng dan semoga penduduk dan pendatang yang ada di negara ini dilimpahkan karunia oleh Allah.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

 اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

 اللَّهُمَّ يَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا أَجْوَدَ مَنْ أَعْطَى، وَيَا أَكْرَمَ مَنْ عَفَا، وَأَعْظَمَ مَنْ غَفَرَ؛ نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.

 اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُم وَالأمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ. 

اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ.

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.