Khotbah Jumat, 04 Rajab 1441 H/ 28 Februari 2020 M
Menjaga Kehormatan dan Rasa Malu
Khotbah Pertama:
الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَثَّنَا عَلَى الْحَيَاءِ وَالسَّتْرِ فِي كِتَابِهِ
الْكَرِيمِ، وَوَعَدَنَا عَلَى ذَلِكَ بِالْفَوْزِ الْعَظِيمِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، يَسْتُرُ عَلَى عِبَادِهِ
الْمُسْلِمِينَ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَعْظَمُ النَّاسِ حَيَاءً،
وَأَكْثَرُهُمْ سَتْرًا،
فَاللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ
اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ جَلَّ فِي عُلَاهُ:
(وَاتَّقُوا يَوْمًا
تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ
لَا يُظْلَمُونَ)( ).
Kaum Mukminin yang Mulia...
Nabi SAW bersabda :
إِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ، يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemurah , Maha Pemalu
lagi Maha Menutupi, Dia mencintai (sifat) malu dan menutupi (aib/aurat)” (Abu
Daud 4012 dan Ahmad 17970).
Rasa malu dan menutupi aib merupakan dua sifat yang tak
terpisahkan, keduanya termasuk salah satu sifat Tuhan kita Yang Maha Pengasih,
Dia Yang Maha Tinggi malu bila menolak orang yang berdoa kepada-Nya dan
mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya” (At Tirmidzi 3556), atau membuka
tabir hamba-Nya, karena Dia Yang Maha Tinggi menutupi aib hamba-hamba-Nya di
dunia sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan, dan menutupi mereka di hari
kiamat, sebagai bentuk keutamaan dan anugerah pada mereka, Rasulullah Saw
bersabda :
يَدْنُو أَحَدُكُمْ
مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ -أَيْ: سِتْرَهُ- فَيَقُولُ:
أَعَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ. وَيَقُولُ: عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟
فَيَقُولُ: نَعَمْ. فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ: إِنِّي سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِي
الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ
“Salah satu dari kalian mendekat pada Tuhannya, kemudian Dia
meletakkan padanya naungan –penutup-Nya- seraya berfirman : "Apakah kamu
telah berbuat ini dan itu ?" Ia menjawab : "Ya, benar Ya Allah."
Dia berfirman : "Apakah kamu telah berbuat ini dan itu ?" Ia menjawab
: "Ya, benar ya Allah." Dia pun mengulang-ngulang pertanyaannya
kemudian berfirman : "Sesungguhnya Aku telah menutupimu di dunia dan hari
ini pun Aku yang mengampuninya bagimu” (Muttafaq ‘Alaih, lafal hadits Bukhari).
Sungguh indah sifat penyantun, kasih sayang, sifat
malu dan sifat menutupi Allah. Dan Allah telah menjadikan rasa malu dan
menutupi aib sebagai sifat bawaan (fitrah) manusia, yang tertanam pada jiwa
mereka sejak nabi Adam AS dan isterinya Hawa, dimana keduanya diberikan ilham
oleh Allah untuk menutupi aurat, Allah berfirman :
فَلَمَّا ذَاقَا
الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ
وَرَقِ الْجَنَّةِ
“Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah
bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan
daun-daun surga’ (Al A’raf 7 : 22). Tugas / perbuatan pertama yang dilakukan
oleh manusia adalah menutupi apa yang tidak pantas dipandang mata (At Tahrir
wat Tanwir 8/64)
Hamba Allah yang Mulia...
Rasa malu dan menutupi (aurat/aib) merupakan
nilai-nilai kemanusiaan yang mulia, yang dianut oleh para rasul, para nabi,
orang-orang shaleh dan bertakwa, sebagai contoh Nabi Musa AS, dimana Rasulullah
Saw menegaskan dalam sabdanya :
إِنَّ مُوسَى كَانَ
رَجُلًا حَيِيًّا سِتِّيرًا
“Sesungguhnya Musa adalah orang yang memiliki rasa malu dan
menutupi” (Bukhari 3404).
Sedangkan Nabi kita Muhammad Saw, seperti disifati oleh Anas
RA, ia berkata :
كَانَ النَّبِيُّ r
شَدِيدَ الْحَيَاءِ
“Nabi Saw sangat pemalu” (Bukhari 4739). Dan beliaulah yang
bersabda :
إِنَّ لِكُلِّ
دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam
adalah rasa malu” (Muwattha’ Malik 950).
Nabi Saw menaruh perhatian penuh pada penutupan aurat, dan
beliau memohon kepada Allah agar selalu dilimpahkan penutupan padanya. Ibnu
Umar RA berkata : Nabi Saw selalu berdoa dengan :
اللَّهُمَّ اسْتُرْ
عَوْرَاتِي
“Ya Allah, tutuplah auratku”(Al Adab Al Mufrad, karangan Al
Bukhari 1200).
Beliau mendidik para sahabatnya dengan akhlak dan kebiasaan
mulia ini, rasa malu adalah akhlak mereka, penutupan aib adalah ciri mereka,
dan diantara sahabat yang terkenal dengan sifat malu dan penutupan aib adalah
Utsman bin Affan RA, sehingga Nabi Saw menegaskan dalam sabdanya :
إِنَّ عُثْمَانَ
حَيِيٌّ سِتِّيرٌ، تَسْتَحْيِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ
“Sesungguhnya Utsman sangat pemalu dan menutupi (aib), dan
malaikat pun malu padanya” (Muslim 2401 dan Al Mu’jam Al Awsath 8601).
Begitu pula Fatimah RA putri Nabi kita Muhammad Saw
terkenal dengan sifat malunya serta usahanya untuk selalu menutupi (aib/aurat)
(Siyar A’lamun Nubala’ 3/425), dan Ummul Mukminin Aisyah RA juga terkenal
dengan sifat yang sama dan semua istri Nabi atau Ummahatul Mukminin, semoga
Allah meridhai mereka semua, meridhai semua shahabiyat (sahabat perempuan) dan
para mukminah yang shalihah, mereka yang berhiaskan dengan sifat malu, yang
berpegang teguh dengan kemurnian dan penutupan aib dan aurat. Dan semoga semua
wanita berteladan pada kebaikan mereka, karena wanita yang memiliki rasa malu,
ia akan menutupi auratnya, ia akan menampakkan kehormatan dalam
berpakaian dan akan terlihat wibawanya serta iffahnya (pengendalian
dirinya).
Maka sungguh indah bila seorang lelaki memiliki dan
memelihara rasa malu, sehingga ia mengenakan pakaian yang terbaik lagi menutupi
auratnya, karena Allah Azza wa Jalla telah menggandengkan antara rasa malu dan
penutupan aurat, disebutkan dalam firman-Nya :
يَا بَنِي آدَمَ
قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ
التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Hai anak Adam sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu
pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian
takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari
tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (Al A’raf 7 :
26).
Pada ayat mulia ini, Allah mengingatkan kita betapa
pentingnya pakaian yang menutupi badan, dan juga sebaik-baiknya pakaian adalah
takwa yaitu sifat malu (Tafsir Al Qurthubi 7/184).
Karena berpegang teguh dengan sikap menutup aib dan rasa
malu, yang sesuai dengan nilai-nilai, kebiasaan dan identitas masyarakat, dapat
memperkuat persatuan dalam masyarakat, meneguhkan akhlak mulia dan
membuat masyarakat menghargai kehidupan sosialnya.
Kaum Mukminin yang Berbahagia...
Sesungguhnya salah satu bentuk penutupan manusia terhadap
aib dirinya adalah tidak menyebarkan kesalahannya, bila ia pernah berbuat
kesalahan atau terjatuh pada perbuatan dosa karena Allah telah menutupinya,
maka hendaknya ia gunakan penutup Allah tersebut, dengan membenahi kesalahannya
dan menjauh dari semua sebab yang mengantarkan pada perbuat tersebut, dan tidak
lupa untuk bertaubat pada Penciptanya, karena Allah Azza wa Jalla telah
menutupi, mengampuni dan memaafkannya, Rasulullah Saw bersabda :
أُمَّتِي
مُعَافَاةٌ، إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ
الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحُ قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ، فَيَقُولُ:
يَا فُلَانُ، قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، فَيَبِيتُ يَسْتُرُهُ
رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Setiap ummatku akan dimaafkan, kecuali orang-orang yang
berbuat dosa terang-terangan (Al Mujahirin).
Termasuk terang-terangan adalah seorang hamba berbuat
(keburukan) di malam hari, kemudian di pagi harinya ia membeberkannya, padahal
Allah telah menutupinya dengan berkata : Wahai fulan, tadi malam aku telah
berbuat begini begitu. Pada malam hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya,
tetapi di pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya” (Muttafaq
‘Alaih).
Orang yang menutupi aibnya, maka Allah akan menutupinya,
orang yang bertaubat, Allah akan menerima taubatnya, orang yang mengikuti
amalan buruknya dengan amalan baik, maka akan dihapus amal buruknya dengan izin
Allah, dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata :
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى
النَّبِيِّ r فَقَالَ: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَصَبْتُ ذَنْبًا. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: لَقَدْ سَتَرَكَ
اللَّهُ، لَوْ سَتَرْتَ نَفْسَكَ، فَقَامَ الرَّجُلُ فَانْطَلَقَ، فَدَعَاهُ
النَّبِيُّ r وَتَلَا عَلَيْهِ
هَذِهِ الْآيَةَ: (أَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ
اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى
لِلذَّاكِرِينَ) فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، هَذَا لَهُ
خَاصَّةً؟ قَالَ: «بَلْ لِلنَّاسِ كَافَّةً
“Seseorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya : "Wahai
Rasulullah : sesungguhnya aku telah berbuat dosa." Lalu beliau berkata
pada Umar : "Allah telah menutupimu, jika kau menutupi dirimu, lalu orang
itu beranjak, kemudian Nabi Saw memanggilanya dan membaca ayat ini : “Dan dirikanlah
shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan
daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan
(dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang
ingat” (Hud 11 : 114). Lalu seseorang dari kaum itu bertanya : "Wahai Nabi
Allah, apakah ini khusus untuk orang itu ?" Beliau bersabda :
"Bahkan untuk semua manusia.” (Muslim 2763)
🤲🤲🤲 Ya
Allah, anugerahilah kami rasa malu dalam ucapan dan perbuatan kami, Kamj juga
memohon perlindungan-Mu di dunia dan akhirat dan berilah kami semua taufiq
untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar
ditaatinya, seperti termaktub dalam kitab-Mu:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ
مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ
Khotbah Kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ، يُحِبُّ لِعِبَادِهِ الْحَيَاءَ، وَيَرْضَى لَهُمُ السَّتْرَ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،
صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ
عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Kaum Mukminin yang Berbahagia...
Sesungguhnya menutupi kesalahan yang diperbuat oleh
kaum mukminin dan mukminat memiliki dampak positif psikologis dan sosial di
dunia dan akhirat, dan tindakannya akan dibalas di kemudian hari, seorang
shaleh berkata :
"Diantara kesempurnaan kesalehan amalan seorang hamba
adalah menutup aib saudaranya yang ia lihat, dengan harapan ia mendapatkan
balasan dari Tuhannya." (Kitab Hilyatul Auliya’ 8/66).
Manusia yang menutup aib sesamanya akan mendapatkan pahala
yang besar pada hari kiamat, demikian disabdakan oleh Rasulullah Saw :
مَنْ سَتَرَ
مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Orang yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan
menutup aibnya di dunia dan akhirat” (Muttafaq ‘Alaih, lafal hadits
Muslim).
Maka bila seorang mukmin melihat kesalahan sesamanya,
hendaknya ia seharusnya menutupinya, dengan harapan Allah menutupi kesalahannya
di dunia dan akhirat.
Jadi rasa malu adalah etika dan prilaku mulia yang
harus kita terapkan dihadapan keluarga, di sekolah dan di tengah-tengah
masyarakat, dan dengannya kehidupan menjadi lebih mulia dan bahagia.
Jadi tugas kedua orang tua di rumah, tugas para guru di
sekolah, para pegawai di tempat kerjanya dan semua lapisan masyarakat di
tempatnya masing-masing, hendaknya mereka berpegang teguh dengan nilai-nilai
kemanusiaan yang agung, seperti menutupi aib dan rasa malu dalam interaksi
mereka, sehingga mereka menjadi teladan bagi sesamanya di bidang etika, yang
akan berdampak pada kebahagiaan hidup mereka.
Hamba Allah yang Berbahagia...
Marilah kita berdoa serta jangan lupa untuk mengaminkan,
karena Allah Swt malu bila seorang hamba mengangkat kedua tangannya bertadarru’
kepada-Nya, Dia (Allah) tidak akan menyia-nyiakan harapannya.
اللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ؛ فَإِنَّكَ سُبْحَانَكَ الْقَائِلُ: (إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ
الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ
فِي الْآخِرَةِ.
اللَّهُمَ وَفِّقْ
رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ،
وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ
حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدِينَا، وَلِوَالِدِي وَالِدِينَا، وَجَمِيعِ
أَرْحَامِنَا، وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ ارْحَمِ
الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ، وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ
انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.
اللَّهُمَّ أَدِمْ
عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي
خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، وَاجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ
فِي زِيَادَةٍ.
اللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ
وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ
اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَ، أَوْ
وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى مَرِيضٍ أَوْ يَتِيمٍ، أَوْ طَالِبِ
عِلْمٍ أَوْ مِسْكِينٍ، وَاحْفَظْهُ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ، وَبَارِكْ لَهُ
فِيمَا رَزَقْتَهُ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ
شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ
الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛
بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ
قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي
بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ
اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ
السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.
رَبَّنَا آتِنَا
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ،
وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللَّهِ:
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
No comments:
Post a Comment