Friday, February 28, 2020

Khotbah Jum'at: MENJAGA KEHORMATAN DAN RASA MALU


Khotbah Jumat, 04 Rajab 1441 H/ 28 Februari 2020 M

Menjaga Kehormatan dan Rasa Malu

Khotbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَثَّنَا عَلَى الْحَيَاءِ وَالسَّتْرِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، وَوَعَدَنَا عَلَى ذَلِكَ بِالْفَوْزِ الْعَظِيمِ، 

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، يَسْتُرُ عَلَى عِبَادِهِ الْمُسْلِمِينَ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَعْظَمُ النَّاسِ حَيَاءً، وَأَكْثَرُهُمْ سَتْرًا، 

فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ جَلَّ فِي عُلَاهُ:

 (وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ)( ).

Kaum Mukminin yang Mulia...

Nabi SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ، يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemurah , Maha Pemalu lagi Maha Menutupi, Dia mencintai (sifat) malu dan menutupi (aib/aurat)” (Abu Daud 4012 dan Ahmad 17970). 

Rasa malu dan menutupi aib merupakan dua sifat yang tak terpisahkan, keduanya termasuk salah satu sifat Tuhan kita Yang Maha Pengasih, Dia Yang Maha Tinggi malu bila menolak orang yang berdoa kepada-Nya dan mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya” (At Tirmidzi 3556), atau membuka tabir hamba-Nya, karena Dia Yang Maha Tinggi menutupi aib hamba-hamba-Nya di dunia sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan, dan menutupi mereka di hari kiamat, sebagai bentuk keutamaan dan anugerah pada mereka, Rasulullah Saw bersabda :

يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ -أَيْ: سِتْرَهُ- فَيَقُولُ: أَعَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ. وَيَقُولُ: عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ. فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ: إِنِّي سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

“Salah satu dari kalian mendekat pada Tuhannya, kemudian Dia meletakkan padanya naungan –penutup-Nya- seraya berfirman : "Apakah kamu telah berbuat ini dan itu ?" Ia menjawab : "Ya, benar Ya Allah." Dia berfirman : "Apakah kamu telah berbuat ini dan itu ?" Ia menjawab : "Ya, benar ya Allah." Dia pun mengulang-ngulang pertanyaannya kemudian berfirman : "Sesungguhnya Aku telah menutupimu di dunia dan hari ini pun Aku yang mengampuninya bagimu” (Muttafaq ‘Alaih, lafal hadits Bukhari).

 Sungguh indah sifat penyantun, kasih sayang, sifat malu dan sifat menutupi Allah. Dan Allah telah menjadikan rasa malu dan menutupi aib sebagai sifat bawaan (fitrah) manusia, yang tertanam pada jiwa mereka sejak nabi Adam AS dan isterinya Hawa, dimana keduanya diberikan ilham oleh Allah untuk menutupi aurat, Allah berfirman :

فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ

“Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga’ (Al A’raf 7 : 22). Tugas / perbuatan pertama yang dilakukan oleh manusia adalah menutupi apa yang tidak pantas dipandang mata (At Tahrir wat Tanwir 8/64)

Hamba Allah yang Mulia...

 Rasa malu dan menutupi (aurat/aib) merupakan nilai-nilai kemanusiaan yang mulia, yang dianut oleh para rasul, para nabi, orang-orang shaleh dan bertakwa, sebagai contoh Nabi Musa AS, dimana Rasulullah Saw menegaskan dalam sabdanya :

إِنَّ مُوسَى كَانَ رَجُلًا حَيِيًّا سِتِّيرًا

“Sesungguhnya Musa adalah orang yang memiliki rasa malu dan menutupi” (Bukhari 3404). 

Sedangkan Nabi kita Muhammad Saw, seperti disifati oleh Anas RA, ia berkata :

كَانَ النَّبِيُّ r شَدِيدَ الْحَيَاءِ

“Nabi Saw sangat pemalu” (Bukhari 4739). Dan beliaulah yang bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah rasa malu” (Muwattha’ Malik 950). 

Nabi Saw menaruh perhatian penuh pada penutupan aurat, dan beliau memohon kepada Allah agar selalu dilimpahkan penutupan padanya. Ibnu Umar RA berkata : Nabi Saw selalu berdoa dengan :

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي

“Ya Allah, tutuplah auratku”(Al Adab Al Mufrad, karangan Al Bukhari 1200). 

Beliau mendidik para sahabatnya dengan akhlak dan kebiasaan mulia ini, rasa malu adalah akhlak mereka, penutupan aib adalah ciri mereka, dan diantara sahabat yang terkenal dengan sifat malu dan penutupan aib adalah Utsman bin Affan RA, sehingga Nabi Saw menegaskan dalam sabdanya :

إِنَّ عُثْمَانَ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ، تَسْتَحْيِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ

“Sesungguhnya Utsman sangat pemalu dan menutupi (aib), dan malaikat pun malu padanya” (Muslim 2401 dan Al Mu’jam Al Awsath 8601).

 Begitu pula Fatimah RA putri Nabi kita Muhammad Saw terkenal dengan sifat malunya serta usahanya untuk selalu menutupi (aib/aurat) (Siyar A’lamun Nubala’ 3/425), dan Ummul Mukminin Aisyah RA juga terkenal dengan sifat yang sama dan semua istri Nabi atau Ummahatul Mukminin, semoga Allah meridhai mereka semua, meridhai semua shahabiyat (sahabat perempuan) dan para mukminah yang shalihah, mereka yang berhiaskan dengan sifat malu, yang berpegang teguh dengan kemurnian dan penutupan aib dan aurat. Dan semoga semua wanita berteladan pada kebaikan mereka, karena wanita yang memiliki rasa malu, ia akan menutupi auratnya, ia akan menampakkan kehormatan dalam  berpakaian dan akan terlihat wibawanya serta iffahnya (pengendalian dirinya). 

Maka sungguh indah bila seorang lelaki memiliki dan memelihara rasa malu, sehingga ia mengenakan pakaian yang terbaik lagi menutupi auratnya, karena Allah Azza wa Jalla telah menggandengkan antara rasa malu dan penutupan aurat, disebutkan dalam firman-Nya :

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (Al A’raf 7 : 26). 

Pada ayat mulia ini, Allah mengingatkan kita betapa pentingnya pakaian yang menutupi badan, dan juga sebaik-baiknya pakaian adalah takwa yaitu sifat malu (Tafsir Al Qurthubi 7/184). 

Karena berpegang teguh dengan sikap menutup aib dan rasa malu, yang sesuai dengan nilai-nilai, kebiasaan dan identitas masyarakat, dapat memperkuat persatuan  dalam masyarakat, meneguhkan akhlak mulia dan membuat masyarakat menghargai kehidupan sosialnya.

Kaum Mukminin yang Berbahagia...

Sesungguhnya salah satu bentuk penutupan manusia terhadap aib dirinya adalah tidak menyebarkan kesalahannya, bila ia pernah berbuat kesalahan atau terjatuh pada perbuatan dosa karena Allah telah menutupinya, maka hendaknya ia gunakan penutup Allah tersebut, dengan membenahi kesalahannya dan menjauh dari semua sebab yang mengantarkan pada perbuat tersebut, dan tidak lupa untuk bertaubat pada Penciptanya, karena Allah Azza wa Jalla telah menutupi, mengampuni dan memaafkannya, Rasulullah Saw bersabda :

أُمَّتِي مُعَافَاةٌ، إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحُ قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ، قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، فَيَبِيتُ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap ummatku akan dimaafkan, kecuali orang-orang yang berbuat dosa terang-terangan (Al Mujahirin).
 Termasuk terang-terangan adalah seorang hamba berbuat (keburukan) di malam hari, kemudian di pagi harinya ia membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya dengan berkata : Wahai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini begitu. Pada malam hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya, tetapi di pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya” (Muttafaq ‘Alaih). 

Orang yang menutupi aibnya, maka Allah akan menutupinya, orang yang bertaubat, Allah akan menerima taubatnya, orang yang mengikuti amalan buruknya dengan amalan baik, maka akan dihapus amal buruknya dengan izin Allah, dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ r فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَصَبْتُ ذَنْبًا. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: لَقَدْ سَتَرَكَ اللَّهُ، لَوْ سَتَرْتَ نَفْسَكَ، فَقَامَ الرَّجُلُ فَانْطَلَقَ، فَدَعَاهُ النَّبِيُّ r وَتَلَا عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةَ: (أَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ) فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، هَذَا لَهُ خَاصَّةً؟ قَالَ: «بَلْ لِلنَّاسِ كَافَّةً

“Seseorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya : "Wahai Rasulullah : sesungguhnya aku telah berbuat dosa." Lalu beliau berkata pada Umar : "Allah telah menutupimu, jika kau menutupi dirimu, lalu orang itu beranjak, kemudian Nabi Saw memanggilanya dan membaca ayat ini : “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (Hud 11 : 114). Lalu seseorang dari kaum itu bertanya : "Wahai Nabi Allah, apakah ini khusus untuk orang itu ?"  Beliau bersabda : "Bahkan untuk semua manusia.” (Muslim 2763)

🤲🤲🤲 Ya Allah, anugerahilah kami rasa malu dalam ucapan dan perbuatan kami, Kamj juga memohon perlindungan-Mu di dunia dan akhirat dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, seperti termaktub dalam kitab-Mu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


Khotbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، يُحِبُّ لِعِبَادِهِ الْحَيَاءَ، وَيَرْضَى لَهُمُ السَّتْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Kaum Mukminin yang Berbahagia...

 Sesungguhnya menutupi kesalahan yang diperbuat oleh kaum mukminin dan mukminat memiliki dampak positif psikologis dan sosial di dunia dan akhirat, dan tindakannya akan dibalas di kemudian hari, seorang shaleh berkata :

"Diantara kesempurnaan kesalehan amalan seorang hamba adalah menutup aib saudaranya yang ia lihat, dengan harapan ia mendapatkan balasan dari Tuhannya." (Kitab Hilyatul Auliya’ 8/66). 

Manusia yang menutup aib sesamanya akan mendapatkan pahala yang besar pada hari kiamat, demikian disabdakan oleh Rasulullah Saw :

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Orang yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat” (Muttafaq ‘Alaih, lafal hadits Muslim). 

Maka bila seorang mukmin melihat kesalahan sesamanya, hendaknya ia seharusnya menutupinya, dengan harapan Allah menutupi kesalahannya di dunia dan akhirat.

 Jadi rasa malu adalah etika dan prilaku mulia yang harus kita terapkan dihadapan keluarga, di sekolah dan di tengah-tengah masyarakat, dan dengannya kehidupan menjadi lebih mulia dan bahagia. 

Jadi tugas kedua orang tua di rumah, tugas para guru di sekolah, para pegawai di tempat kerjanya dan semua lapisan masyarakat di tempatnya masing-masing, hendaknya mereka berpegang teguh dengan nilai-nilai kemanusiaan yang agung, seperti menutupi aib dan rasa malu dalam interaksi mereka, sehingga mereka menjadi teladan bagi sesamanya di bidang etika, yang akan berdampak pada kebahagiaan hidup mereka.

Hamba Allah yang Berbahagia...

Marilah kita berdoa serta jangan lupa untuk mengaminkan, karena Allah Swt malu bila seorang hamba mengangkat kedua tangannya bertadarru’ kepada-Nya, Dia (Allah) tidak akan menyia-nyiakan harapannya.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ؛ فَإِنَّكَ سُبْحَانَكَ الْقَائِلُ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

 وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

 اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدِينَا، وَلِوَالِدِي وَالِدِينَا، وَجَمِيعِ أَرْحَامِنَا، وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا.

اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ، وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ

اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، وَاجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادَةٍ.

 اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَ، أَوْ وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى مَرِيضٍ أَوْ يَتِيمٍ، أَوْ طَالِبِ عِلْمٍ أَوْ مِسْكِينٍ، وَاحْفَظْهُ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا رَزَقْتَهُ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.


No comments:

Post a Comment