Khotbah Jumat, 14 Jumadil Akhirah 1441 H/ 07 Februari 2020 M
Dahsyatnya Berinfak
Khotbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، الْغَنِيِّ الْكَرِيمِ، يُضَاعِفُ أَجْرَ الْمُنْفِقِينَ،
وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ، وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، كَانَ قُدْوَةً فِي
الْإِنْفَاقِ، وَالْبَذْلِ وَالْعَطَاءِ،
فَاللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ،
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (الم* ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى
لِلْمُتَّقِينَ* الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ)( ).
Kaum Mukminin yang Berbahagia...
Dari Ibnu Abbas RA berkata : "Sebuah kafilah dari
kumpulan para pedagang besar sampai di kediaman Utsman bin Affan RA, kemudian
para pedagang itu berdatangan ke depan pintu rumahnya, ia (Utsman) pun keluar
menjumpai mereka dan berkata : "Apa yang kalian inginkan ?" Mereka
menjawab : "Kami mendapatkan informasi bahwa anda memiliki persediaan
bahan makanan yang banyak, juallah pada kami agar penduduk mendapatkan
keluasan." Utsman berkata : "Dengan senang hati dan penuh cinta,
silahkan masuk dan belilah." Para pedagang masuk ke rumah Utsman RA dan
mendapati bahan makanan yang ada disana, para pedagang berkata : "Kami
akan memberimu keuntungan lima Dirham dari setiap sepuluh dirham (5 kali
lipat). Utsman berkata : "Tidakkah kalian tambahkan?" Para pedagang
menjawab : "Tidak ada lagi pedagang di Madinah selain kami, memangnya
siapakah yang berani beli lebih dari itu?" Utsman menjawab : "Semoga
Allah Azza wa Jalla memberiku kelebihan dari setiap satu Dirham sepuluh kali
lipat. Adakah yang mau membeli lebih dari itu?" Mereka menjawab :
"Tidak." Ia berkata : "Sesungguhnya aku bersaksi pada Allah
bahwa aku menjadikan bahan makanan ini sebagai sedekah saja karena Allah (As
Syariah, karangan Al Ajiri 4/2013). Kemudian Utsman RA menginfakkan semua
kafilah itu, dengan mengharap ridha Tuhannya dan demi memberi keluasan pada
hamba-hamba-Nya.
Kaum Mukminin yang Berbahagia..
Berinfak dalam kebaikan, itulah ibadah yang mulia yang
diperintahkan oleh Allah dalam kitab-Nya kepada kita semua, dimana Allah
menyandingkan keimanan dengan infak, diterangkan dalam firman-Nya :
آمِنُوا بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ
آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah
sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka
orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya
memperoleh pahala yang besar”(Al Hadid 57 : 7).
Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang berinfak
bahwa Dia akan menganugerahkan pada mereka kebaikan, pemberian balasan,
kemuliaan dan kedermawanan dan Dia akan mengganti semua yang telah diinfakkan
oleh mereka (Tafsir At Thabari 3 : 312) serta semua yang telah mereka
keluarkan, Allah berfirman :
وَمَا أَنْفَقْتُمْ
مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan
menggantinya. Dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya” (Saba’ 34 : 39).
Nabi Saw merupakan manusia yang paling dermawan (Muslim
2307).
Beliau berinfak dalam semua jenis kebaikan dan memberi tanpa
takut jatuh miskin, dari Anas RA berkata :
مَا سُئِلَ رَسُولُ
اللَّهِ r شَيْئًا إِلَّا
أَعْطَاهُ
“Rasulullah Saw tidak pernah diminta sesuatu, melainkan
selalu dipenuhinya” (Muslim 2312).
Dan beliau menganjurkan agar bersegera dalam berinfak,
ketika seseorang bertanya kepadanya :
يَا رَسُولَ
اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ r: «أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ حَرِيصٌ،
تَأْمُلُ الْغِنَى وَتَخْشَى الْفَقْرَ
“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang paling utama ?
Beliau menjawab : "Engkau bersedekah pada saat sehat dan sedang merasa
kikir, kau berangan-angan menjadi kaya dan takut fakir” (Muttafaq ‘Alaih).
Berinfak dalam kebaikan wahai hamba Allah adalah tentu
sesuai dengan kemampuan yang ada, seperti dijelaskan oleh Allah Azza wa Jalla :
لِيُنْفِقْ ذُو
سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ
اللَّهُ
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut
kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah
dari harta yang diberikan Allah kepadanya” (At Thalaq 65 : 7)
Wahai Orang2 yang Rajin Berinfak...
Allah telah menjelaskan pada kita semua mengenai urutan
orang yang berhak mendapatkan infak, yaitu dengan mendahulukan yang paling
utama :
يَسْأَلُونَكَ
مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ
وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا
تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan.
Jawablah : Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada
ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang
yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka
sesungguhnya Alah Maha Mengetahuinya” (Al Baqarah 2 : 215).
Jadi orang yang pertama berhak mendapatkan infak secara
berurutan adalah kedua orang tua, para kerabat yang nafkahnya berada dalam
tanggung jawabnya, Nabi Saw menjelaskan dalam sabdanya :
الْيَدُ الْعُلْيَا
خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang di
bawah, dan mulailah dari orang-orang yang menjadi tanggunganmu” (Muttafaq
‘Alaih).
Nafkah yang diberikan suami terhadap isteri dan
anak-anaknya, termasuk nafkah dalam kebaikan dan memiliki pahala dan balasan
yang sangat besar, Rasulullah Saw bersabda :
أَفْضَلُ دِينَارٍ
يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ؛ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ
“Sebaik-baiknya dinar (harta) yang dinafkahkan oleh seorang
suami, adalah dinar (harta) yang dinafkahkan untuk keluarganya” (Muslim
994).
Demikian pula seorang isteri memiliki dua pahala atas
kontribusi dalam nafkah rumah tangganya, karena Zainab isteri Abdullah bin
Mas’ud RA pernah berkata pada Bilal RA : "Tolong tanyakan pada Nabi Saw :
أَيَسَعُنِي أَنْ
أَضَعَ صَدَقَتِي فِي زَوْجِي وَفِي بَنِي أَخٍ لِي يَتَامَى؟ فَقَالَ r:
«نَعَمْ، لَهَا
أَجْرَانِ، أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ
“Bolehkah aku memberikan sedekahku untuk suami, anak
saudaraku yang yatim?" Rasulullah Saw bersabda : "Ya, baginya dua
pahala, pahala kekerabatan dan pahala sedekah”. (Muttafaq ‘Alaih, lafal
Ahmad).
Ibnu Al Mubarak RA berkata :
"Tidak ada yang menyamai mata pencaharian dan
nafkah terhadap keluarga." (Siyar A’lamun Nubala’ 8/399), dan termasuk
dalam infak terhadap anak-anak adalah mendidik dan memperhatikan urusan mereka.
Bentuk infak dalam kebaikan adalah yang diberikan kepada
orang-orang yang membutuhkan, para yatim dan miskin di seluruh dunia, oleh karena
itu Rasulullah Saw menganjurkan Abu Lubabah RA untuk menyerahkan pohon kurmanya
untuk anak yatim, ia yang menuntutnya dan ia yang menangis karenanya,
Rasulullah Saw bersabda pada Abu Lubabah : "Berikanlah kepadaku, dan
bagimu tangkai kurma di surga (pohon kurma)." Lalu Abu Dahdah mendengar
itu dan berkata pada Abu Lubabah : "Apakah kau menjual tangkai kurmamu
dengan kebunku ini." Ia menjawab : "Tentu". Kemudian ia
mendatangi Rasulullah Saw dan berkata : "Pohon kurma yang kau pinta untuk
anak yatim, jika aku berikan ini, apakah bagiku tangkai kurma di surga?"
Rasulullah Saw menjawab : "Iya".(As Sunan Al Kubra, karangan Al
Baihaqi 11682)
فَأَعْطَاهَا
لِلْيَتِيمِ، فَقَالَ r: «كَمْ مِنْ عِذْقٍ مُعَلَّقٍ -أَيْ كَمْ
مِنْ عُنْقُودِ تَمْرٍ مُدَلًّى- فِي الْجَنَّةِ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ
“Kemudian ia memberikannya kepada anak yatim, maka
Rasulullah Saw bersabda : "Betapa banyak tangkai kurma yang menggantung di
surga untuk Abu Dahdah” (Muslim 965).
فَأَتَى أَبُو
الدَّحْدَاحِ امْرَأَتَهُ؛ فَقَالَ: يَا أُمَّ الدَّحْدَاحِ، اخْرُجِي مِنَ
الْبُسْتَانِ، فَإِنِّي قَدْ بِعْتُهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ. فَقَالَتْ:
رَبِحَ الْبَيْعُ
“Lalu Abu Dahdah menemui isterinya seraya berkata : "Wahai
Ummu Dahdah, keluarlah dari kebun, karena aku telah menjualnya dengan pohon
kurma di surga." Isterinya menjawab : "Sungguh ini adalah penjualan
yang sangat menguntungkan” (Ahmad 12482).
Tentu, demi Allah, ia telah beruntung, karena apa pun yang
ada di surga, pasti lebih baik dari dunia dan seisinya, maka jadikanlah lelaki
tersebut -wahai hamba Allah- sebagai contoh dan tauladan, yang telah berinfak
pohon kurma untuk anak yatim, dan ia mendapatkan balasannya nan agung di surga.
Sungguh beruntung orang yang berinfak terhadap ibu dan
bapaknya, isteri dan anaknya, keluarga dan kerabatnya, juga menyalurkan
keceriaan pada para janda dan orang-orang yang membutuhkan, para yatim dan
miskin dan berinfak pada semua bentuk kebaikan dan kebajikan.
🤲Ya Allah, jadikanlah
kami golongan orang-orang yang selalu berinfak dalam kebaikan, aungerahilah
kami dari keberkahan-Mu Wahai Dzat Yang Maha Mulia dan berilah kami semua
taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar
ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ
مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).
أَقُولُ قَوْلِي
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَهُ الْحَمْدُ الْحَسَنُ وَالثَّنَاءُ الْجَمِيلُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،
فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى
يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ.
Kaum Mukminin yang Berbahagia...
Sesungguhnya setiap infak dalam kebaikan yang
dilakukan oleh seorang muslim dengan mengharap ridha Allah, maka Allah akan
mencatat dan menetapkan pahala baginya, dijelaskan dalam firman-Nya :
وَمَا تُنْفِقُوا
مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ
“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan
Allah) niscaya pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu
membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah” (Al Baqarah 2 :
272).
Sebagian orang diberikan keluasan rezeki oleh Allah,
dilimpahkan keberkahan dalam mata pencahariannya, maka sudah sepatutnya ia
menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya,
sebagai bentuk rasa syukur kepada Penciptanya dan agar nikmatnya menjadi
langgeng.
Almarhum Syaikh Zayed –semoga Allah merahmatinya- merupakan
teladan dalam pemberiaan, kemurahan dan kedermawanan, uluran tangan baiknya
sampai ke seluruh penjuru dunia, dalam bentuk bantuan pada para fakir dan
orang-orang yang membutuhkan serta orang-orang yang lemah.
Dan kalian wahai hamba Allah, yang sudah terbiasa
mendapatkan karunia dan nikmat yang berlimpah dan kalian terbiasa memberikan
kepada orang-orang yang membutuhkan di seluruh penjuru dunia, dengan
menyalurkan keceriaan, menyebarkan kebaikan dan memberikan bantuan kepada
mereka, lanjutkan kebiasaan kalian, maka Allah akan selalu bersama kalian. Dan
renungkanlah, bahwa berapa banyak orang yang tertimpa penyakit di dunia ini,
yang tidak mendapatkan obat untuk menurunkan rasa sakitnya, berapa banyak orang
fakir yang tidak mampu memberikan makan keluarganya, berapa banyak ibu yang
tidak menemukan sesuap makanan, lagi tidak mampu memberikan asupan pada bayinya
dan berapa banyak anak yang kedinginan dan tak mendapatkan selimut penghangat.
Dan Allah telah melimpahkan rezeki pada kalian, Dia Maha Melihat perbuatan
kalian, infak kalian dan Mengetahui kebaikan kalian, Allah Swt berfirman :
وَمَا تُنْفِقُوا
مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah
mengetahuinya” (Ali Imran 3 : 92).
Dan marilah kita bersegera berinfak dalam kebaikan,
berpartisipasi dan berkontribusi bersama Badan Amal Resmi yang ada di Emirat
seperti "Hilal Ahmar" (Bulan Sabit Merah) sebagai bentuk ketaatan
kita kepada Tuhan kita, agar nilai-nilai infak dalam kehidupan kita semakin
meningkat dan sebagai penguatan atas budaya infak itu dalam kehidupan kita, dan
mari kita ajarkan itu pada putra-putri kita.
هَذَا وَصَلُّوا
وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ
الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ:
(إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).
🤲🤲🤲 اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ
الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ
فِي الْآخِرَةِ.
اللَّهُمَ وَفِّقْ
رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ،
وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ
حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
اللَّهُمَّ ارْحَمِ
الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ، وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ
انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.
اللَّهُمَّ أَدِمْ
عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي
خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ
فِي زِيَادِةٍ.
اللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ الْمَغْفِرَةَ والثَّوَابَ لِمَنْ بَنَى هَذَا الْمَسْجِدَ
وَلِوَالِدَيْهِ، وَلِكُلِّ مَنْ عَمِلَ فِيهِ صَالِحًا وَإِحْسَانًا، وَاغْفِرِ
اللَّهُمَّ لِكُلِّ مَنْ بَنَى لَكَ مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُكَ، أَوْ
وَقَفَ لَكَ وَقْفًا يَعُودُ نَفْعُهُ عَلَى مَرِيضٍ أَوْ يَتِيمٍ، أَوْ طَالِبِ
عِلْمٍ أَوْ مِسْكِينٍ، وَاحْفَظْهُ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ، وَبَارِكْ لَهُ
فِيمَا رَزَقْتَهُ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ
شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ
الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛
بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ
قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي
بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ
اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ
السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.
رَبَّنَا آتِنَا
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ،
وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللَّهِ:
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
No comments:
Post a Comment