Friday, January 24, 2020

Khotbah Jum'at: SANG PENGHUNI SURGA


Khotbah Jumat, 29 Jumadil Ula 1441 H/ 24 Januari 2020 M

Sang Penghuni Surga

Khutbah Pertama::

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ، الْعَفُوِّ الْقَدِيرِ، دَعَانَا إِلَى الْعَفْوِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، وَوَعَدَنَا عَلَيْهِ الْأَجْرَ الْعَظِيمَ،

 وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَكْثَرُ النَّاسِ عَفْوًا، وَأَعْظَمُهُمْ حِلْمًا وَصَفْحًا،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ:

 (وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ)( ).

Kaum Mukminin yang Mulia...

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata :

كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ r فَقَالَ : يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ». فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ؛ قَالَ النَّبِيُّ r مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ، وَكَذَلِكَ فِي الْيَوْمِ الثَّالِثِ، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ r مِنْ مَجْلِسِهِ؛ تَبِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ذَلِكَ الرَّجُلَ، فَطَلَبَ مِنْهُ أَنْ يُؤْوِيَهُ فِي بَيْتِهِ ثَلَاثَ لَيَالٍ، فَرَحَّبَ بِهِ الرَّجُلُ… فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ؛ قَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ r يَقُولُ ثَلَاثَ مِرَارٍ: «يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ». فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ؛ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ؟ فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِى بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r؟ فَقَالَ الرَّجُلُ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ… غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي غِلًّا لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَلَا أَحْسُدُهُ عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ

“Kami sedang duduk bersama Rasulullah Saw, lalu beliau bersabda : 'Akan muncul sekarang seorang yang termasuk penduduk surga." Maka muncullah seseorang dari kaum Anshar. Keesokan hari Nabi Saw mengucapkan perkataan yang sama, dan muncullah orang itu lagi, dan begitu pula pada hari ketiga, dan ketika Nabi Saw berdiri (pergi) dari majelisnya, Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash RA mengikuti orang tersebut dan meminta izin untuk menginap di rumahnya selama tiga malam, lelaki itu mempersilahkan. Ketika berlalu tiga hari, Abdullah bin Amr RA berkata kepadanya : "Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda tiga kali : Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga, dan tiga kali kau yang muncul, maka aku ingin menginap di rumahmu untuk melihat apa yang telah kau perbuat? Agar aku ikuti, tapi aku tidak melihatmu melakukan amalan yang banyak, lalu apa yang membuatmu sampai pada kedudukan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw?" Orang itu menjawab : "Tidak lebih seperti yang kau lihat, hanya saja *aku tidak pernah menyimpan dalam diriku dengki pada seorangpun dari kaum muslimin, dan juga iri akan kebaikan yang telah diberikan oleh Allah kepada orang lain”* (Ahmad 13034). 

Sahabat mulia ini tidak dengki dan tidak iri, serta tidak memiliki permusuhan pada siapapun dalam hatinya, yang ada hanya rasa maaf, ampunan dan lapang dada, ia tidur di malam hari dengan jiwa dan hati yang tenteram. Imam As Syafii Rahimahullah mengatakan dalam syairnya :

لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلَى أَحَدٍ أَرَحْتُ نَفْسِيَ مِنْ هَمِّ الْعَدَاوَاتِ

Ketika aku memaafkan dan tiada dengki pada seorang pun
Jiwaku tenang dari kegelisahan akibat permusuhan (Diwan Imam As Syafii 1/48).

Begitulah Wahai hamba Allah yang Mulia...

Betapa pentingnya nilai pemaafan bagi pelakunya, sebuah nilai kemanusiaan yang mulia serta merupakan ciri akhlak utama, yang dibawa oleh risalah samawi sejak dulu, hal ini ditegaskan oleh agama kita yang mulia ini yaitu agama yang dipenuhi nilai-nilai, yang memberikan perhatian penuh pada akhlak, terutama akhlak pemaafan. Dan sahabat mulia diatas mendapatkan kabar gembira balasan surga, karena ia bergaul dengan masyarakat dengan perasaan yang bersih dan penuh maaf, semua itu demi ketaatan dan mendekatkan diri pada Tuhannya Yang Mencintai pemaafan serta memerintahkannya, seperti diperintahkan pada Nabi-Nya Muhammad Saw :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh” (Al A’raf 7 : 199). 

Inilah akhlak yang diterapkan oleh Nabi Saw akhlak utama ini dalam kehidupannya sehari-sehari dengan sebaik-baiknya, sehingga sifat maaf menjadi ciri, akhlak dan kebiasaannya, Sayyidah Aisyah RA berkata ketika ditanya tentang akhlak Nabi Saw :

كَانَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا… لَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

“Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi beliau memaafkan dengan lapang dada” (At Tirmidzi 2016 dan Ibnu Hibban 6443). 

Nabi Saw mengajak para sahabatnya pada sifat maaf seperti tersebut dalam sabdanya :

يَا عُقْبَةُ بْنَ عَامِرٍ، صِلْ مَنْ قَطَعَكَ، وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ، وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ

“Wahai Uqbah bin Amir, sambunglah orang yang memutuskan hubungan denganmu, berilah orang yang tidak memberimu dan maafkanlah orang yang telah mendzalimu” (Ahmad 17452).

Kaum Mukminin yang Berbahagia...🙏

Allah Swt berfirman :

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Al Maidah 5 : 13). 

Orang-orang yang berbuat baik dicintai oleh Allah karena hati mereka yang bening, batin dan lahir mereka yang bersih dan Allah akan membalas atas pemaafan dan kebaikan mereka (Tafsir Al Qurthubi 4/208). 

Allah akan memaafkan sebagaimana mereka memaafkan sesamanya, Allah menjelaskan dalam firman-Nya :

إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

“Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa” (An Nisa’ 4 : 149). 

Maksudnya: Bila kalian memaafkan maka Allah akan memaafkan kalian (Tafsir Al Qurthubi 4/6) dan mereka akan mendapatkan balasan yang besar, Allah Swt berfirman :

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” (As Syura 42 : 40). 

Maka sungguh beruntung orang yang memaafkan dan berlapang dada dan tidak menyimpan dengki dalam hatinya, dan sungguh berbahagia orang yang mengampuni, bersabar dan tak ada iri sedikitpun dalam hatinya.

Wahai orang yang mencintai pemaafan...

 Sesungguhnya cakupan pemaafan mencakup semua sisi kehidupan, dan betapa indahnya bila akhlak pemaafan ini selalu ada dalam interaksi dan dalam tindakan kita, dalam kehidupan sosial dan keluarga kita, sehingga kedua pasangan suami isteri saling memaafkan kesalahan pasangannya yang timbul akibat kekeliruan, sehingga rumah tangga mereka dinaungi oleh baluran kasih, cinta, ketentraman dan rasa sayang, yang berbuah pada kebahagiaan anak, keeratan keluarga dan keberhasilan kehidupan rumah tangga, dan Allah telah menyeru kepada para suami isteri dalam firman-Nya :

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

“Dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu” (Al Baqarah 2 : 237).

 Ibnu Abbas RA berpendapat : "Diantara kedua pasangan suami isteri yang paling dekat kepada ketakwaan adalah yang memaafkan (Tafsir Ibnu Katsir 1/644).

Gambaran pemaafan lainnya adalah yang terjadi antara sesama saudara dan kerabat, karena berapa banyak pertikaian panjang yang terjadi antara keduanya, setiap individu dari keduanya mengaku bahwa ialah yang benar, tapi bila salah satu dari keduanya berinisiatif untuk memaafkan, kemudian diterima oleh saudaranya dengan lapang dada dan penuh cinta lalu menghapus tuntutannya atas dasar cinta dan pengembalian tali persaudaraan, maka saat itu pula pemaafan akan menghapus permusuhan dalam hati, bahkan akan bersumber darinya kasih sayang yang tulus lagi murni, Maha Benar Tuhan kita Yang Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun yang berfirman :

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (Fusshilat 41 : 34).

 Jangkauan pemaafan itu sangat luas, meliputi semua kerabat, tetangga, teman, sejawat, teman sekolah dan semua orang di semua bidang pekerjaan.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang yang mengampuni dan memaafkan orang lain, “Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Al Hasyr 59 : 10), dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

 أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Khotbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ بِجَمِيعِ مَحَامِدِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى عَدَدًا، وَلَا تَنْقَضِي أَبَدًا، لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Kaum Mukminin yang Berbahagia...

Allah Swt menerangkan sifat hamba-hamba-Nya yang baik dalam firman-Nya:

وَالْكاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Ali Imran 3 : 134).

 Maksudnya adalah bila ada orang yang mengundang amarahnya, maka mereka mengendalikannya dan memaafkan orang yang berlaku buruk kepadanya (Tafsir Ibnu Katsir 2/119 dan (2/122), sehingga mereka mendapatkan cinta dan ridha Allah, diangkat kehormatan dan kemuliaan mereka oleh Allah, Rasulullah Saw bersabda :

مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Tidaklah seorang hamba memberikan maaf melainkan Allah akan memuliakannya” (Muslim 2588). 

Oleh karena itu marilah kita jadikan sikap pemaaf sebagai ciri khas dalam kehidupan kita, dan janganlah seorang dari kita tidur di.malam hari kecuali ia telah memaafkan sesamanya, mengampuni orang yang berbuat buruk padanya, sehingga hatinya bersih, sehingga kita bisa seperti sahabat mulia diatas, yang mendapatkan kabar gembira dari Rasulullah Saw dalam bentuk surga.

Demikian pula mari kita perkuat dan ajarkan akhlak yang mulia ini kepada putra putri kita, karena pahala dan balasannya di sisi Allah adalah surga. 

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ). 


🤲🤲🤲  اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ يَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا أَجْوَدَ مَنْ أَعْطَى، وَيَا أَكْرَمَ مَنْ عَفَا، وَأَعْظَمَ مَنْ غَفَرَ؛ نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

 اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.

 اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ

اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ.

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Khotbah Jum'at: SETIAP USAHA AKAN MENUAI HASIL


Khotbah Jumat, 15 Jumadil Ula 1441 H/ 10 Januari 2020 M


Setiap Usaha akan Menuai Hasil

Khotbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُبْدِئِ الْمُعِيدِ، الْفَعَّالِ لِمَا يُرِيدُ، عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ، يَكْتُبُ لِكُلِّ إِنْسَانٍ عَمَلَهُ، وَيُحْصِي لَهُ سَعْيَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ:

 فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ: (وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ)( ).

Kaum Muslimin yang Berbahagia...

Allah Swt berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى* وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى* ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (An Najm 53 : 39 – 41). 

Pada ayat-ayat ini, Allah mengingatkan kita pada beberapa prinsip agama yang lengkap dan dasarnya yang kuat, yang disebutkan pula dalam kitab-kitab samawi, diantaranya yaitu usaha dan bekerja. Dan usaha termasuk kewajiban yang agung dalam Islam, sebagaimana ia termasuk ajaran para nabi dan rasul. Yang dimaksud usaha adalah setiap perbuatan dan pekerjaan. Dan usaha manusia di dunia ini beragam dan pekerjaannya berbeda-beda. Allah berfirman:

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى

Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda” (Al Lail 92 : 4). Dan diantara bentuk usaha adalah mencari ridha Allah dan beribadah kepada-Nya, berdzikir dan menjalankan ketaatan, dan usaha ini di sisi Allah akan mendapatkan balasan dan juga termasuk amalan yang mabrur dan pelakunya akan mendapatkan pahala, Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Al Jumu’ah 62 : 9)

Usaha untuk memberikan manfaat pada sesama, juga termasuk usaha yang akan mendapatkan balasan yang besar dari Allah serta akan diangkat nama baiknya, seperti disebutkan didalam Al Quran kisah seorang yang menginginkan kaumnya mendapatkan hidayah dan berusaha mengajarkan mereka kebaikan, Allah berfirman:

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ* اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ* وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib An Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata : ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan” (Yasin 36 : 20-22). 

Berusaha dalam mencari rezeki yang halal, usahanya akan mendatangkan keridhaan Allah Yang Maha Tinggi, seperti usaha Sayyidah Hajar ketika mencari air, makanan dan rezeki untuk anaknya, yang dijadikan oleh Allah sebagai manasik haji dan umrah, agar mengenang dan berteladan perbuatan baiknya, dan Nabi Saw menjelaskan tentang usahanya (Hajar) antara Shafa dan Marwah dalam sabdanya:

فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا

Itulah sa’i yang mesti dilakukan oleh manusia antara dua bukit itu” (Bukhari 3364). 

Allah menganjurkan seorang muslim untuk berusaha di muka bumi mencari rezeki-Nya, disebutkan dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (Al Mulk 67 : 15). 

Nabi SAW menganjurkan seorang mukmin untuk mencari rezeki, untuk mencukupi diri dan keluarganya.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA bahwa : 'Ada seorang melewati orang-orang, lalu mereka kagum dengan pekerjaannya (orang yang lewat itu), mereka berkata : "Seandainya orang itu berjuang di jalan Allah (pasti lebih baik)". Maka Nabi Saw bersabda kepada mereka:

إِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْهِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى صِبْيَةٍ صِغَارٍ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُغْنِيَهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika ia berusaha mencari rezeki untuk kedua orang tuanya yang renta, maka ia di jalan Allah, jika ia berusaha mencari rezeki untuk anaknya yang masih kecil, maka ia di jalan Allah, jika ia bekerja untuk mencukupi dirinya maka ia di jalan Allah” (As Sunan Al Kubra, karangan Al Baihaqi 7/479 dengan nomor 15742)

Diantara usaha yang terpuji adalah membantu para fakir dan orang-orang yang membutuhkan, memberikan makan pada para miskin, membantu para janda dan yatim dengan mengharap ridha Allah Swt, Allah berfirman menjelaskan tentang hamba-hamba-Nya yang baik:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا* إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزاءً وَلَا شُكُورًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (Al Insan 76 : 8-9). 

Allah akan membalas atas perbuatan dan usaha baik mereka dan kemudian mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Nabi Saw menjelaskan bahwa pahala orang yang bertanggung jawab terhadap orang-orang yang lemah sepadan dengan pahala orang yang berpuasa dan orang yang shalat malam.

Hamba Allah yang Mulia;;

 Allah Swt berfirman:

وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى

"Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)". Maksudnya bahwa Allah Swt akan memperlihatkan kepada semua manusia usaha dan amalan mereka masing-masing:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ* وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (Az Zalzalah 99 : 7-8).

Demikian pula amalan manusia dan usahanya akan dihadapkan kepada Allah dan akan dilihat oleh manusia di dunia dan akhirat, Allah menjelaskan:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah : Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (At Taubah 9 : 105). 

Maksud firman Allah : “Dan katakanlah : Bekerjalah kamu” (At Taubah 9 : 105). Mencakup semua usaha dan pekerjaan yang dibutuhkan seseorang di akhirat dan dunianya, untuk kepentingan penghidupan dan hari akhiratnya (Tafsir Ar Razi 16/142). 

Hendaknya semua usaha seorang mukmin dalam ketaatan kepada Allah, agar ia mendapatkan pujian dan pahala yang besar, dan di akhirat ia mendapatkan balasan yang sempurnan lagi banyak, Allah berfirman:

ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى

Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (An Najm 53 : 41).

 Maksudnya Allah akan membalas usahanya dengan balasan yang sempurna dan terbanyak (Tafsri Ibnu Katsir 7/456) pada hari kiamat, Allah berfirman pada Nabi Musa AS:

إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan” (Thaha 20 : 15). 

Jadi jangan sampai manusia menyia-nyiakan usaha dan mengingkari kesungguhannya, Allah berfirman :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ

Maka barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya” (Al Anbiya’ 21 : 94). 

Bila Anak Adam melihat usaha dan amalannya yang tercatat didalam kitab-Nya, ia akan teringat padahal sebelumnya ia telah lupa (Tafsri Ar Razi 31/48). Allah berfirman :

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَى

Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya” (An Nazi’at 79 : 35).

 Disanalah setiap jiwa akan mendapatkan balasan atas segala kerja dan perbuatannya.

 Maka sungguh beruntunglah orang yang memiliki semangat tinggi serta menggunakan kekuatannya untuk berbuat baik untuk kemanusiaan dan membangun masa depan gemilang untuk mereka.

Ya Allah, berilah kami taufiq untuk mengerjakan kebaikan, berderma dan beramal baik, bahagiakan kami dengan anugerah masuk surga, dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Khotbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Kaum Muslimin yang Berbahagia...

Barang siapa yang menginginkan dan mencari akhirat lalu ia berbuat untuknya dengan bersungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Tuhannya, berusaha mendapatkan ridha-Nya, ia yakin dan percaya dengan pahala yang ada di sisi Allah, serta balasan atas usahanya yang besar, maka Allah akan membalas atas amalnya dan memberinya sebaik-baiknya balasan (Tafsir At Thabari 14/537). Allah berfirman :

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik” (Al Isra’ 17 : 19). 

Dan pada hari kiamat :

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak” (Al Hadid 57 : 12). 

Sebesar kebersegeraan seorang mukmin di dunia menuju perbuatan baik, maka di akhirat ia pun akan menjadi pendahulu menuju surga, ia berbahagia dengan amalan dan melihat hasil usahanya, Allah berfirman :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ* لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ* فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ* لَا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةً

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanya. Dalam surga yang tinggi. Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna” (Al Ghasyiyah 88 : 8-11). 

Mereka menempati surga yang dipenuhi kenikmatan dan mereka akan dipanggil oleh Tuhan semesta alam :

إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُورًا

“Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)” (Al Insan 76 : 22). 

Marilah kita berusaha menuju ketaatan dan dzikir kepada Allah, berusaha mencari rezeki yang halal karena pahalanya sangat besar, dan marilah kita berusaha berkhidmat dan berbakti kepada kedua orang tua, mengunjungi keluarga dan kerabat, marilah kita berusaha untuk memberikan manfaat kepada tetangga kita, teman dan membantu para fakir miskin, para janda dan anak yatim, dan marilah kita tanamkan itu semua dalam benak putra putri kita.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

🤲🤲🤲 اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ يَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا أَجْوَدَ مَنْ أَعْطَى، وَيَا أَكْرَمَ مَنْ عَفَا، وَأَعْظَمَ مَنْ غَفَرَ؛ نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.

 اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.

 اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

 اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Khotbah Jum'at:: MAHA SUCI ENGKAU, YAA ALLAH

KhOtbah Jumat, 22 Jumadil Ula 1441 H/ 17 Januari 2020 M

Maha Suci Engkau, Yaa Allah

Khutbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، (يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ)( )

 وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، إِمَامُ الذَّاكِرِينَ، وَقُدْوَةُ الْمُسَبِّحِينَ،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا)( ).

Kaum Mukminin yang Berbahagia...

Tuhan seluruh manusia, Yang Maha Mulia berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah” (Al Isra’ 17 : 44). 

Langit, bumi dan semua makhluk yang ada didalamnya mensucikan, mengagungkan dan meninggikan-Nya (Tafsir Ibnu Katsir 5/78). 

Dan dalam Tasbih terdapat pengagungan dan pemuliaan terhadap Allah Yang Maha Sempurna serta pujian terhadap-Nya yang sesuai dengan sifat-sifat-Nya yang indah. Perlu diingat bahwa bertasbih kepada Allah merupakan ibadah yang paling mudah, ketaatan yang paling agung dan qurbah yang paling mulia, Rasulullah Saw bersabda :

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan diucapkan, pahalanya berat di timbangan dan disenangi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, adalah: Subhanallaah wa bihamdih, Subhanallaahil ‘adhim.” (Muttafaq ‘Alaih). 

Lafadz "Subhanallah" adalah kalimat yang sangat dicintai oleh Allah, diridhai dan sangat senang bila kalimat itu diucapkan (Tafsir Ibnu Katsir 1/225), Rasulullah Saw menegaskan dalam sabdanya :

إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Sesungguhnya ucapan yang paling disukai oleh Allah adalah hendaknya seorang hamba membaca :

 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ” (An Nasa’i, dalam kitab As Sunan Al Kubra 10619).

 Arti lafadz "Subhanakallahumma" adalah aku bermunajat kepada-Mu ya Allah, munajat cinta dan pensucian, pengagungan dan pemurnian, itulah keadaan semua makhluk, semua bertasbih memuji Allah dan menyucikan Dzat-Nya, Allah berfirman :

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

“Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” (Al Isra’ 17 : 44).

 Dan inilah para malaikat yang mulia, mereka memahami kemuliaan dan keagungan Pencipta mereka, sehingga mereka bertasbih memuji dengan mengakui ilmu serta hikmah-Nya dalam penciptaan-Nya dengan berujar :

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Al Baqraah 2 : 32). 

Para nabi dan rasul bertasbih kepada Allah, Allah Swt berfirman mengisahkan nabi Musa AS :

سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” ( Al A’raf 7 : 143). 

Allah Swt berfirman mengisahkan tentang nabi Isa ibnu Maryam AS :

سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ

“Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya)” (Al Maidah 5 : 116). Dan Nabi Muhammad Saw banyak membaca :

سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ 

sebagai pengamalan atas firman Allah Azza wa Jalla :

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat” (An Nashr 110 : 3).

Saudaraku yang Rajin Bertasbih...

 Sesungguhnya kalimat “Subhanaka” merupakan kalimat yang agung yang selalu diulang-ulang oleh seorang mukmin setiap waktu dan memohon dengannya dalam setiap kondisi, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا* وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (Al Ahzab 33 : 41-42). 

Dan bila seorang mukmin menyaksikan salah satu kebesaran dari ciptaan Allah, maka hendaknya ia berpikir dan menghayati qudrah dan keindahan penciptaannya, maka ia akan menyibukkan diri dengan bertasbih dengan berujar :

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran 3 : 191). 

Bila seorang mukmin menyimak kalam Tuhannya, hatinya merasa khusu’, seluruh anggota tubuhnya tunduk pada keaguangan-Nya dan lidahnya bertasbih, Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا* وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi” (Al Isra’ 17 : 107-108). 

Maksudnya adalah bahwa sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan kepada-Mu wahai Tuhan kami atas qudrah-Mu yang sempurna (Tafsir Ibnu Katsir 5/128). 

Seorang mukmin dianjurkan bertasbih setelah berwudlu, agar pahalanya yang besar terjaga dan pada hari kiamat kembali ia mendapatkan balasan yang sempurna, Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ قَالَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ؛ كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ عَلَيْهَا طَابَعٌ مِنْ مِسْكٍ، فَلَمْ يُكْسَرْ حَتَّى يُوَفَّى بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa berwudlu kemudian berdoa setelah berwudlu : Maha suci Engkau ya Allah, segala puji untuk-Mu, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, aku mohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu, maka akan ditulis di lembaran putih, kemudian distempel dengan stempel dari misk, yang tidak akan hancur hingga ia mendapatkan balasan pada hari kiamat” (As Sunan Al Kubra, karangan An Nasa’i 9829, Ad Du’a karangan At Thabrani 1/140 dan Ibnu Abi Syaibah 13/450).

 Bahkan Tasbih disyariatkan dalam salah satu rukun teragung dalam Islam setelah kedua syahadat, yaitu shalat, disyariatkan saat ruku’ dan sujud, dimana seorang mukmin paling dekat dengan Tuhannya, ia bermunajat dengan Tasbih dan penuh pengagungan, Aisyah RA berkata : Rasulullah Saw banyak membaca dalam ruku’ dan sujudnya : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي (Muttafaq ‘Alaih). Seusai shalat seorang mukmin dianjurkan menyempurnakannya dengan bertasbih kepada Tuhannya, Rasulullah Saw bersabda :

أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ، وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ؟ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ». قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: «تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ، دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً

“Maukah aku beritahu kalian sesuatu yang bisa mengejar orang yang telah mendahului kalian dan menyalip jauh orang-orang sesudah kalian. Tidak ada orang yang lebih utama dari kalian kecuali orang yang mengerjakan seperti yang kalian kerjakan ? Mereka menjawab : tentu wahai Rasulullah. Beliau menjawab : baca tasbih, takbir dan tahmid 33 kali usai setiap shalat” (Muttafaq ‘Alaih)

Saudaraku yang Selalu Bertasbih....

Seorang mukmin bila ditimpa kesukaran atau musibah, ia bersegera bertasbih, seperti yang dilakukan oleh nabi Yunus AS, ketika ia membaca :

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim” (Al Anbiya’ 22 : 87). 

Maka Allah mengabulkan dan menyelamatkannya dari kegelapan malam, kegelapan lautan dan kegelapan perut ikan Hiu (Tafsir At Thabari 18/516). Allah berfirman :

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (Al Anbiya’ 22 : 88). Yang kemudian ditegaskan oleh Nabi Saw kepada para sahabatnya :

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا نَزَلَ بِرَجُلٍ مِنْكُمْ كَرْبٌ أَوْ بَلَاءٌ مِنْ بَلَايَا الدُّنْيَا دَعَا بِهِ يُفَرَّجُ عَنْهُ؟ قَالُوا: بَلَى. فَقَالَ: «دُعَاءُ ذِي النُّونِ: (لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ)»( )

“Maukah aku beritahu kalian satu doa, bila seseorang dari kalian ditimpa kesusahan atau salah satu bencana dunia, lalu ia berdoa dengannya, ia kan mendapatkan jalan keluar ? Mereka menjawab : tentu. Beliau bersabda : berdoalah dengan doa Dzin Nun :

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ
(An Nasa’i dalam kitab Al Kubra 10491).

فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ، إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Sesungguhnya tidak seorang muslim pun yang berdoa dengannya, melainkan akan dikabulkan oleh Allah” (At Tirmidzi 3505).

فسُبْحَانَك اللَّهُمَّ رَبَّنَا مَا أَعْظَمَكَ، سُبْحَانَكَ مَا أَكْرَمَكَ، سُبْحَانَكَ مَا أَحْلَمَك، سُبْحَانَك مَا أَرْحَمَكَ

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang yang berdzikir dan bertasbih kepada-Mu, dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagaimana termaktub dalam firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ حَمْدَ الشَّاكِرِينَ، وَنُسَبِّحُهُ تَسْبِيحَ الذَّاكِرِينَ، لَهُ الْحَمْدُ الْحَسَنُ وَالثَّنَاءُ الْجَمِيلُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Jamaah Shalat yang Mulia...

Sesungguhnya seorang mukmin menutup majlis pertemuannya dengan bacaan :

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya :

مَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ ذِكْرٍ؛ كَانَتْ كَالطَّابَعِ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ؛ كَانَتْ كَفَّارَةً لَهُ

“Barang siapa membacanya pada majlis dzikir, maka itu bagaikan penutup yang mempercantiknya dan bila ia dibaca pada majlis yang melalaikan, maka ia sebagai penghapus dosa baginya” (An Nasa’i dalam kitab Al Kubra 10185). Dalam riwayat lain :

غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي ذَلِكَ الْمَجْلِسِ

“Diampuni baginya apa yang ada pada majlis itu” (An Nasa’i dalam kitab Al Kubra 10185). 

Sungguh agung kalimat itu, dengannya Allah akan mengangkat derajatnya dan mengampuni dosa-dosanya. Maka marilah kita berusaha untuk selalu bertasbih kepada Allah di setiap waktu dan marilah kita ajarkan pada putra-putri kita.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ يَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا أَجْوَدَ مَنْ أَعْطَى، وَيَا أَكْرَمَ مَنْ عَفَا، وَأَعْظَمَ مَنْ غَفَرَ؛ نُسَبِّحُكَ اللَّهُمَّ عَدَدَ مَا خَلَقْتَ، وَمِلْءَ مَا خَلَقْتَ، سُبْحَانَكَ رَبَّنَا عَدَدَ مَا فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، وَمِلْءَ مَا فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، سُبْحَانَكَ عدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُكَ، وَمِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُكَ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَمِلْءَ كلِّ شيءٍ.

اللَّهُمَّ إنا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

 اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.

 اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.

اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Friday, January 3, 2020

Khotbah Jum'at: PERUMPAMAAN SEORANG MUKMIN


Khotbah Jumat, 08 Jumadil Ula 1441 H/ 03 Januari 2020 M

Perumpamaan Seorang Mukmin

Khotbah Pertama::

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَعَدَ عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ بِالْأَجْرِ الْعَظِيمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ)( ).

Kaum Mukminin yang Mulia...

Sesungguhnya Allah Swt memerintahkan Nabi kita Muhammad Saw untuk menyampaikan berita gembira kepada kaum mukminin, bahwa bagi mereka di sisi Allah pahala dan karunia yang besar, Allah berfirman :

وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah” (Al Ahzab 33 : 47). 

Karunia yang besar dimaksud adalah dimasukkan ke dalam surga, Allah berfirman :

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ لَهُمْ مَا يَشاؤُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar” (As Syura 42 : 22). 

Lalu siapakah kaum mukminin itu ? dan seperti apakah sifat-sifat mereka ? 

Yang dimaksud dengan orang mukmin adalah mereka yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan beriman kepada takdir baik buruk, Allah berfirman :

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demkian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya” (Al Baqarah 2 : 285). 

Nabi Saw menganjurkan kaum mukminin untuk selalu melakukan ketaatan dan meninggalkan yang diharamkan agar keimanan mereka terus bertambah, sebagaimana beliau menerangkan kepada para sahabatnya beberapa sifat, amalan, serta ciri-ciri yang dapat menambah keimanan kaum mukminin dan dapat mengangkat derajat mereka di dalam surga, disebutkan dalam sabdanya : “Perumpamaan seorang mukmin”

Kaum Mukminin yang Mulia...

Rasulullah Saw menyebutkan dalam sabdanya beberapa perumpamaan seorang bagi kaum mukminin, diantaranya yang termuat dalam sabdanya :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ؛ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ، وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ؛ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ، لَا رِيحَ لَهَا، وَطَعْمُهَا حُلْوٌ

“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah kurma, tidak berbau namun rasanya manis” (Muttafaq ‘Alaih).

 Bacaan Al-Quran seorang mukmin akan berpengaruh pada lahir dan batinnya, hingga jiwanya menjadi bersih dan akhlaknya meningkat mulia, yaitu seperti diperumpamakan oleh Rasulullah Saw dengan Utrujjah, yaitu buah yang menyerupai lemon, yang bermanfaat bagi yang dekat dengannya bahkan yang jauh juga, karena keindahan warna dan wangi aromanya yang terdapat padanya, serta rasanya yang enak (Umdatul Qari, Syarah Shahih Bukhari 20/38).

 Sedangkan seorang mukmin yang tidak begitu peduli membaca Al Quran, maka Nabi Saw mengumpamakannya seperti buah kurma, ia baik dan manis ketika dimakan, akan tetapi manfaatnya tidak sampai dan tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang yang mencicipinya.

 Maka hendaknya setiap kita bertanya pada diri kita sebagai kaum mukminin, bagaimana interaksi kita dengan Al Quran ? Dan termasuk golongan manakah kita dari dua golongan diatas ?

Saudaraku Seiman yang Berbahagia...

Rasulullah Saw mengumpamakan seorang mukmin seperti lebah, disebutkan dalam sabdanya:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ عَلَى عُودٍ فَلَمْ تَكْسِرْ وَلَمْ تُفْسِدْ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, ia makan yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik, bila ia hinggap tidak membuat dahan patah dan rusak” (Ahmad 6872 dan Abul Qasim Al Asfahani dalam kitab At Targhib dan At Tarhib : 76). 

Seorang mukmin itu dalam segala hal selalu dalam kondisi baik, artinya ia mencari rezeki yang halal dan baik, menghiasi diri dengan ucapan dan perbautan yang baik, bersungguh-sungguh dalam bekerja, tidak bosan dan lelah dan tidak menyakiti seorang pun, bahkan ia selalu menyebarkan manfaat dimana saja berada. Dan ketika cobaan datang menderanya, kekuatannya semakin bertambah, Rasulullah Saw dalam sabdanya menyerupakan seorang mukmin dengan sebuah tanaman :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ؛ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُمِيلُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاءُ

“Perumpamaan seorang mukmin seperti tanaman, angin menerpanya ke kiri dan ke kanan, dan seorang mukmin senantiasa mengalami cobaan” (Muttafaq ‘Alaih, lafal Muslim). 

Bila cobaan banyak menerpanya, dan ketika musibah itu menimpa badannya, keluarga atau hartanya, ia tetap tabah dan bersabar, berusaha mengembalikan semangat dan kekuatannya, karena ia yakin bahwa cobaan itu dapat menghapus keburukan dan mengangkat derajatnya (Syarah An Nawawi atas hadits Muslim 17/153), ia menjalani kehidupannya dan meneruskan kesuksesannya dengan penuh percaya diri, berbekal tawakkal kepada Tuhannya, sesuai dengan firman Allah :

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal” (Al Maidah 5 : 11). 

Ketika seorang mukmin berbuat dosa, ia segera kembali dengan menjalani ketaatan kepada Penciptanya dan kembali beristiqomah, hal ini seperti perumpamaan tangkai, terkadang miring oleh terpaan angin, kemudian tegak kembali setelah angin berlalu, Rasulullah Saw bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ السُّنْبُلَةِ؛ تَمِيلُ أَحْيَانًا، وَتَقُومُ أَحْيَانًا

“Perumpamaan seorang mukmin seperti tangkai, terkadang miring dan terkadang berdiri” (Musnad Ahmad 23/83)

Bila seorang mukmin terjatuh pada keburukan, ia bersegera beristighfar dan bertaubat, kembali kepada Tuhannya dengan mengamalkan firman-Nya :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (An Nur 24 : 31)

Kaum Mukminin yang Terhormat...

Rasulullah Saw bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ شَجَرَةٍ خَضْرَاءَ، لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَلَا يَتَحَاتُّ… هِيَ النَّخْلَةُ

“Perumpamaan seorang mukmin bagaikan pohon yang hijau, daunnya tidak pernah berjatuhan dan berguguran.. yaitu pohon kurma” (Muttafaq ‘Alaih).

 Para ulama berpendapat bahwa maksud Nabi Saw menyamakan seorang mukmin dengan pohon kurma adalah karena kebaikannya yang banyak, pohonnya yang rindang, buahnya yang bermanfaat, serta termasuk tumbuhan yang indah, bentuk buahnya yang enak dipandang, dan semuanya bermanfaat (Syarah An Nawawi atas hadits Muslim 17/154),

Begitu juga seorang mukmin, memiliki kebaikan yang menyeluruh, manfaatnya luas, bila kau bersahabat dengannya, kau akan mendapatkan manfaat, bila kau bergaul dengannya kau akan beruntung dan bila kau bermusyawarah dengannya kau akan mendapatkan nasehat darinya (Tafsir Al Qurthubi 9/360). 

Jadi pohon keimanan dapat dikenali dengan buahnya yang baik, mulai dari amalan shaleh dan akhlak yang mulia, dengannya seorang mukmin akan mendapatkan cinta semua orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya.

🤲 Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang beriman, sematkan pada kami akhlak dan sifat-sifat dan akhlak mukmin sejati serta masukkanlah kami kedalam surga bersama mereka, dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

 أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ حَمْدَ الشَّاكِرِينَ، لَهُ الْحَمْدُ الْحَسَنُ وَالثَّنَاءُ الْجَمِيلُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

 أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Para Jamaah Shalat yang Mulia...

Rasulullah Saw menjelaskan pada kita bahwa manusia berbeda-beda seperti berbedanya tingkatan barang tambang, Beliau bersabda :

النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ

“Manusia ibarat barang tambang berharga seperti perak dan emas” (Muttafaq ‘Alaih, lafal Muslim). 

Rasulullah Saw menjelaskan bahwa esensi seorang mukmin itu murni dan bersih, tidak berubah dan tidak tergantikan, disebutkan dalam sabda Nabi Saw :

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْقِطْعَةِ مِنَ الذَّهَبِ، نَفَخَ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا، فَلَمْ تَتَغَيَّرْ وَلَمْ تَنْقُصْ

“Demi jiwa Muhammad yang ada di genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin bagaikan potongan emas yang disepuh oleh pemiliknya yang tidak pernah berubah dan tidak pernah berkurang” (Ahmad 6872 dan Abul Qasim Al Asfahani dalam kitab At Targhib dan At Tarhib : 76). 

Dan seorang mukmin yang tekun membaca Al Quran dan menyimaknya, maka keimanannya akan bertambah, kekhusuannya akan tampak dan amalan baiknya akan meningkat, seperti yang termaktub dalam firman Allah :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ* الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ* أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya” (Al Anfal 8 : 2-4). 

Seorang mukmin itu selalu bersungguh-sungguh untuk menggapai hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya, tiada lelah dan tiada malas untuk membahagiakan dirinya dan membahagiakan orang di sekitarnya, pada mereka tidak didapati dalam ucapan dan tindakannya yang menyakiti orang lain atau mencederai perasaan mereka, Nabi Saw bersabda :

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berperilaku keji dan suka berkata kasar” (Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad 1/116 dan At Tirmidzi 1977). 

Marilah kita terapkan nilai-nilai luhur dan akhlak mulia ini, dan marilah kita tanamkan pada hati putra putri kita.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

🤲🤲🤲 اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ يَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا أَجْوَدَ مَنْ أَعْطَى، وَيَا أَكْرَمَ مَنْ عَفَا، وَأَعْظَمَ مَنْ غَفَرَ؛ نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.

اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.

اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيمِ.

 اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.