Friday, December 27, 2019

Khotbah Jum'at: JANGAN RUSAK JIWAMU DENGAN NARKOBA

Khotbah Jum’at, 1 Jumadil Ula 1441 H / 27 Desember 2019

Jangan Rusak Jiwamu Dengan Narkoba

Khotbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، خَلَقَ النَّفْسَ وَسَوَّاهَا، وَبَيَّنَ لَهَا أَسْبَابَ هُدَاهَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، الْقَائِلُ: «اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا»( ).

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ: (وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ)( ).

Kaum Muslimin yang Mulia...

Sesungguhnya Allah telah menciptakan jiwa manusia dan memuliakannya dengan meniupkan ruh padanya, memerintahkan malaikat untuk sujud kepadanya, jiwa (nafs) disebutkan dalam Al Quran lebih dari dua ratus sembilan puluh tempat, ini berarti menunjukkan atas kedudukannya yang tinggi dan mulia, dan Allah telah bersumpah atas nama jiwa tersebut:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanNya)” (As Syams 91 : 7). 

Maksudnya ialah, jiwa itu Allah ciptakan dengan sempurna, lurus dan sesuai dengan fitrah (Tafsir Ibnu Katsir 8/411), diperkenalkan kepadanya jalan kebaikan untuk ditempuhnya, dijelaskan kepadanya jalan keburukan agar tidak terjerumus kedalamnya (Tafsir Al Qurthubi 20/75), Allah berfirman :

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kedurhakaan dan ketakwaannya” (As Syams 91 : 8). 

Allah menegaskan dan memerintahkan kita agar menjaga dan melindunginya dari semua yang dapat membahayakan dan merusaknya, Allah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya)” (Al An’am 6 : 151).

 Menjaga jiwa termasuk salah satu tujuan yang agung, yang Allah turunkan di dalam kitab-kitab-Nya untuk diwujudkan, Allah mengutus rasul-rasul-Nya yang mulia untuk menegaskan hal tersebut, dan sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Nya serta kasih sayang kepada mereka, Allah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (An Nisa’ 4 : 29). 

Allah mengharamkan semua yang dapat menyakiti dan membahayakan hidup mereka. Dan narkoba merupakan barang yang diharamkan dan paling berbahaya, karena ia dapat merenggut jiwa yang dimuliakan oleh Allah, setelah badan mereka rusak serta sel-sel otak hancur, harta mereka sirna, kebahagiaan punah, keharmonisan keluarga terbengkalai, dan kehidupan pecandu narkoba berubah menjadi kehidupan yang sengsara dan melelahkan, sudah berapa banyak jiwa yang mencoba memakai narkoba, awalnya mereka termotivasi oleh coba-coba, rasa ingin tahu atau ajakan teman yang buruk, mereka lalai konsekuensinya dan efeknya yang menyakitkan, memang sangat susah lari dari cengkeraman narkoba ini, dan kini jumlah pecandunya sudah mencapai dua ratus tujuh puluh satu juta seluruh dunia, bahkan jumlah korban kecanduan narkoba lebih besar daripada korban perang, dimana narkoba ini telah membunuh lebih dari enam ratus ribu jiwa tahun ini, sebagaimana lima tahun belakangan ini banyak pengguna narkoba untuk tujuan non medis yang meninggal, narkoba adalah racun mematikan yang menggoda jiwa, kemudian menghancurkan dan menghabiskan nyawanya. 

Allah mengancam setiap orang yang membunuh dirinya dengan racun atau dengan lainnya, disebutkan dalam firman-Nya :

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

“Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (An Nisa’ 4 : 30). 

Maksudnya bahwa orang yang menyebabkan dirinya binasa dengan mengkonsumsi yang dilarang oleh Allah secara berlebihan dan mereka mengetahui bahwa itu diharamkan : “maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka”. 

Ancaman ini pasti agar kita semua menjauh dari semua yang diharamkan yang menyebabkan pelakunya dijebloskan ke neraka, diantaranya adalah narkoba, dimana pecandunya akan menanggung sakitnya, dimasukkan ke dalam neraka atau akan meninggal karenanya.

 Sebagaimana Rasulullah Saw telah menjelaskan akibat dari pembunuhan diri dengan menggunakan narkoba dan sejenisnya, beliau bersabda :

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِسُمٍّ، فَسُمُّهُ بِيَدِهِ، يَتَحَسَّاهُ -أَيْ: يَتَنَاوَلُهُ- فِي نَارِ جَهَنَّمَ، خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, maka racunnya ada di tangannya, kelak ia akan meminumnya sedikit-demi sedikit di dalam neraka Jahannam, kekal di sana selama-lamanya” (Ahmad 7448 dan At Tirmidzi 2043)

Hamba Allah yang Mulia...

Sesungguhnya jiwa manusia dapat menikmati kebahagiaan ketika ia aman dan tenteram, hal ini berbeda dengan kondisi kejiwaan pecandu narkoba, ia selalu dalam kecemasan, depresi, kelelahan, tegang dan bergejolak.

Jaringan terorisme pun memahami bahaya narkoba, maka mereka menjadikannya sebagai senjata yang ditembakkan ke negara-negara dan masyarakat yang aman dan damai; Negara yang ingin mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya, sehingga narkoba menjadi ancaman terbesar bagi dunia serta menjadi sumber utama kecemasan bagi masyarakat internasional.

Kerena itu, dalam hal ini, UAE ikut berkontribusi dalam menyelesaikan masalah tersebut dan demi terwujudnya ketentraman dunia, dan UAE mengajak semua pihak yang memiliki informasi mengenai kegiatan yang mencurigakan, agar segera melaporkan pada pihak berwajib, karena melindungi generasi serta memberikan pencerahan tentang bahaya narkoba serta efek buruknya merupakan tanggung jawab bersama semua masyarakat, terutama para orang tua, saudara-saudari, para kerabat, para guru, para pendidik, karena merekalah yang banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak dan para pelajar baik di rumah maupun di sekolah mereka.

 Rasulullah Saw telah bersabda :

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ingatlah, setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya” (Muttafaq ‘Alaih). 

Mari kita bekerja sama memikul tanggung jawab ini, karena ia berkaitan dengan generasi dan masa depan negari kita tercinta.

🤲 Ya Allah, berikan kepada jiwa-jiwa kami ketakwaan, sucikan ia, karena Engkaulah sebaik-baiknya Dzat yang menyucikannya, lindungilah putra-putri kami, berkahilah generasi kami dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

 أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Khotbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِينَ لِنَعْمَائِهِ، الرَّاغِبِينَ فِي رَحْمَتِهِ وَعَطَائِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Jamaah Shalat yang Mulia...

Hendaklah diketahui oleh pengguna narkoba, bahwa pintu taubat dan rahmat terus terbuka untuknya bila ia mau bertaubat, beristighfar dan mau kembali kepada Tuhannya, Allah berfirman :

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An Nisa’ 4 : 110).

 Beruntunglah orang yang bersungguh-sungguh menyucikan dirinya dengan membenahi akhlak dan perbuatannya serta mengarahkannya pada ketaatan terhadap Penciptanya (Tafsir Ibnu Katsir 8/381), dengan memperbanyak amal shalih dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan semua bentuk ketaatan, ia akan mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan, Allah berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu” (As Syams 91 : 9)

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

 اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ

اللَّهُمَّ أَفِضْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلِكَ، وَانْشُرْ عَلَيْنَا رَحْمَتَكَ، وَتَمِّمْ عَلَيْنَا نِعْمَتَكَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ، وَاجْمَعْ عَلَى الْهُدَى أَمْرَنَا، وَاجْعَلِ التَّقْوَى زَادَنَا، وَالْجَنَّةَ مَآبَنَا، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِالْحِلْمِ، وَارْفَعْنَا بِالْعِلْمِ، وَهَبْ لَنَا نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ

اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.

اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُم وَالأمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.

 اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ.

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Saturday, December 21, 2019

Khotbah Jum'at: ABDULLA BIN MAS'UD

KhOtbah Jumat, 27 Dzul Hijjah 1439 H/7 September 2018 M
Abdullah bin Mas’ud

KhOtbah Pertama::

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا يَلِيقُ بِجَلَالِ وَجْهِهِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ؛ قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:( وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)().

Para jamaah shalat: kita berada di awal tahun ajaran baru –semoga Allah menjadikan tahun kesuksesan dan keistimewaan-, hendaknya kita mendorong para siswa untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, karena ilmu pengetahuan merupakan sebaik-baik hal yang dikumpulkan dan dimanfaatkan. Nabi SAW mengibaratkan pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia, bagaikan pentingnya air bagi kehidupan, Nabi SAW bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ، كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ

Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagaikan hujan yang lebat” (Muttafaq ‘Alaih). 
Oleh karena itu para Sahabat RA menaruh perhatian penuh pada ilmu, mereka bersungguh-sungguh, sehingga banyak diantara mereka yang sangat mumpuni dalam keilmuan, diantaranya adalah Abdullah bin Mas’ud RA, ia pantas menjadi teladan bagi para siswa dan para guru, sebagiaman ia termasuk para pendahulu, ia berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُنِي سَادِسَ سِتَّةٍ مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ غَيْرُنَا

Aku melihatku termasuk dari enam pertama yang tidak muslim di atas bumi selain kami” (Ibnu Hibban 7062). Sejarahnya dipenuhi dengan pujian, prestasi dan keilmuan (Siyar A’lamun Nubala’ 3/281). 
Ia adalah seorang alim, mufassir dan faqih, ia adalah orang pertama yang membaca Al Quran dengan suara keras di Makkah (At Thabaqat Al Kubra 3/112 dan Siyar A’lamun Nubala’ 3/284). Cintanya pada ilmu mendorongnya untuk belajar langsung pada Nabi SAW, ia (Abdullah bin Mas’ud) berkata: Nabi SAW dan Abu Bakar datang, lalu aku berkata: ajarilah aku. Kemudian Beliau mengusap kepalaku dan berdoa: Allah merahmatimu, sesungguhnya engkau anak yang yang berilmu” (Al Mu’jam Al Awsath, karangan At Thabrani 7621, Ahmad 3598 dan 3599). 
Ia mendapatkan keberkahan dari doa Nabi SAW. Ia memiliki semangat dan kemauan yang tinggi untuk belajar, ia selalu bersama dengan Nabi SAW agar mendapatkan curahan ilmu dan petunjuk, maka ketika Nabi SAW melihat semangatnya dalam menuntut ilmu, Nabi SAW mendekatkan padanya, sehingga Abu Musa Al Asy’ari RA berkata:

قَدِمْتُ أَنَا وَأَخِي إِلَى الْمَدِينَةِ، فَكُنَّا نَظُنُّ ابْنَ مَسْعُودٍ وَأُمَّهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ ( مِنْ كَثْرَةِ دُخُولِهِمْ وَلُزُومِهِمْ لَهُ

Ketika aku dan saudaraku datang ke Madinah, kami menyangka bahwa Ibnu Mas’ud dan ibunya termasuk keluarga Rasulullah Saw karena seringnya mereka masuk dan berada di rumah beliau” (Muttafaq ‘Alaih).
Ia (Ibnu Mas’ud) bersemangat untuk mengambil ilmu dari sumbernya, ia berkata: aku mengambil langsung dari mulut Nabi SAW sebanyak 70 surah dan tidak seorang pun yang memperdebatkan mengenai itu denganku” (Ahmad 3598 dan 3599).
Ia bersungguh-sungguh dan bersusah payah dalam menimba ilmu, Ia berkata:

مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ إِلَّا أَنَا أَعْلَمُ أَيْنَ أُنْزِلَتْ، وَفِيمَ أُنْزِلَتْ، وَلَوْ أَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنِّي بِكِتَابِ اللَّهِ تَبْلُغُهُ الْإِبِلُ لَرَكِبْتُ إِلَيْهِ

Tidak ada surah dalam Kitabullah, melainkan aku tahu dimana diturunkan, tentang apa yang diturunkan, dan jika aku tahu bahwa ada seseorang lebih mengerti dariku mengenai Kitabullah, maka aku akan berangkat ke sana walaupun harus mengendarai unta” (Muttafaq ‘Alaih, lafal Muslim). Ia mengamalkan apa yang ia pelajari, ia mengikuti petunjuk Rasulullah SAW dalam segala hal, Hudzaifah bin Al Yaman RA berkata:

مَا أَعْرِفُ أَحَدًا أَقْرَبَ سَمْتًا وَهَدْيًا بِالنَّبِيِّ ( مِنِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

Aku tidak mengenal seseorang yang paling mendekati perangai serta menetapi petunjuk Nabi SAW melebihi Ibnu Umm Abd” (Bukhari 3762). Maksudnya : Abdullah bin Mas’ud RA. Khudzaifah RA: sesungguhnya ia manusia yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dalam menetapi hidayah, mengambil keputusan dan saat berkhutbah (Siyar A’lamun Nubala’ 3/287).
Ia (Ibnu Mas’ud) mendalami semua yang dipelajarinya, sehingga ia dicintai oleh Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW senang menyimak bacaan Quran darinya, Beliau berkata padanya:

اقْرَأْ عَلَيَّ». قَالَ: أَقْرَأُ عَلَيْكَ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ ( :« إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي». فَقَرَأَ عَلَيْهِ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ النِّسَاءِ إِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى:( فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا) قَالَ:« أَمْسِكْ». فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ (

Bacalah untukku”. Ia bertanya: Aku membacakan untukumu, sedangkan ia diturunkan padamu? Beliau bersabda: Sesungguhnya aku senang mendengarkan dari orang lain”. Kemudian ia membacakan padanya dari awal surah An Nisa’ hingga ayat:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
Beliau berkata: hentikan. Dan kedua mata Nabi SAW berlinang air mata” (Muttafaq ‘Alaih, lafal Bukhari).
Nabi SAW menganjurkan para sahabatnya agar belajar Al Quran dari Ibnu Mas’ud RA, disebutkan dalam sabdanya:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

Barang siapa ingin membaca Al Quran dengan bacaan yang tepat seperti saat diturunkan, hendaklah ia membaca dengan bacaan Ibnu Umm Abd” (Ibnu Majah 138 dan Ahmad 35). Ilmu telah mengangkat, meninggikan kedudukan dan namanya tercatat dalam sejarah.
Kaum muslimin: Abdullah bin Mas’ud RA memiliki ilmu yang melimpah, kedudukannya tinggi di hadapan para sahabat, mereka mengetahui kemampuannya dan menghargai ilmunya, Umar RA berkata: Ia bagaikan bejana yang dipenuhi ilmu” (Ibnu Sa’d dalam kitab At Thabaqat 3/156 dan Tarikh Islam karangan Ad Dzahabi 2/205). Ketika ia diutus ke Kufah, 
Umar berpesan pada mereka: sesungguhnya aku -demi Allah- mendahulukannya atas diriku, maka belajarlah darinya (At Thabaqat Al Kubra 3/116). Ia (Ibnu Mas’ud) merupakan teladan bagi para guru, yang memperlakukan murid-muridnya dengan kelembutan dan keindahan akhlak. 
Suatu hari sebagian orang berkumpul di rumah Ali bin Abi Thalib RA. Mereka bertanya : Kami belum pernah melihat seseorang yang lebih mulia akhlaknya, lebih tinggi pengajarannya, lebih wara’, dan lebih baik persahabatannya melebihi Ibnu Mas’ud. Lalu Ali RA berkata: Sesungguhnya aku bersaksi padamu, bahwa pendapatku sebagaimana pendapat mereka bahkan lebih (Mushannaf Abi Syaibah 32241 dan At Thabaqat Al Kubra 3/115).
Kita belajar dari sahabat mulia ini; Abdullah bin Mas’ud RA mengenai perhatiannya terhadap penampilan serta wewangian yang digunakannya, dimana termasuk sahabat yang paling baik pakaiannya dan paling harum wewangiannya (At Thabaqat Al Kubra 3/116 dan Siyar A’lamun Nubala’ 3/281). Ia dikenal dengan wewangiannya yang harum di malam hari (At Thabaqat Al Kubra 3/117). Ia dicintai oleh sesamanya karena ilmunya yang melimpah, akhlaknya yang baik, jiwanya yang bersih, penampilannya yang indah, mereka senang berjumpa dengannya, mereka tidak bosan dengan ucapannya dan tidak pernah puas dengan ilmunya, seorang muridnya berkata: Abdullah mengajar kami setiap Kamis, ia menyampaikan beberapa hal, ia diam pada waktunya dan kami berharap terus ia menambah penyampaian ilmunya” (At Thabaqat Al Kubra 3/116).
Betapa indahnya bila para siswa berteladan pada sahabat mulia ini dalam ketekunannya mencari ilmu, sebagaimana betapa baiknya bila para guru berteladan pada akhlak, penampilan serta pengetahuannya yang melimpah.
Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk berteladan padanya, berilah kami ilmu yang bermanfaat, amalan yang shalih dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَهُ الْحَمْدُ الْحَسَنُ وَالثَّنَاءُ الْجَمِيلُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Para jamaah shalat: dunia kini berpacu dengan waktu untuk mendapatkan ilmu, untuk menggapai yang baru, mereka berlomba-lomba dalam berinovasi dan penemuan dalam berbagai cabang keilmuan. Wahai para siswa, kalian adalah harapan bangsa, mari bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, gunakan waktu dan tenaga kalian dalam menggapai ilmu, Abdullah bin Mas’ud RA berkata: Sesungguhnya aku tidak suka melihat seseorang yang kosong, tidak dalam pekerjaan dunia dan pekerjaan akhirat (At Thabari dalam kitab Al Kabir 9/106). Bila kalian bersungguh-sungguh, maka kalian akan menggapai seperti yang digapai orang-orang sebelum kalian bahkan lebih, kedudukan kalian akan terangkat di dunia dan di akhirat, kedua orang tua kalian akan menikmati kebahagiaan, kalian juga berkontribusi dalam kemajuan negara kalian, sehingga kalian juga akan mendapatkan kesuksesan dalam tugas kalian dan masa depan kalian. Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Mujadilah 58 : 11). 
Risalah keilmuan merupakan tanggung jawab bersama antara siswa, wali murid, guru dan institusi sekolah, oleh karena itu, marilah kita sambut tahun ajaran baru ini dengan kerja sama antara semua agar terwujud tujuan pendidikan.

اللَّهُمَّ ارْضَ عَنْ سَيِّدِنَا عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ.
هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى مَنْ أُمِرْتُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ، قَالَ تَعَالَى:( إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)(). وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ (:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا»().
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْبَارِّينَ بِآبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ، الْمُحْسِنِينَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَأَرْحَامِهِمْ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ، الشَّيْخْ خليفةْ بن زايدْ لِكُلِّ خَيْرٍ، وَاحْفَظْهُ بِحِفْظِكَ وَعِنَايَتِكَ، وَوَفِّقِ اللَّهُمَّ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ: الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، وَالشَّيْخ مَكْتُوم، وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رَحْمَتِكَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ رَحْمَةً وَاسِعَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَأَفِضْ عَلَيْهِمْ مِنْ خَيْرِكَ وَرِضْوَانِكَ. وَأَدْخِلِ اللَّهُمَّ فِي عَفْوِكَ وَغُفْرَانِكَ وَرَحْمَتِكَ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجَمِيعَ أَرْحَامِنَا وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا دَيْنًا إِلَّا قَضَيْتَهُ، وَلَا مَرِيضًا إِلَّا شَفَيْتَهُ، وَلَا مَيْتًا إِلَّا رَحِمْتَهُ، وَلَا حَاجَةً إِلَّا قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ، فَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَبِالْإِجَابَةِ جَدِيرٌ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ لِدَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ اسْتِقْرَارَهَا وَرَخَاءَهَا، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا، وَزِدْهَا فَضْلًا وَنِعَمًا، وَحَضَارَةً وَعِلْمًا، وَبَهْجَةً وَجَمَالًا، وَمَحَبَّةً وَتَسَامُحًا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا السَّعَادَةَ وَالْأَمَانَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَاجْزِ خَيْرَ الْجَزَاءِ أُمَّهَاتِ الشُّهَدَاءِ وَآبَاءَهُمْ وَزَوْجَاتِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ جَمِيعًا، اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، الَّذِينَ تَحَالَفُوا عَلَى رَدِّ الْحَقِّ إِلَى أَصْحَابِهِ. اللَّهُمَّ كُنْ مَعَهُمْ وَأَيِّدْهُمْ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ أَهْلَ الْيَمَنِ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْمَعْهُمْ عَلَى كَلِمَةِ الْحَقِّ وَالشَّرْعِيَّةِ، وَارْزُقْهُمُ الرَّخَاءَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْشُرِ الاِسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

HYPERLINK “https://www.awqaf.gov.ae/ar/Pages/FridaySermonDetail.aspx?id=6880” https://www.awqaf.gov.ae/ar/Pages/FridaySermonDetail.aspx?id=6880

Friday, December 20, 2019

Khotbah Jum'at: RUMAH SEBAGAI TEMPAT TINGGAL DAN KETENTRAMAN

 Khotbah Jumat, 23 Rabiul Akhir 1441 H/ 20 Desember 2019 M

Rumah sebagai Tempat Tinggal dan Ketentraman

Khotbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَنَا الْبُيُوتَ فَضْلًا مِنْهُ وَمِنَّةً، وَجَعَلَهَا لَنَا سَكَنًا وَرَحْمَةً، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، 

فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ: (وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)( ).

Para Jamaah Shalat yg Budiman... 

Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا

Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal” (An Nahl 16 : 80). Ayat ini menerangkan bahwa Allah menganugerahkan kita nikmat rumah yang dihuni oleh kedua orang tua dan putra-putri kita, rumah adalah tempat tinggal, rumah adalah tempat kebahagiaan, rumah adalah tempat dimana manusia menikmati ketentraman, cinta, kasih sayang dan kenyamanan, itu semua merupakan tujuan utama didirikannya rumah dan rumah tangga, Allah Swt berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar Rum 30 : 21).

 Lalu, bagaimana kita dapat menggapai ketentraman dan kedamaian dalam rumah kita ?

Hamba Allah yang Mulia...

Sesungguhnya seorang mukmin yang memasuki rumahnya dengan berdzikir kepada Tuhannya, maka Allah akan melindunginya dari syetan, melindunginya dan keluarganya dari godaan, keburukan dan fitnah syetan, melindungi dalam makanan dan minuman, saat tidur dan saat terbangun, Nabi Saw menjelaskan dalam sabdanya :

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ

“Bila seseorang memasuki rumahnya, lalu ia berdzikir kepada Allah saat masuk rumah dan saat makannya. Syetan itu berkata : tidak ada tempat tidur dan tidak ada makan malam bagi kalian” (Muslim 2018). 

Maksudnya : syetan berkata kepada sesamanya : Allah telah melindungi orang tersebut dan rumahnya dari kalian, dengan dzikir dan permohonannya kepada Allah. Bila seorang mukmin beristiqomah dalam dzikir, dalam membaca dan menyimak Al Quran, maka Allah akan membangkitkan kehidupan dalam rumahnya, Rasulullah Saw bersabda :

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ، وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ؛ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah dan yang tidak disebut nama Allah didalamnya, bagaikan hidup dan mati” (Muslim 779).

 Rumah yang mendapatkan keberkahan serta penghuninya menikmati kehidupan yang baik, semua itu disebabkan oleh dzikir mereka kepada Tuhan semesta alam dan rajin membaca Al Quran didalam rumah tersebut. Dan diantara surah yang dapat melindungi rumah seseorang adalah surah Al Baqarah, Nabi Saw bersabda :

اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَدْخُلُ بَيْتًا تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Bacalah surah Al Baqarah di rumah kalian, karena sesungguhnya syetan tidak masuk ke rumah yang dibacakan surah Al Baqarah didalamnya” (Syu’bul Iman, karangan Al Baihaqi 2/453)

Selanjutnya bila seorang mukmin menunaikan sebagian ibadah (shalat sunah) di rumahnya, maka rumah itu akan terlindungi, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, dimana beliau menunaikan sebagian shalatnya di rumahnya, beliau bersabda :

اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ

“Jadikanlah sebagian shalat ditunaikan di rumah kalian” (Muttafaq ‘Alaih). Lalu dijelaskan oleh beliau mengenai keutamaan shalat di rumah :

صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ، إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ

“Shalatlah wahai manusia di rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat maktubah” (Muttafaq ‘Alaih).

 Sebagai pertanda baik ketika ia shalat sunat di rumah bahwa rumah seorang mukmin juga ikut menjadi saksi atas ketaatannya disamping ketaatan yang ditunaikan di masjid, dan para malaikat akan berbondong-berbondong menuju rumahnya dan keluarganya akan mendapatkan kebahagiaan, melimpahnya pahala dan keberkahan (Faidhul Qadir 1/535). Nabi Saw bersabda :

إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ؛ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا

“Bila seseorang telah menunaikan shalatnya di masjid, maka hendaklah ia memberi jatah shalat di rumahnya, karena sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan dalam rumahnya melalui shalatnya” (Muslim 778).

 Dan diantara kebaikan itu adalah ia kan menjadi teladan bagi keluarganya dan sebagai pelipat ganda pahala dan balasanya, karena sesungguhnya Allah melipatgandakan pahala shalat nafilah yang dilakukan di rumah, sebagaimana pelipat gandaan pahala shalat wajib di masjid, Rasulullah Saw bersabda :

تَطُوُّعُ الرَّجُلِ فِي بَيْتِهِ يَزِيدُ عَلَى تَطَوُّعِهِ عِنْدَ النَّاسِ؛ كَفَضْلِ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الرَّجُلِ وَحْدَهُ

“Shalat sunnah seseorang di rumahnya lebih utama daripada shalat sunnah yang ditunaikan di hadapan manusia, seperti keutamaan shalat berjamaah terhadap shalat sendirian” (Mushannaf Abdur Razzaq 3/70 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2256). 

Bila seorang suami mengajak keluarga dalam ibadah, maka pahalanya akan bertambah besar serta mendatangkan rahmat, Nabi Saw bersabda :

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ… رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا

“Allah merahmati seorang suami yang bangun sebagian malam, lalu shalat kemudian membangunkan isterinya.. Allah merahmati seorang isteri yang bangun sebagian malam, lalu shalat kemudian membangunkan suaminya” (Abu Daud 1308, 1450, An Nasa’i 1610 dan Ibnu Majah 1336). 

Betapa mulianya ketika Allah menyaksikan sebuah keluarga saat mereka sedang ruku’, sujud, berdzikir dan membaca Al Quran.

Kaum Muslimin yang Mulia...

Sesungguhnya Allah Swt menginginkan kita menyebarkan salam dalam rumah kita, disebutkan dalam firman-Nya :

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

“Dan apabila kamu memasuki (suatu rumah dari ) rumah-rumahmu (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salah yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik” (An Nur 24 : 61). 

Maksudnya : bila kalian wahai manusia masuk kedalam rumah kalian, maka ucapkanlah salam kepada keluarga kalian (Tafsir At Thabari 17/378), karena salam adalah ungkapan baik yang diperintahkan oleh Tuhan kalian, serta mendatangkan keberkahan pada rumah kalian dan berpahala besar di sisi Tuhan kalian (Tafsir At Thabari 17/384) dan (Tafsir Ar Razi 24/423). 

Seorang ulama berpendapat : bila seorang mukmin memasuki rumahnya dan didalamnya ada orang, maka ucapkanlah :

 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

dan bila tidak ada seorang pun di dalam rumah, maka ucapkanlah :
 السَّلَامُ 
عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

 (keselamatan atas kami
 dan atas hamba-hamba Allah yang shaleh) (Tafsir Al Qurthubi 12/319) Tafsir At Thabari 17/379) dan Al Kafi fi Fiqh Ahlil Madinah 2/11332).

Demikian pula hendaknya seseorang memenuhi rumahnya dengan kebaikan dan keimanan, seperti yang diteladankan oleh para nabi dan para rasul, Nabi Nuh AS berkata :

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا

“Ya Tuhanku ! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman” (Nuh 71 : 28). 

Seorang suami yang menjaga suasana keimanan di dalam rumahnya dan dihadapan keluarganya, maka akan berpengaruh besar terhadap pendidikan anak-anaknya, yang mampu menularkan nilai-nilai dan akhlak mulia, hal itu bisa ditampakan saat duduk bersama keluarga, seperti saat makan, saat belajar, hal ini dapat meneguhkan kebiasaan dan adat istiadat baik, mereka bersyukur atas segala nikmat tersebut dengan terus memohon kelebihan, sehingga rumah tersebut menjadi awal dari setiap akhlak dan perbuatan mulia. Dan diantara tindakan dan akhlak masyarakat yang mulia yang berawal dari dalam rumah tangga adalah menyambung tali persaudaraan dengan para kerabat dan tetangga, karena orang tuanya menganjurkan anak-anaknya untuk melakukan itu, sehingga ia menjadi teladan bagi mereka. 

Juga diantara akhlak baik yang berangkat dari rumah, adalah solidaritas dan kesetiakawanan, seperti yang dikisahkan oleh saudari Musa AS ketika ia mengisahkan tentang rumah tempat ia tumbuh dan dibesarkan, ia berkata :

هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ

“Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya” (Al Qasas 28 : 12).

 Dari pemeliharaan dan pendidikan rumah yang demikian, akhirnya Musa AS lahir dari rumah itu sebagai salah satu nabi utusan Allah dan termasuk ulul azm.

 Dengan demikian hendaknya kita meningkatkan perhatian kita terhadap keluarga dan rumah kita, menjaganya, menunaikan tanggung jawab kita kepada mereka, karena Allah akan meminta pertanggung jawaban kita, Rasulullah Saw bersabda :

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ: أَحَفِظَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap pemimpin atas kepemimpinannya : apakah ia menjaga atau menyia-nyiakannya, sampai seorang suami diminta pertanggung jawaban tentang keluarganya” (Ibnu Hibban 10/344). 

Jadi keluarga adalah inti, pondasi dan dasar dari sebuah masyarakat, ia adalah madrasah pertama yang akan melahirkan generasi penerus, bila ia baik dan stabil, maka bangunan itu akan berdiri kokoh serta berpengaruh baik pada masyarakatnya.

🤲Ya Allah, tambahkanlah kebahagiaan, kemakmuran, cinta dan kasih sayang di rumah kami, jadikanlah kami hamba yang taat kepada-Mu dan mengikuti ajaran Rasul-mu, berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagaimana telah Engaku firmankan dalam kitab-Mu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


🗒 *Khutbah Kedua*

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْكُرُهُ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ يَجْزِي مَنْ شَكَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Para Jamaah Shalat yg Berbahagia...

Sesungguhnya diantara tanggung jawab kedua orang tua terhadap putra-putrinya adalah mengingatkan mereka dari hal-hal yang dapat mendatangkan mudarat di dunia dan di akhirat mereka, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (At Tahrim 66 : 6).

 Maksudnya : lindungilah rumah, putra-putri dan keluarga kalian dari kemaksiatan, jadikan rumah kalian sebagai pelindung mereka. Qatadah berkata : bila kau menyaksikan seorang dari keluargamu berbuat kemaksiatan kepada Allah, maka halangilah dan jauhkan mereka agar tidak melakukan kemaksiatan tersebut (Tafsir Ibnu Katsir 8/16). 

Berikut beberapa contoh kemaksiatan yang datang merusak rumah tangga dan menghancurkan masyarakat, seperti memakai narkoba, dan ini merupakan masalah yang mendunia yang dialami oleh banyak negara, maka kewajiban kita terhadap putra-putri kita serta tanggung jawab kita terhadap keluarga kita adalah melindungi mereka agar tidak terjatuh dalam kecanduan narkoba, karena narkoba adalah racun, yang membuat harta sirna, kesehatan melemah dan merusak agama dan moral. Perlu diperhatikan bahwa diantara bentuk kecanduan yang dapat membahayakan kesehatan dan merusak kesempatan dan usaha putra-putri kita adalah kecanduan game online, hal ini telah diperingatkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, karena permainan tersebut menjauhkan putra putri kita dari kenyataan, menjauhkan dari rumah, memisahkan dari masyarakat serta berdampak negatif pada kehidupan mereka.

Mari kita jaga kesehatan putra-putri kita, keselamatan badan dan akal mereka, mari kita tingkatkan kesadaran pada mereka tentang bahaya narkoba dan para pengedarnya serta bahaya game online, agar rumah tangga bahagia dan tenteram, dan semoga kita dapat melahirkan generasi produktif yang bermanfaat bagi masyarakat dan berkontribusi aktif bagi kemajuan bangsa dan negara mereka.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ

اللَّهُمَّ يَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا أَجْوَدَ مَنْ أَعْطَى، وَيَا أَكْرَمَ مَنْ عَفَا، وَأَعْظَمَ مَنْ غَفَرَ؛ نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ

اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.

 اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Friday, December 13, 2019

Khotbah Jum'at:: MAKNA KATA TANYA "BAGAIMANA" DALAM ALQUR'AN

Khotbah Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 H/ 13 Desember 2019 M

Makna Kata tanya “Bagaimana” (Kaifa) dalam Al Quran

Khotbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَنْزَلَ إِلَيْنَا الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ، فِيهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ، وَاسْتِفْهَامَاتٌ تُنَبِّهُ الْمُتَدَبِّرِينَ، 

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

 فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ:

 (أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا أَفَلَا تَعْقِلُونَ)( ).

Kaum Muslimin yg Berbahagia...

Allah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran?” (An Nisa’ 4 : 82).

 Ini merupakan ajakan dari Allah agar kita memperhatikan Al Quran, karena di dalamnya terdapat mukjizat pada kefasihannya yang sempurna dan di dalamnya terdapat beragam metode penyampaian yang indah, diantaranya banyak sekali menggunakan kata tanya (Istifhâm)  yang menanyakan tentang kondisi sesuatu yang ada (Tafsir Al Qurthubi 3/299). 

Itu semua sebagai peringatan bagi orang yang mau menghayati, sebagai penggerak akal mereka agar pandangan mereka lebih fokus. Di antara pertanyaan yang terdapat di dalam Alquran ialah kata "bagaimana" (kaifa).

 Allah Swt menyebutkan kata tanya “Bagaimana” (Kaifa) sebanyak 83 kali di dalam kitab-Nya, di berbagai bidang dan beragam tujuan, agar kita mau merenungkan bukti kekuatan-Nya, keindahan peciptaan-Nya dan agar kita mengambil pelajaran dari kondisi orang-orang yang terdahulu. Juga bagaimana Allah menggambarkan kepada kita tentang keadaan manusia pada hari kiamat, semua itu agar kita mencari dan meneliti makna Alquran yang sangat dalam serta tujuannya yang mulia.

Lalu pada bidang apa saja penggunaan pertanyan “Bagaimana” (Kaifa) terdapat di dalam Al Quran ?

Hamba Allah yang Budiman...

Pertanyaan dengan menggunakan kata tanya “Bagaimana” (Kaifa) digunakan sebagai penguat keimanan yang agung, seperti pertanyaan tentang realitas alam semesta ini, rahasia keberadaan semua makhluk, bagaimana permulaan penciptaan dan keberlanjutannya, bagaimana ia dihidupkan kembali setelah kematiannya, seperti yang termaktub dalam firman Allah :

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah : Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al Ankabut 29 : 20).

Nabi Ibrahim AS pernah bertanya kepada Tuhannya :

رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى

“Ya Tuhanku, perlihatkan padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati," agar keimanan, keyakinan dan ketentramannya semakin kuat. Dan ketika Tuhannya bertanya kepadanya :

أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Belum yakinkah kamu?. Ibrahim menjawab : Aku telah yekin, akan tetapi agar hatiku lebih mantap (dengan imanku). Lalu Allah mendekatkan kepadanya gambaran bagaimana cara menghidupkan dari kematian, disebutkan dalam firman-Nya :

وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi maha Bijaksana” (Al Baqarah 2 : 260).

 Maksudnya bahwa Allah Maha perkasa yang tidak dapat dikalahkan oleh sesuatu apapun dan tidak dapat dicegah oleh sesuatu apapun (Tafsir Ibnu Katsir 1/690), 

Dialah (Allah) yang menghidupkan bumi setelah kematiannya dan mengembalikan kesuburannya setelah kekeringan, Allah Swt berfirman :

فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Ar Rum 30 : 50). 

Maksudnya lihatlah dengan pandangan penalaran dan penuh penghayatan, terhadap proses bagaimana Allah menyuburkan bumi setelah kekeringan, semua itu merupakan bekas dari bekas-bekas (bukti) rahmat-Nya (At Tahrir wat Tanwir 21/123)

Wahai orang-orang yang Mau Berfikir....

 Sesungguhnya pertanyaan dengan penggunaan kata "kaifa" atau “bagaimana” di dalam Al Quran, membuka pintu penelitian bagi kita serta cakrawala keilmuan, menambah keimanan dan pengagungan kita terhadap Tuhan kita, didalamnya juga terdapat ketaatan pada perintah Pencipta kita, karena Allah telah mengajak kita untuk bertanya pada diri kita tentang kebesaran makhluk-Nya yang mengelilingi kita yang menunjukkan atas kemampuan dan keesaan-Nya (At Tahrir wat Tanwir 30/303) dan sebagai bukti atas keluasan ilmu dan keindahan penciptaan-Nya (Tafsir Ar Razi 32/289), 

Allah berfirman :

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan” (Al Ghasyiah 88 : 17). 

Allah telah menciptakan unta dengan penciptaan yang unik dan menakjubkan, dengan kekuatan bangunan tubuhnya, yang mampu membawa dan mampu berdiri bangkit dengan bawaan dan beban yang berat, ia mampu menyimpan makanan dan air, ia mampu bersabar dalam dahaga dalam waktu yang panjang. Kemudian Allah memerintahkan kita agar menghayati keagungan penciptaan langit, yang kita lihat siang malam dan dalam perjalanan kita dan dalam hadir kita, Allah berfirman :

وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ

“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan ?” (Al Ghasyiah 88 : 18). Maka apakah kita pernah bertanya pada diri kita : bagaimana Allah meninggikan langit tanpa tiang ? Menghiasinya dengan bintang gemintang, dan apakah ia tidak memiliki keretakan dan pecahan ? (Tafsir Al Baghawi 7/357). 

Kemudian disebutkan dalam firman-Nya :

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan ?” (Al Ghasyiah 88 : 19).

 Agar perhatian kita tertuju pada ketangguhan gunung, dalam ketinggiannya yang terlihat kuat dan tidak goyah. Kemudian Allah menganjurkan kita agar memperhatikan bumi tempat kita berpijak, Allah berfirman :

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan ?” (Al Ghasyiah 88 : 20). 

Bumi adalah tempat kita berpijak dan tempat kita tinggal, Allah menciptakannya layak untuk berjalan, untuk duduk dan untuk beristirahat (At Tahrir wat Tanwir 30/304-306), sebagai rahmat dan agar kita mudah menjalani kehidupan ini.

Hamba Allah yang Mulia...

 Sesungguhnya diantara pertanyaan menggunakan kata tanya “Bagaimana” di dalam Al Quran terdapat hikmah bagi orang yang mau menghayatinya, seperti dalam pembagian rezeki diantara kita, agar jiwa kita menjadi tenang dan hati kita menjadi tenteram, Allah berfirman :

انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain)” (Al Isra’ 17 : 21). 

Maksudnya perhatikanlah bagaimana Allah melebihkan pemberian akal dan pemahaman kepada sebagian mereka (Tafsir Ibnu Katsir 7/226).

 Sebagaimana Kami melebihkan tugas dan pemberian atas mereka, Kami jadikan sebagian mereka kaya, sebagian lainnya miskin dan ada pula yang hidup antara kaya dan miskin (Tafsir Ibnu Katsir 5/63). 

Allah telah menjelaskan hikmah perbedaan tersebut dalam firman-Nya :

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain” (Az Zukhruf 43 : 32).

 Maksudnya agar mereka saling tolong menolong antara mereka, sehingga sebagian menjadi penyebab bagi kehidupan lainnya dalam kehidupan dunia (Tafsir At Thabari 20/585) yang satu menolong dengan hartanya, yang lainnya dengan pekerjaannya, sehingga urusan dunia menjadi lancar (Tafsir Al Baghawi 7/212).

 Kemudian Allah berfirman :

وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا

“Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya” (Al Isra’ 17 : 21). 

Maksudnya bahwa keutamaan diantara mereka dalam urusan akhirat, lebih besar dan lebih utama daripada urusan dunia, maka jika keinginan manusia lebih mengedepankan urusan dunia, perlu diketahui bahwa mencari keutamaan akhirat lebih utama (Tafsir Al Baghawi 5/85, Tafsir Ar Razi 20/319 dan Tafsir Ibnu Katsir 5/63). 

Oleh karena itu, hendaknya kita memperhatikan semua hal diatas dan mengamalkan kandungannya, karena dengan berpikir akan melahirkan hikmah, mewariskan ketakutan (khasyah) kepada Allah serta dapat membuahkan kesungguhan beramal.

🤲Ya Allah, anugerahilah kami pemahaman tentang kitab-Mu, penghayatan tentang ayat-ayat-Mu dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagaimana termaktub dalam firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَهُ الْحَمْدُ الْحَسَنُ وَالثَّنَاءُ الْجَمِيلُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

 أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Kaum Muslimin yg Berbahagia...

Sesungguhnya Allah menciptakan kita dalam kehidupan ini dan memudahkan untuk kita semua makhluk yang ada di sekitar kita (Tafsir Al Qurthubi 8/318), agar Dia (Allah) melihat amalan apa yang kita perbuat ? Bagaimana ketaatan kita kepada Tuhan kita dan pengikutan kita pada Rasulullah Saw, Allah Swt berfirman :

ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لَنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat” (Yunus 10 : 14).

 Maksudnya bahwa sesungguhnya Allah menciptakan manusia, memberikan kepercayaan untuk menunaikan kebaikan, memperbanyak ketaatan dan memperlakukan manusia dengan baik (At Tahrir wat Tanwir 8/201-211) dan (9/62).

 Umar bin Khattab RA berkata : "Maha Benar Tuhan kami, yang tidak menciptakan kami di muka bumi melainkan untuk melihat bagaimana perbuatan kami, maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan amalan kalian, malam dan siang, rahasia dan terang-terangan (Tafsir Ibnu Katsir 4/252). 

Allah Swt melihat perbuatan kalian dan manusia pun menyaksikan ucapan, perbuatan dan karya kalian, Allah berfirman :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah : Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat” (At Taubah 9 : 105).

 Kemudian Allah akan membalas atas kebaikan, kebajikan dan semua tindakan baik yang kita lakukan :

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ* وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (Az Zalzalah 99 : 7-8). 

Mari kita hayati Kitabullah dan ayat-ayatnya, perhatikan dan renungkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalamnya, serta marilah kita ajarkan itu semua pada putra-putri kita, agar mereka juga mengambil pelajaran dari kitabullah yang agung itu.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ يَا خَيْرَ مَنْ سُئِلَ، وَيَا أَجْوَدَ مَنْ أَعْطَى، وَيَا أَكْرَمَ مَنْ عَفَا، وَأَعْظَمَ مَنْ غَفَرَ؛ نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ أَوْفَرَهَا، وَمِنَ الْعُلُومِ أَنْفَعَهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْمَلَهَا، وَنَسْأَلُكَ السَّعَادَةَ فِي الدُّنْيَا، وَالْفَوْزَ فِي الْآخِرَةِ.

اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ

اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ.

 اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ نِعَمَكَ، وَجُودَكَ وَفَضْلَكَ، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا وَأَهْلِهَا، واجْعَلْهَا دَائِمًا فِي سَعَادَةٍ، وَمِنَ الْخَيْرِ فِي زِيَادِةٍ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَفِي كُلِّ مَا رَزَقْتَنَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ