Sunday, March 24, 2019

Khotbah Jum'at: Tujuan Hadist Menjelaskan Al-Qur'an


KHUTBAH JUMAT
8 Rajab 1440 H/15 Maret 2019

"Tujuan Hadis adalah Menjelaskan Kandungan Al-Quran"

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama untuk kita semua, memberikan nikmat besar berupa diutusnya pemimpin para rasul yaitu Rasulullah SAW, dan memerintahkan kita untuk mengikuti petunjuk dan sunnahnya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata tiada sekutu baginya, dan saya bersaksi bahwa Sayyidina dan Nabiyyina Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ya Allah karuniakan shalawat, salam dan keberkahan kepada Sayyidina dan Nabiyyina Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya, juga bagi mereka yang senantiasa mengikutinya dengan benar sampai hari pembalasan. Amma ba'du

Kami wasiatkan kepada hadirin hamba-hamba Allah dan juga bagi diri khatib sendiri, untuk senantiasa bertakwa kepada Allah swt.

Allah swt berfirman: "Dan ingatlah nikmat Allah yang diberikan kepadamu dan apa yang diturunkan kepadami berupa kitab dan hikmah yang mengajarimu dengannya, dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Baqarah: 231).

Kaum Muslimin yang berbahagia

Sesungguhnya Allah swt memberikan nikmat kepada umat manusia berupa diutusnya manusia terbaik, yaitu Sayyidina Muhammad SAW, yang membacakan Alquran kepada mereka, dan mengajarkan petunjuk yang lurus.

Allah swt berfirman:
"Sesungguhnya Allah telah memberikan karunia yang besar kepada orang-orang beriman yaitu diutusnya seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, serta mensucikan dan mengajarkan mereka akam al-Kitab dan al-Hikmah." (Ali Imran:164).

Al-Kitab ialah Alquran, dan al-Hikmah ialah sunnah dan hadis-hadis Rasulullah SAW, yang datang untuk menjelaskan maksud yang diinginkan Allah swt, juga menjelaskan secara rinci hukum-hukum agama. Allah swt berfirman: "Dan Kami menurunkan peringatan (As Sunnah) kepadamu untuk menjelaskan apa yang telah diturunkan kepada mereka (Alquran)." An Nahl: 44).

Alquran adalah wahyu dari Allah swt baik lafadz maupun maknanya, sedangkan hadis adalah wahyu dari Allah swt secara maknanya melalui lisan Rasul-Nya, dan hadis juga memiliki keistimewaan berupa keindahan bahasa dan kejelasan makna. Rasulullah SAW bersabda: "Aku diberikan kemampuan untuk meringkas kalimat." (Muttafaq Alaih).

Hadis juga merupakan hujjah (sandaran/argumen) dan  bukti/dalil.
Allah swt berfirman:
"Dan tidaklah ia (Muhammad) berucap dari hawa nafsunya. Ucapannya tak lain ialah wahyu yang diwahyukan kepadanya." (An Najm: 3-4).
Rasulullah saw juga bersabda: "Ketahuilah, susungguhnya aku diberikan Al-Kitab dan yang semisal dengannya.

Artinya, bahwa Rasulullah saw diberikan AlQuran dan juga diberi hadis-hadis yang mulia bersamanya. Dan sunnah/hadis-hadis tersebut berupa semua yang datang dari Rasulullah saw, baik berupa ucapan, perbuatan, sifat, atau sesuatu yang beliau lihat atau beliau dengar lalu menyetujuinya.

Hadis-hadis Nabi ada yang datang untuk menguatkan hukum-hukum yang terdapat di dalam Alquran, ada yang mensyariatkan apa yang tidak disebut di dalam Alquran, dan ada juga yang datang untuk merinci dan menjelaskan hal-hal yang belum dirinci secara detail oleh Alquran, baik yang berhubungan dengan ibadah, muamalah (sosial), maupun akhlak dan tingkah laku.

Misalnya perintah shalat dan zakat yang belum dirinci oleh Alquran, hanya disebutkan secara umum sebagaimana firman Allah: "Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan taatilah Rasul-Nya supaya kalian mendapat rahmat." (An Nur:56)

Lalu dirinci/dijelaskan oleh Rasulullah saw tentang shalat-shalat yang wajib, jumlah rakaatnya, dan segala hal yang berkaitan dengan shalat. Beliau SAW bersabda: "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat." (HR. Al Bukhari)

Hadis juga menjelaskan/merinci tentang ukuran zakat yang harus dikeluarkan, syarat-syaratnya, dan seluruh hukum-hukum yang terkait dengan zakat.

Demikian pula ayat-ayat yang berbicara tentang ibadah haji, dijelaskan/dirinci oleh sunnah Rasulullah saw tentang tatacara dan hukumnya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Ikutilah dariku tatacara manasik haji kalian." (HR. Muslim dan Baihaqi).

Demikian pula dalam hal ibadah sosial (muamalah), Allah swt memerintahkan kita untuk berlaku "ihsan" (berbuat baik). Sebagaimana firman Allah: "Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." (Al Baqarah: 195).

Lalu dijelaskan oleh hadis-hadis Rasulullah saw tentang bentuk-bentuk perbuatan baik tersebut, berupa perbuatan yang mengandung nilai-nilai yang luhur, akhlak yang terpuji, tingkah laku yang mulia, seperti menjenguk orang sakit, membantu orang-orang lemah (dhuafa), menyayangi anak kecil, menghormati orang yang lebih tua, dan sebagainya.

Para Jamaah Shalat yang Berbahagia

Sungguh para sahabat RA telah menjaga dan menghafal hadis-hadis Rasulullah, memberikan perhatian serius untuk menjaganya, lalu mewariskannya kepada generasi berikutnya. Para ulama juga bersungguh-sungguh memelihara dan menguji keotentikannya, dan menjaga keshahihannya. Karena itu, mereka memberikan persyaratan yang sangat ketat bagi ulama-ulama yang meriwayatkan hadis, yakni para periwayat dapat diterima hadis yang diriwayatkannya bila mereka dikenal dengan ketakwaannya, kewara'annya, kejujuran, dan kecerdasannya. Dan hadis tersebut juga diterima dari orang yang memiliki syarat dan sifat yang sama, begitupun periwayat-periwayat sebelumnya hingga Rasulullah SAW.

Karena itu, para ulama dalam ilmu hadis ini memiliki kemuliaan dan keistimewaan. Mereka menjaga dan menghafal hadis-hadis Rasulullah, bahkan menempuh perjalan jauh ke negara-negara lain demi untuk mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis Rasulullah, menelusuri keshahihan sanadnya, menjelaskan maknanya, dan meriwayatkan kepada generasi setelahnya hingga kepada kita semua dengan sangat teliti, amanah dan penuh kecerdasan.

Maka kawajiban kita bagi mereka ialah memahami kemuliaan ilmu mereka, kecerdasan akan spesialisasi mereka, menghargai usaha dan jeripayah mereka, mensyukuri karya-karya mereka, serta mendoakan dan memohonkan rahmat untuk mereka.

Wahai hadirin yang mencintai Nabi SAW

Sesungguhnya kewajiban kita terhadap sunnah Rasulullah SAW ialah menghormati, mengagungkan, menerimanya dan berserah diri kepadanya. Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya saw:

"Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan kepada mereka. Agar kalian semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, memuliakannya, menghormatinya." (Al Fath: 8-9)

Pemuliaan dalam ayat tersebut berarti pengagungan dan penghormatan. Dan di antata cara memuliakan dan menghormati Nabi SAW adalah menghormati dan memuliakan hadis-hadisnya, serta mengamalkan isinya.

Allah swt berfirman:
"Dan apapun yang Rasulullah perintahkan maka laksanakanlah, dan apa yang dia larang maka jauhilah." (Al Hasyr:7)

Artinya, lakukan apa-apa yang beliau perintahkan, dan jauhi segala yang beliau larang, amalkan hadis-hadis dan sunnah yang sudah sampai kepadamu, dan ikutilah beliau SAW segala ucapan, perbuatan dan keadaan beliau. Allah swt berfirman:

"Sungguh, pada diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik bagimu." (Al Ahzab: 21).

Itulah kunci-kunci kebahagiaan. Allah swt berfirman:
"Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakan dan menolongnya, serta mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al A'raf: 157).

Yaa Allah karunikan kepada kami kemampuan mengikuti Sayyidina dan Nabiyyina Muhammad SAW dan mengamalkan hadis-hadis darinya. Kuatkan kami untuk menaati-Mu, dan menaati Rasul-Mu, juga menaati orang yang engkau perintahkan kami menaatinya (ulil amri). Demi mengamalkan firman-Mu: "Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian." (An Nisa:59).

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillah.....

Hadirin Jamaah Shalat yang Berbahagia

Rasulullah SAW menyerupakan petunjuk dan ilmu yang datang dari beliau seperti air yang merupakan sumber kehidupan. Beliau SAW menjelaskan bahwa sungguh banyak manusia mengambil manfaat dari petunjuk beliau, kebanyakan mereka menerima sunnah beliau SAW.

Ketika beliau menyebutkan bahwa tanah yang baik adalah tanah yang mengandung air, sehingga air itu bermanfaat untuk dirinya dan untuk orang banyak, beliau SAW lalu bersabda:

"Demikianlah perumpamaan orang yang mengerti agama, ia mendapat manfaat dari agama itu, ia mengetahui lalu mengajarkannya." (Muttafaq Alaih)

Karena itu, hendaklah kita semua mengamalkan sunnah Nabi SAW agar dapat meraih cinta Allah swt dan ampunan-Nya terhadap dosa-dosa kita. Allah swt berfirman:

"Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, maka ikutlah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintau kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran:31)

Saturday, January 5, 2019

Khtbah Jum'at: HATI YANG BERSIH


Khotbah Jum'at, 20 Rabiul Akhir 1440 H/28 Desember 2018 M
Hati Yang Bersih

Khotbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، بِيَدِهِ قُلُوبُ الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ، يُصَرِّفُهَا بِعِلْمِهِ وَحِكْمَتِهِ، وَيُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ بِقُدْرَتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَنْقَى النَّاسِ قَلْبًا، وَأَسْلَمُهُمْ صَدْرًا، وَأَزْكَاهُمْ نَفْسًا، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ عَنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ:( أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ)().

Kaum muslimin : Allah Swt berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ* إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (As Syu’ara’ 26 : 88-89). Hati yang bersih adalah hati seorang mukmin yang seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

إِنَّمَا الْكَرْمُ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ

Sesungguhnya kemuliaan adalah hati orang mukmin” (Muttafaq ‘Alaih). Karena darinya sumber kemuliaan, tempat iman dan petunjuk, cahaya dan ketakwaan. Dan ketika Nabi SAW ditanya:

سُئِلَ ( أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ:« كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ». قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ :«هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ

Siapakah sebaik-sebaiknya manusia ? Beliau menjawab : semua pemilik hati yang bersih dan ucapan yang jujur. Mereka berkata : ucapan yang jujur kami mengetahuinya, lalu apa yang dimaksud dengan hati yang bersih ? Beliau bersabda : hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, tidak ada kedzaliman dan tidak ada dengki didalamnya” (Ibnu Majah 4216). 

Barang siapa yang menginginkan ketetapan iman dalam hatinya, maka jauhilah dengki, Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَجْتَمِعُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ الْإِيمَانُ وَالْحَسَدُ

Tidak berkumpul dalam hati seorang hamba keimanan dan kedengkian” (An Nasa’i 3109 dan Ibnu Hibban 4606). Hati seorang mukmin bercirikan kebaikan, toleran, kelembutan dan kebersihan, oleh karena itu para ulama sangat mencintai pemilik hati yang bersih, Sofyan bin Dinar berkata pada salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib RA: ceritakan padaku tentang amalan orang sebelum kami ? Ia berkata: mereka beramal sedikit tapi mendapatkan balasan yang banyak. Aku bertanya : kenapa demikian ? Ia menjawab: karena hati mereka bersih (Kitab Az Zuhd, karangan Hanad bin As Siri 2/600). Itulah nikmat dan pemberian dari Allah yang agung, yang dilimpahkan kepada orang yang mengikuti jalan-Nya dan menempuh sebab akibat menuju kesana. Lalu apa saja sebab keselamatan hati ?

Kaum mukminin : diantara sebab keselamatan dan ketentraman hati adalah cinta pada Allah, dengannya hati akan menikmati kemanisan iman dan hatinya akan dipenuhi oleh ketentraman, Nabi SAW bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

Tiga perkara apabila perkara tersebut pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman : orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya” (Muttafaq ‘Alaih). Cinta pada Allah akan membuahkan pengagungan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya. Itu semua merupakan ketakwaan hati dan keselamatannya, Allah berfirman:

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (Al Hajj 22 : 32). Dengan demikian ia telah memenuhi perintah Allah dan berteladan pada petunjuk Rasulullah Saw, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُون

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” (Al Anfal 8 : 24).

Juga shalat wahai hamba Allah: karena shalat merupakan ibadah penentram hati, dari Abdullah bin Muhammad bin Al Hanafiyah berkata:

انْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبِي إِلَى صِهْرٍ لَنَا مِنَ الْأَنْصَارِ نَعُودُهُ، فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ، فَقَالَ لِبَعْضِ أَهْلِهِ: ائْتُونِي بِوَضُوءٍ لَعَلِّي أُصَلِّي فَأَسْتَرِيحَ. ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ( يَقُولُ :« قُمْ يَا بِلَالُ أَقِمْ، فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

Aku dan ayahku berangkat menjumpai mantu kami dari Al Anshar, maka tibalah waktu shalat, ia meminta sebagian dari anggota keluarganya : ambilkan aku air wudlu, semoga aku bisa shalat dan menentramkan diri. Kemudian ia berkata : aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : berdirilah wahai Bilal kumandangkan iqamah, semoga kami mendapatkan ketentraman dengan shalat” (Abu Daud 4986). Karena orang yang shalat menghadap pada Tuhannya dengan menghadirkan keagungan-Nya, maka hatinya dan jiwanya akan diliputi oleh ketentraman dan ketenangan, ia akan mendapatkan kekhusuan dalam shalat, menghayati maknanya, sehingga pahalanya melimpah, Ibnu Abbas RA berkata : “Dua rakaat yang dilakukan dengan penuh penghayatan, lebih baik dari shalat malam sedangkan hatinya lalai” (Az Zuhd, karangan Ibnu Al Mubarak 1/97).

Menunaikan zakat dan bersedekah pada fakir dan orang-orang yang membutuhkan, semua itu akan membersihkan hati dan mensucikan jiwa, Allah berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (At Taubah 9 : 103). Rasulullah Saw bersabda:

لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

Tidak berkumpul kekikiran dan keimanan pada hati seorang hamba selamanya” (Bukhari dalam kitab Al Adab Al Mufrad 281, An Nasa’i 3110 dan Ahmad 9693).

Puasa Ramadhan dan puasa tiga hari setiap bulannya, termasuk ibadah yang mampu melindungi seseorang atas keselamatan hatinya dan menjauhkannya dari keburukan, Rasulullah SAW:

صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ، وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ؛ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ

“Puasa pada bulan kesabaran dan puasa tiga hari setiap bulannya, akan menghilangkan kedengkian hati” (Ahmad 23070)

Dengan belajar dan membaca Al Quran serta mengamalkan kandungan ayat-ayatnya, maka hatinya akan istiqomah, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Yunus 10 : 57). Dalam Al Quran terdapat nasehat, kesembuhan, petunjuk dan peringatan:

لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan” (Qaf 50 : 37)

Sesungguhnya berdzikir kepada Allah, merupakan salah satu penyebab keselamatan hati dan ketentramannya, Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar Ra’d 13 : 28). Maksudnya : hati menjadi lembut, tenang dan tenteram (Tafsir Al Baghawi 4/85). Ibnu Abbas RA berkata:

الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، وَإِذَا ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ

Syaitan bersemayam di hati Anak Adam, bila ia lupa dan lalai, ia akan menggodanya dan bila mengingat Allah, ia akan tertutupi” (Abu Daud dalam kitab Az Zuhd 1/395).

Bagi orang yang memperhatikan keselamatan hati mereka : sesungguhnya berdoa menjadi salah satu penyebab ketetapan hati dalam kebenaran, keistiqomahan dan keselamatan dari kemungkaran, oleh karena itu Nabi Saw memperbanyak doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu”(At Tirmidzi 2140 dan Ibnu Majah 3834). Dan doanya:

اللهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Ya Allah, Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk selalu dalam ketaatan pada-Mu” (Muslim 2654). Dan doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ… قَلْبًا سَلِيمًا

Ya Allah, aku mohon pada-Mu .. hati yang selamat” (At Tirmidzi 2140 dan Ibnu Majah 3834)

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk dalam golongan hamba-hamba-Mu yang beriman, yang datang pada-Mu dengan hati yang selamat, lalu Engkau sambut mereka dengan Rahmat-Mu wahai Tuhan semesta alam, dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khotbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Para jamaah shalat : sesungguhnya kesalamatan hati merupakan jalan yang mengantarkan ke surga, dari Anas bin Malik RA berkata : ketika kami duduk bersama Rasulullah SAW, beliau bersabda:

يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ». فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ … فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِيُّ ( مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ الرَّجُلُ نَفْسُهُ، وَفِي الْيَوْمِ الثَّالِثِ كَذَلِكَ، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ ( تَبِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ذَلِكَ الرَّجُلَ فَطَلَبَ ضِيَافَتَهُ، فَاسْتَقْبَلَهُ فِي بَيْتِهِ ثَلَاثَ لَيَالٍ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو: فَلَمْ أَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ، ولَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ قُلْتُ:… سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ( يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ:« يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ». فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (؟ فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ

Akan muncul pada kalian seorang laki-laki dari penghuni surga”. Tiba-tiba muncul seorang dari Al Anshar. Keesokan harinya, Nabi Saw berkata seperti diatas, maka muncul orang yang sama, dan begitu pula pada hari ketiga, dan ketika Nabi Saw berdiri, Abdullah bin Amr bin Al Ash RA mengikuti lelaki itu dan meminta menginap di rumahnya, lalu ia menginap di rumah lelaki itu selama tiga malam, Abdullah bin Amr berkata : aku tidak melihatnya shalat malam, hanya saja bila ia terbangun malam, ia membolak-balikkan badannya diatas tempat tidurnya sambil berdzikir dan bertakbir, hingga bangun untuk shalat subuh dan aku tidak mendengar darinya kecuali kebaikan, maka ketika tiga malam telah berlalu, aku berkata : aku mendengar Rasulullah Saw berkata mengenaimu tiga kali : Akan muncul pada kalian seorang laki-laki dari penghuni surga”. Dan kau muncul selama tiga kali berturut-turut, maka aku ingin menginap di rumahmu agar aku dapat melihat amalanmu, dan menteladaninya, tapi aku tidak melihat kau melakukan amalan yang banyak, lalu apa yang membuatmu sampai pada posisi seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw ? Ia menjawab : seperti yang kau lihat, hanya saja aku tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun, dan tidak pernah hasut terhadap kebaikan seorang yang diberikan Allah kepadanya. Abdullah berkata : inilah amalan yang mengantarkanmu pada posisimu” (Ahmad 13034)

Marilah kita berusaha untuk menjaga kesalamatan hati kita, agar kita mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman di dunia dan menempati surga tertinggi di akhirat.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى مَنْ أُمِرْتُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ، قَالَ تَعَالَى:( إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)(). اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ. اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا كَمَا تُطَهِّرُ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ.
اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا، وَعَوْنًا وَتَوْفِيقًا، وَمَحَبَّةً وَتَلَاحُمًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَبَارِكْ فِي أَوْلَادِنَا، وَأَدِمِ السَّعَادَةَ فِي بُيُوتِنَا وَوَطَنِنَا، وَاجْعَلْنَا بَارِّينَ بِآبَائِنَا، وَاصِلِينَ لِأَرْحَامِنَا.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ، الشَّيْخ خليفةْ بن زايدْ لِكُلِّ خَيْرٍ، وَاحْفَظْهُ بِحِفْظِكَ وَعِنَايَتِكَ، وَوَفِّقِ اللَّهُمَّ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ: الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، وَالشَّيْخ مَكْتُوم، وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رَحْمَتِكَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ رَحْمَةً وَاسِعَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ يَتَنَعَّمُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ. وَأَدْخِلِ اللَّهُمَّ فِي عَفْوِكَ وَغُفْرَانِكَ وَرَحْمَتِكَ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجَمِيعَ أَرْحَامِنَا وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ احْفَظْ لِدَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ اسْتِقْرَارَهَا وَرَخَاءَهَا، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا، وَزِدْهَا فَضْلًا وَنِعَمًا، وَحَضَارَةً وَعِلْمًا، وَبَهْجَةً وَجَمَالًا، وَمَحَبَّةً وَتَسَامُحًا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا السَّعَادَةَ وَالْأَمَانَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَاجْزِ خَيْرَ الْجَزَاءِ أُمَّهَاتِ الشُّهَدَاءِ وَآبَاءَهُمْ وَزَوْجَاتِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ جَمِيعًا، اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، الَّذِينَ تَحَالَفُوا عَلَى رَدِّ الْحَقِّ إِلَى أَصْحَابِهِ. اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ نَصْرَكَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ أَهْلَ الْيَمَنِ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْمَعْهُمْ عَلَى كَلِمَةِ الْحَقِّ وَالشَّرْعِيَّةِ، وَارْزُقْهُمُ الرَّخَاءَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْشُرِ الاِسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

HYPERLINK “https://www.awqaf.gov.ae/ar/Pages/FridaySermonDetail.aspx?did=6913” https://www.awqaf.gov.ae/ar/Pages/FridaySermonDetail.aspx?did=6913

Khotbah Jum'at: BERTAUBAT KEPADA MU

Khotbah Jumat, 27 Rabiul Akhir 1440 H/04 Januari 2019 M
Bertaubat Kepada Mu

Khotbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَزِيزِ التَّوَّابِ، خَيْرِ مَنْ دُعِيَ فَأَجَابَ، وَهَدَى إِلَى سَبِيلِهِ مَنْ أَنَابَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:( وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ)( ).

Kaum muslimin: Sesungguhnya Allah memerintahkan kita agar kembali pada-Nya dalam setiap urusan kita dan menghadap pada-Nya dalam semua waktu kita, karena taubat merupakan kedudukan yang agung yang telah diterima oleh para nabi dan rasul, Allah memuji kekasih-Nya Ibrahim AS dalam firman-Nya:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali pada Allah” (Hud 11 : 75).  Allah berfirman mengisahkan tentang nabi Daud AS:

فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat” (Shad 38 : 24). 

Dikisahkan mengenai nabi Syu’aib AS:

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (Hud 11 : 88). Nabi Muhammad SAW selalu kembali kepada Allah dan selalu menghadapkan dirinya kepada-Nya, Allah berfirman:

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

(Yang mempunyai sifat-sifat demkian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku kembali” (As Syura 42 : 10). Dan diantara doa Rasulullah SAW:

رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا، لَكَ ذَكَّارًا، لَكَ مِطْوَاعًا، إِلَيْكَ مُخْبِتًا، لَكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا

Tuhanku, jadikanlah aku orang yang selalu bersyukur kepada-Mu, selalu berdzikir kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, bertaubat kepada-Mu, menyesali dan kembali kepada-Mu” (Ahmad 1997, Abdu Daud 1510, At Tirmidzi 3551 dan Ibnu Majah 3830). Maksudnya: penuh ketenangan, ketundukan, selalu kembali pada-Mu dan menghadap pada-Mu dalam setiap waktuku (Al Nihayah, karangan Ibnu Al Atsir 5/123, 2/4, 1/82).

Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar berteladan pada para nabi dan rasul dalam bertaubat kepda Allah Tuhan semesta alam, Allah berfirman:

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

Dan ikutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku” (Luqman 31 : 15). Lalu bagaimana cara mendapatkan kedudukan agung tersebut?

Hamba Allah: sesungguhnya seorang mukmin bila selalu bertaubat dan kembali kepada Tuhannya, maka ia termasuk golongan orang-orang yang kembali, Allah akan mengabulkan dan memberinya rahmat, ampunan, mengampuni dosanya dan Dia bahagia dengan taubatnya, Rasulullah SAW:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حَيْثُ يَذْكُرُنِي، وَاللَّهِ لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالْفَلَاةِ، وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا؛ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا؛ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِذَا أَقْبَلَ إِلَيَّ يَمْشِي؛ أَقْبَلْتُ إِلَيْهِ أُهَرْوِلُ

Allah berfirman dalam hadits qudsy : Aku sesuai perasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia berdzikir kepada-Ku, demi Allah, sesungguhnya Allah senang dengan taubat hamba-Nya melebihi seorang diantara kalian yang menemukan untanya yang hilang di padang yang luas. Dan barang siapa mendekat pada-Ku satu jengkal, maka Aku mendekat padanya satu hasta, barang siapa mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa, dan barang siapa mendatangi-Ku dengan berjalan, niscaya Aku akan mendatanginya dengan berjalan cepat” (Muslim 2675).

Dan kembali pada Allah dalam senang dan susah, akan mengantarkan seorang pada kedudukan orang-orang yang bertaubat, Allah berfirman:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya” (Az Zumar 39 : 8).

Dan diantara sebab diraihnya kedudukan inabah adalah : hendaknya seorang mukmin kembali pada Tuhannya dengan ibadah dan shalat, dari Abdullah bin Mas’ud RA: bahwa seorang melakukan perbuatan dosa, lalu ia datang pada Nabi Saw dan menceritakan padanya, kemudian turunlah firman Allah:

أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (Hud 11 : 114). Allah akan menerima hamba-Nya yang kembali pada-Nya dengan menunaikan shalat, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي أَقْبَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ

Sesungguhnya seseorang bila berdiri menunaikan shalat, maka Allah akan menghadap padanya dengan wajah-Nya”(Ibnu Majah 1023). Ketika perkara susah menimpa Nabi SAW, maka beliau segera menunaikan shalat. Karena shalat merupakan penghubung antara hamba dengan Tuhannya, dan diantara doa yang dibaca oleh Nabi SAW pada shalat malam adalah:

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ

Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku bertawakkal kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu dan kepada-Mu aku bertaubat” (Muttafaq ‘Alaih). Maksudnya: aku taat pada-Mu, aku kembali kepada-Mu dengan beribadah, dan aku melakukan perbuatan yang mendekatkan diri kepada-Mu (Ikmalul Mu’allim 3/131).

Kaum muslimin : membaca Al Quran dan menghayati kandungannya akan mewariskan pertaubatan dalam hati, dari Buraidah RA berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ r لَقِيَهُ، فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَأَدْخَلَهُ الْمَسْجِدَ؛ فَإِذَا صَوْتُ رَجُلٍ يَقْرَأُ، فَقَالَ rمُؤْمِنٌ مُنِيبٌ

Bahwa Nabi SAW berjumpa dengannya, lalu Beliau memegang tangannya dan mengajak masuk ke masjid, tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang membaca, Beliau bersabda: ia adalah seorang mukmin yang bertaubat” (Ahmad 22952 dan An Nasa’i dalam kitab Al Kubra 10/139).

Berpikir tentang ciptaan-ciptaan Allah dan merenungkan keindahan ciptaan-Nya, akan mengingatkan seseorang akan kemampuan Tuhannya serta menunjukkan pada keagungan-Nya, Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَنْ يُنِيبُ

Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezeki dari langit. Dan tiadalah mendapatkan pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)” (Ghafir 40 : 13). Hal itu akan melahirkan pengagungan pada Allah, pertaubatan kepada-Nya serta bersegera dalam mengharap ridha-Nya, Allah berfirman:

أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ* وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ* تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada diatas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun ?. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)” (Qaf 50 : 6-8). Bagi setiap orang yang tunduk, khusu’ dan kembali pada Allah Swt (Tafsir Ibnu Katsir 7/396).

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk dalam golongan hamba-hamba-Mu yang kembali, yang khusu’ yang bertaubat, dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khotbah Kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Para jamaah shalat : sesungguhnya pada taubat terdapat beberapa manfaat dan ia menjadi jalan menuju ketetapan pada hidayah, Allah berfirman:

وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ

Dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya” (Ar Ra’d 13 : 27). Taubat dapat mengingatkan, mencerahkan dan menjauhkan dari kelalaian, Allah berfirman:

وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَن يُنِيبُ

Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)” (Ghafir 40 : 13). Dengan taubat akan terwujud kebahagiaan seseorang, Rasulullah Saw menjelaskan:

إِنَّ مِنَ السَّعَادَةِ أَنْ يَطُولَ عُمْرُ الْعَبْدِ وَيَرْزُقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْإِنَابَة

Sesungguhnya termasuk kebahagiaan adalah panjang umur seorang hamba dan Allah memberinya rezeki taubat” (Ahmad 14604).

Allah memberikan rahmat pada orang-orang yang bertaubat sebagai khabar gembira, disebutkan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَن يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira” (Az Zumar 39 : 17). Mereka akan dimasukkan ke dalam surga dengan penuh kedamaian, Allah berfirman:

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ* هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ* مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ* ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الخُلُودِ

Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (yaitu) orang-orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekelan” (Qaf 50 : 31-34). Marilah kita menghadap kepada Allah dengan beribadah dan bertaubat, agar kita diliputi oleh rahmat-Nya dan menganugerahkan kita surga-Nya.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى مَنْ أُمِرْتُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ، قَالَ تَعَالَى:( إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ). اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً صَادِقَةً، وَإِنَابَةً دَائِمَةً، اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا، وَعَوْنًا وَتَوْفِيقًا، وَمَحَبَّةً وَتَلَاحُمًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَبَارِكْ فِي أَوْلَادِنَا، وَأَدِمِ السَّعَادَةَ فِي بُيُوتِنَا وَوَطَنِنَا، وَاجْعَلْنَا بَارِّينَ بِآبَائِنَا، وَاصِلِينَ لِأَرْحَامِنَا. اللَّهُمَّ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ، الشَّيْخ خليفةْ بن زايدْ لِكُلِّ خَيْرٍ، وَاحْفَظْهُ بِحِفْظِكَ وَعِنَايَتِكَ، وَوَفِّقِ اللَّهُمَّ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ: الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، وَالشَّيْخ مَكْتُوم، وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رَحْمَتِكَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ رَحْمَةً وَاسِعَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ يَتَنَعَّمُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ. وَأَدْخِلِ اللَّهُمَّ فِي عَفْوِكَ وَغُفْرَانِكَ وَرَحْمَتِكَ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجَمِيعَ أَرْحَامِنَا وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ احْفَظْ لِدَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ اسْتِقْرَارَهَا وَرَخَاءَهَا، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا، وَزِدْهَا فَضْلًا وَنِعَمًا، وَحَضَارَةً وَعِلْمًا، وَبَهْجَةً وَجَمَالًا، وَمَحَبَّةً وَتَسَامُحًا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا السَّعَادَةَ وَالْأَمَانَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَاجْزِ خَيْرَ الْجَزَاءِ أُمَّهَاتِ الشُّهَدَاءِ وَآبَاءَهُمْ وَزَوْجَاتِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ جَمِيعًا، اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، الَّذِينَ تَحَالَفُوا عَلَى رَدِّ الْحَقِّ إِلَى أَصْحَابِهِ. اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ نَصْرَكَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ أَهْلَ الْيَمَنِ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْمَعْهُمْ عَلَى كَلِمَةِ الْحَقِّ وَالشَّرْعِيَّةِ، وَارْزُقْهُمُ الرَّخَاءَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْشُرِ الاِسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
https://www.awqaf.gov.ae/ar/Pages/FridaySermonDetail.aspx?did=6915

Thursday, December 20, 2018

Khotbah Jum'at: AMALAN YANG DICINTAI OLEH NABI SAW


Khotbah Jumat: 13 Rabiul Akhir 1440 H/21 Desember 2018 M
Amalan Yang Dicintai Oleh Nabi SAW
Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَكْرَمَنَا بِبِعْثَةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، وَغَرَسَ مَحَبَّتَهُ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، حُبِّبَ إِلَيهِ مِنَ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُهَا، وَمِنَ الْأَخْلَاقِ أَكْرَمُهَا، وَمِنَ الْأُمُورِ أَرْفَعُهَا، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ تَعَالَى:( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ)().

Kaum muslimin : Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran 3 : 31). 

Berteladan pada Nabi SAW merupakan bukti atas cinta dan cinta kepada Nabi SAW merupakan bukti keimanan seseorang, disebutkan dalam sabdanya:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman salah satu dari kalian, hingga aku lebih dicintai dibandingkan orang tua, anak dan manusia semua” (Muttafaq ‘Alaih). Dan diantara kesempurnaan cinta pada Nabi SAW adalah: hendaknya kita mencintai apa yang dicintai oleh Nabi SAW, baik perbuatan ataupun ucapan, etika dan akhlak yang membuat Allah ridha, yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya, yang dapat mendatangkan manfaat pada sesama, sehingga kita dapat mengikuti jejak, hidayah dan mengikuti sirah Nabi SAW, Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al Ahzab 33 : 21).

Hamba Allah: apakah amalan yang dicintai oleh Nabi SAW ? Shalat merupakan salah satu ibadah yang dicintai oleh Rasulullah SAW, disebutkan dalam sabdanya:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Dijadikan yang paling menyenangkan hatiku ada dalam shalat” (An Nasa’i 3940). Saking cintanya pada shalat, beliau bersegera menunaikan shalat fardhu dan selalu menunaikan shalat nawafil, dari Aisyah RA berkata:

كَانَ أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ( مَا دَاوَمَ عَلَيْهَا

Shalat yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW adalah yang dilakukan secara langgeng” (Bukhari 1970 dan Ahmad 26303).

Shalat sunnah rawatib yang senang dilakukan oleh Nabi SAW adalah : dua rakaat sebelum shalat subuh sebagai pembuka hari-harinya dan mendekatkan diri kepada Allah, Rasulullah SAW menjelaskan:

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

Keduanya lebih aku cintai dari dunia seluruhnya” (Muslim 725). Shalat sunnah empat rakaat sebelum Dhuhur, termasuk yang sangat dicintai oleh Nabi SAW dan selalu dilakukan terus menerus, dari Abdullah bin As Saib RA: bahwa Rasulullah SAW shalat empat rakaat sebelum shalat Dhuhur kemudian beliau bersabda:

إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ

Sesungguhnya ia adalah waktu dibukanya pintu-pintu langit dan aku senang amalan shalehku naik pada waktu itu” (At Tirmidzi 478). Puasa merupakan ibadah yang membutuhkan satu hari penuh, dan puasa yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW adalah puasa Senin-Kamis, karena amalan diajukan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis, Nabi SAW bersabda:

وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dan aku suka bila amalku dilaporkan saat aku berpuasa”(At Tirmidzi 747 dan An Nasa’i 2358)
Saudara-saudara yang mencintaI Nabi SAW: Beliau senang membaca Al Quran dengan penuh penghayatan dan membaca ayat-ayatnya dengan pemikiran dan pemahaman, dan diantara surah yang sangat disukai adalah surah Al Fath, beliau bersabda:

لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ. ثُمَّ قَرَأَ:( إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Sungguh telah diturunkan padaku malam ini sebuah surah yang lebih aku cintai daripada terbitnya matahari. Kemudian Beliau membaca: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (Al Fath 48 : 1) (Bukhari 4177). Hal itu karena di dalamnya terdapat khabar gembira bagi Nabi SAW dengan ampunan, dan khabar gembira bagi kaum mukminin dengan kebaikan, ridha dan surga. Nabi SAW senang menyimak Al Quran, Beliau meminta Abdullah bin Mas’ud RA:

اقْرَأْ عَلَيَّ». فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ ( :« فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي». قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى بَلَغْتُ قَوْلَهُ تَعَالَى:( فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا). قَالَ:« أَمْسِكْ». فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

Bacakan untukku”. Abdullah bertanya : aku membacakan untukmu, sedangkan ia diturunkan padamu ? Beliau berkata : Sesungguhnya aku senang menyimaknya dari selainku”. Ibnu Mas’ud RA berkata: aku membacakan untuknya surah An Nisa’ hingga bacaanku sampai : فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا Beliau berkata: cukup. Dan air matanya berlinang” (Muttafaq Alaih).
Menyimak Al Quran merupakan ketaatan yang dapat menggerakkan penghayatan dan pemahaman artinya, sebagaimana ia dapat menurunkan rahmat, Allah berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ القُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan bila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Al A’raf 7 : 204).  Al Laits bin Saad: Tidak ada rahmat yang lebih cepat diturunkan pada seseorang melebihi dari orang yang menyimak Al Quran (Tafsir Al Qurthubi 1/9).  Al Quran merupakan bentuk dzikir yang paling agung, Nabi SAW senang untuk berdzikir kepada Allah dalam setiap kondisi dan waktu, dan dzikir yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW adalah setelah shalat Subuh dan Ashar (Abu Daud 3667). Diantara lafal dzikir yang dicintai oleh Nabi SAW adalah : سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ dan ia lebih dicintai olehnya dari terbitnya matahari.

Saudara-saudara yang mengikuti jejak Nabi SAW: Rasulullah SAW mencintai akhlak yang baik dan pemiliknya, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah yang terbaik akhlaknya diantara kalian” (Bukhari 3759). Akhlak yang dicintai oleh Nabi Saw adalah : memenuhi kebutuhan sesama, Beliau bersabda :
وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ؛ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا
“Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini selama satu bulan” (At Thabrani dalam kitab Al Kabir 13/453)
Kejujuran adalah akhlak yang dapat menguatkan saling percaya antara sesama, oleh karena itu Nabi Saw senang ucapan yang paling jujur, disebutkan dalam sabdanya :
أَحَبُّ الْحَدِيثِ إِلَيَّ أَصْدَقُهُ
“Ucapan yang paling aku cintai adalah yang terjujur” (Bukhari 3131). Sebagaimana Rasulullah Saw mencintai kesabaran, kehati-hatian dan konfirmasi dalam menghadapi permasalahan, karena semua itu akan menjauhkan seseorang dari kesalahan. Rasulullah Saw berkata pada salah satu sahabatnya :
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ: الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ
“Sesungguhnya kamu memiliki dua sifat yang dicintai oleh Allah : kesabaran dan ketenangan” (Muslim 17). Dan hal yang dicintai oleh Rasulullah Saw adalah wewangian, penampilan yang bagus dan berhias diri
Yang Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang mencintai nabi-Mu, yang berteladan pada petunjuknya dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).
نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Para jamaah shalat : Rasulullah Saw mencintai pemaafan dan toleransi, maka ketika datang padanya malaikat Jibril memberikan pilihan antara menghukum orang yang telah menyakitinya dan memberikan maaf pada mereka, Beliau menjawab :
بَابُ التَّوْبَةِ وَالرَّحْمَةِ أَحَبُّ إِلَيَّ
“Pintu taubat dan kasih sayang lebih aku cintai”. Beliau memaafkan mereka dan mendoakan mereka” (Ahmad 2203). Sebagaimana Nabi Saw sangat senang dengan setiap kesepakatan yang dapat mengembalikan hak-hak pada pemiliknya dan masalah menjadi seperti semula, Rasulullah Saw bersabda mengenai Hilf Al Fudhul :
لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِيَ بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ، وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الإِسْلاَمِ لَأَجَبْتُ
“Aku menghadiri satu perjanjian di rumah Abdullan bin Jud’an, yang lebih aku sukai daripada memiliki unta yang bagus, seandainya aku diajak melakukannya dalam Islam, tentu aku kabulkan”(As Sunan Al Kubra, karangan Al Baihaqi 6/367). Sebuah perjanjian untuk menolong orang yang terdzalimi dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan kebajikan, agar masyarakat hidup dalam ketentraman, ketenangan dan keserasian, inilah yang dianjurkan oleh agama kita, yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya, Rasulullah Saw bersabda :
أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللَّهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ
“Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah agama yang lurus dan toleran” (Muttafaq ‘Alaih). Mari kita memperbaharui cinta kita pada Rasulullah Saw dengan mencintai apa yang dicintai olehnya, bersungguh-sungguh mengamalkannya agar kita mendapatkan cintanya dan berteman dengannya di surga, Rasulullah Saw bersabda :
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang orang yang dicintai” (Muttafaq ‘Alaih)
هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى مَنْ أُمِرْتُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ، قَالَ تَعَالَى:( إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)(). اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ لَا قَابِضَ لِمَا بَسَطْتَ، وَلَا مُقَرِّبَ لِمَا بَاعَدْتَ، وَلَا مُبَاعِدَ لِمَا قَرَّبْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ. اللَّهُمَّ ابْسُطْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ وَرَحْمَتِكَ، وَفَضْلِكَ وَرِزْقِكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ النَّعِيمَ الْمُقِيمَ. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا. اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا، وَعَوْنًا وَتَوْفِيقًا، وَمَحَبَّةً وَتَلَاحُمًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَبَارِكْ فِي أَوْلَادِنَا، وَأَدِمِ السَّعَادَةَ فِي بُيُوتِنَا وَوَطَنِنَا، وَاجْعَلْنَا بَارِّينَ بِآبَائِنَا، وَاصِلِينَ لِأَرْحَامِنَا. اللَّهُمَّ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ، الشَّيْخ خليفةْ بن زايدْ لِكُلِّ خَيْرٍ، وَاحْفَظْهُ بِحِفْظِكَ وَعِنَايَتِكَ، وَوَفِّقِ اللَّهُمَّ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ: الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، وَالشَّيْخ مَكْتُوم، وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رَحْمَتِكَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ رَحْمَةً وَاسِعَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ يَتَنَعَّمُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ. وَأَدْخِلِ اللَّهُمَّ فِي عَفْوِكَ وَغُفْرَانِكَ وَرَحْمَتِكَ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجَمِيعَ أَرْحَامِنَا وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ احْفَظْ لِدَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ اسْتِقْرَارَهَا وَرَخَاءَهَا، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا، وَزِدْهَا فَضْلًا وَنِعَمًا، وَحَضَارَةً وَعِلْمًا، وَبَهْجَةً وَجَمَالًا، وَمَحَبَّةً وَتَسَامُحًا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا السَّعَادَةَ وَالْأَمَانَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَاجْزِ خَيْرَ الْجَزَاءِ أُمَّهَاتِ الشُّهَدَاءِ وَآبَاءَهُمْ وَزَوْجَاتِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ جَمِيعًا، اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، الَّذِينَ تَحَالَفُوا عَلَى رَدِّ الْحَقِّ إِلَى أَصْحَابِهِ. اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ نَصْرَكَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ أَهْلَ الْيَمَنِ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْمَعْهُمْ عَلَى كَلِمَةِ الْحَقِّ وَالشَّرْعِيَّةِ، وَارْزُقْهُمُ الرَّخَاءَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْشُرِ الاِسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
HYPERLINK “https://www.awqaf.gov.ae/ar/Pages/FridaySermonDetail.aspx?did=6911” https://www.awqaf.gov.ae/ar/Pages/FridaySermonDetail.aspx?did=6911