Sunday, March 24, 2019

Khotbah Jum'at: Tujuan Hadist Menjelaskan Al-Qur'an


KHUTBAH JUMAT
8 Rajab 1440 H/15 Maret 2019

"Tujuan Hadis adalah Menjelaskan Kandungan Al-Quran"

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama untuk kita semua, memberikan nikmat besar berupa diutusnya pemimpin para rasul yaitu Rasulullah SAW, dan memerintahkan kita untuk mengikuti petunjuk dan sunnahnya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata tiada sekutu baginya, dan saya bersaksi bahwa Sayyidina dan Nabiyyina Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ya Allah karuniakan shalawat, salam dan keberkahan kepada Sayyidina dan Nabiyyina Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya, juga bagi mereka yang senantiasa mengikutinya dengan benar sampai hari pembalasan. Amma ba'du

Kami wasiatkan kepada hadirin hamba-hamba Allah dan juga bagi diri khatib sendiri, untuk senantiasa bertakwa kepada Allah swt.

Allah swt berfirman: "Dan ingatlah nikmat Allah yang diberikan kepadamu dan apa yang diturunkan kepadami berupa kitab dan hikmah yang mengajarimu dengannya, dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Baqarah: 231).

Kaum Muslimin yang berbahagia

Sesungguhnya Allah swt memberikan nikmat kepada umat manusia berupa diutusnya manusia terbaik, yaitu Sayyidina Muhammad SAW, yang membacakan Alquran kepada mereka, dan mengajarkan petunjuk yang lurus.

Allah swt berfirman:
"Sesungguhnya Allah telah memberikan karunia yang besar kepada orang-orang beriman yaitu diutusnya seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, serta mensucikan dan mengajarkan mereka akam al-Kitab dan al-Hikmah." (Ali Imran:164).

Al-Kitab ialah Alquran, dan al-Hikmah ialah sunnah dan hadis-hadis Rasulullah SAW, yang datang untuk menjelaskan maksud yang diinginkan Allah swt, juga menjelaskan secara rinci hukum-hukum agama. Allah swt berfirman: "Dan Kami menurunkan peringatan (As Sunnah) kepadamu untuk menjelaskan apa yang telah diturunkan kepada mereka (Alquran)." An Nahl: 44).

Alquran adalah wahyu dari Allah swt baik lafadz maupun maknanya, sedangkan hadis adalah wahyu dari Allah swt secara maknanya melalui lisan Rasul-Nya, dan hadis juga memiliki keistimewaan berupa keindahan bahasa dan kejelasan makna. Rasulullah SAW bersabda: "Aku diberikan kemampuan untuk meringkas kalimat." (Muttafaq Alaih).

Hadis juga merupakan hujjah (sandaran/argumen) dan  bukti/dalil.
Allah swt berfirman:
"Dan tidaklah ia (Muhammad) berucap dari hawa nafsunya. Ucapannya tak lain ialah wahyu yang diwahyukan kepadanya." (An Najm: 3-4).
Rasulullah saw juga bersabda: "Ketahuilah, susungguhnya aku diberikan Al-Kitab dan yang semisal dengannya.

Artinya, bahwa Rasulullah saw diberikan AlQuran dan juga diberi hadis-hadis yang mulia bersamanya. Dan sunnah/hadis-hadis tersebut berupa semua yang datang dari Rasulullah saw, baik berupa ucapan, perbuatan, sifat, atau sesuatu yang beliau lihat atau beliau dengar lalu menyetujuinya.

Hadis-hadis Nabi ada yang datang untuk menguatkan hukum-hukum yang terdapat di dalam Alquran, ada yang mensyariatkan apa yang tidak disebut di dalam Alquran, dan ada juga yang datang untuk merinci dan menjelaskan hal-hal yang belum dirinci secara detail oleh Alquran, baik yang berhubungan dengan ibadah, muamalah (sosial), maupun akhlak dan tingkah laku.

Misalnya perintah shalat dan zakat yang belum dirinci oleh Alquran, hanya disebutkan secara umum sebagaimana firman Allah: "Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan taatilah Rasul-Nya supaya kalian mendapat rahmat." (An Nur:56)

Lalu dirinci/dijelaskan oleh Rasulullah saw tentang shalat-shalat yang wajib, jumlah rakaatnya, dan segala hal yang berkaitan dengan shalat. Beliau SAW bersabda: "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat." (HR. Al Bukhari)

Hadis juga menjelaskan/merinci tentang ukuran zakat yang harus dikeluarkan, syarat-syaratnya, dan seluruh hukum-hukum yang terkait dengan zakat.

Demikian pula ayat-ayat yang berbicara tentang ibadah haji, dijelaskan/dirinci oleh sunnah Rasulullah saw tentang tatacara dan hukumnya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Ikutilah dariku tatacara manasik haji kalian." (HR. Muslim dan Baihaqi).

Demikian pula dalam hal ibadah sosial (muamalah), Allah swt memerintahkan kita untuk berlaku "ihsan" (berbuat baik). Sebagaimana firman Allah: "Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." (Al Baqarah: 195).

Lalu dijelaskan oleh hadis-hadis Rasulullah saw tentang bentuk-bentuk perbuatan baik tersebut, berupa perbuatan yang mengandung nilai-nilai yang luhur, akhlak yang terpuji, tingkah laku yang mulia, seperti menjenguk orang sakit, membantu orang-orang lemah (dhuafa), menyayangi anak kecil, menghormati orang yang lebih tua, dan sebagainya.

Para Jamaah Shalat yang Berbahagia

Sungguh para sahabat RA telah menjaga dan menghafal hadis-hadis Rasulullah, memberikan perhatian serius untuk menjaganya, lalu mewariskannya kepada generasi berikutnya. Para ulama juga bersungguh-sungguh memelihara dan menguji keotentikannya, dan menjaga keshahihannya. Karena itu, mereka memberikan persyaratan yang sangat ketat bagi ulama-ulama yang meriwayatkan hadis, yakni para periwayat dapat diterima hadis yang diriwayatkannya bila mereka dikenal dengan ketakwaannya, kewara'annya, kejujuran, dan kecerdasannya. Dan hadis tersebut juga diterima dari orang yang memiliki syarat dan sifat yang sama, begitupun periwayat-periwayat sebelumnya hingga Rasulullah SAW.

Karena itu, para ulama dalam ilmu hadis ini memiliki kemuliaan dan keistimewaan. Mereka menjaga dan menghafal hadis-hadis Rasulullah, bahkan menempuh perjalan jauh ke negara-negara lain demi untuk mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis Rasulullah, menelusuri keshahihan sanadnya, menjelaskan maknanya, dan meriwayatkan kepada generasi setelahnya hingga kepada kita semua dengan sangat teliti, amanah dan penuh kecerdasan.

Maka kawajiban kita bagi mereka ialah memahami kemuliaan ilmu mereka, kecerdasan akan spesialisasi mereka, menghargai usaha dan jeripayah mereka, mensyukuri karya-karya mereka, serta mendoakan dan memohonkan rahmat untuk mereka.

Wahai hadirin yang mencintai Nabi SAW

Sesungguhnya kewajiban kita terhadap sunnah Rasulullah SAW ialah menghormati, mengagungkan, menerimanya dan berserah diri kepadanya. Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya saw:

"Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan kepada mereka. Agar kalian semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, memuliakannya, menghormatinya." (Al Fath: 8-9)

Pemuliaan dalam ayat tersebut berarti pengagungan dan penghormatan. Dan di antata cara memuliakan dan menghormati Nabi SAW adalah menghormati dan memuliakan hadis-hadisnya, serta mengamalkan isinya.

Allah swt berfirman:
"Dan apapun yang Rasulullah perintahkan maka laksanakanlah, dan apa yang dia larang maka jauhilah." (Al Hasyr:7)

Artinya, lakukan apa-apa yang beliau perintahkan, dan jauhi segala yang beliau larang, amalkan hadis-hadis dan sunnah yang sudah sampai kepadamu, dan ikutilah beliau SAW segala ucapan, perbuatan dan keadaan beliau. Allah swt berfirman:

"Sungguh, pada diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik bagimu." (Al Ahzab: 21).

Itulah kunci-kunci kebahagiaan. Allah swt berfirman:
"Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakan dan menolongnya, serta mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al A'raf: 157).

Yaa Allah karunikan kepada kami kemampuan mengikuti Sayyidina dan Nabiyyina Muhammad SAW dan mengamalkan hadis-hadis darinya. Kuatkan kami untuk menaati-Mu, dan menaati Rasul-Mu, juga menaati orang yang engkau perintahkan kami menaatinya (ulil amri). Demi mengamalkan firman-Mu: "Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian." (An Nisa:59).

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillah.....

Hadirin Jamaah Shalat yang Berbahagia

Rasulullah SAW menyerupakan petunjuk dan ilmu yang datang dari beliau seperti air yang merupakan sumber kehidupan. Beliau SAW menjelaskan bahwa sungguh banyak manusia mengambil manfaat dari petunjuk beliau, kebanyakan mereka menerima sunnah beliau SAW.

Ketika beliau menyebutkan bahwa tanah yang baik adalah tanah yang mengandung air, sehingga air itu bermanfaat untuk dirinya dan untuk orang banyak, beliau SAW lalu bersabda:

"Demikianlah perumpamaan orang yang mengerti agama, ia mendapat manfaat dari agama itu, ia mengetahui lalu mengajarkannya." (Muttafaq Alaih)

Karena itu, hendaklah kita semua mengamalkan sunnah Nabi SAW agar dapat meraih cinta Allah swt dan ampunan-Nya terhadap dosa-dosa kita. Allah swt berfirman:

"Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, maka ikutlah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintau kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran:31)

No comments:

Post a Comment