Saturday, November 16, 2019

Khotbah Jum'at: MAKANAN HALAL

Khotbah Jumat, 28 Muharram 1441 H/ 27 September 2019 M

"Makanan Halal"

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي قَدَّرَ الْأَرْزَاقَ وَالْأَقْوَاتَ، وَأَمَرَنَا بِالْكَسْبِ الْحَلَالِ وَالْأَكْلِ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَتْقَى النَّاسِ لِرَبِّهِ، وَأَكْثَرُهُمْ تَحَرِّيًا لِلْحَلَالِ فِي كَسْبِهِ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ: (وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ)( ).

Kaum Muslimin yang Berbahagia...

Allah swt berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Hud 11: 6).

 Maksudnya bahwa Allah menjamin semua rezeki makhluk-Nya baik kecil ataupun besar (Tafsir Ibnu Katsir 4/305). 

Allah menciptakan bumi dan menurunkan rezeki semua penghuninya dan mata pencahariannya, semua itu disediakan untuk kemaslahatan mereka. 

Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya” (Al Hijr 15 : 20). 

Allah menganugerahkan makanan yang berkah bagi penduduk bumi dan melanggengkan kebaikan padanya (Tafsir At Thabari 20/385), Allah berfirman:

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا

“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya” (Fusshilat 41 : 10). 

Allah Swt menundukkan dan menyiapkan segala yang ada di bumi untuk manusia, agar mereka berusaha dan mencari penghidupan mereka, Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah Yang menjadikan bumi mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (Al Mulk 67 : 15). 

Allah menganjurkan manusia agar mencari yang halal dan baik yang terdapat di bumi, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” (Al Baqarah 2 : 168). 

Baik itu ialah makanan yang baik bagi badan dan jiwa. Ajakan ini juga  diperuntukkan oleh Allah SWT untuk para nabi dan rasul, seperti termaktub dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Mukminun 23 : 51).

 Para Nabi menunaikan perintah diatas dengan sebaik-baiknya, mereka bersungguh-sungguh, bekerja sekuat tenaga untuk mendapatkan rezeki yang halal, Rasulullah SAW bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tiada sesuap pun makanan yang lebih baik dari makanan hasil jerih payahnya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud AS itu makan dari hasil dari kerjanya sendiri” (Bukhari 2072).

 Ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW tentang sebaik-baiknya dan pekerjaan yang paling utama, Beliau menjawab:

عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Pekerjaan seseorang dengan jerih payahnya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur” (At Thabrani dalam kitab Al Awsath 2140). 

Hal itu mencakup setiap keterampilan, pekerjaan dan perdagangan dan semua pekerjaan seorang yang didapat dengan cara yang halal, maka itulah sebaik-baiknya mata pencaharian, serta begitu juga hasil jerih payah anaknya, Nabi Saw menjelaskan:

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ

Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya hasil dari usahanya” (Abu Daud 3528, At Tirmidzi 1358, An Nasa’i 4451, Ibnu Majah 2137 dan Ahmad 24032)

Hamba-Hamba Allah yang Dimuliakan...

Sesungguhnya Allah melarang kita mengambil harta dengan jalan illegal, Allah berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Dan janganlah sebahagian kamu memakan hara sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil” (Al Baqarah 2 : 188). 

Nabi SAW memperingatkan kita agar jangan terburu-buru dalam mendapatkan rezeki yang telah digariskan, sehingga mencari jalan yang tidak dihalalkan baginya, Nabi SAW bersabda:

إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِيَ -أَيْ: أَوْحَى إِلَيَّ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ- أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا، وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةٍ؛ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ

Sesungguhnya Ruh Kudus (Jibril) telah membisikkan pada hatiku, bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai tiba ajalnya dan menghabiskan rezekinya, maka perindahlah dalam mencari rezeki, dan jangan sampai tertundanya rezeki membuat seseorang mencarinya dengan kemaksiatan, karena rezeki dari Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada-Nya” (Hilyatul Awliya’ 10/27). 

Demikian pula Rasulullah SAW telah menganjurkan kita untuk meninggalkan hal yang diragukan kehalalannya, itu lebih baik bagi seseorang di dunia dan akhiratnya, Beliau bersabda:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Maka barang siapa yang menjaga dirinya dari syubhat, ia berlepas diri (demi keselamatan) agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam syubhat, ia pun terjerumus dalam perkara yang haram” (Muttafaq ‘Alaih).

 Rasulullah Saw telah mencontohkan bahwa beliau selalu berusaha untuk memakan dan minum yang halal, beliau tidak pernah makan kecuali yang halal, Rasulullah SAW bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِي فَأَجِدُ التَّمْرَةَ سَاقِطَةً عَلَى فِرَاشِي فَأَرْفَعُهَا لِآكُلَهَا، ثُمَّ أَخْشَى أَنْ تَكُونَ صَدَقَةً فَأُلْقِيهَا

Demi Allah, ketika aku pulang ke keluargaku, aku menemukan kurma berserakan diatas tempat tidurku, lalu aku ambil untuk aku makan, kemudian aku takut kalau kurma itu bagian dari zakat, maka aku biarkan” (Muslim 1070).

 Dari Anas bin Malik RA : bahwa Rasulullah SAW berjalan melewati kurma yang jatuh di jalan, lalu beliau bersabda: "Seandainya aku tidak takut bahwa kurma itu bagian dari zakat, tentu aku memakannya” (Muslim 1071). 

Hal itu karena Nabi SAW tidak boleh memakan zakat.

Banyak pula contoh yang diambil dari para sahabat, mereka meninggalkan sebagian yang halal, karena takut terjatuh dalam yang haram, Ibnu Umar RA berkata : “Sesungguhnya aku senang meletakkan antara diriku dan yang diharamkan tabir dari yang halal”. Karena hal itu memiliki pengaruh baik dalam kehidupan dan setelah mereka meninggal.

Ya Allah, limpahkan pada kami rezeki yang halal dan baik, berkahilah rezeki yang Engkau berikan pada kami, dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.



Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ بُكْرَةً وَعَشِيًّا، يُدْخِلُ الْجَنَّةَ مِنْ عِبَادِهِ مَنْ كَانَ تَقِيًّا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Kaum muslimin yang berbahagia...

Sesungguhnya pada pencarian dan pendapatan yang halal, memiliki pengaruh dan manfaat yang besar, dan ini menjadi salah satu penyebab dikabulkannya doa serta diterimanya amalan shaleh, Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ، فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهَا، كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ -أَيْ مُهْرَهُ الصَّغِيرَ- حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ
“Barang siapa bersedekah senilai sebutir kurma dari usaha yang halal, dan Allah tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang diantara kalian membesarkan kuda kecilnya, hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung” (Muttafaq ‘Alaih, lafal Al Bukhari). 

Barang siapa menjaga mata pencahariannya dari yang halal, maka akan berpengaruh pada diri, anak dan hartanya, dan Allah akan memberkahi keturunannya.

Dan diantara pengaruh dari memakan makanan yang halal wahai hamba Allah adalah bahwa Allah akan memberikan kemudahan padanya di hari kiamat, karena ia akan ditanyai mengenai hartanya :
مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيمَ أَنْفَقَهُ
“Dari mana didapat dan kemana dinafkahkan” (At Tirmidzi 2416). Ia akan memiliki alasan dan ia dimasukkan oleh Allah ke dalam surga.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ r فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَةَ، وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ r: «نَعَمْ
“Ada seorang yang datang pada Nabi Saw dan bertanya : Wahai Rasulullah, apakah pendapatmu bila aku menunaikan shalat wajib dan mengharamkan yang haram dan menghalalkan yang halal, apakah aku akan masuk surga ? Nabi Saw menjawab : Ya” (Muslim 15). 

Oleh karena itu, marilah tanamkan pentingnya mencari yang halal dalam hati putra putri kita, sehingga kehidupan mereka terjaga, bahagia di dunia dan kenikmatan bagi mereka kelak di dalam surga.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

 اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ نَرْجُو، وَإِيَّاكَ نَدْعُو، فَأَدِمْ عَلَيْنَا فَضْلَكَ، وَأَسْبِغْ عَلَيْنَا نِعَمَكَ، وَتَقَبَّلْ صَلَوَاتِنَا، وَضَاعِفْ حَسَنَاتِنَا، وَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّئَاتِنَا، وَارْفَعْ دَرَجَاتِنَا، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ. اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ. وَارْحَمِ اللَّهُمَّ جَمِيعَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ: الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ الْأَمَانَ وَالِاسْتِقْرَارَ، وَالرَّخَاءَ وَالِازْدِهَارَ، وَزِدْهَا تَقَدُّمًا وَرِفْعَةً، وَتَسَامُحًا وَمَحَبَّةً، وَأَدِمْ عَلَى أَهْلِهَا السَّعَادَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ؛ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ؛ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ r، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ r.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ. اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Khotbah Jum'at: PERINTAH BERTAFAKKUR


Khotbah Jumat, 05 Shafar 1441 H/ 04 Oktober 2019 M

Perintah Bertafakkur (Berpikir)

Khutbah Pertama

(الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ* يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ)( ). وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، (تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا)( ). وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ: (إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ)( ).

Kaum Muslimin yang Berbahagia  : Aisyah RA berkata : Rasulullah Saw berdiri menunaikan shalat malam, dan beliau terus menangis, hingga datang Bilal mengingatkannya tentang shalat subuh. Tatkala ia melihat beliau menangis, ia bertanya : wahai Rasulullah, kenapa kau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa yang telah lalu dan yang akan datang ?

 Beliau menjawab : Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur ? Pada malam ini telah turun padaku sebuah ayat, celakalah orang yang membacanya tapi tidak meresapinya :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Ali Imran 3 : 190). 

Pada ayat ini terdapat ajakan Allah pada pemilik akal yang sehat agar menghayati penciptaan langit, menghayati keindahan penciptaan-Nya, Dia-lah yang berfirman :

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerjaan langit dan bumi?” (Al A’raf 7 : 185).

 Memperhatikan keluasan langit dan alam raya, maksudnya adalah menghayati tentang apa yang telah dititipkan oleh Allah didalamnya; mulai dari bukti-bukit yang jelas atas hikmah dan keaguangan qudrah-Nya (Tafsir Al Qurthubi 2/191)

Lalu kenapa kita harus memikirkan tentang penciptaan langit ?

 Dalam penciptaan langit terdapat tanda-tanda yang jelas bagi orang yang berakal serta hikmah bagi pemilik hati, yang dapat menguatkan keimanan terhadap Tuhan semesta alam dalam hati mereka, meneguhkan keyakinan dengan keagungan Allah dalam jiwa mereka, Allah berfirman mengisahkan tentang Ibrahim AS :

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin” (Al An’am 6 : 75). 

Allah Azza wa Jalla memuji orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memikirkan tentang penciptaan langit, sehingga mereka semakin bertambah pengagungannya terhadap Pencipta mereka, semakin takut pada Tuhan mereka dan akan tergerak ucapan mereka untuk bertasbih :

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Ali Imran 3 : 191). 

Maha Suci Engkau Tuhan kami, yang telah menundukkan langit untuk kemanfaatan dan keberlanjutan kehidupan kami, seperti Engkau firmankan dalam kitab-Mu :

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (Al Jatsiyah 45 : 13).

 Langit adalah atas pelindung bagi penduduk bumi, yang terus memberikan kebaikannya pada kehidupan mereka dan darinya rezeki mereka diturunkan, Allah berfirman :

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu” (Ad Dzariyat 51 : 22). 

Darinya diturunkan air tawar yang menumbuhkan kehidupan di bumi untuk kehidupan penghuni bumi, Allah berfirman :

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)” (An Nahl 16 : 65). 

Air hujan itu kemudian mengalir ke lembah-lembah dan sungai-sungai, Allah berfirman :

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا
“Allah telah menurunkkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang” (Ar Ra’d 13 : 17). 

Maka tumbuhlah tanaman, pepohonan, buah-buahan menjadi matang, kebaikan melimpah, sehingga tersebarlah keceriaan di muka bumi, Allah berfirman :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu” Ibrahim 14 : 32). 

Kehidupan manusia tidak akan berlansung kecuali dengan berlanjutnya pemberian dari langit dan bumi.

Hamba Allah yang Dimuliakan...

Apakah yang kita pikirkan tentang penciptaan langit ? Sesungguhnya Allah menciptakan langit dengan penciptaan yang unik, sempurna dan tidak ada yang sebanding dengannya (Tafsir Ibnu Katsir 1/398). Allah Azza wa Jalla menjelaskan :

بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah Pencipta langit dan bumi” (Al Baqarah 2 : 117). 

Dia menciptakan dengan kekuatan-Nya dan mengangkatnnya dengan kekuasaan-Nya, disebutkan dalam firman-Nya :

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya” (Ad Dzariyat 51 : 47).

 Maksudnya Kami membangunnya dengan kekuatan, tanpa pasak bumi, dan Kami mengangkatnya tanpa sesuatu yang dapat dipegang dari atasnya dan tanpa tiang yang menyangga dari bawahnya (Tafsir Ibnu Katsir 7/424). Allah Swt berfirman :

خَلَقَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya” (Luqman 31 : 10). 

Maka berpikirlah wahai hamba Allah tentang hikmah penciptaan langit dan kekuatan kerekatannya walaupun dengan tinggi dan keluasannya, Allah berfirman :

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا* رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit ? Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangunannya lau menyempurnakannya” (An Nazi’at 79 : 27-28).

 Maksudnya bahwa Allah menciptakan langit sangat tinggi, yang berjauhan dan memiliki kesamaan pada setiap penjurunya (Tafsir Ibnu Katsir 8/316), Maha Suci Allah Yang:

خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang” (Al Mulk 67 : 3). 

Maksudnya ialah bahwa Dia menciptakannya (langit) bertingkat-tingkat, tidak ada perbedaan, tidak ada kesalahan dan tidak memiliki cacat (Tafsir Ibnu Katsir 8/176). 

Dan dijadikan didalamnya planet-planet dan bintang-bintang yang berpijar, Allah Swt berfirman :

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجاً وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya)” (Al Hijr 15 : 16). 

Bintang-bintang adalah hiasan langit dunia, dan sebagai tanda-tanda petunjuk di kegelapan malam baik di daratan maupun di lautan. (Tafsir At Thabari 23/123). Allah berfirman :

وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ
“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapatkan petunjuk” (An Nahl 16 : 16). 

Bintang-bintang yang ada di langit tak seorang pun mengetahui jumlahnya kecuali Allah, seorang astronom berpendapat : di langit terdapat galaksi yang tak terbilang, galaksi adalah kumpulan bintang-bintang dan planet-planet yang mengitarinya. Dan pada galaksi kita saja terdapat sekitar seratus milyar bintang seperti matahar.

Maha Suci Dzat yang telah menundukkan bintang-bintang, planet-planet yang beredar pada orbitnya, Maha Mulia Allah yang telah menjaganya, dan tak seorang pun mampu menahannya. Allah berfirman :

وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi melainkan dengan izin-Nya ? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” (Al Hajj 22 : 65)

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami taufiq untuk menghayati ayat-ayat-Mu dan memikirkan tentang keindahan ciptaan-Mu, dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.



Khutbah Kedua

(الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ)( ). وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Kaum Muslimin yang Berbahagia...

Allah Swt berfirman :
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Katakanlah : Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi” (Yunus 10 : 101). 

Pada ayat ini Allah mengajak manusia untuk memperhatikan langit dan mengekplorasi ruang angkasa, karena hal ini akan meneguhkan keimanan dalam hati mereka dan meningkatkan pengetahuan mereka. Orang yang naik ke langit, tentu memiliki pengetahuan yang luas dan keistimewaan pada akalnya. 

Cita-cita pendiri Negara Persatuan Emirates Arab dan pembangun peradabannya, syaikh Zayed bin Sultan Al Nahyan adalah bahwa ia mengingingkan salah satu dari penduduknya ada yang mampu menjelajahi ruang angkasa, yaitu dengan syarat tidak bermalas-malasan dalam mencari ilmu dan melakukan penelitian, sehingga ia dapat memberikan manfaat pada kemanusiaan dengan ilmu dan penelitiannya dan dapat membawa kemuliaan bagi tanah airnya. Dan dengan usaha bersama antara semua bidang keahlian dan dengan tindak lanjut serta dorongan yang terus menerus dari pemimpin yang cerdas, maka cita-cita itu akhirnya terwujud, sehingga salah seorang putra Emirates terbang ke ruang angkasa sebagai astronot, ia membawa Al Quran dan bendera negaranya, dengan berbekal keimanan dan ketawakkalan kepada Tuhannya, inilah yang membuat kita bangga, sebuah prestasi kebudayaan yang akan tercatat dalam sejarah.

 Semoga Allah memberikan kesuksesan pada usahanya, dan tugas putra putri kita adalah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu pengetahuan, hingga kelak mereka dapat berkhidmat untuk tanah air mereka, mengangkat derajat masyarakat mereka dan semoga pencapaian seperti ini dapat diwujudkan oleh mereka dalam berbagai bidang.

هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

 اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ نَرْجُو، وَإِيَّاكَ نَدْعُو، فَأَدِمْ عَلَيْنَا فَضْلَكَ، وَأَسْبِغْ عَلَيْنَا نِعَمَكَ، وَتَقَبَّلْ صَلَوَاتِنَا، وَضَاعِفْ حَسَنَاتِنَا، وَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّئَاتِنَا، وَارْفَعْ دَرَجَاتِنَا، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

 اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ

اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ. وَارْحَمِ اللَّهُمَّ جَمِيعَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ: الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ الْأَمَانَ وَالِاسْتِقْرَارَ، وَالرَّخَاءَ وَالِازْدِهَارَ، وَزِدْهَا تَقَدُّمًا وَرِفْعَةً، وَتَسَامُحًا وَمَحَبَّةً، وَأَدِمْ عَلَى أَهْلِهَا السَّعَادَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ؛ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ؛ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ r، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ r.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ. اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Khotbah Jum'at: KELUARGA MERUPAKAN ANUGERAH DARI ALLAH


Khotbah Jumat, 12 Shafar 1441 H/ 11 Oktober 2019 M

"Keluarga Merupakan Anugerah dari Allah"

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْكَرِيمِ الْوَهَّابِ، الْمُعْطِي بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى،

 قَالَ سُبْحَانَهُ: (وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ)( ).

Kaum Muslimin yg Berbahagia :

 Sesungguhnya Allah memuji hamba-hamba Allah yang berdoa kepada-Nya :
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Al Furqan 25 : 74). 

Mereka memohon kepada Tuhan mereka Yang Maha Pemberi, agar menganugerahkan kepada mereka sebuah keluarga yang tenteram, yang menjadi teladan bagi orang lain dalam ketaatan kepada Allah dan dalam berbuat baik kepada sesama, karena keluarga merupakan salah satu anugerah Allah yang paling agung yang diberikan kepada seseorang dalam hidupnya, Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ayyub AS :
وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran” (Shad 34 : 43). Maksudnya bahwa Allah memuliakannya dengan adanya seorang isteri dan anak-anak bersamanya (Tafsir Al Baghawi 3/310). Ketika berkumpul bersama keluarga, maka ia akan lebih senang dan tenteram.

Isteri adalah pilar keluarga, pemberian dan anugerah dari Allah yang agung, hal ini dapat dilihat dalam firman Allah :
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا
“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri” (An Nahl 16:72). Seorang mufassir menjelaskan : bahwa isteri adalah anugerah yang diberikan pada kita (Tafsir AR Razi 25/19). 

Bersamanya membangun keluarga dan kehidupan menjadi tenteram, yaitu seorang isteri yang menghargai suaminya, yang membantunya atas urusan agama dan dunianya, menjaga anak-anaknya, membahagiakan keluarganya dan menyebarkan rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarganya. Isteri merupakan harta yang sangat berharga bagi orang yang menyadari kedudukan dan nilainya.

 Rasulullah Saw bersabda pada Mu’adz bin Jabal RA :
يَا مُعَاذُ، قَلْبٌ شَاكِرٌ، وَلِسَانٌ ذَاكِرٌ، وَزَوْجَةٌ صَالِحَةٌ تُعِينُكَ عَلَى أَمْرِ دُنْيَاكَ وَدِينِكَ؛ خَيْرُ مَا اكْتَنَزَ النَّاسُ
“Wahai Mu’adz, hati yang bersyukur, lidah yang berdzikir dan isteri shalihah yang membantumu dalam urusan dunia dan urusan agamamu, itu adalah sebaik-baiknya simpanan manusia” (Syu’bul Iman 6/47). 

Menghargai usaha isteri dan memperlakukannya dengan baik, merupakan salah satu bentuk syukur pada Allah, hal ini sesuai dengan perintah Allah :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut” (An Nisa’ 4 : 19). Yaitu suami menghormati isterinya dan memperlakukannya dengan lemah lembut, Rasulullah Saw bersabda :
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا؛ أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ
“Jika Allah Azza wa Jalla menginginkan kebaikan bagi sebuah keluarga, Allah berikan mereka kelemah lembutan” (Ahmad 24427). 

Dengan demikian, suami telah membantunya dalam urusan kehidupannya, yaitu dengan berteladan pada Rasulullah Saw yang menegaskan dalam sabdanya :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku” (At Tirmidzi 3895 dan Ibnu Majah 1977).

Hamba Allah : sesungguhnya anak dan keluarga merupakan anugerah Allah, Allah berfirman :
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki” (As Syura 42 : 49). 

Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّ أَوْلَادَكُمْ هِبَةُ اللَّهِ لَكُمْ
“Sesungguhnya anak-anak kalian adalah pemberian Allah untuk kalian” (Al Hakim 3123 dan As Sunan Al Kubra 16162). 

Nabi Ibrahim AS memahami nilai nikmat pemberian anak, ketika ia berdoa pada Tuhannya agar dianugerahi keturunan yang baik, disebutkan dalam doanya :
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh” (As Shaffat 37 : 100). 

Allah menyimak doanya dan mengabulkannya, seperti dijelaskan dalam firman-Nya :
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ
“Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub” (Al ‘Ankabut 29 : 27). 

Begitu pula nabi Zakaria AS berdoa kepada Tuhannya :
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا* وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا* يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
“Ia berkata : Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa keapda Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” (Maryam 19 : 4-6).

 Maksudnya : yang diridhai akhlaknya dan yang baik perbuatannya (Tafsir Al Qurthubi 11/82). 

Anak shaleh yang taat pada Tuhannya, menjadi penolong keluarganya dan menjadi kebanggan negaranya. Para ulama memberikan ucapan selamat kepada orang yang dianugerahi anak oleh Allah, mereka menganjurkan mereka agar bersyukur pada Dzat Yang Maha Pemberi dengan ucapan :

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ
“Semoga Allah memberkahimu pada anak yang dianugerahkan padamu, kamu pun bersyukur kepada Yang Maha Pemberi, semoga ia tumbuh dewasa dan kau dikarunia baktinya” (Al Adzkar, karangan An Nawawi : 853). 

Barang siapa dikarunia oleh Allah anak keturunan, maka hendaknya ia menghargai pemberian itu dengan sebaik-baiknya, bersyukur atas pemberian tersebut sebagimana dicontohkan oleh Ibrahim AS :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Isma’il dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa” (Ibrahim 14 : 39). 

Bentuk syukur atas pemberian anak adalah dengan mendidik mereka, mengarahkan mereka dan merawat mereka dengan sebaik-baiknya,

 Rasulullah Saw bersabda :
الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Seorang suami pemimpin atas keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya” (Muttafaq ‘Alaih).

 Kedua orang tua hendaknya memperbanyak doa untuk kebaikan anak-anaknya, agar mereka istiqomah atas ketaatan pada Allah dan agar mereka menjaga shalat, sehingga mereka selalu dalam lindungan Allah sepanjang hayat mereka, sebagaimana doa nabi Ibrahim AS :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (Ibrahim 14 : 40). Anak adalah kebahagiaan bagi keluarga dan hiasan kehidupannya.

Dan diantara anugerah yang terindah adalah bila seorang memiliki saudara dan saudari yang ikut serta dalam kebahagiaan, menolongnya dalam duka serta membantunya dalam mewujudkan prestasi. Dan Allah Swt telah menganugerahkan Musa AS nabi Harun AS agar memperkuat dan membantunya dalam menjalankan tugasnya, Allah berfirman :

وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا
“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi” (Maryam 19 : 53). 

Dan hak saudara adalah tidak boleh memutus hubungan persaudaraan, akan tetapi dianjurkan saling mengunjungi, saling menanyakan khabar sesama mereka, membantu memberikan solusi, membantu menghilangkan kesedihan dan gundahnya, itulah sebaik-baiknya pertolongan.

Ya Allah, berkahilah keluarga kami, langgengkan kebahagiaan dalam rumah dan keluarga kami, dan berilah kami semua taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).

نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ




Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Kaum Muslimin yg Berbahagia :

 Sesungguhnya anugerah Allah Azza wa Jalla di dunia merupakan pemberian yang berkonsekuensi sebagai balasan yang akan diterima di akhirat.

Al Hasan Al Bashri RA berkata :
مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ بِهِبَةٍ إلَّا وَعَلَيْهِ فِيهَا مَسْؤُولِيَّةٌ
“Tidaklah setiap nikmat yang diberikan Allah kepada seorang hamba, melainkan ada tanggung jawab di dalamnya” (Adabud Dunya wad Din, hal : 115). 

Jadi barang siapa dianugerahkan oleh Allah sebuah keluarga, maka hendaklah ia menjaga kerekatannya, bersungguh-sungguh dalam mewujudkan kebahagiaannya, dan perlu diketahui bahwa kebahagiaan keluarganya merupakan pemberian dari Allah Yang Maha Pemberi, hendaknya ia mensyukurinya. Seorang suami berusaha menciptakan ketentraman dalam keluarganya dan membahagiakan mereka. Begitu pula seorang isterti bekerja untuk menguatkan hubungan antara anggota keluarganya, memberikan mereka kehangatan dan kelembutan kasih sayangnya, serta menjaga mereka dengan sebaik-baiknya. 

Anak-anak berbakti kepada kedua orang tua mereka, belajar dengan sungguh-sungguh, menunaikan tugas mereka, membangun rasa saling menghargai, saling menghormati, saling membantu dan saling berkomunikasi sesama saudara, sehingga keluarga tersebut menjadi keluarga yang stabil dan bahagia, dan akhirnya masyarakat semakin kuat.

هَذَا وصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، كَمَا أَمَرَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؛ فَقَالَ فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)( ). 

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ يَا حَلِيمُ يَا كَرِيمُ، يَا رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ الشَّيخْ خَلِيفَةْ بْن زَايِدْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاشْمَلْ بِتَوْفِيقِكَ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ، وَإِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.
اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيخْ زَايِدْ وَالشَّيخْ مَكْتُومْ وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رِضْوَانِكَ، وَأَدْخِلْهُمْ بِفَضْلِكَ فَسِيحَ جَنَّاتِكَ. وَارْحَمِ اللَّهُمَّ جَمِيعَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ: الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ الْأَمَانَ وَالِاسْتِقْرَارَ، وَالرَّخَاءَ وَالِازْدِهَارَ، وَزِدْهَا تَقَدُّمًا وَرِفْعَةً، وَتَسَامُحًا وَمَحَبَّةً، وَأَدِمْ عَلَى أَهْلِهَا السَّعَادَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ؛ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ؛ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ r، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ r.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْأَخْيَارِ، وَاجْزِ أَهْلِيهِمْ جَزَاءَ الصَّابِرِينَ؛ بِكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ. اللَّهُمَّ انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، وَانْشُرِ الِاسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ، وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.