KHUTBAH JUMAT
8 Rajab 1440 H/15 Maret 2019
"Tujuan Hadis adalah Menjelaskan Kandungan
Al-Quran"
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama
untuk kita semua, memberikan nikmat besar berupa diutusnya pemimpin para rasul
yaitu Rasulullah SAW, dan memerintahkan kita untuk mengikuti petunjuk dan
sunnahnya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata tiada sekutu
baginya, dan saya bersaksi bahwa Sayyidina dan Nabiyyina Muhammad adalah hamba
dan utusan Allah. Ya Allah karuniakan shalawat, salam dan keberkahan kepada Sayyidina
dan Nabiyyina Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya, juga bagi mereka yang
senantiasa mengikutinya dengan benar sampai hari pembalasan. Amma ba'du
Kami wasiatkan kepada hadirin hamba-hamba Allah dan juga
bagi diri khatib sendiri, untuk senantiasa bertakwa kepada Allah swt.
Allah swt berfirman: "Dan ingatlah nikmat Allah yang
diberikan kepadamu dan apa yang diturunkan kepadami berupa kitab dan hikmah
yang mengajarimu dengannya, dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Baqarah: 231).
Kaum Muslimin yang berbahagia
Sesungguhnya Allah swt memberikan nikmat kepada umat
manusia berupa diutusnya manusia terbaik, yaitu Sayyidina Muhammad SAW, yang
membacakan Alquran kepada mereka, dan mengajarkan petunjuk yang lurus.
Allah swt berfirman:
"Sesungguhnya Allah telah memberikan karunia yang
besar kepada orang-orang beriman yaitu diutusnya seorang Rasul di antara
mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, serta mensucikan dan mengajarkan
mereka akam al-Kitab dan al-Hikmah." (Ali Imran:164).
Al-Kitab ialah Alquran, dan al-Hikmah ialah sunnah dan
hadis-hadis Rasulullah SAW, yang datang untuk menjelaskan maksud yang
diinginkan Allah swt, juga menjelaskan secara rinci hukum-hukum agama. Allah
swt berfirman: "Dan Kami menurunkan peringatan (As Sunnah) kepadamu untuk
menjelaskan apa yang telah diturunkan kepada mereka (Alquran)." An Nahl:
44).
Alquran adalah wahyu dari Allah swt baik lafadz maupun
maknanya, sedangkan hadis adalah wahyu dari Allah swt secara maknanya melalui
lisan Rasul-Nya, dan hadis juga memiliki keistimewaan berupa keindahan bahasa
dan kejelasan makna. Rasulullah SAW bersabda: "Aku diberikan kemampuan
untuk meringkas kalimat." (Muttafaq Alaih).
Hadis juga merupakan hujjah (sandaran/argumen) dan bukti/dalil.
Allah swt berfirman:
"Dan tidaklah ia (Muhammad) berucap dari hawa
nafsunya. Ucapannya tak lain ialah wahyu yang diwahyukan kepadanya." (An
Najm: 3-4).
Rasulullah saw juga bersabda: "Ketahuilah,
susungguhnya aku diberikan Al-Kitab dan yang semisal dengannya.
Artinya, bahwa Rasulullah saw diberikan AlQuran dan juga
diberi hadis-hadis yang mulia bersamanya. Dan sunnah/hadis-hadis tersebut
berupa semua yang datang dari Rasulullah saw, baik berupa ucapan, perbuatan,
sifat, atau sesuatu yang beliau lihat atau beliau dengar lalu menyetujuinya.
Hadis-hadis Nabi ada yang datang untuk menguatkan
hukum-hukum yang terdapat di dalam Alquran, ada yang mensyariatkan apa yang
tidak disebut di dalam Alquran, dan ada juga yang datang untuk merinci dan
menjelaskan hal-hal yang belum dirinci secara detail oleh Alquran, baik yang
berhubungan dengan ibadah, muamalah (sosial), maupun akhlak dan tingkah laku.
Misalnya perintah shalat dan zakat yang belum dirinci
oleh Alquran, hanya disebutkan secara umum sebagaimana firman Allah: "Dan
dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan taatilah Rasul-Nya supaya kalian
mendapat rahmat." (An Nur:56)
Lalu dirinci/dijelaskan oleh Rasulullah saw tentang
shalat-shalat yang wajib, jumlah rakaatnya, dan segala hal yang berkaitan
dengan shalat. Beliau SAW bersabda: "Shalatlah kalian sebagaimana kalian
melihatku shalat." (HR. Al Bukhari)
Hadis juga menjelaskan/merinci tentang ukuran zakat yang
harus dikeluarkan, syarat-syaratnya, dan seluruh hukum-hukum yang terkait
dengan zakat.
Demikian pula ayat-ayat yang berbicara tentang ibadah
haji, dijelaskan/dirinci oleh sunnah Rasulullah saw tentang tatacara dan
hukumnya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Ikutilah dariku tatacara
manasik haji kalian." (HR. Muslim dan Baihaqi).
Demikian pula dalam hal ibadah sosial (muamalah), Allah
swt memerintahkan kita untuk berlaku "ihsan" (berbuat baik).
Sebagaimana firman Allah: "Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang berbuat baik." (Al Baqarah: 195).
Lalu dijelaskan oleh hadis-hadis Rasulullah saw tentang
bentuk-bentuk perbuatan baik tersebut, berupa perbuatan yang mengandung
nilai-nilai yang luhur, akhlak yang terpuji, tingkah laku yang mulia, seperti
menjenguk orang sakit, membantu orang-orang lemah (dhuafa), menyayangi anak
kecil, menghormati orang yang lebih tua, dan sebagainya.
Para Jamaah Shalat yang Berbahagia
Sungguh para sahabat RA telah menjaga dan menghafal
hadis-hadis Rasulullah, memberikan perhatian serius untuk menjaganya, lalu
mewariskannya kepada generasi berikutnya. Para ulama juga bersungguh-sungguh
memelihara dan menguji keotentikannya, dan menjaga keshahihannya. Karena itu,
mereka memberikan persyaratan yang sangat ketat bagi ulama-ulama yang
meriwayatkan hadis, yakni para periwayat dapat diterima hadis yang
diriwayatkannya bila mereka dikenal dengan ketakwaannya, kewara'annya,
kejujuran, dan kecerdasannya. Dan hadis tersebut juga diterima dari orang yang
memiliki syarat dan sifat yang sama, begitupun periwayat-periwayat sebelumnya
hingga Rasulullah SAW.
Karena itu, para ulama dalam ilmu hadis ini memiliki
kemuliaan dan keistimewaan. Mereka menjaga dan menghafal hadis-hadis
Rasulullah, bahkan menempuh perjalan jauh ke negara-negara lain demi untuk
mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis Rasulullah, menelusuri keshahihan
sanadnya, menjelaskan maknanya, dan meriwayatkan kepada generasi setelahnya
hingga kepada kita semua dengan sangat teliti, amanah dan penuh kecerdasan.
Maka kawajiban kita bagi mereka ialah memahami kemuliaan
ilmu mereka, kecerdasan akan spesialisasi mereka, menghargai usaha dan
jeripayah mereka, mensyukuri karya-karya mereka, serta mendoakan dan memohonkan
rahmat untuk mereka.
Wahai hadirin yang mencintai Nabi SAW
Sesungguhnya kewajiban kita terhadap sunnah Rasulullah
SAW ialah menghormati, mengagungkan, menerimanya dan berserah diri kepadanya.
Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya saw:
"Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi,
pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan kepada mereka. Agar kalian semua
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, memuliakannya, menghormatinya." (Al
Fath: 8-9)
Pemuliaan dalam ayat tersebut berarti pengagungan dan
penghormatan. Dan di antata cara memuliakan dan menghormati Nabi SAW adalah
menghormati dan memuliakan hadis-hadisnya, serta mengamalkan isinya.
Allah swt berfirman:
"Dan apapun yang Rasulullah perintahkan maka
laksanakanlah, dan apa yang dia larang maka jauhilah." (Al Hasyr:7)
Artinya, lakukan apa-apa yang beliau perintahkan, dan
jauhi segala yang beliau larang, amalkan hadis-hadis dan sunnah yang sudah
sampai kepadamu, dan ikutilah beliau SAW segala ucapan, perbuatan dan keadaan
beliau. Allah swt berfirman:
"Sungguh, pada diri Rasulullah itu terdapat suri
tauladan yang baik bagimu." (Al Ahzab: 21).
Itulah kunci-kunci kebahagiaan. Allah swt berfirman:
"Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakan
dan menolongnya, serta mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya,
mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al A'raf: 157).
Yaa Allah karunikan kepada kami kemampuan mengikuti
Sayyidina dan Nabiyyina Muhammad SAW dan mengamalkan hadis-hadis darinya.
Kuatkan kami untuk menaati-Mu, dan menaati Rasul-Mu, juga menaati orang yang
engkau perintahkan kami menaatinya (ulil amri). Demi mengamalkan firman-Mu:
"Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya dan ulil
amri di antara kalian." (An Nisa:59).
KHUTBAH KEDUA
Alhamdulillah.....
Hadirin Jamaah Shalat yang Berbahagia
Rasulullah SAW menyerupakan petunjuk dan ilmu yang datang
dari beliau seperti air yang merupakan sumber kehidupan. Beliau SAW menjelaskan
bahwa sungguh banyak manusia mengambil manfaat dari petunjuk beliau, kebanyakan
mereka menerima sunnah beliau SAW.
Ketika beliau menyebutkan bahwa tanah yang baik adalah
tanah yang mengandung air, sehingga air itu bermanfaat untuk dirinya dan untuk
orang banyak, beliau SAW lalu bersabda:
"Demikianlah perumpamaan orang yang mengerti agama,
ia mendapat manfaat dari agama itu, ia mengetahui lalu mengajarkannya."
(Muttafaq Alaih)
Karena itu, hendaklah kita semua mengamalkan sunnah Nabi
SAW agar dapat meraih cinta Allah swt dan ampunan-Nya terhadap dosa-dosa kita.
Allah swt berfirman:
"Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, maka
ikutlah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintau kalian, dan mengampuni
dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali
Imran:31)