Khotbah
Jum'at, 20 Rabiul Akhir 1440 H/28 Desember 2018 M
Hati Yang Bersih
Khotbah
Pertama:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، بِيَدِهِ
قُلُوبُ الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ، يُصَرِّفُهَا بِعِلْمِهِ وَحِكْمَتِهِ،
وَيُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ بِقُدْرَتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَنْقَى النَّاسِ قَلْبًا، وَأَسْلَمُهُمْ
صَدْرًا، وَأَزْكَاهُمْ نَفْسًا، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى
مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ
وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ عَنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ:(
أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَأَجْرٌ عَظِيمٌ)().
Kaum
muslimin : Allah Swt berfirman:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ* إِلَّا
مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu)
di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang
menghadap Allah dengan hati yang bersih” (As Syu’ara’ 26 : 88-89). Hati yang
bersih adalah hati seorang mukmin yang seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:
إِنَّمَا الْكَرْمُ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ
“Sesungguhnya
kemuliaan adalah hati orang mukmin” (Muttafaq ‘Alaih). Karena darinya sumber
kemuliaan, tempat iman dan petunjuk, cahaya dan ketakwaan. Dan ketika Nabi SAW ditanya:
سُئِلَ ( أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ:« كُلُّ
مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ». قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ
نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ :«هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا
إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ
“Siapakah
sebaik-sebaiknya manusia ? Beliau menjawab : semua pemilik hati yang bersih dan
ucapan yang jujur. Mereka berkata : ucapan yang jujur kami mengetahuinya, lalu
apa yang dimaksud dengan hati yang bersih ? Beliau bersabda : hati yang
bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, tidak ada kedzaliman dan tidak ada dengki
didalamnya” (Ibnu Majah 4216).
Barang siapa yang menginginkan ketetapan iman
dalam hatinya, maka jauhilah dengki, Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَجْتَمِعُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ الْإِيمَانُ
وَالْحَسَدُ
“Tidak
berkumpul dalam hati seorang hamba keimanan dan kedengkian” (An Nasa’i 3109 dan
Ibnu Hibban 4606). Hati seorang mukmin bercirikan kebaikan, toleran, kelembutan
dan kebersihan, oleh karena itu para ulama sangat mencintai pemilik hati yang
bersih, Sofyan bin Dinar berkata pada salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib
RA: ceritakan padaku tentang amalan orang sebelum kami ? Ia berkata: mereka
beramal sedikit tapi mendapatkan balasan yang banyak. Aku bertanya : kenapa
demikian ? Ia menjawab: karena hati mereka bersih (Kitab Az Zuhd, karangan
Hanad bin As Siri 2/600). Itulah nikmat dan pemberian dari Allah yang agung,
yang dilimpahkan kepada orang yang mengikuti jalan-Nya dan menempuh sebab
akibat menuju kesana. Lalu apa saja sebab keselamatan hati ?
Kaum
mukminin : diantara sebab keselamatan dan ketentraman hati adalah cinta pada
Allah, dengannya hati akan menikmati kemanisan iman dan hatinya akan dipenuhi
oleh ketentraman, Nabi SAW bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ
الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا
سِوَاهُمَا
“Tiga
perkara apabila perkara tersebut pada seseorang, maka ia akan mendapatkan
manisnya iman : orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari
selain keduanya” (Muttafaq ‘Alaih). Cinta pada Allah akan membuahkan
pengagungan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya. Itu semua merupakan ketakwaan
hati dan keselamatannya, Allah berfirman:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا
مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Dan
barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari
ketakwaan hati” (Al Hajj 22 : 32). Dengan demikian ia telah memenuhi perintah
Allah dan berteladan pada petunjuk Rasulullah Saw, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا
لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ
اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُون
“Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul
menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya
kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” (Al Anfal 8 : 24).
Juga
shalat wahai hamba Allah: karena shalat merupakan ibadah penentram hati, dari
Abdullah bin Muhammad bin Al Hanafiyah berkata:
انْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبِي إِلَى صِهْرٍ لَنَا
مِنَ الْأَنْصَارِ نَعُودُهُ، فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ، فَقَالَ لِبَعْضِ أَهْلِهِ:
ائْتُونِي بِوَضُوءٍ لَعَلِّي أُصَلِّي فَأَسْتَرِيحَ. ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ( يَقُولُ :« قُمْ يَا بِلَالُ أَقِمْ، فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ
“Aku
dan ayahku berangkat menjumpai mantu kami dari Al Anshar, maka tibalah waktu
shalat, ia meminta sebagian dari anggota keluarganya : ambilkan aku air wudlu,
semoga aku bisa shalat dan menentramkan diri. Kemudian ia berkata : aku
mendengar Rasulullah Saw bersabda : berdirilah wahai Bilal kumandangkan iqamah,
semoga kami mendapatkan ketentraman dengan shalat” (Abu Daud 4986). Karena
orang yang shalat menghadap pada Tuhannya dengan menghadirkan keagungan-Nya,
maka hatinya dan jiwanya akan diliputi oleh ketentraman dan ketenangan, ia akan
mendapatkan kekhusuan dalam shalat, menghayati maknanya, sehingga pahalanya
melimpah, Ibnu Abbas RA berkata : “Dua rakaat yang dilakukan dengan penuh
penghayatan, lebih baik dari shalat malam sedangkan hatinya lalai” (Az Zuhd,
karangan Ibnu Al Mubarak 1/97).
Menunaikan
zakat dan bersedekah pada fakir dan orang-orang yang membutuhkan, semua itu
akan membersihkan hati dan mensucikan jiwa, Allah berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ
وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka” (At Taubah 9 : 103). Rasulullah Saw bersabda:
لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ
عَبْدٍ أَبَدًا
“Tidak
berkumpul kekikiran dan keimanan pada hati seorang hamba selamanya” (Bukhari
dalam kitab Al Adab Al Mufrad 281, An Nasa’i 3110 dan Ahmad 9693).
Puasa
Ramadhan dan puasa tiga hari setiap bulannya, termasuk ibadah yang mampu
melindungi seseorang atas keselamatan hatinya dan menjauhkannya dari keburukan,
Rasulullah SAW:
صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ، وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
مِنْ كُلِّ شَهْرٍ؛ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ
“Puasa
pada bulan kesabaran dan puasa tiga hari setiap bulannya, akan menghilangkan
kedengkian hati” (Ahmad 23070)
Dengan
belajar dan membaca Al Quran serta mengamalkan kandungan ayat-ayatnya, maka
hatinya akan istiqomah, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ
مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ
لِلْمُؤْمِنِينَ
“Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Yunus 10 : 57). Dalam Al Quran terdapat
nasehat, kesembuhan, petunjuk dan peringatan:
لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ
وَهُوَ شَهِيدٌ
“Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang
mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan”
(Qaf 50 : 37)
Sesungguhnya
berdzikir kepada Allah, merupakan salah satu penyebab keselamatan hati dan
ketentramannya, Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar Ra’d 13 : 28).
Maksudnya : hati menjadi lembut, tenang dan tenteram (Tafsir Al Baghawi 4/85).
Ibnu Abbas RA berkata:
الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ،
فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، وَإِذَا ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ
“Syaitan
bersemayam di hati Anak Adam, bila ia lupa dan lalai, ia akan menggodanya dan bila
mengingat Allah, ia akan tertutupi” (Abu Daud dalam kitab Az Zuhd 1/395).
Bagi
orang yang memperhatikan keselamatan hati mereka : sesungguhnya berdoa menjadi
salah satu penyebab ketetapan hati dalam kebenaran, keistiqomahan dan
keselamatan dari kemungkaran, oleh karena itu Nabi Saw memperbanyak doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى
دِينِكَ
“Wahai
Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu”(At
Tirmidzi 2140 dan Ibnu Majah 3834). Dan doanya:
اللهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا
عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya
Allah, Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk selalu dalam
ketaatan pada-Mu” (Muslim 2654). Dan doanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ… قَلْبًا سَلِيمًا
“Ya
Allah, aku mohon pada-Mu .. hati yang selamat” (At Tirmidzi 2140 dan Ibnu Majah
3834)
Ya
Allah, jadikanlah kami termasuk dalam golongan hamba-hamba-Mu yang beriman,
yang datang pada-Mu dengan hati yang selamat, lalu Engkau sambut mereka dengan
Rahmat-Mu wahai Tuhan semesta alam, dan berilah kami semua taufiq untuk
mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Al Amin Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai
pengamalan atas firman-Mu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu” (An Nisa’ 4 : 59).
نَفَعَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ
الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khotbah
Kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلِيُّ
الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ
اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا
وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى
التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ عِبَادَ
اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Para
jamaah shalat : sesungguhnya kesalamatan hati merupakan jalan yang mengantarkan
ke surga, dari Anas bin Malik RA berkata : ketika kami duduk bersama Rasulullah
SAW, beliau bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ
الْجَنَّةِ». فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ … فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ
النَّبِيُّ ( مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ الرَّجُلُ نَفْسُهُ، وَفِي الْيَوْمِ
الثَّالِثِ كَذَلِكَ، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ ( تَبِعَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ذَلِكَ
الرَّجُلَ فَطَلَبَ ضِيَافَتَهُ، فَاسْتَقْبَلَهُ فِي بَيْتِهِ ثَلَاثَ لَيَالٍ،
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو: فَلَمْ أَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ
شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ، ولَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ
إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ قُلْتُ:… سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ ( يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ:« يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ
أَهْلِ الْجَنَّةِ». فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ
إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ
كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (؟ فَقَالَ:
مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ
مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ
اللَّهُ إِيَّاهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ
“Akan
muncul pada kalian seorang laki-laki dari penghuni surga”. Tiba-tiba muncul
seorang dari Al Anshar. Keesokan harinya, Nabi Saw berkata seperti diatas, maka
muncul orang yang sama, dan begitu pula pada hari ketiga, dan ketika Nabi Saw
berdiri, Abdullah bin Amr bin Al Ash RA mengikuti lelaki itu dan meminta
menginap di rumahnya, lalu ia menginap di rumah lelaki itu selama tiga malam,
Abdullah bin Amr berkata : aku tidak melihatnya shalat malam, hanya saja bila
ia terbangun malam, ia membolak-balikkan badannya diatas tempat tidurnya sambil
berdzikir dan bertakbir, hingga bangun untuk shalat subuh dan aku tidak
mendengar darinya kecuali kebaikan, maka ketika tiga malam telah berlalu, aku
berkata : aku mendengar Rasulullah Saw berkata mengenaimu tiga kali : Akan
muncul pada kalian seorang laki-laki dari penghuni surga”. Dan kau muncul
selama tiga kali berturut-turut, maka aku ingin menginap di rumahmu agar aku
dapat melihat amalanmu, dan menteladaninya, tapi aku tidak melihat kau
melakukan amalan yang banyak, lalu apa yang membuatmu sampai pada posisi
seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw ? Ia menjawab : seperti yang kau
lihat, hanya saja aku tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang
muslim pun, dan tidak pernah hasut terhadap kebaikan seorang yang diberikan
Allah kepadanya. Abdullah berkata : inilah amalan yang mengantarkanmu pada
posisimu” (Ahmad 13034)
Marilah
kita berusaha untuk menjaga kesalamatan hati kita, agar kita mendapatkan
kebahagiaan dan ketentraman di dunia dan menempati surga tertinggi di akhirat.
هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى مَنْ
أُمِرْتُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ، قَالَ تَعَالَى:( إِنَّ اللَّهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)(). اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا كَمَا تُطَهِّرُ
الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ.
اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا،
وَعَوْنًا وَتَوْفِيقًا، وَمَحَبَّةً وَتَلَاحُمًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِآبَائِنَا
وَأُمَّهَاتِنَا، وَبَارِكْ فِي أَوْلَادِنَا، وَأَدِمِ السَّعَادَةَ فِي
بُيُوتِنَا وَوَطَنِنَا، وَاجْعَلْنَا بَارِّينَ بِآبَائِنَا، وَاصِلِينَ
لِأَرْحَامِنَا.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ رَئِيسَ الدَّوْلَةِ، الشَّيْخ
خليفةْ بن زايدْ لِكُلِّ خَيْرٍ، وَاحْفَظْهُ بِحِفْظِكَ وَعِنَايَتِكَ، وَوَفِّقِ
اللَّهُمَّ نَائِبَهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِينَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ،
وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الْإِمَارَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ: الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، وَالشَّيْخ مَكْتُوم،
وَشُيُوخَ الْإِمَارَاتِ الَّذِينَ انْتَقَلُوا إِلَى رَحْمَتِكَ، اللَّهُمَّ
ارْحَمْهُمْ رَحْمَةً وَاسِعَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَأَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ
يَتَنَعَّمُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ. وَأَدْخِلِ اللَّهُمَّ فِي عَفْوِكَ
وَغُفْرَانِكَ وَرَحْمَتِكَ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجَمِيعَ أَرْحَامِنَا
وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ احْفَظْ لِدَوْلَةِ الْإِمَارَاتِ
اسْتِقْرَارَهَا وَرَخَاءَهَا، وَبَارِكْ فِي خَيْرَاتِهَا، وَزِدْهَا فَضْلًا
وَنِعَمًا، وَحَضَارَةً وَعِلْمًا، وَبَهْجَةً وَجَمَالًا، وَمَحَبَّةً
وَتَسَامُحًا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا السَّعَادَةَ وَالْأَمَانَ يَا رَبَّ
الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْوَطَنِ
وَقُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْأَبْرَارَ، وَاجْزِ خَيْرَ الْجَزَاءِ أُمَّهَاتِ
الشُّهَدَاءِ وَآبَاءَهُمْ وَزَوْجَاتِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ جَمِيعًا، اللَّهُمَّ
انْصُرْ قُوَّاتِ التَّحَالُفِ الْعَرَبِيِّ، الَّذِينَ تَحَالَفُوا عَلَى رَدِّ
الْحَقِّ إِلَى أَصْحَابِهِ. اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَأَنْزِلْ
عَلَيْهِمْ نَصْرَكَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ أَهْلَ الْيَمَنِ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ،
وَاجْمَعْهُمْ عَلَى كَلِمَةِ الْحَقِّ وَالشَّرْعِيَّةِ، وَارْزُقْهُمُ
الرَّخَاءَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْشُرِ الاِسْتِقْرَارَ وَالسَّلَامَ
فِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ وَالْعَالَمِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا
مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ
أَغِثْنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَاسِعًا شَامِلًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ
بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ
الْأَبْرَارِ يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللَّهِ: اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ
يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
HYPERLINK
“https://www.awqaf.gov.ae/ar/Pages/FridaySermonDetail.aspx?did=6913”
https://www.awqaf.gov.ae/ar/Pages/FridaySermonDetail.aspx?did=6913